.............buku:..." Tokoh-tokoh etnis Tionghoa di Indonesia"...kesan-ku yang
mencuat sementara aku memandang kulit muka buku tebal ini, yang selain terpapar
aksara2 Tionghoa, juga bisa dibaca nama pengarangnya, Drs.Sam Setyautama,
penyunting: Suma Mihardja dan Kata Pengantar: Harry Tjan Silalahi. Setelah
membaca separoh buku tebal ini kesan dan pendapatku........
1. Kenapa pengarang tidak memakai kata Cina ketimbang memakai kata Tionghoa,
apalagi kalau aku kaitkan dengan seorang tokoh yang mengulas buku ini, si
pengantar kata........
2. Harry Tjan Silalahi?
Kayaknya,rasanya kurang sreg dan kurang pas apabila Drs S.Setyautama mengajak
seorang pentolan LPKB memberikan kata pengantarnya dalam mengulas tokoh2
Tionghoa yang dia(Harry Tjan Silalahi) berusaha, se-tidak2nya mau meng-hapus
kultur budaya Tionghoa.Apa cocok dan ada kata ....culturecide ya?, maklum ada
genocide dan homicide????
Apalagi setelah sempat membaca seluruh kata pengantarnya ada sesuatu topik yang
meng-geletik, ditulis disini......"Ada sementara tokoh intelektual terkemuka
Indonesia yang pernah mengatakan bahwa etnis Tionghoa di Indonesia tidak
memberi sumbangan rohani budaya yang berarti selama berada di Nusantara ini,
paling-paling mereka hanya memberi urunan berupa resep-resep makanan saja,
seperti cap cay, fu yong hai, tahu, bakmi, timlo dan sebaigainya ,lain tidak"
Sayangnya Harry Tjan Silalahi tidak saja bilang to the point siapa gerangan
orang intelektuil Indonesia yang mengatakan...rubbish ...semacam ini! Ngak
perlu basa basi dan takut menunjuk hidung toh kita tunjuk hidung seorang
intelektuil yang gebleg, jadi kenapa harus paysingkhi(sungkan2)?
Sperti sudah aku katakan separoh buku dibaca aku bisa menyimpulkan bahwa
sepertinya buku ini memberikan info(menurut analisa-ku) bahwa ada essensi yang
mencuat soal tokoh2 Tionghoa di Indonesia yang bisa di kasifikasi, kehidupan,
kiprahnya ada segi negatip dan positipnya bagi negara Indonesia.
Sebagai patokan, tokoh2 etnis Tionghoa yang hidup Pra Orde baru dan Post Orde
Baru.
Kenapa aku ambil border-line dalam mengajukan era Orde Baru, ya karena era Orba
ini membagi zaman kehidupan negara ini yang seyogianya akan memberikan starting
point untuk mengusung negara/bangsa ke masa depan yang lebih baik, alhamdulilah.
Aku mulai dengan mengajukan kiprahnya para tokoh Tionghoa ini menurut abjat
namanya........
Ang Jan Goan...tokoh yang ikut menghadiri perundingan meja bundar di Belanda
yang alhasil telah mengusung kemerdekaan Indonesia.. Ternyata (tidak
dijelaskan) sempat beliau, yang jabatan terachir adalah ketua RS Jang Seng Ie
dan bendahara Baperki ini achiornya kecewa setelah ditahan tentara tahun 65 .
Sayangnya bagi orang awam dan belum lahir atau masih muda saat terjadinya
pembantaian 65 ini tidak diberitakan di buku ini kenapa beliau kecewa. Beliau
achirnya pindah ke Canada ikut anaknya.
Ariel Heryanto,(DR) pengajar di Uni Melbourne seorang sastrawan yang membangun
kontroversi dengan tulisan tajamnya di Kompas, Suara Pembaruan dan Tempo dan
sempat dikatakan tulisan dengan topik tulisan....."Saya Kapok menjadi Non
Pribumi" Tidak diulas selanjutnya apa tuilsan yang menimbulkan kontroversi ini.
Bong Kim Chan(Chandra Setiawan Dr) tergolong generasi muda. Beliau adalah
penggagas yang aku bisa sebut sebagai usaha untuk meng-harmioniskan kehidupan
ber-agama di Indonesia , yang saat ini ada dalam keadaan deldel duwel, dengan
mendirikan Madia(Masyarakat Dialog antar Agama) Suatu usaha yang patut di
acungi jempol.
Boen Kin To(Tony Wen), generasi era perjuangan. Beliau berjasa dalam menolong
menyokong perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan membeli senjata dan
diselunduplan masuk daerah Indonesia dari S'pore.
Chen Jeu Sioe, tokoh Tionghoa ini yang sempat ditahan dan dipenjara selama 3
bulan dalam tahun 1951, tapi sayangnya tidak disebut-sebut kenapa beliau sampai
di tahan dalam era Orla ini. Tidak mendetail ulasan yang diberikan oleh buku
ini bagi banyak tokoh Tionghoa dalam tinjauan kiprahnya tokoh2 Tionghoa. Syang!
Selanjutnya ada beberapa tokoh2 etnis Tionghoa yang "kiprahnya" sangat dubious
misalnya:....
Jauw Jaw Wu(Usman Admadjaja). Seorang konglo, apa aku bisa kasih
predikat...hitam? Menurut majalah Forbes konglo ini bernilai US$ 800, juta-an,
kendaraan businessnya a.l. bank Danamon. Sesudah krismon beliau mendadak jadi
kere dan meninggalkan utang 12 trilyun dan sampai sekarang baru membayar 3
trilyun. Ironisnya konglo ini sempat di-elu2kan oleh Orba dengan pemberian
bintang Satya Lencana Kebaktian Sosial langsung diberikan oleh Presiden
Suharto. Tragis bener kontroversi ini, seorang maling diberikan penghargaan.
Go Ka Him, (Sudargo Gondokusumo) seorang tokoh konglo....hitam(?) Kendaraan
businessnya a.l PT Dharmala, papan atas peringkat ke 4 konglomerasi Indonesia..
Konglo hitam ini ber-bondong2 lari ke S'pore dan kasusnya masih jadi problim
buat penegak hukum di Indonesia.
Kelanjutan ulasan soal tokoh etnis Tionghoa dalam buku tersebut akan
dilanjutkan lagi.
Yang bisa diambil kesimpulan karena adanya contoh2 yang me-warnai tokoh2 etnis
Tionghoa yang hidup di Indonesia ini bisa kita kelompokkan....
mereka2 yang hidup di era Orla dan mereka2 yang hidup di era Orba.
Yang mencuat, kelihatan sekali ciri2nya adalah...etnis Tionghoa yang bisa
digolongkan berkiprah kontroversil di era Orla kelihatannya Tionghoa2 ini
apabila kita bilang negatip kiprahnya bisa kita golongkan dalam persoalan
politis. Misalnya ada yang pro Taiwan, ada yang pro RRT.,ada yang pro Indonesia
....versus....etnis Tionghoa di era Orba, Sebagian besar kontroversi kiprahnya
(di era Orba) di sebabkan karena ada ganjelan, kontroversi, ketimpangan dalam
lapangan ekonomi dan business.
Apakah benar apabila aku katakan bahwa memang Pres. Suharto itu dengan
cerdiknya menggunakan etnis Tionghoa itu bak pion-nya dalam percaturan
kehidupan bangsa dan negara Indonesia yang seyogianya bagi hasil bila ngak
ketahuan tapi dijadikan tameng bila pen-garongan kekayaan negara itu ketahuan?
Atau bicara dengan logat pop...bila aman dijadikan sapi perahan, bila keadaan
gawat dijadikan kambing hitam?
Dari itu aku setuju banget apabila dalam persoalan konglo hitam dan peristiwa2
yang sampai saat ini masih terjadi misalnya peristiwa Aiyin versus seorang
jaksa, seharusnya baik penyuap juga yang disuap perlu di...kemplang
sekeras-kerasnya dengan hukuman se-maksimal!. Ini sangat bermanfaat agar tidak
terjadi lagi pembagian fiktip semacam kiprah etnis Tionghoa di dua masa(era).
Diharapkan kiprah etnis Tionghoa tidak kenal era2-an, yang penting adalah satu
niat ,satu usaha menuju kemakmuran bersama, ya etnis Tionghoa ya semua etnis
lain yang mendiami bumi Indonesia. Ini hanya bisa dicapai apabila keadilan
melalui penegakkan hukum benar2 dijalankan, alhamdulilah.
....bersambung....
Harry Adinegara
Make the switch to the world's best email. Get Yahoo!7 Mail!
http://au.yahoo.com/y7mail
[Non-text portions of this message have been removed]