http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/13/1918280/satu.dari.dua.pengguna.napza.suntik.terinfeksi.hiv

*Satu dari Dua Pengguna Napza Suntik Terinfeksi HIV*


JAKARTA, SENIN - Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) terkait
prevalensi HIV di Indonesia tahun 2007 menunjukkan bahwa sekitar 43-56
persen pengguna napza (narkotika, psikotropika, dan zat aditif) suntik, atau
yang disingkat menjadi penasun, di empat kota yakni Medan, Jakarta, Bandung,
dan Surabaya telah terinfeksi HIV.

"Penasun masih memiliki prevalensi HIV tertinggi di antara kelompok paling
berisiko di Indonesia, yakni 55-56 persen di tiga dari empat kota yang
mengumpulkan data biologis," kata Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur
Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen
Kesehatan, dalam peluncuran STBP di Jakarta, Senin.

Menurut Tjandra Yoga Aditama, walaupun secara umum prevalensi HIV di
masyarakat Indonesia masih cukup rendah, yakni 0,16 persen, tapi sejak tahun
1990-an telah terjadi peningkatan yang cukup dramatis pada kelompok beresiko
tinggi terutama kelompok penasun, pekerja seks komersial baik wanita maupun
pria, waria, dan lelaki penyuka lelaki.

Interaksi populasi penasun yang terinteraksi HIV dengan populasi kunci
lainnya memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap terjadinya
peningkatan prevalensi HIV pada kelompok beresiko tinggi.

Survei tahun 2002 menunjukkan bahwa di kelompok penasun dilaporkan adanya
hubungan seks tidak aman dengan pekerja seks, yakni sekitar 20-75 persen,
dan pada tahun 2004 diperkirakan 10 persen penasun menjajakan diri sebagai
pekerja seks.

"STBP tahun 2007 juga mendapati bahwa program layanan jarum suntik steril
(LJSS) telah mencapai cakupan yang tinggi di beberapa kota, dan di kota-kota
ini pemakaian jarum suntik bergantian cenderung lebih rendah," kata Tjandra.

Namun ia juga menjelaskan bahwa meski cakupan program LJSS sudah meluas,
jumlah jarum yang didistribusikan belum mencukupi.

Temuan lain terkait dengan pola hubungan intim pada penasun. "Sekitar 47
persen penasun melakukan hubungan intim dengan lebih dari satu pasangan, 30
persen melakukan seks dengan satu orang, sementara sisanya ditemukan tidak
mempunyai mitra berhubungan intim," katanya.

Sementara itu sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nafsiah Mboi
mengatakan bahwa program penanggulangan penyebaran HIV/AIDS harus difokuskan
kepada generasi muda, karena 30 persen penasun adalah mereka yang berusia di
bawah 20 tahun.

"Kita harus serius hentikan epidemi ini di kalangan generasi muda yang
sangat beresiko terpapar HIV, yaitu mereka yang penasun, penyuka sesama
lelaki, dan waria," ujar dia.

STBP 2007 dilaksanakan atas kerjasama antara Departemen Kesehatan (Depkes),
Badan Pusat Statistik (BPS), Agen Pembangunan Internasional Amerika Serikat
(USAID), Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), dan Progam Aksi Stop AIDS (ASA)
Family Health International.

ABD
Sumber : Antara


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke