Betul sekali.  Bukan agama yang membuat Al-Amin membuka nafsu 
menerima suap.

Namun dengan sedih kita harus terima kenyataan, bahwa agama, APAPUN, 
selama ini (sedikitnya selama kita merdeka), tak pernah mampu 
membentuk manusia yang sejalan dengan ajaran. Agama dijalankan secara 
sempurna, dari titik pandang ritual dan ibadah. Tetapi hanya itu, 
inti ajaran malah disepelekan...




--- In [email protected], "v2xtopz" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Salam `alaikum. 
> 
> Al-Amin juga manusia, punya rasa, punya nasfu, dan punya hati.
> Kemanusiaannya, membuat dia -seperti kita- cenderung mudah tergiur
> keenakan, karena nafsu. Rasa (taste)nya sebagai manusia yang butuh
> agama untuk menjadi pedoman hidup, Al-Amin memilih Islam. 
> 
> Tapi, bukan agama yang membuat Al-Amin membuka nafsu menerima suap.
> Tapi fitrah keserakahan manusiawinya yang mendorong rasa keagamaan
> Al-Amin berkurang, karena khilaf. Bayangkan, sudah beragama aja dia
> masih khilaf begitu, gimana kalo dia tidak beragama?
> 
> Tuhan Maha Pengampun. Semoga kekhilafan Al-Amin diampuni dan 
tobatnya
> diterima.
> 
> Salam `alaikum. 
> 
> Pipix Taufiq
> Jakarta
>


Kirim email ke