ketika tidak setiap omong adalah kebenaran, maka tidak setiap diam menjadi emas
 
tapi aku memilih melawan, meski dengan cerau dan makian. kau tahu, aku menulis 
dengan tinta lautan yang mabuk, campur muntah berbau busuk.
 
ini pelayaran tanpa peta, nahkodanya sakit jiwa. bulan dan bintang-bintang tak 
lagi mau jadi pertanda. dan di cakrawala yang jauh, hanya ada gumpalan awan 
hitam, arah tuju yang gelap. kita semua, penumpang yang tersesat!
 
jadi tiada guna berkeluh tanya, apalagi mimpi tentang juru selamat. semburkan 
saja segala mual itu, segala laknat itu. sebab nuh, sudah berada di tempat yang 
jauh.
 
ketika tidak setiap omong adalah kebenaran, maka tidak setiap diam menjadi emas!
 
(2007)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke