Oleh-oleh Lebaran 
Oleh: Zaim Uchrowi

Lebaran ini saya, sebagaimana banyak orang lain, sempat mampir ke Yogya, Namun 
ini bukan untuk liburan. Ini buat sarasehan budaya yang mempertemukan politisi, 
pendidik, hingga seniman. Sebuah sarasehan yang lahir dari kerisauan: Apa yang 
'salah' dari budaya kita hingga bangsa ini belum kunjung maju? Budaya macam apa 
yang harus dikembangkan agar kita menjadi bangsa tangguh?

Di acara itu, saya bertemu Firman. Sosok yang makin sering dijadikan model: 
beginilah semestinya generasi baru Indonesia. Ia mengemas singkong menjadi 
bisnis menggiurkan. Outlet yang dinamainya 'Tela Kress' tersebar di seluruh 
pelosok Indonesia. Singkat kata Firman mewakili karakter yang diharapkan dapat 
menjadi wajah Indonesia masa depan. Karakter yang tidak sibuk melamar 
pekerjaan, melainkan justru berbuat nyata hingga melahirkan kesempatan kerja.

Tentu bukan hal mudah melakukan itu. Perlu keteguhan luar biasa bagi siapa pun 
untuk mampu membangun usaha dari bawah. Perlu daya tahan yang benar-benar kuat 
untuk mampu memikul kegagalan demi kegagalan, sebelum akhirnya meraih 
keberhasilan. Pijakan usaha secara nyata, dan bukan spekulasi terhadap hal-hal 
semu, itukah dasar kemakmuran yang sebenarnya.

Sahabat dekat saya yang juga punya nama 'Zaim', Zaim Saidi, sudah jauh-jauh 
hari mengingatkan. Segala hal yang tidak memiliki pijakan nyata, atau komoditas 
semu yang dispekulasikan, adalah riba. Riba itu pangkal kehancuran masyarakat. 
Menurutnya, riba bukan sekadar rente atau bunga atas pinjaman uang. Sejatinya, 
uang kertas adalah riba karena nilainya adalah nilai semua. Maka, selembar 
kertas yang sama tiba-tiba punya nilai berbeda ketika yang menuliskan angkanya 
berbeda. Rp 100 tak dapat dipakai membeli apa-apa karena yang menuliskannya 
orang Indonesia. Sedangkan 100 dolar menjadi berharga karena angka seratus itu 
milik Amerika.

Namun, seperti kata Zaim, yang semu pasti akan kolaps. Bank yang dianggap 
sebagai salah satu yang paling kuat di dunia, Lehman Brothers, pun tiba-tiba 
ambruk. Pasalnya mereka terjerat bisnis semu uang yang tumpuk-menumpuk di atas 
bisnis perumahan. Bisnis nyata perumahan di Amerika telah tenggelam oleh 
tumpukan bisnis pembiayaannya yang berlapis-lapis hingga pilarnya roboh. Dunia 
cemas karena akibat berantai dari kejatuhan Si Lehman itu. Konon, salah satu 
orang terkaya di Indonesia harus kehilangan kekayaannya sampai sekitar Rp 120 
triliun dalam sebulan. 

Mencari keuntungan pada hal-hal semu memang menggiurkan. Dengan cepat itu dapat 
melambungkan kita ke atas. Itu menjawab naluri manusia yang gemar segera dapat 
untung banyak tanpa harus bekerja keras. Karakter itu yang menjadi 
kecenderungan kita. Memang tidak banyak yang berspekulasi di pasar modal hingga 
harus menanggung akibat keambrukan Lehman. Tapi, sangat banyak yang mau untung 
cepat seperti spekulasi Anthurium, hingga investasi-investasi tidak jelas. 
Kebanyakan pribumi pebisnis besar pun lebih banyak yang cuma sebagai makelar. 

Firman mengingatkan kembali betapa pentingnya bekerja keras di atas pijakan 
usaha yang nyata. Itu yang dilakukan orang-orang Jepang. Umat yang pekerja 
keras, hidup sederhana, serta gemar menabung. Tabungan rumah tangga warga 
Jepang yang mencapai nilai sekitar Rp 130.000 triliun telah menjadi penyelamat 
Jepang dalam krisis ekonomi sekarang. Apakah kita yang mengaku beragama ini 
memilih menjadi manusia yang gemar 'leha-leha' dan foya-foya lalu berharap 
masuk surga? Itu oleh-oleh Lebaran yang saya dapatkan.


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke