http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/KasusMunir/tegaskan.poll\
ycarpus
<http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/KasusMunir/tegaskan.pol\
lycarpus>



Mantan Dirut Garuda Tegaskan Kaitan Pollycarpus dan BIN



Aboeprijadi Santoso dari Jakarta

19-09-2008



Mantan Direktur Utama Garuda Indra Setiawan dalam kesaksiannya dengan
tegas mengaitkan terpidana Pollycarpus dengan Badan Intelejen Negara
BIN. Dia juga mengesankan adanya peran dari Kepala BIN Jenderal
Hendropriyono dan, terutama, Waka BIN As'ad Ali. Sidang kasus Munir
dengan terdakwa Mayjen Muchdi Purwopranjono memasuki minggu ketiga
dengan mulai mendengar sejumlah saksi.

Mengawali pemeriksaan saksi, yang seluruhnya berjumlah 19, sidang
terdakwa Muchdi pekan ini mendengar kesaksian istri Munir, Suciwati, dan
dua saksi dari Badan Intelejen Negara BIN. Menurut Suci, mendiang
suaminya pada tahun 1998 sudah memperingatkan bahaya teror. Muchdi,
menurut Munir, sakit hati karena Munir-lah yang membongkar penculikan
sejumlah aktivis anti Orde Baru waktu itu.

Suciwati: "Dia (Munir) berbicara siapa yang paling benci dia: 'iki sing
paling lara weteng mestine Muchdi polane iki de'e sek dadi Danjen
Kopassus mek sediluk mara mara dilereni, iku dadi tentara iku
prestisius, jabatan iku kok mara mara dicopot' itu akan menyakitkan buat
dia. Maksudnya sakit perut (lara weteng) itu sakit hati adalah Muchdi,
karena Muchdi baru menjabat Danjen Kopassus sebentar, itu jabatan
prestisius, tiba-tiba dibebastugaskan begitu saja, itu hal yang sangat
menghinakan. Itu yang dia(Munir) ceritakan."

Dugaan Munir itu, oleh Jaksa Penuntut Umum memang dianggap sebagai motif
pembunuhan Munir. Namun, Muchdi mencoba menyangkal.

Muchdi: "Menurut kami apa yang disampaikan oleh almarhum kepada
Suciwati, tentang lara weteng tadi, tidak benar. Saya bukan
diberhentikan sebagai danjen, dibebastugaskan dari danjen, saya
keberatan dengan keterangan saksi."

Sulit menyangkal
Lara weteng, sakit hati, atau pun tidak, Muchdi bakal sulit menyangkal
bahwa dirinya terlibat mendalam. Indra Setyawan, waktu itu Direktur
Utama Garuda, mengakui, setelah menugaskan pilot Pollycarpus Budihari
Priyanto sebagai petugas corporate security, belakangan dia bertemu
dengan Waka BIN As'ad Ali dan terdakwa Muchdi.

Indra Setyawan[IS]: "Saya dapat surat permintaan dari Badan Intelejen
Negara yang merekomendasikan saudara Pollycarpus untuk diikutsertakan
sebagai petugas corporate security."

Jaksa Penuntut Umum[JPU]:"Apakah ada copilot lain atau pilot lain yang
bapak terbitkan surat yang sama untuk tugas yang sama?"

IS: "Tidak ada!"

JPU: "Kepada Polly satu-satunya?"

IS: "Ya!"

JPU: "Itu juga dengan alasan permintaan BIN?"

IS: "Ya betul."

JPU: "Dengan dasar pertimbangan apa pak?"

IS: "Ya saya kenal, dan kemudian dia ditunjuk oleh suatu instansi negara
resmi."

JPU: "Kenapa yang minta institusi BIN, tapi yang membawa suratnya
Pollycarpus, di mana Pollycarpus notabene staff bapak?"

IS: "Saya tidak tanya, saya tidak perlu tanya lagi. Cuma saya merasa
beliau sekarang mendapat tugas dari sana."



Dengarkan laporan.

Mengaitkan langsung


Indra jelas mencoba mempertahankan diri dengan unjuk diri sebagai
birokrat yang loyal pada negara. Namun, dengan begitu, dia sekaligus
mengaitkan kasus Munir dengan Polly sebagai agen BIN, dan Muchdi dan
As'ad sebagai pejabat pejabat BIN yang terlibat langsung.

JPU: "Setelah itu bapak ingin ketemu dengan yang menerbitkan surat.
Siapa yang memfasilitasi?"

IS: "Saudara Polly, saya ketemu di kantor BIN, bertemu dengan Pak
As'ad."

JPU: "Pernah bertemu dengan terdakwa?"

IS: "Saya pernah. Waktu saya bertemu dengan Pak As'ad. Saudara
Pollycarpus menyampaikan kepada saya kalau menyebut nama-nama, pakai
istilah joker, ada kartu As, ada Bu Afi."

JPU: "Siapa yang dimaksud dengan joker?"

IS: "Disebut joker adalah kepala BIN Hendropriyono, kalau Bu Asmini,
saya tidak tahu."

JPU: "Satu lagi?"

IS: "Bu AFi dan Pak Muchdi."

JPU: "Itu kata sandi muncul dari siapa?"

IS: "Saudara Pollycarpus."

Dua saksi dari bagian tata usaha BIN membantah pernah melihat
Pollycarpus bertemu Muchdi. Bahkan, As'ad Ali, Waka BIN, kabarnya sempat
menangis di muka Gus Dur dan mengaku tidak tahu menahu. Namun kesaksian
mantan Direktur Utama Garuda Indra Setyawan memperlihatkan dengan jelas
kaitan Pollycarpus dengan para pejabat teras BIN.

Kawan
Yang menarik, Jaksa Penuntut Umum juga akan mengajukan saksi yang hanya
dikenal dengan nama sandi "Kawan". Kabarnya dia seorang penembak jitu
yang menolak perintah pejabat BIN untuk menembak Munir. Tim Pembela
Muchdi kini mendesak agar saksi kunci yang lain, yaitu Budi Santoso yang
berada di Pakistan, dapat dihadirkan.

Dua saksi inilah, si "Kawan" dan si Budi Santoso, yang dapat menentukan
sukses tidaknya pembuktian dakwaan Jaksa terhadap Jendral Muchdi sebagai
perancang pembunuhan Munir.

Sekian laporan Aboeprijadi Santoso dari Jakarta





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke