Salam `alaikum. Al-Amin juga manusia, punya rasa, punya nasfu, dan punya hati. Kemanusiaannya, membuat dia -seperti kita- cenderung mudah tergiur keenakan, karena nafsu. Rasa (taste)nya sebagai manusia yang butuh agama untuk menjadi pedoman hidup, Al-Amin memilih Islam.
Tapi, bukan agama yang membuat Al-Amin membuka nafsu menerima suap. Tapi fitrah keserakahan manusiawinya yang mendorong rasa keagamaan Al-Amin berkurang, karena khilaf. Bayangkan, sudah beragama aja dia masih khilaf begitu, gimana kalo dia tidak beragama? Tuhan Maha Pengampun. Semoga kekhilafan Al-Amin diampuni dan tobatnya diterima. Salam `alaikum. Pipix Taufiq Jakarta

