Amieennnn, pak, amieennnn...



--- In [email protected], "A. Marconi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Justru selama manusia Muslimin menganggap Al-Dinu al-Islam sebagai 
AGAMA yang harus dipercaya atas dasar kepercayaan saja (dogma) maka 
sekalipun di masa lampau pernah menjadi pionir keberadaban suatu 
masyarakat, mereka akan terpuruk dalam rawa-rawa keterbelakangan yang 
mematikan/memusnahkan selama TIDAK BERSEDIA MENINGGALKAN pemahaman 
teologisnya.. 
> 
> Ingat ketika rasulullah Muhammad saw menerima wahyu pada awal 
kerasulan beliau (periode Mekkah awal) wahyu Allah swt mengkritisi 
masyarakat yang bobrok, yang berideologi materialis, kebendaan. 
Artinya manusia Arab hanya tertarik kepada kekeyaan perhiasan, benda-
benda kesenangan, kejantanan biologis, tuhan-tuhan yang dapat 
disembah-sembah dan dipamerkan serta mahluk-mahluk halus yang 
dipercayai ada (malak, jinn, iblis,dll). Disamping itu mereka 
mengangkat individu sebagai penentu terakhir atas hidup dan sesudah 
mati segalanya selesai. 
> 
> Wahyu Qurani awal-awal diturunkan TIDAK mengkritisi berhala-berhala 
dan tuhan-tuhan yang sudah ada. ALLAH sendiri adalah tuhan tertinggi 
di antara tuhan-tuhan yang ada dalam budaya bangsa Arab sejak dahulu. 
Tetapi justru Wahyu Qurani menganjurkan kepedulian sosial dan 
penjungkirbalikan ideologi yang berkuasa pada tatanan intelektual. 
Wahyu Qurani mengkritik manusia religius yang tidak mempedulikan anak 
yatim-piatu, yang lemah secara sosial, yang diperbudak, yang 
tertindas, yang memperlakukan perempuan-perempuan tidak sama derajat 
dengan laki-laki. Bangsa Arab ketika itu PERCAYA dan MENGAKUI bahwa 
ALLAH adalah tuhan tertinggi dan Pencipta Alam Semesta, tetapi Allah 
mereka itu mempunyai jenjang keturunan dan sahabat, musuh, serta para 
pembantu. Di bidang ideologis ini Wahyu Qurani menjungkirbalikkkan 
ideologi bangsa Arab dengan membersihkan Allah dari semua embel-embel 
yang dipasangkan kepadanya dan MENEMPATKAN-nya di ´Arsyi tertinggi 
sebagai ALLAH Yang Maha Tunggal dan tidak ada yang melampaui ataupun 
dapat menyamai, tidak terserupakan dengan segalanya yang mampu 
difantasikan dan dikhayalkan oleh intelegensi manusia. Argumentasi 
Wahyu Qurani yang diajukan kepada manusia agar mengerti permasalahan 
ideologis ini maka kemudian diturunkan wahyu-wahyu yang menganjurkan 
agar manusia mempergunakan akal dan fikirannya untuk mempelajari alam 
semesta seisinya termasuk husus mempelajari diri manusia biologis (al-
bashyor). Ketika manusia Arab masih ngotot kepada tradisi kabilah-
kabilahnya diturunkan wahyu-wahyu yang mekritisi manusia yang tidak 
mempergunakan hati nuraninya sebagai perangkat untuk memahami dan 
mengerti atas segalanya yang sudah dapat diakses melalui 
penginderaannya (di bidang ini argumentasi Qurani semakin mendalam 
hingga ke batas satuan ruang waktu di mana manusia berada). 
> 
> Jika dilihat pada ayat-ayat muhkamat yang menjadi INTI seluruh isi 
wahyu Quraniyah, maka Wahyu Qurani adalah PETUNJUK, suatu PEDOMAN 
AKSI bagi manusia untuk maju membangun peradaban canggih di mana 
masyarakat manusia sedemikian makmurnya dan nyamannya serta tenteram 
dan aman sebagaimana nikmatnya (waktu itu) hidup di `taman-kebun 
milik para pedagang sukses yang dialiri air segar` (di Mekkah dan 
Madinah). Dan karenanya dalam ayat-ayat muhkamat terdapat seruan-
seruan untuk berani dan konsekwen menegakkan keadilan dan kebenaran 
ilahiyah, bersedia mengorbankan diri pribadi di jalan Allah swt demi 
menegakkan budaya masyarakat manusia yang maju, adil, makmur serta 
seiring dengan hukum-hukum perkembangan alam semesta. Maka Wahyu 
Qurani menganjurkan ber-ISLAM (tunduk dan patuh sukarela tak 
bersyarat) kepada Yang Maha Pencipta dan jangan ber-islam kepada yang 
lain-lain. Dan ISLAM ini digambarkan oleh Wahyu Qurani sebagai suatu 
Hukum Alam Semesta yang telah diikuti oleh alam semesta beserta 
seluruh isinya, kecuali manusia yang masih terus membantah dan saling-
berbantah.
> 
> Munculnya pandangan-pandangan teologis adalah sebagai konsekwensi 
perluasan daerah kekuasaan dari para pemimpin bangsa Arab Muslimin ke 
daerah bangsa-bangsa non-Arab di Timur Tengah. Perluasa daerah 
kekuasaan tersebut bukanlah bertujuan mendakwahkan al-Dinu al-Islam 
tetapi adalah demi memperoleh penghasilan dengan memperluas daerah 
ghasywu yang sudah tidak ada lagi sebagai konsekwensi dari 
pelaksanaan ushul fiqh. Sehingga kebiasaan ghasywu dari tradisi 
kabilah-kabilah yang ada dihapuskan oleh hukum Allah swt. Dan anjuran 
saling bantu-membantu dan tolong-menolong dalam musim paceklik 
digalakkan. Sejarah menunjukan pembalikan Al/Dinu al-Islam menjadi 
agama setelah bangsa Artab dan kaum Muslimin bersinggungan dengan 
budaya Yunani dan pemikirannya serta budaya Persia dan pemikirannya 
di mana bangsa-bangsa maju tersebut sudah mengembangkan pemikiran 
teologisnya. Teologi Islam secara definitif dipakukan pada zaman 
kekuasaan dinasti ´Abassyiah. Sekalipun demikian bibit-bibitnya 
sudah ada pada individu-individu para sahabat rasulullah Muhammad saw 
yang berada di lingkaran utama (Abu Bakar, Umar bin Khotob, Ali bin 
Abu Tholib, Utsman bin ´Affan dll) sebagai orang-orang terdidik dan 
tahu tentang agama Kristen dan Yahudi yang sudah ada di Mekkah. 
Rasulullah Muhammad saw sendiri oleh Wahyu Qurani dimasukkan dalam 
golongan mayoritas bangsa Arab yang UMMI, tak berpendidikan apapun 
(formal maupun informal). Bibit-bibit teologis demikian ini semakin 
berkembang ketika Hijrah ke Madinah dan pembentukan masyarakat madani 
di Madinah di mana kabilah-kabilah Yahudi dan Kristen ikut ambil 
bagian dalam Perjanjian Madinah. Pengaruh tradisi teologi Yahudi dan 
Kristen tersebut masuk ke dalam kelompok Muslimin dalam model cerita, 
kisah, legenda, kebiasaan, ritual serta kebiasaan dan pergaulan 
kehidupan sehari-hari diantara penduduk Madinah dll. 
> 
> Sesungguhnya, menurut pemahaman saya pribadi,  Wahyu Qurani adalah 
suatu PETUNJUK untuk melakukan PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA masyarakat 
manusia dan merupakan PEDOMAN, PETUNJUK untuk beraksi melakakukan 
GERAKAN PENGUBAHAN SOSIAL BUDAYA masyarakat dengan berdasar kepada 
IDEOLOGI TUNGGAL - ALLAH SWT (Ketuhanan Yang Maha Esa). 
Keterbelakangan dewasa ini adalah akibat kebijakan POLITIK TEOKRATIK 
dari para pemimpin dan ahli fikir Muslimin yang tidak didasarkan 
kepada ideologi Ketuhanan Yang Maha Esa dan Bimbingan serta Petunjuk 
Al-Quranu ak-Karim, tetapi kepada kepentingan golongan masing-masing. 
Sehingga Wahyu Qurani dipreteli dan dipilih yang mendukung kemaunnya 
sendiri-sendiri guna mengelabui awam Muslimin yang tak mengerti 
bahasa Arab Qurani. 
> 
> Sejarah perkembangan masyarakat manusia di dunia dan sejarah 
kebudayaan manusia di dunia secara definitif membenarkan Wahyu Qurani 
sebagai Petunjuk dan Bimbingan bagi manusia untuk maju membangun 
Kebudayaan Beradab yang canggih yang memberikan syarat-syarat bagi 
peningkatan KWALITAS manusia sebagai mahluk biologis (bashyor) 
menjadi manusia sebagai Wakil Allah swt di Bumi (al-kholifatan fii al-
ardzh). 
> 
> Semoga dapat berguna bagi kita semua yang Muslim,
> 
> Wassalam,
> A.M
> 
> 
>   ----- Original Message ----- 
>   From: Kartono Mohamad 
>   To: [email protected] 
>   Sent: Thursday, September 11, 2008 9:12 AM
>   Subject: Re: [ppiindia] Re: Keajaiban Al Qur’an dan Ilmu 
Pengetahuan Modern
> 
> 
>   Maka menjadi tugas tokoh islam utk membuktikan apa yg dibanggakan 
itu, bhw islam membawa kemajuan. Kalau masa lalu bisa mengapa skrg 
tidak. Kalau dikembalikan kpd pemeluknya, menjadi pertanyaan apakah 
pemimpin/penganjurnya yg tdk memotivasi ke arah kemajuan dan lbh 
membanggakan masa lalu. KM 
>   Sent from my BlackBerry� 
>   powered by Sinyal Kuat INDOSAT 
> 
>   -----Original Message----- 
>   From: "yustamb" <[EMAIL PROTECTED]> 
> 
>   Date: Sun, 07 Sep 2008 15:22:05 
>   To: <[email protected]> 
>   Subject: [ppiindia] Re: Keajaiban Al Qur’an dan Ilmu 
Pengetahuan Modern 
> 
> 
>   Namun, marilah kita lihat dengan emosi yang dingin, tanpa rasa 
>   > terhina ataupun tersinggung, bahwa mayoritas bangsa beragama 
Islam 
>   > bukanlah bangsa yang tercerahkan, maju dan makmur. 
>   > Ini TAK ada urusan dengan ajaran agama itu sendiri, namun 100% 
>   > terkait dengan , bagaimana manusia alias umat MEMPRAKTEKKAN 
agama. 
>   > Lihatlah bedanya, bagaimana umat Buddha di Tibet hidup dengan 
segala 
>   > keterbelakangan mereka, dan umat Budha di Korea yang maju dan 
>   > tercerahkan. 
> 
>   **** seharusnya kita belajar dari sejarah munculnya islam dimana 
dia 
>   datang pada masyarakat yang dikatakan jahiliyah, di mekah sana. 
Dia 
>   datang mencerahkan bangsa arab yang jahiliyah. Dia datang di 
tengah 
>   gelapnya pengetahuan tentang kemanusiaan, dengan cahaya yang 
>   mengajarkan tentang kemanusiaan itu sendiri, dia membebaskan 
>   perbudakan, dia membebaskan anak perempuan yang di kubur hidup-
hidup, 
>   dia datang mengangkat martabat wanita. Dia mengangkat derajat 
bangsa 
>   Arab sehingga dapat menaklukkan bangsa-bangsa berkuasa di zaman 
itu, 
>   seperti bangsa romawi dan persia. 
> 
>   betul, bahwa tidak seratus persen suatu agama di praktekkan oleh 
>   umatnya, dan itu suatu yang wajar, karena agama sama dengan, 
matematik 
>   ataupun science, dimana tidak semua orang dapat memahami dengan 
>   sempurna. Begitu juga dengan agama, mungkin tidak semua orang 
dapat 
>   memahami ajarannya dengan benar, padahal yang diminta oleh agama 
>   adalah sesuatu yang sederhana yakni kejujuran dan membersihkan 
hati 
>   agar kita tidak selalu membohongi diri sendiri dengan melakukan 
>   perbuatan yang tidak sesuai dengan hati nurani kita. SEhingga 
dalam 
>   agama di ajarkan tentang praktek-praktek mendekatkan diri kepada 
sang 
>   pencipta. 
> 
>   Agama mengajarkan tentang asal usul manusia, agar manusia 
memahami 
>   manusia lainnya, agama mengajarkan tentang kemana manusia akan 
kembali 
>   agar manusia tidak angkuh atau tinggi hati, sebesar atau setinggi 
apa 
>   pun derajat manusia akhirnya dia akan menghadap illahi dan 
>   mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Kita yakin akan 
kekuasaan 
>   Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi ini. 
> 
>   menuruh saya sih budhist tibet dan korea memang terlihat beda 
kalau di 
>   ukur dari materi, tapi apakah rohani mereka sama, kebahagiaan 
mereka 
>   sama ? Jadi materi bukan salah satu ukuran untuk mengukur suatu 
>   negara. Kemajuan materi di amerika misalnya, apakah di ikuti 
dengan 
>   kekayaan rohani bangsanya, lihat saja betapa tingginya tingkat 
>   kerusakan moral mereka kalau di tinjau dari tingkat pelecehan 
terhadap 
>   wanita, seperti yang di tunjukkan dalam millis ini. Yakni amerika 
>   menduduki tingkat pertama dalam raping level. 
> 
>   Jadi pada dasarnya penilaian agama kayaknya nggak bisa di nilai 
dengan 
>   kemajuan materi atau pembangunan, tetapi harus dinilai dengan 
tingkat 
>   moralitas suatu bangsa. 
> 
>   Salam 
>   yb 
> 
>   --- In [email protected], "phyllobates.terribilis" 
>   <phyllobates.terribilis@> wrote: 
>   > 
>   > --- In [email protected], "yustamb" <yustamb@> wrote: 
>   > > 
>   > > *** mamang venezuela dan negara penghasil minyak di amterika 
latin 
>   > > sana, minyak mereka di kelola oleh bangsanya sendiri. 
Technolgy itu 
>   > > dikembangkan tetapi dia adalah barang dagangan, pasti tidak 
ada 
>   > > pemilik technology yang mau menggratiskan technology, semua 
harus 
>   > ada 
>   > > biayanya. Itulah keuntungan antara pemilik technology dan 
pemilik 
>   > > sumber daya gas, bisa terjadi adanya cultural exchange antara 
negara 
>   > > di dunia ini. 
>   > > 
>   > > cuma aneh, indonesia yang punya technology pembuatan batik 
dengan 
>   > > mudahnya menggratiskan pembuatan batik kenegara-negara lain 
sehingga 
>   > > di klaim oleh negara lain, setelah menemukan technik baru 
dalam 
>   > > pembuatan batik dengan hak paten. Inilah kemurahan hati 
bangsa ini, 
>   > > yang berbeda dengan bangsa lain, hak intelektual tidak 
dijaga, 
>   > mungkin 
>   > > pendidikannya atau kemurahan hati bangsa ini sehingga mudah 
di 
>   > perdaya 
>   > > oleh bangsa lain. 
>   > > 
>   > > Tsunamy bisa di lihat sebagai musibah, tetapi bisa juga 
sebagai 
>   > > anugerah dimana semua bangsa datang ke aceh untuk membantu 
indonesia 
>   > > dan terjadinya perdamaian di aceh. Manusia bisa belajar dari 
musibah 
>   > > tersebut, manusia bisa sadar bahwa potensi bahaya yang 
mengancam 
>   > > manusia datangnya dari laut. 
>   > > 
>   > > Di amarika, badai gustav, hana dan ike sekarang sedang 
melanda 
>   > mereka, 
>   > > tetapi mereka belajar dari badai catrina sebelumnya, yaitu 
bagaimana 
>   > > mempersiapkan diri sebelum badai itu datang. 
>   > > 
>   > > saya pikir anda sudah tidak realistis dalam menilai islam, 
seakan- 
>   > akan 
>   > > islam itu jumud, prasangka anda lebih dalam daripada melihat 
sisi 
>   > > positif, coba lepaskan baju kebencian anda maka anda akan 
melihat 
>   > > betapa indahnya dunia ini. 
>   > > 
>   > > Salam 
>   > > 
>   > > 
>   > ****** memang dunia ini indah. Tidak hanya bagi yang kaya namun 
bagi 
>   > semua yang damai dalam jiwanya. Ini saya lihat waktu ber-jalan 
jalan 
>   > dikaki gunung Lawu, ditengah petani sederhana, yang selalu 
>   > tersungging senyum, walau tak memiliki apa apa. Bersyukur untuk 
tiap 
>   > jengkal rezeku (bukan rizki) yang mereka dapat, dan tak selalu 
>   > mengharapkan sedekah (bukan sadoqah) dari orang lain. 
>   > 
>   > Ketika saya tanya, kok dipedesaan itu tak ada mesjid atau 
gereja 
>   > (apalagi vihara), mereka jawab, Gusti Allah (Tuhan dalam bahasa 
orang 
>   > Jawa sederhana), ada didalam diri kita masing masing. 
>   > 
>   > Mana mungkin, kita membenci suatu agama. Agama apapun, yang 
semua 
>   > dimaksudkan untuk menidik manusia mengangungkan sang Pencipta. 
namun 
>   > yang memuakkan adalah PERILAKU umat, yang akhir akhir ini 
memenuhi 
>   > skenario se-hari-hari. Sikap yang juga kita lihat di milis ini, 
>   > dimana satu kelompok mengkafirkan kelompok lain. 
>   > 
>   > Islam, tidaklah selalu negatif, seperti yang anda duga menjadi 
>   > pikiran saya. Tidak. Banyak umat Islam yang cukup bijaksana dan 
penuh 
>   > rasa solidaritas sosial, seperti saya lihat di AS atau Eropa. 
>   > Sebaliknya, tak kurang umat Kristen yang mempercayai, bahwa 
hanya 
>   > mereka yang merupakan bangsa pilihan. Kesempitan jiwa, bukan 
monopoly 
>   > satu agamapun. 
>   > 
>   > Namun, marilah kita lihat dengan emosi yang dingin, tanpa rasa 
>   > terhina ataupun tersinggung, bahwa mayoritas bangsa beragama 
Islam 
>   > bukanlah bangsa yang tercerahkan, maju dan makmur. 
>   > Ini TAK ada urusan dengan ajaran agama itu sendiri, namun 100% 
>   > terkait dengan , bagaimana manusia alias umat MEMPRAKTEKKAN 
agama. 
>   > Lihatlah bedanya, bagaimana umat Buddha di Tibet hidup dengan 
segala 
>   > keterbelakangan mereka, dan umat Budha di Korea yang maju dan 
>   > tercerahkan. 
>   > 
>   > Saudi Arabia, secara keseluruhan (terutama keluarga raja) 
bergelimang 
>   > uang (terutama US$), karena minyak dan gas. Namun dari sisi 
>   > kedewasaan sosial, masyarakat Saudi jauh dari tercerahkan. 
Keadilan 
>   > sosial dan demokrasi? Boleh tunggu ribuan tahun lagi. 
Sebaliknya umat 
>   > islam di Lebanon jauh lebih mengenyam pendidikan (banyak yang 
menjadi 
>   > dokter, lawyer dan pengusaha di AS maupun Eropa), walau tak 
memiliki 
>   > tambang emas, minyak ataupun batubara. 
>   > 
>   > Juga masyarakat Muslim di Asia selatan dan tenggara, bukanlah 
contoh 
>   > bagaimana agama berhasil menggandeng umatnya menuju puncak 
tamaddun. 
>   > Disini Nurul Islam sama byarpet-nya dengan Nurul PLN...(atau 
Nurul 
>   > Buddha di Tibet). 
>   > 
> 
> 
> 
> 
>   [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
>    
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke