akal bulus misionaris buat menjerat domba2 nyasar nih :p
Al Furqan Al Haq (The True Furqan) :
Sebuah Kedustaan & Pengakuan Kegagalan
Oleh: M. Syamsi Ali
"Sungguh besar
kalimat (dusta) yang mengalir dari mulut-mulut mereka, namun tak lain
apa yang diucapkan kecuali kebohongan" (S. Al Kahf: 5)
Akhir-akhir ini ummat Islam di berbagai belahan dunia kembali
diresahkan oleh penulisan sebuah buku yang kemudian diklaim sebagai
"tandingan" Al-Quran. Judul buku tersebut juga diambil dari salah satu sifat
Al-Quran, yaitu "Al Furqaan" (pembeda antara kebenaran dan kebatilan).
Saya sendiri
menerima buku ini sekitar Juli 2001 lalu dan pada awalnya saya
menganggapnya sesuatu yang tidak berharga. Sebagai seorang Muslim yang
hidup di tengah-tengah non Muslim, propaganda murahan seperti ini
merupakan hal biasa. Membaca, menyaksikan dan bahkan mengalami
kebohongan seperti ini sudah merupakan santapan sehari-hari. Sikap saya
ini juga merupakan sikap sebagian besar pemimpin komunitas Muslim di
AS, yang menganggapnya sebagai pembuktian ayat Allah: "Meraka
hendak memadamkan (cahaya agama) Allah dengan mulut-mulut mereka, dan
Allah tetap menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir membenci" (Ash
Shaff: 8).
Dalam pengantarnya di buku tersebut, kedua penulis yang tidak pernah
menyebutkan nama lengkapnya, Al Saffee dan Al Mahdy, tidak menyebutkan buku ini
sabagai tandingan Al-Quran dan hanya menyatakan seruannya: "Kepada
bangsa-bangsa Arab khususnya dan ummat Islam umumnya di seluruh dunia:
Salam sejahtera dan rahmat Allah Yang Berkuasa atas segala sesuatu". Namun
dalam pengantarnya di www.amazon.com, penulis dengan terus terang mengatakan
bahwa buku ini adalah "the
most plausible challenge to the Arabic Quran in history" (Tantangan
yang paling nyata terhadap Al-Quran berbahasa Arab dalam sejarah)"
Bagi penulis, buku ini ditujukan kepada ummat Islam dan ummat Kristiani
sekaligus, untuk tujuan berbeda. Untuk ummat kristiani ditujukan agar
mereka mendapatkan bukti-bukti substansial akan kebenaran kitab injil,
sekaligus mendapatkan tanda tanya besar akan kesahihan Al-Quran.
Sementara untuk umat Islam ditujukan agar mereka mendapatkan pelajaran
dan pengalaman bercahaya.
Dalam "press release" yang dikeluarkan oleh Baptist Press tanggal 27 Mei 1999,
ketika awal penerbitan buku yang dipersiapkan selama tujuh tahun ini, Al Mahdy
mengatakan dengan penuh optimisme: "Hendaknya
ummat Kristiani di seluruh penjuru dunia mempersiapkan diri untuk
menyambut kehadiran ummat Islam yang akan murtad ke tengah-tengah mereka".
Setelah membaca sekali lagi buku tersebut, ternyata sangkaan saya
selama ini semakin kuat bahwa buku ini sesungguhnya tidak lebih dari
sebuah "sampah" yang tidak berharga. Ditinjau dari segi
bahasa apalagi dari segi substansi, buku ini hanya menggambarkan iri
hati dan kebencian yang sangat terhadap kebenaran, yang oleh Al-Quran
digambarkan sebagai "hasadan min 'indi anfusihim" (dengki dari dalam diri
mereka sendiri).
Buku ini sesungguhnya membuka "borok lama" bahwa memang ada di antara manusia
yang senang mencipta buku, yang
kemudian diakui sebagai wahyu Tuhan. Dengan terbitnya buku al furqaan
al haq ini, terbukti pula satu ayat Al-Quran yang menyatakan "mereka
menulis kitab dengan tangan-tangan mereka, kemudian mengatakan bahwa
ini (kitab)dari sisi Allah. (Yang dengannya), mereka membelih ayat-ayat
Allah dengan harga yang murah".
Kitab
ini, diakui penulis, bukan Al-Quran dan bukan pula Injil. Melainkan
ciptaan baru yang diakui sebagai petunjuk (wahyu) untuk menerangi jalan
manusia. Dengan demikian, ini merupakan pembuktian karakter dasar
mereka yang senang mencipta-cipta buku dan diakui sebagai wahyu dari
Allah. Tidakkah ini cukup menjadi bukti bahwa kitab suci yang mereka
yakini saat ini adalah juga ciptaan manusia seperti ini?
Penulis secara jujur mengakui ketinggian bahasa Al-Quran. Namun sangat
keliru ketika mengatakan bahwa bahasa buku ini menyerupai bahasa
Al-Quran. Kutipan ayat-ayat Al-Quran secara sepotong-sepotong dalam
buku ini, dapat dirasakan dengan "dzawq lughawi" (rasa bahasa), betapa
berbeda dengan kata-kata sisipan dari penulis. Secara gramatik
misalnya, penulis sesungguhnya tidak menyadari bahwa penyerupaan
"BismillahirRahmaniRahim" dengan "Bismilaab-alkalimah-ar ruuh-al ilaah al
waahid al awhad" merupakan pengingkaran terhadap keyakinan dasar mereka
sendiri. Karena kata benda dalam kalimat ini hanya "Aab" saja.
Sementara
semua kata selanjutnya adalah kata sifat dari Aab. Tanpa disadari
penulis telah mengingkari konsep trinitas yang meyakini Bapak sebagai Dzat
(benda), anak sebagai dzaat (benda) dan Roh kudus sebagai dzaat (benda).
Sementara dalam kalimat ini, hanya Aab (bapak) saja sebagai benda, selebihnya
hanya sifat dari Aab (tuhan bapak).
Sangat disayangkan, di tengah gencarnya upaya-upaya mengharmoniskan
hubungan antar pemeluk agama, saat ini masih ada orang yang tidak jujur
pada dirinya sendiri. Justifikasi kebenaran dengan kedustaan merupakan
sebuah kanaifan akan kebenaran itu sendiri. Justifikasi kebenaran kitab
suci dengan kedustaan hanyalah indikasi akan kenaifan kitab suci itu
sendiri dalam kebenarannya. Saya menilai, buku ini sesungguhnya adalah
sebuah pengkhianatan terhadap injil. Karena kenaifan injil inilah maka
diperlukan kitab lain untuk menunjuki jalan manusia.
Akhirnya,
saya menghimbau kiranya semua ummat beragama perlu menanamkan kejujuran
pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin Anda dapat mengajak kepada
keimanan, sementara anda menebarkan kedustaan? Saya sepertinya bisa
memahami sikap Salman Rusydi karena dia memang tidak meyakini sebuah
agama. Tapi saya justeru terheran dengan sikap pemimpin agama yang
berjiwa kerdil.
Bagi ummat Islam, anggap saja kasus ini
sebagai krikil kecil dalam perjuangan, yang justeru mempertebal
keimanan. Percayalah, kebenaran Kalam Allah tak akan ternodai secuil
pun dengan kedustaan para pendusta: "Sungguh Kami menunrunkan
"Dzikra (Al-Quran) ini, dan sungguh Kami pula yang menjaganya" dan
"Katakanlah: Sesungguhnya walau manusia dan jin berkumpul untuk membuat
yang tulisan yang menyerupai Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan
bisa membuat yang serupa dengannya, walaupun di antara mereka saling
membantu (dalam kebatilan)" demikian jaminan Allah. [www.hidayatullah.com]
Penulis
adalah Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Tulisan ini
pernah ditulis pada kasus yang sama pada tahun 2001. Diedit dan
diterbitkan ulang oleh www.hidayatullah.com
[Non-text portions of this message have been removed]