From: Sunny <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [dpr-indonesia] 37 Persen Anak Indonesia Kerdil
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Thursday, September 18, 2008, 6:10 PM








Refleksi: Kekurangan gizi membuat 37% anak Indonesia kerdil. Kekurangan gizi 
bukan saja terkait keadaan fisik pada tinggi badan, tetapi juga mempunyai  
akibat  intelektual yang tidak menguntungkan dalam  perkembangan hidup 
selanjutnya. Dengan adanya  37% sekarang,  berarti kemungkinan generasi  
berikutnya pun mempunyai beban hidup demikian yang  bukan disebabkan oleh 
kemasuan sendiri tetapi politik ekonomi dan sosial negara. Apakah mereka tidak 
mempunyai hak hidup lebih baik?  Apa yang harus dibuat dengan negara yang bukan 
saja tidak bisa tetapi juga tidak mau menjamin kehidupan layak bagi 
penduduknya? 
 
http://www.sinarhar apan.co.id/ berita/0809/ 17/opi01. html
 

37 Persen Anak Indonesia Kerdil
Oleh
Siti Nuryati


Survei Kesehatan Nasional yang saat ini tengah berlangsung di tanah air 
menunjukkan 37 persen anak-anak Indonesia usia 0-5 tahun (balita) memiliki 
tinggi badan di bawah standar, atau dengan kata lain pendek (stunting). Angka 
anak yang mengalami stunting itu meningkat bila dibandingkan dengan pemantauan 
pada 2006 yang mencapai 30 persen. 

Kelainan fisik ini ditengarai terjadi akibat pasokan gizi yang masuk ke 
anak-anak tersebut sangat kurang, sehingga mempengaruhi pertumbuhannya. Survei 
itu baru mengambil data 28 dari 33 provinsi yang ada di Tanah Air. Hasil 
sementara dari 28 provinsi yang sudah disurvei persentase suatu daerah 
mempunyai balita bertubuh pendek berkisar 18 persen hingga 60 persen. Selain 
berpostur tubuh pendek yang diakibatkan kurangnya pasokan gizi saat 
pertumbuhan, berat badan anak tersebut saat lahir juga mayoritas di bawah 
standar 2,5 kilogram. 

Dalam gizi daur kehidupan, Administrative Committee on Coordination 
Sub-Committee Nutrition (ACC/SCN) PBB disebutkan wanita hamil yang kekurangan 
gizi bisa melahirkan bayi dengan berat badan rendah. Hal ini dapat terjadi bila 
semasa masa konsepsi (pembuahan), sang ibu kekurangan zat gizi sehingga janin 
juga ikut kekurangan zat gizi. Kenyataan itu bisa bertambah parah bila 
pemberian ASI kurang, pemberian makanan pengganti ASI terlambat, kuantitas 
serta kualitas makanan tambahan kurang, dan terjadi gangguan penyerapan zat 
gizi akibat infeksi di saluran cerna. 

Alor, Rote dan Nabire
Kondisi itu akan mengakibatkan gangguan tinggi badan pada anak. Tinggi tidak 
sesuai dengan usianya atau lebih pendek daripada teman sebayanya. Jika kondisi 
itu terjadi pada awal kehidupan anak, bisa menetap seumur hidup. Ini berarti 
kejadian stunting yang sudah yang sudah terprogram tersebut membuat anak tak 
mungkin lagi menutup ketinggalan pertumbuhan di kemudian hari. Menetapnya 
stunting pada balita dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi dan kematian, 
terhambatnya perkembangan motorik dan mental anak, serta menurunnya 
produktivitas kerja selanjutnya. 

Gagal tumbuh yang terjadi akibat kurang gizi pada masa-masa emas ini akan 
berakibat buruk pada kehidupan berikutnya yang sulit diperbaiki. Menurut 
UNICEF, anak yang menderita stunted berat mempunyai rata-rata IQ 11 point lebih 
rendah dibandingkan rata-rata anak-anak yang tidak stunted. Masalah ini sering 
terjadi di negara berkembang. Angka perkiraannya pada balita di negara 
berkembang seperti Asia (termasuk Indonesia) dan Afrika, adalah di atas 30%. 
WHO menginterpretasikan , tingginya prevalensi stunting menunjukkan kekurangan 
asupan makanan bergizi, tingginya angka kesakitan akibat penyakit infeksi, atau 
kombinasi dari dua keadaan tersebut. 

Beberapa daerah di Indonesia, seperti Alor, Rote dan Nabire, memiliki 
prevalensi stunting tinggi. Berbagai survei yang dilakukan menunjukkan hal 
tersebut. Berdasar survei tahun 1999-2002, angka kejadian stunting di Banggai 
(Sulawesi Tengah) dan daerah miskin Jakarta sekitar 2-30%. Angka tersebut 
dikategorikan sebagai stunting dengan tingkat keparahan sedang (medium). Angka 
kejadian di Nabire sekitar 33,1 persen, yang berarti tingkat keparahannya 
tinggi. Angka prevalensi di NTT sebesar 47,8 persen di tahun 1999, dengan 
tingkat keparahan yang sangat tinggi. Untuk NTT, disebutkan tingkat 
keparahannya menyerupai perkiraan keadaan di Afrika Timur maupun Asia Tengah. 
Kondisi tersebut tentu akan membawa begitu banyak dampak. 

Sebagai akibat lebih lanjut dari tingginya angka stunting pada masa balita dan 
tidak adanya pencapaian perbaikan pertumbuhan (catch-up growth) yang sempurna 
pada masa berikutnya, maka tidak heran apabila pada usia sekolah banyak 
ditemukan anak-anak bertumbuh pendek. Lebih dari sepertiga (36,1%) anak usia 
sekolah di Indonesia tergolong pendek ketika memasuki usia sekolah yang 
merupakan indikator adanya kurang gizi kronis. 

Lingkaran Setan Kemiskinan 
Berbagai literatur menyatakan bahwa keberadaan wasting, stunting dan anemia 
akibat kekurangan asupan makanan yang bergizi pada bayi dan anak balita adalah 
bagian dari lingkaran setan kemiskinan dan penyakit infeksi. Kemiskinan 
mengakibatkan rendahnya tingkat pendidikan orang tua, buruknya lingkungan 
perumahan dan tidak adanya akses terhadap air minum dan sanitasi. Juga 
keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar lain dan pelayanan sosial termasuk 
pangan, kesehatan dan pendidikan. 

Ada sebuah postulasi bahwa keberadaan orang lapar apalagi bayi dan anak balita 
busung lapar merupakan pengujian utama terhadap adil dan efektifnya sistem 
sosial dan ekonomi di sebuah negara. Demikian mendasar fungsinya, sehingga 
melalui sistem pangan masyarakat (produksi - distribusi - konsumsi) dapat 
dipakai sebagai jendela untuk memahami sebuah masyarakat. Kelaparan yang 
diderita bayi dan anak balita di Indonesia jelas menunjukkan tidak adil dan 
efektifnya sistem sosial dan ekonomi di negara ini. Negara bertanggungjawab 
atas tragedi kemanusiaan ini.  Karena hal ini berpotensi menjadi sumber ancaman 
bagi kualitas sumberdaya manusia kita. Padahal Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 
atau Human Development Index (HDI) Indonesia tak pernah menggembirakan. 
Rendahnya IPM ini tak luput dari faktor rendahnya status gizi dan kesehatan 
penduduk Indonesia, yang dapat ditunjukkan dengan masih tingginya angka 
kematian bayi di Indonesia yang juga masih relatif tinggi.
 Indikasinya terlihat dari setiap satu jam, sekitar 24 orang balita meninggal 
dunia atau 576 balita meninggal setiap harinya di negeri ini. Perlu diketahui 
bahwa lebih dari separo kematian bayi, balita dan ibu ini berkaitan dengan 
buruknya status gizi.

Masalah gizi dan kesehatan di masa datang akan semakin komplek dan itu semua 
akan menjadi tantangan utama pembangunan bidang kesehatan. Kompleksitas masalah 
gizi dan kesehatan tersebut menuntut perhatian semua pihak khususnya Departemen 
Kesehatan RI dalam mengantisipasi masalah kesehatan di masa yang akan datang 
serta dalam mengambil keputusan kebijakan pembangunan kesehatan.  Namun 
demikian, peran wakil rakyat, pemerintah daerah, masyarakat, perguruan tinggi, 
dan pemangku kepentingan lainnya juga sangat menentukan keberhasilan dalam 
menangani masalah gizi dan pembangunan kesehatan di Indonesia. 

Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia 
IPB  














      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke