Memang, sosialisme, terutama yang Marxistis, sudah bangkrut, resminya sejak tumbangnya Uni Soviet, dan diikut oleh RRC dengan program sepuluh kota ekonomi kapitalismenya itu. Kedua negara itu menyiapkan diri dengan mengundang profesor dari kelompok "Berkeley Mafia" untuk mengajar di kampus mereka, juga banyak ahli-ahli di bidang praktisi berbagai aspek pasar bebas diimpor sebagai pelatih di lapangan.
Kuba pun sekarang di bawah Raul sudah mulai membuka pasarnya, artinya ekonominya sudah tidak mengharamkan masuknya investor dan pedagang yang kapitalis dari ljuar di bidang perhotelan/turisme dan pertanian lagi. Cuba sedang melangkah dengan gaya "malu-malu kucing" meninggalkan sistem sosialisme/Marxisnya. Tapi di AS sendiri pun revisi atas pasar bebas kapitalisme neo- liberal sedang ditawarkan oleh Obama dengan Partai demokratnya, yaitu kebijakan ekonomi kerakyatan yang tidak lagi percaya kepada sistem pemerataan top-down melainkan dari bawah-keatas. Antara lain adalah di bidang pajak, pendidikan, kesehatan, dan investasi modal dalam negeri dan yang dari luar negewri. Tentu, McVain dari Partai Republik menolak ide ini! Dari dulu penolakan tersebut memang terus dilakukan, tapi dengan praktik yang amburadul oleh Bush/Republik, maka peluang terbuka bagi Demokrat untuk muncul. Ikra.- ====== --- In [email protected], Kehendak Proletar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > Inspirasi Amerika Latin > > Robert Balahttp://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/09/00343194/inspirasi.am erika.latinDerasnya arus neososialisme yang merambah Amerika > Latin kian menjadi perhatian dunia. Bisa saja hal itu dilihat secara miris, > sekadar reaksi atas gembosnya roda kapitalisme. > > > Namun, bila pengaruhnya sudah menggurita mencakup > Kuba, Venezuela Brasil, Ekuador, Argentina, Cile, Peru, Nikaragua, Uruguay, dan > kini Paraguay, hal itu bukan lagi kebetulan. > > > Pesimisme > > Awal abad XX dengan janji kesejahteraan > menyeluruh, disambut penuh antusias di Amerika Latin dan diakui para uskup AL dalam Dokumen Medellin > (1968). Ada > optimisme bakal terwujudnya emansipasi total, pembebasan dari segala bentuk > perbudakan, kemantangan pribadi, dan integrasi kolektif. > > > Dalam kenyataan, harapan itu cepat sirna. Optik > desarrollista (asal dianggap maju) yang mengandalkan pinjaman luar negeri, > dengan cepat diketahui kedoknya. Kesejahteraan yang dijanjikan berubah wajah > menjadi seram. "Bantuan" telah menggiring negara miskin ke jalan buntu. Mereka > terus "dibuntuti" untuk melunasi utang luar negeri. > > > Oleh Leonardo Boff (Pasado y Futuro de la > Teologia de la Liberacion, 1987) kenyataan ini dilihat sebagai produk logika > pasar (logica del > mercado). Di sana > modal dibiarkan bergerak semau gue. Sementara itu, gerakan ke arah > pendistribusian kekayaan demi meratanya kesejahteraan dibendung. > > > Bukan itu saja. Kemiskinan menjadi awal dari > serentetan kekerasan baru. Konflik, pertentangan, peperangan, kelaparan, dan > kematian menjadi wajah baru. Oleh José Comblin (Liberación y Cautiverio, 1976), > fenomena ini disebut kekerasan yang terinstitusionalisasi (violencia > institucionalizada). Hal ini memprihatinkan. Hidup seakan tidak berharga karena > begitu mudah dimangsa kematian oleh perebutan makanan. > > > Logika kehidupan > > Jeratan neokapitalisme yang dipromotori oleh > saudara sebenua AS dengan cepat disadari. Tawaran memperbanyak senjata dan > menggandakan militer demi mengatasi konflik dipahami sebagai taktik licik. Di sana, atas "nama keamanan", > sejumlah negara miskin (tetapi kaya sumber alam) dipaksakan memiliki delapan > kali lipat tentara daripada jumlah dokter (R Ruiz, El Paiz, 1992). Padahal, > masalah yang dihadapi adalah ancaman kematian oleh kelaparan. > > > Kuba yang cukup mahir mempelajari gelagat "sang > tetangga", menawarkan jalan keadilan sosial. Kekayaan bersama dimanfaatkan > untuk kesejahteraan bersama dan menjamin hak hidup masyarakat. Tak pelak, > puluhan rumah sakit dibangun. Dalam 25 tahun terakhir, Kuba yang hanya > berpenduduk 10 juta jiwa memiliki 4.000 tamatan dokter spesialis setiap tahun. > Sebanyak 30.000 dokter bekerja di jaringan rumah sakit (red de hospitales), > 20.000 lebih sebagai dokter keluarga. Yang lain sebagai peneliti dan pengajar > di berbagai tempat. Dalam 25 tahun terakhir, Kuba telah menjadi pionir dalam > pemberian beasiswa bagi mahasiswa kedokteran di seluruh Amerika Latin (Gianni > Mina, Habla Fidel, 1987). Seluruh dokter tamatan Kuba kini melayani hampir 70 > juta penduduk dunia. > > > Venezuela > dengan keunggulan sumber daya alam tidak kurang keterlibatan sosialnya. Pada > saat dunia menjerit akibat kenaikan harga BBM, Chavez menawarkan "harga > berdamai" kepada sesama negara di Amerika Latin. Ia bahkan menawarkan harga 100 > dollar AS per barrel kepada pemerintahan sosialis Spanyol. Di Bolivia, > bertepatan dengan hari Buruh 1 Mei 2006, Evo Morales memulai program > reapropiación social de la riqueza pública dengan menasionalisasi semua > perusahaan migas. Baginya, perwujudan keadilan sosial adalah harga mati. > > > Harapan > > > > Gelombang sosialisme yang menyebar di Amerika > Latin menjadi inspirasi bagi kita. Pertama, butuh komitmen pada keadilan sosial > sebagai pijakan awal. Ia bukan sekadar ekspresi aksi karitatif yang mungkin > dilakukan dengan motif politis sekunder. Tidak. Keadilan sosial dipahami secara > komutatif demi terpenuhinya kebutuhan dasar dan terjunjungnya harkat dan > martabat semua manusia. > > > Kita masih jauh dari idealisme ini. Kelangkaan > kebutuhan dasar, melambungnya harga BBM dan gas, kian sulitnya mendapatkan > beras murah, selain orang miskin yang "dilarang untuk sakit" (karena itu > berarti ajal) adalah tanda betapa jauhnya kita dari cita-cita keadilan sosial > bagi seluruh rakyat Indonesia. > > > Kedua, butuh gerakan sosial yang kompak. Untuk > ini, Indonesia > sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia bersyukur punya Ramadhan, > bulan penuh rahmat. Di sana > pembaruan sosial berawal dari pengekangan nafsu badaniah perlahan dibatinkan > untuk kemudian hadir sebagai gerakan sosial demi membarui negeri ini. > > > Pembaruan seperti ini bersifat menyeluruh karena > mencakup dimensi transenden sekaligus imanen, demikian Boff dalam El águila y > la gallina (1989). Agama selain bagai elang (águila) yang terbang dengan > idealisme spiritual yang tinggi untuk mencapai kesempurnaan pribadi, tetapi juga > membumi bagai induk ayam (gallina) yang terlibat secara etis pragmatis dalam > keseharian. Kalau proses ini dijalani, impian akan surga sudah akan terwujud > kini dan di sini. > > > Robert Bala Alumnus > Universidad Pontificia de Salamanca dan Universidad Complutense de Madrid > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >

