http://www.acehkita .com/?dir= news&file= detail&id= 2409



Sabtu, 11 Oktober 2008, 21:27 WIB

Enaknya Jadi Wartawan Bule

Reporter : AK News



Banda Aceh, acehkita.com. Pengamanan kedatangan Hasan Tiro terbilang cukup

ketat. Penjagaan dari anggota Komite Peralihan Aceh (KPA) berlapis.

Akibatnya, wartawan yang ingin meliput kepulangan Hasan Tiro pun tak

leluasa. Bahkan, banyak wartawan yang harus kehilangan momentum. Ada juga

yang dikasari anggota KPA.



Pengamanan super ketat itu mulai dirasakan wartawan saat mau mengurus badge

khusus meliput Hasan Tiro di KPA. Pada awalnya, pengurusan badge bagi

wartawan dipusatkan di kantor Partai Aceh di bilangan Jalan Sultan

Mahmudsyah. Namun belakangan, pengurusan badge dipindahkan ke markas KPA di

kawasan Lampaseh.



Saat mengurus badge, selain harus menyerahkan fotokopi kartu pers dan

pasfoto, wartawan juga diharuskan menyerahkan satu lembar fotokopi kartu

penduduk. Seorang wartawan senior di Banda Aceh menyebutkan, pengurusan

badge peliputan yang diterapkan KPA sangat berbeda dengan pengalaman

mengurus izin peliputan kedatangan presiden, baik presiden Indonesia maupun

presiden/perdana menteri dari negara lain, yang tidak membutuhkan KTP.



Nah, saat hari H kedatangan Hasan Tiro, pengamanan ekstra ketat memang

benar-benar terjadi. Mengantongi kartu peliputan yang dikeluarkan secara

resmi oleh KPA tidak banyak membantu. Reporter AFP yang hendak meliput di

Bandara Sultan Iskandar Muda hampir saja tidak diizinkan masuk. “Semula

saya tidak dikasih masuk dulu. Tapi untung saya menemani kawan yang

wartawan bule,” katanya, kesal.



Bahkan, seorang reporter media lokal sempat diminta untuk menunjukkan kartu

tanda penduduk. Padahal, reporter media itu telah menunjukkan kartu

pengenal yang dikeluarkan KPA dan kartu pers. Lagi-lagi, para penjaga pintu

masuk meminta sang reporter menunjukkan KTP.



Belum lagi ada perlakuan yang berbeda antara wartawan lokal, nasional, dan

internasional. Sejumlah wartawan lokal sempat dilarang memasuki halaman

Pendopo Gubernur Aceh. Tidak ada alasan yang jelas kenapa mereka dilarang

masuk. Namun, wartawan yang bertampang bule dengan mudah bisa menerobos

barikade penjagaan. Bahkan, ada wartawan asing yang malah tak bertanda

pengenal yang dikeluarkan KPA.



“Besok, kita jadi bule saja, biar gampang akses,” celetuk seorang

fotografer ketika tertahan di pintu masuk.



Tak hanya susah mengakses area liputan, wartawan juga tak leluasa

mengabadikan momen kepulangan Hasan Tiro karena banyaknya anggota

pengamanan yang wara-wiri di depan kamera para wartawan. Akibatnya, seorang

fotografer yang berusaha menerobos barikade pengamanan itu mengalami tindak

kekerasan.



Pewarta foto itu pada mulanya hendak mengabadikan detik-detik Hasan Tiro

keluar dari badan pesawat yang membawanya pulang ke Aceh. Namun, tiba-tiba

ada petugas pengamanan yang berdiri di depannya. Terang saja dia mencari

lokasi lain, dengan jongkok di celah-celah barikade. Namun entah kenapa,

tiba-tiba ada yang menendang wajah fotografer.



“Saya awalnya berusaha menghargai mereka, tapi saat pesawat wali datang,

mereka sudah tidak menghargai saya lagi dengan berdiri di depan kamera.

Makanya saya terobos,” kata sang fotografer itu.



Perlakuan tidak mengenakkan juga dilakukan massa yang berusaha melihat dari

dekat Hasan Tiro di halaman Masjid Raya Baiturrahman. “Saya kena lemparan

kursi patah. Ada juga yang kena batu,” kata seorang wartawan media lokal.

[dzie]



-- 

ACEHKITA

Jl Angsa No 23 Batoh, Lueng Bata

Banda Aceh, 23000

o/terms/


      

Kirim email ke