Rusuh Berawal Dari Provokasi AKKBB Acungkan Jari Tengah ke FPI

Jumat, 26 Sep 2008 07:52

Hal ini diperkuat oleh Newsticker Stasiun Teve One kemarin yang 
secara berulang-ulang menyebutkan jika bentrok tersebut diawali oleh 
provokasi yang dilakukan AKKBB yang mengacungkan jari tengah ke arah 
massa FPI.

Peristiwa rusuh di depan Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 
antara sekelompok preman yang pro-AKKBB melawan anggota Front Pembela 
Islam (FPI) berawal dari acungan jari tengah seorang preman kepada 
massa FPI yang akan menyemangati Habib Rizieq Syihab yang akan 
kembali disidang (25/9).

Hal ini diperkuat oleh Newsticker Stasiun Teve One kemarin yang 
secara berulang-ulang menyebutkan jika bentrok tersebut diawali oleh 
provokasi yang dilakukan AKKBB yang mengacungkan jari tengah ke arah 
massa FPI. Semua orang tahu, isyarat mengacungkan jari tengah 
merupakan isyarat yang sangat cabul dan kotor, sebab itu sangat wajar 
jika orang yang diacungkan tersebut akan marah.

Habib Ali, salah satu anggota Laskar Pembela Islam yang diprovokasi 
para preman tersebut menyatakan jika aktivis Jaringan Islam Liberal 
(JIL) yang juga tercatat sebagai wartawan Tempo, M. Guntur Romli, 
memulai provokasi terhadap dirinya. "Saya dikata-katai Arab yang 
memperkosa para TKI di Saudi. Guntur juga mengancam bahwa saya akan 
dibunuh. Tapi saya tidak terprovokasi dan diam saja."

Akibat rusuh itu, tiga anggota FPI menjadi korban. Korban bernama 
Tomi terkena sabetan besi di tangannya dan bagian belakang kupingnya 
terkena celurit. Sedangkan anggota FPI bernama Junaidi mengalami 
memar di tangan kanan akibat hantaman benda keras, dan seorang 
anggota FPI lainnya bernama Eko mengalami lebam di pipinya akibat 
pukulan besi.

"Kita ada bukti saksi dan korban. Merka membawa-bawa clurit. Dan tadi 
salah satu tas preman yang menyerang itu jatuh. Rusuh ini sudah 
direncanakan mereka," tegas Habib Rizieq.

Habib Rizieq menyatakan dirinya mempunyai bukti yang salah satunya 
berupa sebuah tas ransel hitam milik seorang preman pro-AKKBB yang 
berisi sebuah majalah Kontras, sebuah buku berwarna hijau berjudul 
"99 Keistimewaan Gus Dur", secarik kertas berisi 33 nama orang pro-
AKKBB yang diklaim oleh Guntur Romli sebagai anggota Banser, dan 
sebuah kaos hitam dengan tulisan Banser yang catnya masih bau 
menandakan kaos tersebut baru saja disablon.

"Dengan sengaja, para preman diberikan sebuah baju yang masih baru 
bertuliskan Banser Gus Nuril. Mereka sepertinya ingin mengadu-domba 
antara FPI dengan Banser. Ini jelas berbahaya dan harus diusut," kata 
Habib Rizieq.

Dalam sebuah acara dialog tadi malam di Teve One yang membahas kasus 
rusuh tersebut, Habib Ali memperlihatkan kaos hitam yang baru 
disablon tersebut. Pembawa acara Tina Talissa penasaran dan ingin 
membuktikan jika kaos itu emmang baru disablon. Dia segera mencium 
kaos tersebut dan kepalanya mengangguk karena catnya memang masih bau 
dan yakin jika pernyataan Habib Ali tidak mengada-ada.

Habib Ali yang besar di Surabaya juga telah mengontak Pimpinan Banser 
Haji Tatang dan menyatakan jika Banser Pusat tidak pernah mengirimkan 
atau menugaskan anggotanya mengawal anggota AKKBB ke sidang Habib 
Rizieq. Hal yang sama ditegaskan Satkorwil Banser DKI Jakarta, 
Avianto Muhtadi.

Avianto seperti yang ditulis detikcom (26/9) menegaskan tidak pernah 
menginstruksikan anggotanya untuk terlibat dalam kasus itu. "Kami 
menyatakan tidak pernah menginstruksikan untuk terlibat," kata Kepala 
Satkorwil Banser DKI Jakarta Avianto Muhtadi. Bahkan Avianto 
mengatakan pihaknya mencium gelagat yang tidak baik yakni adanya 
upaya penghasutan dengan pemakaian kaos Banser dalam insiden Jumat 25 
September di PN Jakarta Pusat kemarin. "Kami menyesalkan tindakan 
penghasutan itu," katanya.

Sebab itu, polisi wajib mengusut tuntas provokasi yang dilakukan 
aktivis JIL Muhammad Guntur Romli dan menelusuri siapa saja ke-33 
orang yang mengenakan kaos Banser. Karena Banser Pusat maupun Banser 
DKI membantah menugaskan anggotanya mengawal Guntur Romli ke 
persidangan Habib Rizieq.(rd)



Kirim email ke