Justru selama manusia Muslimin menganggap Al-Dinu al-Islam sebagai AGAMA yang 
harus dipercaya atas dasar kepercayaan saja (dogma) maka sekalipun di masa 
lampau pernah menjadi pionir keberadaban suatu masyarakat, mereka akan terpuruk 
dalam rawa-rawa keterbelakangan yang mematikan/memusnahkan selama TIDAK 
BERSEDIA MENINGGALKAN pemahaman teologisnya.. 

Ingat ketika rasulullah Muhammad saw menerima wahyu pada awal kerasulan beliau 
(periode Mekkah awal) wahyu Allah swt mengkritisi masyarakat yang bobrok, yang 
berideologi materialis, kebendaan. Artinya manusia Arab hanya tertarik kepada 
kekeyaan perhiasan, benda-benda kesenangan, kejantanan biologis, tuhan-tuhan 
yang dapat disembah-sembah dan dipamerkan serta mahluk-mahluk halus yang 
dipercayai ada (malak, jinn, iblis,dll). Disamping itu mereka mengangkat 
individu sebagai penentu terakhir atas hidup dan sesudah mati segalanya 
selesai. 

Wahyu Qurani awal-awal diturunkan TIDAK mengkritisi berhala-berhala dan 
tuhan-tuhan yang sudah ada. ALLAH sendiri adalah tuhan tertinggi di antara 
tuhan-tuhan yang ada dalam budaya bangsa Arab sejak dahulu. Tetapi justru Wahyu 
Qurani menganjurkan kepedulian sosial dan penjungkirbalikan ideologi yang 
berkuasa pada tatanan intelektual. Wahyu Qurani mengkritik manusia religius 
yang tidak mempedulikan anak yatim-piatu, yang lemah secara sosial, yang 
diperbudak, yang tertindas, yang memperlakukan perempuan-perempuan tidak sama 
derajat dengan laki-laki. Bangsa Arab ketika itu PERCAYA dan MENGAKUI bahwa 
ALLAH adalah tuhan tertinggi dan Pencipta Alam Semesta, tetapi Allah mereka itu 
mempunyai jenjang keturunan dan sahabat, musuh, serta para pembantu. Di bidang 
ideologis ini Wahyu Qurani menjungkirbalikkkan ideologi bangsa Arab dengan 
membersihkan Allah dari semua embel-embel yang dipasangkan kepadanya dan 
MENEMPATKAN-nya di ´Arsyi tertinggi sebagai ALLAH Yang Maha Tunggal dan tidak 
ada yang melampaui ataupun dapat menyamai, tidak terserupakan dengan segalanya 
yang mampu difantasikan dan dikhayalkan oleh intelegensi manusia. Argumentasi 
Wahyu Qurani yang diajukan kepada manusia agar mengerti permasalahan ideologis 
ini maka kemudian diturunkan wahyu-wahyu yang menganjurkan agar manusia 
mempergunakan akal dan fikirannya untuk mempelajari alam semesta seisinya 
termasuk husus mempelajari diri manusia biologis (al-bashyor). Ketika manusia 
Arab masih ngotot kepada tradisi kabilah-kabilahnya diturunkan wahyu-wahyu yang 
mekritisi manusia yang tidak mempergunakan hati nuraninya sebagai perangkat 
untuk memahami dan mengerti atas segalanya yang sudah dapat diakses melalui 
penginderaannya (di bidang ini argumentasi Qurani semakin mendalam hingga ke 
batas satuan ruang waktu di mana manusia berada). 

Jika dilihat pada ayat-ayat muhkamat yang menjadi INTI seluruh isi wahyu 
Quraniyah, maka Wahyu Qurani adalah PETUNJUK, suatu PEDOMAN AKSI bagi manusia 
untuk maju membangun peradaban canggih di mana masyarakat manusia sedemikian 
makmurnya dan nyamannya serta tenteram dan aman sebagaimana nikmatnya (waktu 
itu) hidup di `taman-kebun milik para pedagang sukses yang dialiri air segar` 
(di Mekkah dan Madinah). Dan karenanya dalam ayat-ayat muhkamat terdapat 
seruan-seruan untuk berani dan konsekwen menegakkan keadilan dan kebenaran 
ilahiyah, bersedia mengorbankan diri pribadi di jalan Allah swt demi menegakkan 
budaya masyarakat manusia yang maju, adil, makmur serta seiring dengan 
hukum-hukum perkembangan alam semesta. Maka Wahyu Qurani menganjurkan ber-ISLAM 
(tunduk dan patuh sukarela tak bersyarat) kepada Yang Maha Pencipta dan jangan 
ber-islam kepada yang lain-lain. Dan ISLAM ini digambarkan oleh Wahyu Qurani 
sebagai suatu Hukum Alam Semesta yang telah diikuti oleh alam semesta beserta 
seluruh isinya, kecuali manusia yang masih terus membantah dan saling-berbantah.

Munculnya pandangan-pandangan teologis adalah sebagai konsekwensi perluasan 
daerah kekuasaan dari para pemimpin bangsa Arab Muslimin ke daerah 
bangsa-bangsa non-Arab di Timur Tengah. Perluasa daerah kekuasaan tersebut 
bukanlah bertujuan mendakwahkan al-Dinu al-Islam tetapi adalah demi memperoleh 
penghasilan dengan memperluas daerah ghasywu yang sudah tidak ada lagi sebagai 
konsekwensi dari pelaksanaan ushul fiqh. Sehingga kebiasaan ghasywu dari 
tradisi kabilah-kabilah yang ada dihapuskan oleh hukum Allah swt. Dan anjuran 
saling bantu-membantu dan tolong-menolong dalam musim paceklik digalakkan. 
Sejarah menunjukan pembalikan Al/Dinu al-Islam menjadi agama setelah bangsa 
Artab dan kaum Muslimin bersinggungan dengan budaya Yunani dan pemikirannya 
serta budaya Persia dan pemikirannya di mana bangsa-bangsa maju tersebut sudah 
mengembangkan pemikiran teologisnya. Teologi Islam secara definitif dipakukan 
pada zaman kekuasaan dinasti ´Abassyiah. Sekalipun demikian bibit-bibitnya 
sudah ada pada individu-individu para sahabat rasulullah Muhammad saw yang 
berada di lingkaran utama (Abu Bakar, Umar bin Khotob, Ali bin Abu Tholib, 
Utsman bin ´Affan dll) sebagai orang-orang terdidik dan tahu tentang agama 
Kristen dan Yahudi yang sudah ada di Mekkah. Rasulullah Muhammad saw sendiri 
oleh Wahyu Qurani dimasukkan dalam golongan mayoritas bangsa Arab yang UMMI, 
tak berpendidikan apapun (formal maupun informal). Bibit-bibit teologis 
demikian ini semakin berkembang ketika Hijrah ke Madinah dan pembentukan 
masyarakat madani di Madinah di mana kabilah-kabilah Yahudi dan Kristen ikut 
ambil bagian dalam Perjanjian Madinah. Pengaruh tradisi teologi Yahudi dan 
Kristen tersebut masuk ke dalam kelompok Muslimin dalam model cerita, kisah, 
legenda, kebiasaan, ritual serta kebiasaan dan pergaulan kehidupan sehari-hari 
diantara penduduk Madinah dll. 

Sesungguhnya, menurut pemahaman saya pribadi,  Wahyu Qurani adalah suatu 
PETUNJUK untuk melakukan PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA masyarakat manusia dan 
merupakan PEDOMAN, PETUNJUK untuk beraksi melakakukan GERAKAN PENGUBAHAN SOSIAL 
BUDAYA masyarakat dengan berdasar kepada IDEOLOGI TUNGGAL - ALLAH SWT 
(Ketuhanan Yang Maha Esa). Keterbelakangan dewasa ini adalah akibat kebijakan 
POLITIK TEOKRATIK dari para pemimpin dan ahli fikir Muslimin yang tidak 
didasarkan kepada ideologi Ketuhanan Yang Maha Esa dan Bimbingan serta Petunjuk 
Al-Quranu ak-Karim, tetapi kepada kepentingan golongan masing-masing. Sehingga 
Wahyu Qurani dipreteli dan dipilih yang mendukung kemaunnya sendiri-sendiri 
guna mengelabui awam Muslimin yang tak mengerti bahasa Arab Qurani. 

Sejarah perkembangan masyarakat manusia di dunia dan sejarah kebudayaan manusia 
di dunia secara definitif membenarkan Wahyu Qurani sebagai Petunjuk dan 
Bimbingan bagi manusia untuk maju membangun Kebudayaan Beradab yang canggih 
yang memberikan syarat-syarat bagi peningkatan KWALITAS manusia sebagai mahluk 
biologis (bashyor) menjadi manusia sebagai Wakil Allah swt di Bumi 
(al-kholifatan fii al-ardzh). 

Semoga dapat berguna bagi kita semua yang Muslim,

Wassalam,
A.M


  ----- Original Message ----- 
  From: Kartono Mohamad 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, September 11, 2008 9:12 AM
  Subject: Re: [ppiindia] Re: Keajaiban Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Modern


  Maka menjadi tugas tokoh islam utk membuktikan apa yg dibanggakan itu, bhw 
islam membawa kemajuan. Kalau masa lalu bisa mengapa skrg tidak. Kalau 
dikembalikan kpd pemeluknya, menjadi pertanyaan apakah pemimpin/penganjurnya yg 
tdk memotivasi ke arah kemajuan dan lbh membanggakan masa lalu. KM 
  Sent from my BlackBerry� 
  powered by Sinyal Kuat INDOSAT 

  -----Original Message----- 
  From: "yustamb" <[EMAIL PROTECTED]> 

  Date: Sun, 07 Sep 2008 15:22:05 
  To: <[email protected]> 
  Subject: [ppiindia] Re: Keajaiban Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Modern 


  Namun, marilah kita lihat dengan emosi yang dingin, tanpa rasa 
  > terhina ataupun tersinggung, bahwa mayoritas bangsa beragama Islam 
  > bukanlah bangsa yang tercerahkan, maju dan makmur. 
  > Ini TAK ada urusan dengan ajaran agama itu sendiri, namun 100% 
  > terkait dengan , bagaimana manusia alias umat MEMPRAKTEKKAN agama. 
  > Lihatlah bedanya, bagaimana umat Buddha di Tibet hidup dengan segala 
  > keterbelakangan mereka, dan umat Budha di Korea yang maju dan 
  > tercerahkan. 

  **** seharusnya kita belajar dari sejarah munculnya islam dimana dia 
  datang pada masyarakat yang dikatakan jahiliyah, di mekah sana. Dia 
  datang mencerahkan bangsa arab yang jahiliyah. Dia datang di tengah 
  gelapnya pengetahuan tentang kemanusiaan, dengan cahaya yang 
  mengajarkan tentang kemanusiaan itu sendiri, dia membebaskan 
  perbudakan, dia membebaskan anak perempuan yang di kubur hidup-hidup, 
  dia datang mengangkat martabat wanita. Dia mengangkat derajat bangsa 
  Arab sehingga dapat menaklukkan bangsa-bangsa berkuasa di zaman itu, 
  seperti bangsa romawi dan persia. 

  betul, bahwa tidak seratus persen suatu agama di praktekkan oleh 
  umatnya, dan itu suatu yang wajar, karena agama sama dengan, matematik 
  ataupun science, dimana tidak semua orang dapat memahami dengan 
  sempurna. Begitu juga dengan agama, mungkin tidak semua orang dapat 
  memahami ajarannya dengan benar, padahal yang diminta oleh agama 
  adalah sesuatu yang sederhana yakni kejujuran dan membersihkan hati 
  agar kita tidak selalu membohongi diri sendiri dengan melakukan 
  perbuatan yang tidak sesuai dengan hati nurani kita. SEhingga dalam 
  agama di ajarkan tentang praktek-praktek mendekatkan diri kepada sang 
  pencipta. 

  Agama mengajarkan tentang asal usul manusia, agar manusia memahami 
  manusia lainnya, agama mengajarkan tentang kemana manusia akan kembali 
  agar manusia tidak angkuh atau tinggi hati, sebesar atau setinggi apa 
  pun derajat manusia akhirnya dia akan menghadap illahi dan 
  mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Kita yakin akan kekuasaan 
  Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi ini. 

  menuruh saya sih budhist tibet dan korea memang terlihat beda kalau di 
  ukur dari materi, tapi apakah rohani mereka sama, kebahagiaan mereka 
  sama ? Jadi materi bukan salah satu ukuran untuk mengukur suatu 
  negara. Kemajuan materi di amerika misalnya, apakah di ikuti dengan 
  kekayaan rohani bangsanya, lihat saja betapa tingginya tingkat 
  kerusakan moral mereka kalau di tinjau dari tingkat pelecehan terhadap 
  wanita, seperti yang di tunjukkan dalam millis ini. Yakni amerika 
  menduduki tingkat pertama dalam raping level. 

  Jadi pada dasarnya penilaian agama kayaknya nggak bisa di nilai dengan 
  kemajuan materi atau pembangunan, tetapi harus dinilai dengan tingkat 
  moralitas suatu bangsa. 

  Salam 
  yb 

  --- In [email protected], "phyllobates.terribilis" 
  <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
  > 
  > --- In [email protected], "yustamb" <yustamb@> wrote: 
  > > 
  > > *** mamang venezuela dan negara penghasil minyak di amterika latin 
  > > sana, minyak mereka di kelola oleh bangsanya sendiri. Technolgy itu 
  > > dikembangkan tetapi dia adalah barang dagangan, pasti tidak ada 
  > > pemilik technology yang mau menggratiskan technology, semua harus 
  > ada 
  > > biayanya. Itulah keuntungan antara pemilik technology dan pemilik 
  > > sumber daya gas, bisa terjadi adanya cultural exchange antara negara 
  > > di dunia ini. 
  > > 
  > > cuma aneh, indonesia yang punya technology pembuatan batik dengan 
  > > mudahnya menggratiskan pembuatan batik kenegara-negara lain sehingga 
  > > di klaim oleh negara lain, setelah menemukan technik baru dalam 
  > > pembuatan batik dengan hak paten. Inilah kemurahan hati bangsa ini, 
  > > yang berbeda dengan bangsa lain, hak intelektual tidak dijaga, 
  > mungkin 
  > > pendidikannya atau kemurahan hati bangsa ini sehingga mudah di 
  > perdaya 
  > > oleh bangsa lain. 
  > > 
  > > Tsunamy bisa di lihat sebagai musibah, tetapi bisa juga sebagai 
  > > anugerah dimana semua bangsa datang ke aceh untuk membantu indonesia 
  > > dan terjadinya perdamaian di aceh. Manusia bisa belajar dari musibah 
  > > tersebut, manusia bisa sadar bahwa potensi bahaya yang mengancam 
  > > manusia datangnya dari laut. 
  > > 
  > > Di amarika, badai gustav, hana dan ike sekarang sedang melanda 
  > mereka, 
  > > tetapi mereka belajar dari badai catrina sebelumnya, yaitu bagaimana 
  > > mempersiapkan diri sebelum badai itu datang. 
  > > 
  > > saya pikir anda sudah tidak realistis dalam menilai islam, seakan- 
  > akan 
  > > islam itu jumud, prasangka anda lebih dalam daripada melihat sisi 
  > > positif, coba lepaskan baju kebencian anda maka anda akan melihat 
  > > betapa indahnya dunia ini. 
  > > 
  > > Salam 
  > > 
  > > 
  > ****** memang dunia ini indah. Tidak hanya bagi yang kaya namun bagi 
  > semua yang damai dalam jiwanya. Ini saya lihat waktu ber-jalan jalan 
  > dikaki gunung Lawu, ditengah petani sederhana, yang selalu 
  > tersungging senyum, walau tak memiliki apa apa. Bersyukur untuk tiap 
  > jengkal rezeku (bukan rizki) yang mereka dapat, dan tak selalu 
  > mengharapkan sedekah (bukan sadoqah) dari orang lain. 
  > 
  > Ketika saya tanya, kok dipedesaan itu tak ada mesjid atau gereja 
  > (apalagi vihara), mereka jawab, Gusti Allah (Tuhan dalam bahasa orang 
  > Jawa sederhana), ada didalam diri kita masing masing. 
  > 
  > Mana mungkin, kita membenci suatu agama. Agama apapun, yang semua 
  > dimaksudkan untuk menidik manusia mengangungkan sang Pencipta. namun 
  > yang memuakkan adalah PERILAKU umat, yang akhir akhir ini memenuhi 
  > skenario se-hari-hari. Sikap yang juga kita lihat di milis ini, 
  > dimana satu kelompok mengkafirkan kelompok lain. 
  > 
  > Islam, tidaklah selalu negatif, seperti yang anda duga menjadi 
  > pikiran saya. Tidak. Banyak umat Islam yang cukup bijaksana dan penuh 
  > rasa solidaritas sosial, seperti saya lihat di AS atau Eropa. 
  > Sebaliknya, tak kurang umat Kristen yang mempercayai, bahwa hanya 
  > mereka yang merupakan bangsa pilihan. Kesempitan jiwa, bukan monopoly 
  > satu agamapun. 
  > 
  > Namun, marilah kita lihat dengan emosi yang dingin, tanpa rasa 
  > terhina ataupun tersinggung, bahwa mayoritas bangsa beragama Islam 
  > bukanlah bangsa yang tercerahkan, maju dan makmur. 
  > Ini TAK ada urusan dengan ajaran agama itu sendiri, namun 100% 
  > terkait dengan , bagaimana manusia alias umat MEMPRAKTEKKAN agama. 
  > Lihatlah bedanya, bagaimana umat Buddha di Tibet hidup dengan segala 
  > keterbelakangan mereka, dan umat Budha di Korea yang maju dan 
  > tercerahkan. 
  > 
  > Saudi Arabia, secara keseluruhan (terutama keluarga raja) bergelimang 
  > uang (terutama US$), karena minyak dan gas. Namun dari sisi 
  > kedewasaan sosial, masyarakat Saudi jauh dari tercerahkan. Keadilan 
  > sosial dan demokrasi? Boleh tunggu ribuan tahun lagi. Sebaliknya umat 
  > islam di Lebanon jauh lebih mengenyam pendidikan (banyak yang menjadi 
  > dokter, lawyer dan pengusaha di AS maupun Eropa), walau tak memiliki 
  > tambang emas, minyak ataupun batubara. 
  > 
  > Juga masyarakat Muslim di Asia selatan dan tenggara, bukanlah contoh 
  > bagaimana agama berhasil menggandeng umatnya menuju puncak tamaddun. 
  > Disini Nurul Islam sama byarpet-nya dengan Nurul PLN...(atau Nurul 
  > Buddha di Tibet). 
  > 




  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke