> >Fri Sep 19, 2008 8:39 pm (PDT) > > > >Pantas untuk direnungkan. ..... > > > >Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia >mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda >anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang >kampung >sungguh >menyebalkan. Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan >berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging >yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es >kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat >diplastik es tersebut. Pemandangan tersebut >menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! >Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak >orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu >saja menggoda orang yang melihatnya. > >Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga >hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari >biasanya. >Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampung mengenai bocah itu. Mereka >tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan >bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging >tersebut. >Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan >sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya >akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang >akan >melarangnya. > >************ ********* ********* ********* ********* ***** >Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, >belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. >Bocah >itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin >dan akan >muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga! >Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari >dengan >menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan >ludah, tanda ingin meminum es itu juga. > >Luqman pun lalu menegurnya. Cuma, ya itu tadi, bukannya takut, bocah itu >malah >mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar Luqman. >"Bismillah.. ." ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. >Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir, kalau memang bocah itu bocah >jadi-jadian, ia >akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu "bocah >beneran" pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana >sesungguhnya bocah itu. >Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan >Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan >membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya >dari orang-orang yang melihatnya. > >"Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging >ini? Bukankah ini kepunyaan saya?" tanya bocah itu sesampainya di rumah >Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. >Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman. > >"Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa," jawab Luqman dengan >halus, "apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu >bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan >tingkahmu >itu.." > >Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. >Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman >lebih >tajam lagi. > >"Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang >lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu >mempertontonkan >kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan >diluar >bulan puasa? > >Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan >menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? >Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang >menangis? > >Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, >sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian >menjemput ajal..?! > >Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian >untuk >menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib >terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian...!?" >Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk >menyela. > >Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan >terdengar "sangat" menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba. >"Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa >meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang >bisa kami >makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja. >Dan ketahuilah juga, juatru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang >menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu >kalian >sebut itu menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri? > >Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang >luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya >dengan istilah menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri? > >Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa disaat kami menangis, bahkan pada >bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula. >Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua >belas >bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya >lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti >kami ! > >Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah kalian masih >saja mendekap harta secara berlebih? >Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan >tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? >Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya >pada >penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat. Tahukah Tuan akan >adanya azab >Tuhan yang akan menimpa? >Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan , jangan >merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan 'tuk setahun, >jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak " > >************ ********* ********* ********* ******* >Wuahh , entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat >meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. >Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! >Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah >sembarangan. >Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja >meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong. >Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. >Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan >raya >kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, >tapi ia tidak menemukan bocah itu. > >Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, >tapi >semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran >didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah >Luqman! >Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang! >Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil >sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk >akal, >tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul >adanya apa >yang dikatakan bocah misterius tadi. > >Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan >orang yang seharusnya kita ingat. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka >yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak. >Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang >sedang >berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali >menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan >mempertontonkan kemewahan yang berlebihan. > >Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus >menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk >menahan lapar. > >Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar >biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya. >Sekarang yang ada dipikirannya sekarang, entah mau dipercaya orang atau >tidak, >ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus >menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, >kepada sebanyak-banyaknya orang. >Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki >bercahayanya hati. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. >Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. . Luqman rindu >kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya. >Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk >hidungnya ketika ia salah.
[Non-text portions of this message have been removed]

