KISAH DI BAWAH INI MENYEDIHKAN ANAK BANGSA, PEMERINTAH BUTA ATAU 
SENGAJA ATAU "GOBLOK" DALAM BERJUANG DI LEVEL INTERNASIONAL, SOMOGA ADA PEJABAT 
YANG PEDULI DENGAN KELUHAN ANAK BANGSA INI, DAN BISA MENGGAGALKAN CAGAR BUDAYA 
INDONESIA ASLI YANG TELAH DIPATENKAN OLEH OKNOM ASING YG SEKARANG HAL ITU 
DIJADIKAN CARA PENJAJAHAN MOTIF BARU, JANGAN TAKUT BERKAYA ANAK BANGSA, KALAU 
ADA YANG MENGKLAIM KARYA ANAK BANGSA MARI KITA LAWAN DENGAN CARA MEREKA YG 
MEMPATENKAN MELAKUKAN UJI KOMPETENSI KREASI ANAK BANGSA INI, PASTI KITA PUNYA 
CIRI YANG MEREKA TIDAK BISA TIRU, DAN YANG MENUNTUT HARUS MENGERJAKANNYA DENGAN 
TANGANNYA SENDIRI, JANGAN TAKUT ... BERKARYALAH SATU KARYA PATENKANLAH, KALAU 
PEMERINTAH MEMPERSULIT KITA TUNTUT PEMERINTAH KITA, KARENA TIDAK PEDULI DENGAN 
KARYA ANAK BANGSA. KALAU OKNUMNYA CARI UANG KITA GOROK SAJA OKNUMNYA !

TOLONG SEBARKAN KEPADA MEREKA YG BERKAYA !!!!

ARMAN PUSPA
SALAM PERSATUAN DAN KESATUAN SERTA NASIONALISME


KISAH SEDIH DARI BALI      
    
    Posted by:      "luc_leroy07"      
      [EMAIL PROTECTED]      
               
        
          luc_leroy07 
        
          
    
      Sat Sep 6, 2008 1:37 pm        (PDT)    

    
            Kisah sedih dialami Desak Suarti, seorang pengerajin perak dari

Gianyar, Bali. Pada mulanya, Desak menjual karyanya kepada seorang

konsumen di luar negeri. Orang ini kemudian mematenkan desain

tersebut. Beberapa waktu kemudian, Desak hendak mengekspor kembali

karyanya. Tiba-tiba, ia dituduh melanggar Trade Related Intellectual

Property Rights (TRIPs). Wanita inipun harus berurusan dengan WTO.



"Susah sekarang, kami semuanya khawatir, jangan-jangan nanti beberapa

motif asli Bali seperti `patra punggal', `batun poh', dan beberapa

motif lainnya juga dipatenkan" kata Desak Suarti dalam sebuah wawancara.



Kisah sedih  Desak Suarti ternyata tidak berhenti sampai di sana.

Ratusan pengrajin, seniman, serta desainer di Bali kini resah menyusul

dipatenkannya beberapa motif desain asli Bali oleh warga negara asing.

Tindakan warga asing yang mempatenkan desain warisan leluhur orang

Bali ini membuat seniman, pengrajin, serta desainer takut untuk berkarya.



Salah satu desainer yang ikut merasa resah adalah Anak Agung Anom

Pujastawa. Semenjak dipatenkannya beberapa motif desain asli Bali oleh

warga asing, Agung kini merasa tak bebas berkarya. "Sebelumnya, dalam

satu bulan saya bisa menghasilkan 30 karya desain perhiasan perak.

Karena dihinggapi rasa cemas, sekarang saya tidak bisa menghasilkan

satu desain pun," ujarnya hari ini. 



Potret di atas adalah salah satu gambaran permasalahan perlindungan

budaya di tanah air. Cerita ini menambah daftar budaya indonesia yang

dicuri, diklaim atau dipatenkan oleh negara lain, seperti Batik

Adidas, Sambal Balido, Tempe, Lakon Ilagaligo, Ukiran Jepara, Kopi

Toraja, Kopi Aceh, Reog Ponorogo, Lagu Rasa Sayang Sayange, dan lain

sebagainya. 



LANGKAH KE DEPAN



Indonesia harus bangkit dan melakukan sesuatu. Hal inilah yang

melatarbelakangi berdirinya Indonesian Archipelago Culture Initiatives

(IACI), informasi lebih jauh dapat dilihat di

http://budaya- indonesia. org/  . Untuk dapat mencegah agar kejadian di

atas tidak terus berlanjut, kita harus melakukan sesuatu. Setidaknya

ada 2 hal perlu kita secara sinergis, yaitu:



1. Mendukung upaya perlindungan budaya Indonesia secara hukum. Kepada

rekan-rekan sebangsa dan setanah air yang memiliki kepedulian (baik

bantuian ide, tenaga maupun donasi) di bagian ini, harap menggubungi

IACI di email: [EMAIL PROTECTED] indonesia. org



2. Mendukung proses pendataan kekayaan budaya Indonesia. Perlindungan

hukum tanpa data yang baik tidak akan bekerja secara optimal. Jadi,

jika temen-temen memiliki koleksi gambar, lagu atau video tentang

budaya Indonesia, mohon upload ke situs PERPUSTAKAAN DIGITAL BUDAYA

INDONESIA, dengan alamat http://budaya- indonesia. org/  Jika Anda

memiliki kesulitan untuk mengupload data, silahkan menggubungi IACI di

email: [EMAIL PROTECTED] indonesia. org



- Lucky Setiawan



nb: Mohon bantuanya untuk menyebarkan pesan ini ke email ke teman,

mailing-list, situs, atau blog, yang Anda miliki. Mari kita dukung

upaya pelestarian budaya Indonesia secara online.


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke