http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2008/09/28/3542.html

*Presiden SBY:
"Indonesia Konsisten Menyikapi Masalah Nuklir Iran"*



Jakarta: Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat, Sabtu (27/9) waktu setempat
atau Minggu WIB, mengesahkan Rancangan Resolusi 1835 yang mendesak kembali
Iran untuk menangguhkan kerja bahan bakar nuklirnya. Namun, resolusi itu
tidak memberikan sanksi baru, dan hanya menegaskan kembali sanksi yang ada.

"Saya terus menerus mendapat informasi dari Menteri Luar Negeri Hassan
Wirajuda di New York, memang awalnya saya mengarahkan kemungkinan Indonesia
posisi abstain, sama dengan resolusi sebelumnya, 14 lawan 1. Tapi setelah
dibacakan pada saya draftnya, kalau kita abstain dan draft itu keluar justru
ada elemen-elemen dalam bahasa saya, membahayakan, karena resolusi yang baru
ini tidak ada lagi negosiasi dan perundingan. Kalau itu tidak ada, setiap
saat bisa ada penggunaan pasal tujuh (chapter seven) dari piagam PBB ,
berarti penggunaan kekuatan militer," ujar Presiden SBY

Demikian dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai berbuka puasa
bersama wartawan di Istana Negara, Jakarta. Minggu (28/9) malam. Selanjutnya
Presioden menambahkan, "Hal kedua yang saya anggap kita tidak bisa menerima,
saudara tahu bahwa negosiasi antara Iran dengan anggota tetap DK PBB seperti
Amerika, Inggris, Perancis, China, Jerman. Kita lihat mereka negosiasi
sendiri, hasilnya dilaporkan pada DK PBB. Dan DK PBB sepertinya hanya
menerima hasil dari negosiasi itu. Saya melihat kedua hal ini krusial, dan
kalau kita hanya abstain dan muncul, mungkin akan memberi persoalan baru.
Bukan hanya pada Iran tapi pada kawasan di Timur Tengah, bahkan itu
menyulitkan perdamaian dan keamanan dunia," jelas Presiden SBY.

"Saya sudah berkali-kali bertemu dengan Presiden Iran Ahmadinejad, dan saya
konsisten kalau bertemu beliau. Indonesia tidak akan pernah setuju
penggunaan kekuatan militer, kekerasan dalam menyelesaikan isu nukllr Iran.
Kami memilih langkah-langkah diplomasi, perundingan dan negosiasi, dan saya
sampaikan pada Ahmadinejad bahwa Indonesia berpendapat negosiasi itu
seharusnya enklusif bukan hanya Amerika, Inggris, Perancis, Jerman, China
dengan Iran, tapi melibatkan negara-negara lain, bahkan Indonesia menawarkan
diri kalau memang bisa masuk di situ supaya lebih balance," kata Presiden
SBY.

"Saya juga sampaikan pada Ahmadinejad supaya tidak bolak balik harus
disidangkan di DK dan Indonesia terus bekerja sangat keras untuk menghadapi
masalah itu, saya minta Iran betul-betul kooperatif menjalin kerjasama yang
baik dengan IAEA (Internasional Atomic Energi Agency). Karena yang
mengetahui permasalahan teknis IAEA. Atas dasar itulah saya perintahkan
Menlu berkonsultasi dengan semua pihak termasuk Menlu Iran tentang duduk
persoalan yang sebenarnya. Sebelumnya saya mendengar Menlu Iran mengatakan
resolusi itu kan biasa saja, tidak ada sanksi baru. Tapi diingatkan oleh
Menlu Hassan Wirajuda, lihat ada dua point yang tidak ada begitu, baru
sadar. Singkat kata kita bekerja all out dalam 24 jam ini, dan
allhamdulillah, resolusi yang baru itu ada amandemen-amandemen yang
sepenuhnya disumbang oleh Indonesia. Dan yang saya suka, Iran setelah
resolusi keluar mengeluarkan statement yang intinya juga berterima kasih
kepada Indonesia , " jelas Presiden SBY.

" Saya baru terima kawat ini dari New York, tentang bagaimana sikap Iran.
Saya bacakan karena agak panjang ini. Setelah pemungutan suara atas
rancangan resolusi di DK PBB tersebut, Dubes Iran secara khusus mendekati
delegasi Indonesia dan menyampaikan penghargaan, khususnya terhadap
pernyataan Indonesia sebelum pemungutan suara. Jadi saya minta sebelum ada
vote, ada penjelasan dari kita yang dinilainya sangat seimbang dan
menekankan pada proses penyelesaian politik. Pihaknya menyampaikan dua
paragraf usulan Indonesia dalam resolusi 1835 tersebut, yang akan digunakan
pihak Iran sebagai pijakan untuk menekan, mengenai perlunya segera
dilangsungkan kembali proses perundingan politik. Sejalan dengan butir-butir
pembicaraan saya dengan Ahmadinejad kita konsisten, konsekuen. Ini harga
diri kita. Dunia melihat kita, apa Indonesia konsisten dalam hal ini. Oleh
karena itu, kita tidak boleh terombang-ambing kehilangan prinsip dasar dalam
menyikapi nuklir Iran ," kata Presiden SBY.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke