selaen tulisannye bang akmal, tulisan bang qosim jg sangat berbobot, selamat 
membaca pemirsa milist yg budiman :)


Pornografi; Antara Sekularisme dan Agama Isu
RUU-Pornografi & Pornoaksi akhirnya "ramai-ramai" dihujat.
Alasannya cukup klasik: bias gender, anti Pancasila dan menolak
kreativitas seni. Mereka yang mendukung "kreativitas seni", gender dan
kebebasan berekspresi (freedom of expression) saling 'bahu-membahu'
untuk menolak dan "meruntuhkan" rencana DPR untuk mengeluarkan RUU-PP
tersebut.

Di berbagai media massa tulisan yang menyanggah dan
menolak lahirnya RUU ini banyak disebarkan. Tak ayal lagi, orang-orang
yang mengaku "pluralis", pembela HAM dan gender equality "berteriak"
bahkan mengancam untuk melakukan "disintegrasi". Alasan yang terkesan
dipaksakan dan mengada-ngada sebenarnya.

Memang, sejak arus
liberalisme dan sekularisme menyeruak masuk ke Indonesia, berbagai
fenomena yang ingin menyingkirkan dan memarjinalkan agama semakin
kentara. Umat Islam, sebagai warga negara mayoritas, merasa
bertanggungjawab untuk bisa membendung arus demoralisasi dan
dehumanisasi ini. Sayangnya, usaha umat Islam ini selalu dicurigai,
bahkan –kalau bisa—dijatuhkan. Demoralisasi, karena arus liberalisme
dan sekularisme tidak lagi mengindahkan "rambu-rambu agama" yang banyak
memberikan batasan moral dan etika berekspresi. Penulis katakan
'dehumanisasi', karena manusia tidak lagi diperlakukan sebagai manusia.
Dalam kasus penolakan RUU-Pornografi ini, kaum hawa sejatinya ingin
dipermainkan dan dipertontonkan 'auratnya'. Ironisnya, kaum hawa banyak
yang tidak sadar. Akhirnya latah dan ikut-ikutan untuk menentang RUU
yang berusaha untuk dijadikan benteng moral bangsa.

Sekularisme vs Moral
Istilah
"moral" tidak memiliki tempat di dalam kamus kaum sekular. Akhlak bukan
segalanya dalam hidup ini. Agama dan sekularisme memang 'bak pinang
dibelah dua': tidak pernah bersatu. Itulah yang diperankan oleh
sekularisme-Barat, menjauhkan agama dari panggung kehidupan masyarakat.
Dalam Islam justru sebaliknya, sekularisme tidak memiliki tempat sama
sekali. Sekularisme bagi Islam adalah "bencana", bukan "berkah",
apalagi "rahmat".

Sejak kemunculannya, Islam adalah agama moral.
Misi kenabian Nabi Muhammad sejak awal telah diproklamirkan, "Innamaa
bu‘itstu lu'utammima makaarima'l-akhlaq.." (HR. Imam Malik dalam
al-Muwatha'). Namun demikian, bukan berarti hanya Islam yang memberikan
concern khusus pada masalah moral ini. Karena jika dilihat lebih
kritis, seluruh agama yang dibawa para rasul Allah adalah agama moral
(dîn al-akhlâq). Sayangnya, di Indonesia pemahaman ini menjadi kabur.
Kaum sekular –apapun agamanya—memandang bahwa mereka yang memperjuangan
akidah dan moral, dianggap sebagai keeper akidah. Benar-benar ironis.
Bagi kaum sekular, wanita yang memperlihatkan ‘lekuk tubuh’ dan
kemolekan merupakan ‘‘seni’’ yang patut dihargai dan dinikmati. Siapa
saja yang berusaha untuk membendungnya dianggap sebagai ‘‘penghalang’’
kreativitas seni dan harus dilawan serta ‘‘dihabisi’’.

Kaum
sekular di Indonesia, sebenarnya telah 'teracuni' gaya berpikir
sekularisme-Barat. Sekularisme sejak kelahirannya telah menolak agama
dan segenap simbol-simbolnya, termasuk busana –baju, jilbab, dll.
Contoh konkret adalah apa yang terjadi di Perancis. Hijab Muslimah
tidak mendapat tempat di negri Napoleon itu. Padahal, Barat sangat
"getol" mengkampanyekan slogan 'kebebasan berekspresi' dan freedom of
religion. Sekularsime yang jelas-jelas mengotori agama, oleh kaum
sekular dianggap sebagai konsep yang akan membawa manusia kepada
kemajuan. Tapi buktinya, masyarakat semakin jauh dari nilai-nilai
religius. Akhirnya, mereka alergi dengan setiap simbol yang berbau
agama. Segala yang berbau seks dipandang sebagai seni. Memang, seni itu
adalah keindahan. Semuanya dalam pandangan kaum sekular menjadi indah,
meskipun merusak moral. 

Agama Semit dan Pornografi
Sejatinya,
tidak ada satu agamapun yang menganjurkan pemeluknya untuk melakukan
pornografi. Agama Yahudi, Kristen dan Islam sama-sama melarang para
wanita untuk membuka 'tutup kepala' (Islam: jilbab). Sayangnya, di
Indonesia yang jadi korban justru agama Islam. Seolah-olah Islam itu
diskriminatif terhadap perempuan. Padahal ajaran menutup aurat bukan
ajaran yang hanya dimonopoli oleh Islam.

Berbagai peradaban
telah mencatat bahwa para wanita memang 'menutup aurat'. Pada masa
Fir‘aun (Fara‘inah, Pharaoh) perempuan memakai hijab. Pada masa
keluarga ke-17, para wanita di zaman itu biasa memelihara keelokannya
dengan cara mengenakan semacam penutup tubuh: menutup dua pundak, dada
dan bagian lengan. Khusus rambut, mereka menggunakan al-baarukah
(rambut palsu, wig). Wig ini merupakan hal yang sangat mendasar dalam
menjaga kecantikan. Tujuan pengenaan wig tersebut adalah untuk menjaga
rambut dari sengatan sinar matahari. (Dr. Huda Darwish, Hijab
al-Mar'ah: Bayna al-Adyan wa al-‘Almaniyah, 2005: 20).

Menurut
‘Abdul Maqshoud di dalam bukunya al-Mar'ah fi Jami‘i al-Adyan wa
al-‘Ushur (1983), arkeologi abad II SM menerangkan bahwa terdapat
prasasti yang menerangkan bahwa para wanita menutup kepala mereka.
Selain itu, ternyata dalam arkeologi tersebut terdapat hukum-hukum yang
mewajibkan pemberian sanksi kepada perempuan yang tidak memakai hijab.
Bahkan wanita Babil (Babilonia) biasa tinggal di rumah untuk mengurusi
anak-anaknya dan membahagiakan hati suaminya.

Menurut Abul A‘la
al-Mawdudi dalam bukunya yang terkenal, al-Hijab, perempuan Yunani
(Greece) memakai hijab dengan sempurna. Tidak ada yang kelihatan dari
tubuh mereka, selain dua matanya saja.

Lebih menarik lagi adalah
apa yang ada dalam ajaran Budha. Budha pernah ditanya oleh salah
seorang kepercayaanya, "Bagaimana kami berinteraksi dengan para
wanita?" Apa jawab Budha? "Jangan lihat mereka!" (Dr. Huda Darwish, op.
cit.,: 21).

Dalam agama Yahudi bahkan terkesan sangat ekstrim
ketika menerapkan hijab ini. Bahkan niqab (penutup wajah) dalam
Judaisme telah dikenal sejak lama.. Dalam Kitab Kejadian 24: 65 dengan
tegas disebutkan bahwa pengantin wanita ditutup wajahnya. Lebih jelas
lagi terdapat di dalam Kejadian 24: 64 dimana Ribka ketika tahu Ishak
datang, ia menutupkan selendang ke wajahnya. Jika ditelusuri lebih
lanjut di dalam Taurat (Torah), ayat-ayat semacam itu sangat banyak
sekali. Konsep melarang tasyabbuh saja ada di dalam Taurat. Mirip
sekali dengan Islam. Dalam agama Yahudi sangat tercela seorang
laki-laki yang mengenakan pakaian perempuan, begitu pula sebaliknya.
(Bilangan 13-15). 

Agama Kristen tidak jauh berbeda dengan
Yahudi.. Di dalam Injil banyak sekali ayat-ayat yang berbicara tentang
ajaran menutup aurat. Menurut Paulus, perempuan Kristen harus menutup
kepalanya demi malaikat. (Kejadian 24: 65, Bilangan 5: 18, Yesaya 6: 2,
Matius 18: 1, dan Efesus 2: 10). Para wanita dalam Kristen harus
menutup wajah mereka sebagai penghormatan dan ketundukan kepada Tuhan.
(Yesaya 6: 2). Kenapa? Karena para malaikat ikut beribadah dan belajar
dari gereja. (Efesus 3: 10).

Melihat wanita asing dalam Kristen
dianggap sebagai jalan ke arah perzinaan. Melihat perempuan saja,
menurut Yesus, telah berbuat zina di dalam hati. Yesus sangat tegas,
bahkan sampai harus membuang mata kanan jika melihat hal yang tidak
dibenarkan. Etika berbicara di dalam Kristen juga sangat diatur.
Perempuan dalam agama Kristen dilarang untuk berbicara di dalam gereja.
Ia dianjurkan untuk tenang. Paulus sangat tegas melarang wanita agar
tidak berbicara di dalam gereja. (Korintus 14: 34-36).

Islam
jelas sangat tegas dalam membeberkan batasan aurat. Seluruh mazhab
Fiqih Islam menyatakan bahwa seluruh tubuh perempuan adalah aurat,
kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Maka tidak heran, jika umat
Islam paling "getol" mendukung RUU di atas. Tapi sangat disayangkan,
tiga agama Semit ini tampak saling berjauhan. Yahudi terkena virus
sekularisme, Kristen dan Islam juga seperti itu. Luar biasa! Ajaran
agama yang memberikan ajaran yang baik kepada perempuan dikesampingkan,
bila perlu "dibrangus" habis. Ironinya, korban dari itu semua adalah
umat Islam. Maka sangat ironi jika umat Kristen tidak mendukung usaha
umat Islam dalam "menggolkan" RUU-Pornografi & Pornoaksi.

Tidak
bisa dinafikan, agama sangat erat kaitannya dengan moral. Dan moral ini
jika tidak dijaga, akan merusak bangsa. Maka benar kata Ahmad Syaqi,
"Suatu negara (bangsa) itu dikenal karena moralnya. Jika moralnya
hilang, nama bangsa itupun ikut punah." Penolakan RUU-Pornografi &
Pornoaksi merupakan langkah awal untuk menghancurkan bangsa Indonesia.
Wallahu a‘lamu bi al-shawab.

(Kairo, March 25 2006). Qosim Nursheha Dzulhadi


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke