Teologi Apologetik dalam Membaca “Kitab Suci”
Oleh Qosim Nursheha Dzulhadi *)
Dalam situs pribadinya, Ulil Abshar-Abdallah menulis satu artikel
tentang cara membaca Kitab “Suci” –baik Al-Qur’an maupun yang lainnya.
( Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik ). Dalam artikelnya itu,
Ulil menolak pembaca Kitab “Suci” secara
apologetic. Karenanya dia mengusulkan bagaimana membaca kitab “suci”
itu secara non-apologetik. Dia merasa terganggu oleh kalangan umat
Islam yang banyak menunjukan kontradiksi dalam Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru. Karena menurutnya, itu hanya usaha untuk menunjukkan
kehebatan Al-Qur’an.
Artikel ini, hemat penulis, perlu dicermati karena menyangkut
otentisitas Al-Qur’an. Selain itu, ada semacam usaha Ulil untuk
“menyamakan” antara Al-Qur’an dengan kitab-kita agama lain –khususnya
Bible. Di sini akan penulis kutip beberapa pernyataan Ulil yang penting
untuk dikritisi.
Di awal artikelnya, Ulil menulis: “SAYA sering terganggu oleh sikap
beberapa kalangan Muslim apologetik yang dengan mudah menunjukkan
adanya kontradiksi dalam Kitab Perjanjian Lama dan Baru. Dengan gigih
sekali mereka mencoba memperlihatkan bahwa dalam dua kitab “suci” itu
tersua sejumlah pertentangan internal.
Usaha itu bukan tanpa tujuan: yaitu untuk menunjukan kehebatan Quran
sebagai Kitab “Suci” yang paling baik, solid, koheren, logis, tidak
mengandung pertentangan internal apapun. Lalu mereka mengutip sebuah
ayat dalam Quran yang terkenal, “Afala yatadabbarun al-Quran, wa law kana min
‘indi ghair al-Lahi lawajadu fihi ikhtilafan katsira.” (4:82) Artinya: Apakah
mereka tak merenungkan secara mendalam mengenai Quran itu; seandainya
ia berasal dari selain Tuhan, maka sudah pasti mereka akan menjumpai
banyak pertentangan di dalamnya.
Hal serupa juga ada pihak Kristen (dan juga Yahudi). Saya banyak sekali
menjumpai buku-buku apologetika Kristen (juga Yahudi) yang menunjukkan
adanya sejumlah pertentangan internal dalam Quran.”
Dia juga menulis:
Tanpa mengurangi penghormatan saya pada kepercayaan
teman-teman Muslim yang lain mengenai Quran, sejauh menyangkut
kontradiksi, dalam Quran banyak sekali kita jumpai kontradiksi dan
pertentangan internal. Bukan hanya itu, dalam hampir semua Kitab “Suci”
selalu akan kita jumpai kontradiksi semacam itu. Tugas penafsirlah
untuk melakukan “harmonisasi” agar pertentangan itu bisa “dihaluskan”
(explained away) atau malah dihilangkan sama sekali. Orang yang datang
dari luar tradisi Islam (terutama orang Kristen), misalnya, dan
ujug-ujug langsung membaca Quran, kemungkinan akan terperanjat, karena
Quran di matanya boleh jadi mirip sebuah “jumble mumble”, atau kitab
yang sama sekali tanpa struktur, temanya loncat-loncat tanpa aturan,
seperti sebuah buku yang tak diedit dengan baik, dan mengandung banyak
kontradiksi di dalamnya. Dia akan cenderung membandingkan Quran dengan
Kitab Perjanjian Lama yang lebih memiliki struktur naratif yang rapi.
Hal yang sama terjadi pada orang yang datang luar tradisi Kristen
(misalnya seorang Muslim), lalu ujug-ujug membaca Kitab Perjanjian Lama
atau Baru, boleh jadi dia akan menjumpai sejumlah kontradiksi internal
dalam kitab itu, apalagi menyangkut gambaran Tuhan dalam Perjanjian
Lama yang, mohon maaf, tampak aneh dan sama sekali tak masuk akal.”
Tentang keimaman seoramg Muslim terhadap kitab-kitab lain, Ulil
menyatakan bahwa “sorang Muslim percaya bahwa kitab-kitab sebelum Quran
bersumber dari Tuhan yang sama. Tetapi, iman mereka pada kitab-kitab
itu tak sama dengan iman mereka pada Quran. Meskipun mengimani Bibel,
tetapi mereka memandang Kitab “Suci” itu sebagai buku yang “defektif”
atau cacat.”
Dua Catatan Penting
Ada catatan penting, penulis kira, yang harus dikemukan berkaitan
dengan pendapat Ulil ini. Pertama, Ulil menyayangkan adanya kaum
Muslimin yang melihat kitab-kitab agama lain secara “apologetik”. Ulil
menginginkan agar hal ini tidak terjadi. Oleh karenanya, tidak boleh
membaca kitab agama lain dengan “prasangka buruk”. Di sini Ulil mungkin
lupa bahwa kontradiksi dalam Al-Qur’an merupakan hal yang mustahil
ditemukan. Oleh karenanya, ayat yang dikutip oleh umat Islam di atas
adalah “tantangan” Allah s.w.t. bagi orang kafir, jika mereka mengklaim
bahwa Al-Qur’an bukan dari Allah s.w.t. Masalah susunan Al-Qur’an yang
tidak rapi dan tidak tertib, tidak jadi persoalan. Justru di situ letak
keunikan Al-Qur’an.. Studi-studi ulama Islam lewat tafsir tematik
(al-tafsir al-mawdhu’iy) menyimpulkan harmonitas ayat-ayat Al-Qur’an.
Imam al-Biqa’i (w. 885 H), misalnya, sangat “piawai” dalam
mengharmoniskan surat-surat dan ayat-ayat Al-Qur’an dan tafsirnya
‘Nazhm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar’.
Dan jika Ulil melihat bahwa Bible lebih naratif dan rapi, itu karena
Ulil tidak membaca Bible secara kritis. Jika Al-Qur’an di balik
ketidakrapiannya justru ayat-ayatnya “harmonis” (tidak saling
kontradiktif), dalam Bible justru sebaliknya. Terkesan “rapi” dan
“naratif” tapi malah tidak karuan ayat-ayatnya. Sebagai contoh: dalam
Kitab Keluaran dijelaskan bahwa Musa mengetahui “kapan dan dimana” dia
meninggal dan dikuburkan. Tentu saja ini bertentangan dengan realitas.
Dengan begitu, ayat Perjanjian Lama (Torah) ini mengesankan bahwa bukan
Musa yang menulisnya melainkan orang ketiga. Ini lah kemudian yang
dikritik oleh Baruch Spinoza (1632-1677).
Atau beberapa ayat yang saling bertentangan. Misalnya, dalam kitab
Ulangan (12: 9-10) bahwa hukum Taurat ditulis oleh Musa.” Ini jelas
kata orang ketiga, bukan kata Musa. Dalam kitab Kejadian juga (22: 14)
disebutkan bahwa gunung Moria dinamai dengan gunung Allah. Padahal nama
ini baru dipakai setelah pembangungan kuil dimulai, yaitu setelah zaman
Musa. Bahkan Musa tidak pernah menunjukkan tempat yang dipilih oleh
Allah, dia hanya meramalkan bahwa Allah akan memilih satu tempat yang
memakai nama Allah. (Lihat, Baruch Spinoza, Kritik Bible, Terj: Salim
Rusydi Cahyono, (Bekasi, Fima Rodheta, 2006: 47).
Maka, merupakan hal yang wajar jika kedua umat yang berbeda itu saling
tidak mengimani kitab orang lain. Walaupun berbeda dengan umat Islam,
dan ini diakui oleh Ulil. Walaupun Ulil menambahkan bahwa umat Islam
masih melihat bahwa kitab-kitab yang lain adalah “defektif” atau cacat.
Pandangn ini bukan tanpa dasar. Allah sendiri yang menjelaskan dalam
Al-Qur’an bahwa kaum Ahli Kitab “terbiasa” melakukan distorsi terhadap
kitab “suci” mereka. (Lihat, Qs. Al-Baqarah [2]: 75; al-Nisa’ [4]: 46;
al-Ma’idah [5]: 13 dan 41). Dan banyak ayat-ayat yang lainnya.
Tentu pandangan ini sulit diterima oleh seorang Ulil. Karena dia
menginginkan agar seorang Muslim –usulan Ulil—membaca Bible lewat
kacamata orang Yahudi-Kristen. Di sisi lain –dan ini dapat dipastikan
mustahil—Ulil menyeru agar mereka membaca Al-Qur’an sebagai umat Islam
membacanya. Meskipun dia juga ‘mengejek’ umat Yahudi-Kristen dengan
mengatakan, mohon maaf, tampak aneh dan sama sekali tak masuk akal.
Solusinya, menurut Ulil, adalah mengikut nasehat Durkheim: “What I ask
of the free thinker is that he should confront religion in the same
mental state as the believer… He who does not bring to the study of
religion a sort of religious sentiment cannot speak about it! He is
like a blind man trying to talk about colour.” (hal. xvii, dikutip dari
pengantar Karen E. Fields atas karya utama Durkheim, “Elementary Forms
of Religious Life”).
Dengan kata lain, saat membaca suatu Kitab “Suci” dari agama manapun,
kita harus memiliki “religious sentiment” –meminjam istilah dari
Durkheim itu– sebagaimana dimiliki oleh orang yang mengimani kitab itu.
Jika kita kehilangan sentimen itu, maka kita akan melihat sejumlah
pertentangan dalam kitab tersebut.
Jika anda kebetulan seorang Muslim, cobalah sekali-kali anda membaca
Quran dengan mengambil “jarak” sebentar, mencoba keluar dari sentimen
keimanan yang selama ini anda miliki.
Dalam keadaan sebagai seorang “skeptis sementara” itu, anda akan
menjumpai sejumlah hal yang kontradiktif dan tak masuk akal dalam
Quran. Sebagai contoh saja, dalam satu ayat dikatakan bahwa Tuhan tak
menyerupai apapun, Laisa kamitslihi syai’un (42:11), tetapi dalam
banyak ayat yang lain Tuhan digambarkan memiliki tangan, wajah, bahkan
dalam hadis digambarkan pula memiliki jari-jari (ashabi’ al-rahman).
Jika orang Islam keberatan dengan penggambaran tentang Tuhan yang
“brutal” dan sangat antropomorfis dalam, misalnya, Perjanjian Lama,
maka mereka sebetulnya lalai bahwa dalam Quran juga kita jumpai
penggambaran yang kurang lebih serupa: Tuhan yang “brutal” dan
antropomorfis.
Bagaimana umat Islam bisa melewatkan begitu saja kisah tentang Nabi Nuh
di Quran tanpa bertanya-tanya secara “kritis”: bagaimana mungkin Tuhan
menenggelamkan seluruh umat manusia hanya karena mereka tak beriman
kepada Nuh dengan sebuah banjir besar yang melanda begitu hebat? Apakah
reaksi Tuhan semacam ini tidak keterlaluan? Mana sifat belas-kasih
Tuhan? Baiklah, granted,Tuhan memang mempunyai sifat adil dan pengazab,
selain sifat rahman dan rahim (kasih sayang).
Tetapi mengirim banjir begitu hebat untuk mengazab seluruh manusia
hanya gara-gara segelintir manusia tak beriman kepada Nabi Nuh — apakah
azab seperti itu proporsional? (Jawab seseorang yang memiliki sentimen
keagamaan tentu sudah bisa kita tebak: rasio manusia tak mampu memahami
tindakan Tuhan).
Banyak hal dalam Quran yang bisa kita persoalkan secara “kritis”, kalau
kita mau sebentar melepaskan diri dari sentimen keimanan sebagai
seorang Muslim.
Itulah yang terjadi pada seorang Muslim yang membaca Bibel: karena
mereka tak memiliki sentimen keagamaan seperti dimiliki oleh umat
Kristen, maka mereka menjumpai banyak sekali kontradiksi dalam Kitab
“Suci” itu, seraya lupa bahwa kontradiksi serupa bisa dijumpai dalam
Quran.”
Kedua, di sinilah letak ‘lucu’ dan rancunya logika berpikir Ulil. Dia
memaksakan setiap pemeluk agama agar ikut ‘nasehat Durkheim’. Tentu
saja amat sulit dilakukan. Merubah teologi semacam itu adalah absurd.
Apalagi Ulil mengusulkan agar “sentimen” keimanan umat Islam
dikeluarkan dulu –atau umat Islamnya yang keluar dari sentimen itu—agar
membaca Al-Qur’an dengan kacamata dan hawa yang berbeda. Intinya, agar
seorang Muslim dapat membaca dan menemukan kesan yang berbeda.
Contohnya, seorang Muslim –menurut logika Ulil—agar mengetahui bahwa
ternyata Allah juga dalam Al-Qur’an “brutal”. Di sini Ulil ingin
mengatakan bahwa setiap agama –khususnya Islam—jangan mengklaim kitab
sucinya yang paling benar. Karena di dalamnya terdapat banyak
kontradiksi juga –sebagaimana halnya Bible.
Sejatinya, Ulil terjebak logika orang “Kristen Liberal-Plural” yang
ingin merelatifkan seluruh agama. Kenapa? Karena mereka “kebingunan”,
sudah tidak ada lagi yang dapat dipertahankan dari agama mereka.
Termasuk Bible, bahkan Yesus.. Timbullah inisiafit “liberal” dari
Knitter. Menurut Knitter, “All religions are relative—that is, limited,
partial, incomplete, one way of looking a think.” Di sini Knitter ingin
menyamakan semua agama: sama-sama relatif (tidak absolut), parsial
(tidak global, tidak universal), tidak komplit (memiliki kekurangan),
hanya memiliki satu cara pandang terhadap sesuatu. Oleh karena itu,
menurut Knitter, pemeluk agama yang mengklaim agamanya “paling benar”
adalah salah; ofensif dan berpandangan sempit. Dia menulis: “To hold
that any religions is intrinsically better than another is felt tobe
somehow wrong, offensif, narrowminded.” (Lihat: Paul Knitter, No Other
Name, A Critical Survey of Christian Attitudes toward the World
Religion, 1985), p. 23).
Ulil kemudian memberi memberi contoh dengan ayat ‘laysa kamitsilihi
sya’in’ yang dikaitkan dengan ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah
punya “tangan”, wajah dan jari-jari. Di sini Islam punya konsep dan
metode “takwil” dalam menyikapi ayat-ayat yang seperti itu. Ulama Islam
dalam masalah akidah, punya konsep yang jitu dalam memahami ayat-ayat
“sifat” (ayat al-shifat) dalam ranah ilmu Tawhid (al-‘akidah). Tidak
ada yang rigid dalam Islam. Jika Ulil “rajin” membaca kitab-kita
akidah, dia tidak akan terkejut ketika menemukan ayat-ayat yang seperti
itu. Karena metode pemaknaannya sudah mapan. Sebagai contoh, untuk
menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits yang dianggap “problematis”
(musykil), Imam Ibnu Qutaybah menulis buku yang sangat baik: ‘Ta’wil
Musykil al-Qur’an’ dan ‘Ta’wil Musykil al-Hadits’.
Ulil juga memberikan contoh tentang “kebrutalan” Allah lewat kisah umat
nabi Nuh dalam Al-Qur’an. Apakah ini tidak keterlaluan? Tanya Ulil. Hal
itu dipermasalahkan oleh Ulil, karena menurutnya “tidak proporsional”.
Bagi orang yang faham Al-Qur’an, hal tersebut proporsional. Dan itu pun
sudah lewat peringatan dari Allah. Bahwa orang-orang kafir pada zaman
nabi Nuh jika tidak beriman kepada nabi Nuh akan ditenggelamkan. Dan
“pemusnahan” ini pun lewat permohonan nabi Nuh (Qs. Nuh [71]: 26-27),
bukan insiatif Allah per se. Bahkan ketika nabi Nuh ‘protes’ kepada
Allah tentang anaknya yang ikut orang kafir dan juga ditenggelamkan
oleh Allah, Allah menyatakan bahwa ilmu nabi Nuh tidak sampai untuk
memahaminya. (Qs. Hud [11]: 25-47 dan al-Mu’min [23]: 27, 32-42). Konon
lagi kita menuduh Allah –dan kita anggap ini kritis—“brutal” dan “tidak
proporsional”. Sekelas nabi Nuh kah kita?
Berbeda dengan Bible. Umat nabi Nuh ditenggelamkan karena Allah “menyesal”
melihat manusia yang semakin banyak dan semakin jahat di atas permukaan bumi.
Tuhan dalam versi Bible ini pun mengirimkan “banjir bandang” yang luar biasa.
Bukanya itu, seluruh hewan yang ada di atas dunia dimusnahkan oleh Allah.
* 6:4 Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga
pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak
perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi
mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala,
orang-orang yang kenamaan.
* 6:5 Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan
bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan
semata-mata,
* 6:6 maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di
bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.
* 6:7 Berfirmanlah TUHAN: "Aku akan menghapuskan manusia yang telah
Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan
binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku
menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.” (Kejadian 6: 4-7). Masya
Allah. Tuhan apakah yang ada dalam Bible ini? Tentu sangat berbeda
dengan kisah Nuh di atas. Setiap pasang hewan dibawa naik ke atas kapal
oleh nabi Nuh, karena dia dan umatnya yang beriman akan mendirikan
kehidupan yang baru di bukit Judi.
Kisah nabi Musa yang “menyebrangi laut” pun membuat Ulil ragu. Karena
dia terpengaruh oleh pemikirn Richard Dawkins dan Sam Harris. Dia
bukannya mempertahankan bahwa keajaiban yang terjadi dalam Al-Qur’an
adalah “mukjizat”, malah “membebek” kepada pemikiran skeptis seperti
itu. Menyedihkan. Benar-benar menyedihkan jika ada seorang Muslim yang
seperti itu. Apa yang tidak mungkin bagi Allah? Dalam beberapa ayat
Al-Qur’an Allah menjelaskan bahwa jika DIA ingin melakukan sesuatu,
cukup dengan ‘innama amruhu idza arada syai’an an yaqula lahu kun
fayakun’. Nabi Ibrahim tidak terbakar, tentu “bukan dongeng”. Dan
semuanya terjadi atas perintah dan kehendak Allah. Karena bagi Allah
api itu “relatif”: bisa panas, dingin bahkan hangat kuku. Karena api
adalah milik-Nya, bukan milik raja Namrudz.
Urgensi Teologi Apologetik
Hemat penulis, teologi apologetik sangat diperlukan. Apakah akan
menimbulkan kekerasan dan negatif? Bisa jadi ya, bisa jadi tidak. Di
Mesir sendiri, umat Kristen banyak mengamalkan ini, lewat metode yang
mereka sebut dengan al-lahut al-dhifa’iy (teologi apologetik). Di satu
sisi ini mungkin dianggap “ekslusif”, tapi di sisi yang lain ini akan
menguatkan keimanan pemeluk agama masing-masing. Dan tradisi ini sudah
lama diamalkan oleh kedua belah pihak, khususnya ulama klasik Islam.
Penjelasan tentang sosok (pribadi) Yesus, misalnya, sudah dimulai oleh
Ja’far ibn Abi Thalib ketika berhadapan dengan para pendeta Negus
(Najasyi) di Abessinia (Ethiopia).
Untuk mempertahankan dan membela kesucian Al-Qur’an dan akidah Islam,
ulama kita kemudian banyak yang menulis buku-buku kristologi, seperti
‘Anti-Christian Polemic in Early Islam: Abu Isa al-Warraq Against the
Trinity’ (edited and translated by David Thomas [The Bishop of
Blackburn’s Adviser on Inter-Faith Relations], Cambridge-New York:
Cambridge University Press). Dalam buku ini, Abu Isa al-Warraq
mengkritik dogma Trinitas yang tidak masuk akal dalam agama Kristen;
Abu Hamid al-Ghazali menulis al-Radd al-Jamil ‘ala Uluhiyyat ‘Isa bi
Sharih al-Injil; Ibnu Taimiyyah menulis ‘al-Jawab al-Shahih liman
Baddala Din al-Masih’; Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menulis ‘Hidayat
al-Hiyara fi Ajwibat al-Yahud wa al-Nashara’; dan ‘Allamah al-Hindi
menulis ‘Izhar al-Haqq’. Dari kalangan ulama kontemprer, misalnya,
Ahmed Deedat menulis ‘The Choice: Islam and Christianity’; Syeikh
Muhammad al-Ghazali menulis ‘Shaihah al-Tahdzir min Du’at al-Tanshir’;
Ismail R. al-Faruqi menulis ‘Christian Ethics: A Historical and
Systematic Analysis of Its Dominant Ideas’ (Kuala Lumpur: Pustaka
Hidayah, ttp); Kamar Oniah Kamaruzaman menulis ‘Early Muslim
Scholarship in Religionswissenchaft: The Works and Contribution of
Abu-Rayhan Muhammad ibn Ahmad Al-Biruni’ (Kuala Lumpur: International
Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC: 2003). Dalam buku
ini, Al-Biruni, setelah menjelaskan keempat Gospels yang ada (Matius,
Markus, Lukas dan Yohanes), “mengkritik” geneologi Kristus (Messiah).
Kamar Oniah menulis: “Al-Biruni also highlights some discrepancies that
are found among these Gospels, particularly those which pertain to the
geneology of the Messiah, thereby indicating the inaccuracy of the
information in them.” (Oniah, p. 159). Dan jika kita lihat Gospel yang
berbicara tentang geneologi Kristus memang tidak akurat (Bandingkan:
Matius 1: 6-16 dan Lukas 3: 23-31).
Kerja-kerja kristologi seperti ini tentu akan membuka pintu dialog yang
kritis. Sehingga akan muncul tanggapan dan sanggah yang kritis pula.
Dengan catatan bahwa budaya kritik itu harus dibangun di atas “fakta
dan data”, bukan berdasarkan sentimentil tanpa dasar. Dengan begitu,
jalan menuju kebenaran pun semakin terbuka lebar. Buktinya dapat kita
lihat, bagaimana Ahmed Deedat membuktikan kebenaran Al-Qur’an yang
merespon berbagai penyimpangan dan distorsi dalam Bible. Hal itu
membuka mata para pendeta dan pastor bahwa memang dalam kitab ‘suci’
mereka ada problem serius.
Dan para ilmuwan dan kristolog Muslim di atas tentunya harus dijadikan
sebagai “uswatun hasanah” dalam membela akidah Islam. Kesimpulannya,
umat Islam –dan mungkin juga umat yang lain—sah-sah saja membaca kitab
‘sucinya’ sendiri maupun kitab suci orang lain secara “apologetik”. "
* Qosim Nursheha Dzulhadi, staf pengajar di pondok
pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Medan-Sumatera Utara. Penulis juga
peminat Qur’anic-Hadith Studies and Christology. Sekarang sedang
mengikuti Program Kaderisasi Ulama di Centre for Islamic and Occidental
Studies (CIOS), ISID-Gontor Ponorogo.
[Non-text portions of this message have been removed]