http://www.antara.co.id/arc/2008/10/8/pemerintah-minta-14-bumn-ikut-amankan-kondisi-makro-ekonomi/

*Pemerintah Minta 14 BUMN Ikut Amankan Kondisi Makro Ekonomi*


Jakarta (ANTARA News) - Sebanyak 14 BUMN besar diminta ikut memperhatikan
kondisi makro ekonomi dengan mengalihkan rekening dolar AS yang di miliki ke
sistem perbankan nasional, terkait situasi krisis keuangan global saat ini.

"Kita minta mereka ikut memperhatikan kondisi ekonomi di dalam negeri. Dolar
AS yang dimiliki oleh BUMN bisa menambah cadangan devisa," kata *Menneg
BUMN, Sofyan Djalil*, di Kantor Menneg BUMN, Jakarta, Rabu.

BUMN-BUMN tersebut juga diminta berkoordinasi dengan Bank Indonesia dalam
pemenuhan kebutuhan dolar AS.

Menurut Sofyan yang juga Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Keuangan itu, 14 BUMN
tersebut meliputi PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), PT Timah Tbk.,
PT Aneka Tambang Tbk., PT Bukit Asam Tbk., PT Pupuk Kaltim, PT Perkebunan
Nusantara (PTPN) III, PTPN IV, PTPN V, PTPN VII.

"Mereka sudah dipanggil kemarin malam (Selasa, 7/10). Mereka merupakan BUMN
yang memiliki rekening dalam bentuk dolar AS dan memiliki pendapatan
(revenue) dolar," katanya.

Menurut Sofyan, tanggapan perusahaan-perusahaan tersebut baik, dan semua
mengikuti arahan pemerintah.

"Secara reguler mereka melaporkan `treasury management` kepada pemerintah
dan BI," katanya.

Meski begitu Sofyan tidak menyebutkan berapa besar dolar AS BUMN yang bisa
dialihkan ke dalam sistem perbankan nasional.

Ia hanya menjelaskan, selain potensi pendapatan dolar AS, terdapat juga BUMN
yang membutuhkan valuta asing dalam jumlah besar untuk kegiatan operasional.

Pertamina misalnya, butuh valas lebih dari 6 juta dolar AS dalam sepekan
untuk keperluan impor minyak mentah dan produk jadi.

Demikian halnya dengan PLN butuh dana untuk keperluan pembangunan pembangkit
listrik 10.000 MW.

"Mereka ini butuh dolar, akan tetapi akan dikendalikan dengan meningkatkan
penggunaan biodiesel sehingga bisa menganggu kurs," katanya.

Lebih lanjut dijelaskan Sofyan, akan mengutamakan perhatian ekstra kepada
BUMN memiliki pendapatan dolar AS, serta memiliki proyek dengan pembiayaan
menggunakan dolar AS.

Sejauh ini sebagian besar perusahaan "plat merah" itu telah menempatkan
simpanan dolar AS itu ke bank-bank domestik.

"Jadi, sebagian besar dana valas mereka sudah di Indonesia," tegas Sofyan.
(*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke