Berita Pustaka:
 
 
TERBIT: LEKRA  TAK MEMBAKAR BUKU
 
 



Telah terbit tiga buku dari riset Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan 
tentang gerakan kiri kebudayaan yang luar biasa bergemuruhnya selama 15 tahun 
menahan arus besar imperialisme modal dan intervensi asing (Amerika Serikat) 
hingga mereka sangsai di depan sejarah. Ketiganya adalah:

(1) LEKRA TAK MEMBAKAR BUKU: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat
15 x 24 cm; ISBN 978-979-18475- 0-6; 581 halaman. Cetak massal dan bisa 
didapatkan di toko-toko buku terdekat. Mengulas banyak hal dari sepuluh bab, 
seperti Garis Utama Ideologi Kebudayaan, Riwayat Harian Rakjat, Sastra, Film, 
Seni Rupa, Seni Pertunjukan (Ketoprak, Wayang, Drama, Ludruk, Reog), Seni Tari, 
Musik, dan Dunia Buku.

(2) GUGUR MERAH: Sehimpunan Puisi Lekra 1950 – 1965
Himpunan puisi ini adalah ikhtiar mengumpulkan sekira 450 judul puisi dari 111 
penyair Lekra yang nama dan puisinya terekam di lembar kebudayaan Harian Rakjat 
sepanjang 15 tahun (1950-1965). 15 x 24 cm; ISBN: 978-979-18475- 1-3; 966 hlm. 
Hanya tersedia dalam edisi terbatas (hardcover). Bisa dipesan ke 081-328690269.

(3) LAPORAN DARI BAWAH: Sehimpunan Cerita Pendek Lekra 1950-1965
Buku ini merekam geliat 100 cerita pendek yang ditulis oleh eksponen budaya 
Lekra (sastra) untuk memberitahu bagaimana gaya realisme sosialis “ditemukan”, 
“diadaptasi”, dan “dipraktikkan” di lapangan kesusastraan Indonesia. 15x24 cm; 
ISBN 978-979-18475- 2-0; 558 hlm. Hanya tersedia dalam edisi terbatas 
(hardcover). Silakan pesan ke 081-328690269


Selamat Jalan Lekra
(Dinukil dari Bab Penutup ‘Lekra Tak Membakar Buku’)
 

Sebelum mendapat vonis hukuman mati di depan mahkamah sejarah pada 1 Oktober 
1965, limabelas tahun kehidupan Lekra adalah limabelas tahun bekerja agar 
kebudayaan mendapatkan tempat terhormat di tengah kehidupan politik Indonesia. 
Kebudayaan tak boleh hanya jadi suplemen dari kehidupan ekonomi dan politik. 
Pengekor tanpa tendens atau diabaikan seperti makhluk tiada guna. Kebudayaan 
harus menjadi bidang utama yang menentukan bulat-lonjong- persegi raut 
Indonesia. Dan seniman/sastrawan bukan kelas pinggiran di panggung luas bernama 
Indonesia. Lekra sudah menunjukan dengan segamblang-gamblang nya bagaimana cara 
menghormati kebudayaan Indonesia, menghormati tradisi yang dilahirkan Rakyat, 
membawa pulang sastra ke pangkuan si pemiliknya, yakni Rakyat.

Lekra oleh seteru-seteru politik kebudayaan yang dilabelinya sebagai pemangku 
“humanisme universil”, “seni untuk seni”, “kontrarevolusioner”, mendaftar 
sekian panjang dosa-dosa dan mengubur kehadiran dan perannya dalam ruang 
ingatan masa depan. Buku-buku ditulis dengan gempita dan penuh semangat 
mengasasinasinya tanpa ada pembelaan. Rasa-rasanya belum cukup dosa itu dibayar 
dengan penghukuman penjara puluhan tahun, pengejaran dan penggorokan leher para 
budayawannya oleh aksi massa yang sangat brutal, penembakan-penembak an 
sistematik Angkatan Bersenjata. Para seteru politik kebudayaan itu menulis 
buku-buku dengan bersemangat bahwa Lembaga Kebudayaan Rakyat yang jumlah 
pendukung di dusun dan di kota yang luar biasa banyak itu bukan hanya diisi 
orang-orang haus kuasa, algojo-algojo haus darah, tukang keroyok, pembikin onar 
panggung kebudayaan, tapi juga turut aktif menggulingkan Sukarno dengan 
cara-cara kotor dan licik, yakni lewat jalan kudeta
 30 September.

Katakanlah semua dosa itu benar sebagai dosa (walau harus dibuktikan dulu). 
Katakanlah Lekra pembabat kebebasan berkreasi. Katakanlah Lekra adalah 
penghasut, tukang fitnah, bahkan ada yang menudingnya sebagai pembakar buku 
yang brutal. Tapi tak adakah yang positif yang mereka berikan buat warga bangsa 
yang dicintainya ini sepanjang 15 tahun bekerja di lapangan kebudayaan 
Indonesia?

Di bidang penegakkan moralitas, Lekra adalah laskar kebudayaan yang memagari 
moralitas keluarga dan anak-anak Indonesia dengan intensif dari amukan 
bacaan-bacaan cabul, komik bandit-banditan, film-film Hollywood yang 
mempertontonkan kevulgaran, musik ngak-ngik-ngok. Laskar budaya Lekra beserta 
ormas-ormas revolusioner melakukan sweeping atas hiburan-hiburan malam yang 
memamerkan dansa-dansi dan pakaian-pakaian seronok.

Janganlah dilupakan bagaimana cendekiawan organik Lekra dan sekaligus Wakil 
Ketua II CC PKI Njoto pada 29 Desember 1954 naik mimbar di gedung bioskop 
Radjekwesi Bojonegoro, Jawa Timur. Pada saat malam pidato itu, sebagaimana 
digambarkan Harian Rakjat edisi 5 Februari 1955, “sekolah SMA-malam jang 
muridnja berdjumlah lebih dari 300 orang, malam itu ditutup, dan guru2 maupun 
murid2nja semuanja datang ketjeramah PKI”. Setelah menerangkan secara 
terang-benderang tentang “Front Anti Komunis” yang menurutnya bukan hanya 
komunis yang dimusuhi, tapi juga PNI, NU, PSII, PRN, dll yang karena itu 
sebetulnya adalah “Front Anti Segala Sesuatu”; tapi juga “nyerempet” ke soal 
sikap PKI—juga Lekra—atas demoralisasi masyarakat khususnya bagi anak-anak 
pelajar. Dengan tangkas Njoto menegaskan sikap bulat: “Menjokong setiap usaha 
jang akan memberantas demoralisasi, tidak sadja dikalangan peladjar, tetapi 
dikalangan manapun. Sekarang ini, tidak sedikit
 orang jang suka meremehkan pengaruh jg ditimbulkan oleh film2 tjabul, buku2 
tjabul dan musik tjabul. Ibu2 dan bapak2, djuga guru2, lebih daripada saja 
tentu tahu betapa merusaknja barang2 tjabul itu bagi watak dan sifat anak2 
kita. Pengaruh jang djelek itu sudah demikian meluasnja, sehingga tidak sedikit 
anak2 kita jang menanggalkan pakaiannja jg nasional, pakaiannya jang normal, 
dan lebih suka memakai tjelana jang saja sebut sadja ,,tjelana potlot”.

Njoto dalam pidato yang sama berjanji merencanakan suatu mosi menuntut 
pelarangan segala sesuatu yang cabul kepada Parlemen. Dan untuk mendukung 
validitas data, Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) memfasilitasi sarasehan 
besar “Demoralisasi Peladjar” yang digelar selama sepekan pada 27 Februari s/d 
5 Maret 1955 di Jogjakarta.

Keseriusan dan ketegasan terhadap semua produk kebudayaan yang mencemari “watak 
dan sifat anak2 kita” itulah yang membikin Lekra Jogja melakukan sweeping atas 
pemakai baju-baju norak nekolim atau you-can-see. Bagi eksponen Lekra, 
pakaian-pakaian cabul semacam you-can-see dan bikini, film cabul, sastra cabul, 
maupun majalah cabul bukan soal sepele. Ia adalah bagian dari arus revolusi 
kebudayaan yang mesti dibersihkan dari perikehidupan masyarakat. Dan mereka 
konsisten dengan sikap penentangan itu. Ada sekira sepuluh tahun rentang antara 
pidato Njoto dan tindakan Panglima Daerah Angkatan Kepolisian X Jawa Timur di 
Surabaya, Drs. Soemarsono, yang menyerukan bahwa “disamping terhadap lagu2 
ngak-ngik-ngok sebangsa the beatles, rok n roll, AKRI akan mengambil tindakan 
tegas terhadap mode2 pakaian jang berbau nekolim”.

Sebelum giliran “pakaian jang berbau nekolim” atau “tjelana potlot” kena sapu, 
Angkatan Kepolisian Jawa Timur memang sudah terlebih dulu melego semua piringan 
hitam berisi lagu-lagu ngak-ngik-ngok. Dalam kesadaran terdalam aktivis PKI dan 
Lekra, moralitas bangsa harus tetap dilindungi dari destruksi yang ditimbulkan 
budaya-budaya nekolim. Karena itu tindakan-tindakan di lapangan pun diambil 
secara seksama dan sistematis. Gelombang demonstrasi dan propaganda menjebol, 
misalnya, produksi film-film Amerika Serikat yang disebar oleh Association 
Picture American of Indonesia (AMPAI) dilangsungkan secara massif dan berhasil. 
AMPAI pun jebol pada Oktober 1964. Majalah-majalah cabul seperti Playboy 
dirazia yang dalam bahasa kartun Harian Rakjat edisi 8 Agustus 1965 merupakan 
sampah-sampah berbau Amerika yang sepantasnya dibuang. Sejalan dengan itu, 
Badan Kontak Organisasi Wanita Indonesia Djawa Timur (BKOWI) di Surabaya juga 
mengeluarkan pernyataan
 menertibkan peredaran buku-buku dan majalah yang tak sesuai dengan kepribadian 
nasional. Keluarnya pernyataan itu merupakan respons langsung dari beredarnya 
kisah-kisah bergambar yang tak pantas dilihat, “Keluarga Miring” No 8, 9, 10 
terbitan Semarang tahun 1965.

Kerap PKI dan Lekra dituding melecehkan agama. Itu diajarkan di sekolah dan 
menjadi dongengan yang wajar dalam masyarakat dan karena itu menjadi benar. 
Sebagian barangkali benar. Tapi bagaimana dengan kejadian di Banyuwangi seperti 
ini dan diliput Harian Rakjat edisi 25 April 1953 dengan judul berita 
“BANJUWANGI: 13 buah mesdjid diperbaiki PKI”.

Kerdjabakti jang dilangsungkan pada tg. 8-4 jl. dipimpin oleh Subsecom 
Pesanggrahan - Banjuwangi, dan diikuti oleh 532 petjinta PKI berhasil 
membersihkan kantor ODM setempat, halaman tangsi polisi, kantor Djapen, makam 
Pahlawan, Kuburan2, memperbaiki djalan Pasar, menggali parit sepandjang 2 KM 
dan membersihkan/ mengkapur 13 buah mesdjid (surau).

Kerdjabakti tsb. disaksikan oleh Ass. Wedana setempat.

Di film-film bagaimana orang-orang PKI dan seluruh ormas yang sealiran 
dengannya diperlihatkan memasuki masjid, menginjak-injak Alquran, seperti 
kejadian di Kanigoro, Kras, Kediri. Dan rekaman itu terus berulang hingga 
merasuki bawah sadar dan melahirkan kebencian yang tiada tara. Barangkali 
tudingan itu benar. Tapi tidakkah PKI—ketika mereka berada pada titik 
konsolidasinya yang kuat—sudah memberi bantahan yang tak pernah terungkap dalam 
dua kali pemuatan di Harian Rakjat edisi 13 Februari 1965:

Ada pula kampanje jang untuk waktu tjukup lama di-sebar2kan orang: ,,anggota 
PKI meng-indjak2 Al Qur'an". Tema ini sadjapun sudah menundjukkan, bahwa maksud 
sipembuat kampanje adalah untuk memainkan sentimen2 rendah massa jang 
terbelakang.

Sekarang tak kurang dari team FN [Front Nasional] dibawah pimpinan Major Said 
sendiri jang menjangkal kampanje itu. Tidak ada sama sekali kedjadian sematjam 
itu, malahan, jang ada adalah kongkalingkong kaum Masjumi untuk memetjahbelah 
FN, chususnja antara PKI dan NU.

Tentang peristiwa Kanigoro itu sendiri, silakan dibaca berita sanggahan berikut 
ini pada Harian Rakjat edisi 11 Februari 1965:

Team PB Front Nasional jang terdiri dari Major Said Pratalikusuma dan Hartojo 
dengan dibantu anggota pengurus daerah F.N. Djawa Timur ketika mengadakan 
penindjauan on the spot kedaerah Kanigoro, Kras, memperoleh tjukup bukti, bahwa 
antara BTI dan Pemuda Rakjat disatu pihak dan NU serta GP Ansor dilain pihak, 
tidak ada perasaan apa2 bertalian dengan terdjadinja peristiwa Kanigoro.

Dinjatakan oleh anggota team PB FN, bahwa peristiwa Kanigoro sudah dapat 
diatasi karena kesadaran dan kewaspadaan Rakjat untuk melawan setiap gerakan 
kontra-revolusi. Di Mental Training Kader PII di Kanogoro, Kras, didaerah 
Kediri pada waktu itu disinjalir adanja gerakan kontra-revolusi jang dilakukan 
anggota2 bekas partai terlarang.

Major Said Pratalikusuma dalam pertemuan dengan para wartawan Surabaja 
mengemukakan setjara kronologis mengenai kedjadian2 sebelum dan sesudah 
terjadinja peristiwa Kanigoro dimana dinjatakan bahwa pada Maret 1964 jl. 
Partai NU Kras dalam statemennja telah melarang Samelan, bekas anggota partai 
terlarang [Masjumi] untuk melakukan pengadjian2. Pernjataan serupa telah 
dikeluarkan djuga oleh Panitia Mental Training Kader PII di Kras pada tgl. 12 
Djan. jl. jaitu sehari sebelum terdjadinja penggropjokan.

Mengenai penggeropjokan jg dilakukan oleh anggota2 BTI dan Pemuda Rakjat itu 
ialah karena alasan2 tersebut diatas, jaitu di Mental Training PII di Kanigoro, 
Kras, terdapat unsur jang dapat membahajakan revolusi dan membahajakan 
persatuan nasional revolusioner berporoskan Nasakom....

Dalam memberikan keterangan kepada para wartawan itu Team PB FN djuga 
menjanggah pemberitaan sementara suratkabar jang menjatakan, bahwa dalam 
peristiwa Kanigoro telah di-indjak2 Kitab Sutji Al-Quran. Dengan tandas 
dikatakan ,,itu tidak benar".

Di dalam tradisi mencipta atau menulis, Lekra juga telah meninggalkan tradisi 
yang baik: yakni riset intensif. Mencipta dan menulis apa saja baik drama, 
cerita pendek, puisi, esai, atau melukis hendaklah terlebih dahulu dilakukan 
riset yang tekun di lapangan. Mereka menamakan tradisi riset itu dengan turun 
ke bawah atau Turba ke desa-desa yang terpencil selama satu atau dua bulan. Di 
sana, pekerja budaya Lekra itu bukan menampilkan diri sebagai “turis”, 
melainkan pendamping masyarakat. Pekerja Lekra tak boleh lebih tinggi dari 
tani-nelayan- buruh yang disebut Presiden Sukarno sebagai sokoguru Revolusi. 
Tak boleh keminter dan sok-sokan, mentang-mentang dari kota dan terpelajar. 
Dalam Turba, setiap pekerja Lekra memegang teguh aturan main yang emansipatif 
yang mereka sebut “tiga sama”: sama kerja, sama makan, sama tidur. Apa yang 
dikerjakan petani, itu juga yang dikerjakan pekerja Lekra. Kalau petani makan 
tiwul, pekerja Lekra juga makan tiwul.
 Kalau petani tidur beralas papan keras, pekerja Lekra juga mesti tidur di atas 
papan. Di desa itulah, kerap pekerja Lekra terlibat membantu dan mendampingi 
petani merebut hak-haknya yang dirampas sewenang-wenang oleh para tuan tanah. 
Kalau sudah begini, mereka akan diuber-uber oleh polisi yang memang memihak 
pada kekuatan feodal di kampung-kampung. Tradisi baik ini kemudian yang masih 
kita saksikan dalam tradisi Kuliah Kerja Mahasiswa (KKN) yang saban tahun 
dilakukan untuk tujuan akademis tapi minus ideologi dan kesadaran penuh membela 
Rakyat tertindas. Atau ini juga dilakukan LSM-LSM yang mendampingi masyarakat 
papah di daerah-daerah.

Berkait dengan basis kesenian Lekra adalah dari kelas bawah, maka kerja lembaga 
ini yang tak boleh disepelekan adalah membawa sastra masuk kampung dan 
pabrik-pabrik. Mengajari masyarakat menulis puisi, membina anak-anak muda 
menulis puisi, cerpen, atau apa pun. Lekra juga intensif merevitalisasi 
dongeng-dongeng Nusantara dengan memanggungkannya di pentas ketoprak, teater, 
arena deklamasi, bahkan dalam lukisan-lukisan. Dari sisi musik, Lekra 
bersemangat mengumpulkan lagu-lagu daerah dan memperkenalkannya secara 
nasional, seperti salah satunya lagu Rakyat berjudul Genjer-genjer asal daerah 
Banyuwangi yang kemudian disangsai oleh rezim post Sukarno sebagai lagu 
penyuplai praktik seks cabul dan menstimulasi kebiadaban. Tari-tari daerah pun 
direvitalisasi, diberi isi baru—bukan hanya sebagai tari penghibur dan objek 
turisme, tapi juga mampu menstimulasi perlawanan yang revolusioner. Bahkan 
beberapa tari dinaikkan tarafnya menjadi tari pergaulan nasional
 seperti tari “Lenso” dari Maluku.

Pekerja budaya Lekra juga dengan bersemangat mengangkat dan melindungi 
kebudayaan Rakyat dan kepunahan atau pencaplokan hak oleh negara lain yang 
ingin melihat Indonesia terus tersiksa dan terbelakang terus diingatkan oleh 
kongres dan konferensi nasionalnya untuk terus bekerja keras meregistrasi 
nyanyian daerah, dongeng Rakyat, tari daerah. Sebab untuk memperkokoh letak 
berdirinya kebudayaan Indonesia ini, mestilah memperkuat pondasi kebudayaan 
Rakyat. Dan itu tak bisa dilakukan dengan mengandalkan dayabayang belaka, tapi 
juga dayakerja di lapangan kebudayaan di tengah-tengah kehidupan Rakyat.

Di bidang senirupa, tergabung para perupa-perupa maestro seperti Affandi, 
Hendra, Sudjojono, dan sederet lainnya pelukis-pelukis Rakyat dengan pelbagai 
ekspresi dan gayanya. Dari tangan perupa-perupa itulah lahir organ dan gerakan 
seni yang revolusioner seperti Persagi, SIM, Pelukis Rakyat, dan sebagainya. 
Karya-karya para perupa ini pun diperjuangkan Lekra agar bisa menghiasi dinding 
kantor-kantor jawatan pemerintah yang bertebaran di Jakarta. Dan jika sekali 
waktu melewati bunderan Hotel Indonesia, lihatlah tugu “Selamat Datang” yang 
merupakan karya pematung Lekra Henk Ngantung yang juga menjadi dewan juri 
perlombaan membikin Monumen Nasional (Monas). Di masa ketika Lekra hadir inilah 
seni grafis yang kerap dianggap kelas dua dalam seni rupa seperti mural, 
karikatur, poster, cukikayu, mendapatkan tempat yang terhormat.

Di dalam menghalau kekuatan asing seperti Amerika Serikat, Lekra tak pernah 
kehabisan stok energi. Mereka sebar seluruh pasokan logistik perlawanan di 
mana-mana. Di sidang-sidang kongres, pleno, di rapat-rapat umum, di ruang-ruang 
seminar, di atas kanvas pelukis, di kuplet-kuplet puisi, di dinding-dinding 
mural, di halaman-halaman koran, buku, di atas panggung pertunjukan, di layar 
putih, dan di sekujur jalanan kota yang memungkinkan mengalirnya sumpah dan 
protes. Lekra dengan bekerjasama dengan organisasi masyarakat yang 
sepaham---dan tentu saja PKI---tak pernah kendur dan lelah menyiapkan bara di 
bawah kursi empuk agen-agen imperialis yang menduduki Indonesia. Di bidang 
film, distributor film Amerika (AMPAI) diuber sampai rubuh. Berkarung-karung 
majalah-majalah Amerika yang kerap menjelek-jelekkan Indonesia disita para 
buruh pos dan dengan kemarahan yang mendidih-didih dibakar oleh Pemuda Rakjat 
dibakar. Gedung Penerangan Amerika Serikat (USIS) di
 Surabaya dan di Jakarta diganyang. Industri-industri minyak Amerika seperti 
Exxon atau perusahaan Inggris bernama Unilever nyaris setiap hari didatangi dan 
disumpahserapahi karena keterlibatan negara-negara ini memakzulkan 
negara-negara berdaulat seperti Pakistan, Vietnam, Kamboja, Laos, Konggo, 
Venezuela, Aljazair, dan serangkaian negara Asia-Afrika- Amerika Latin lainnya. 
Untuk melawan kekuatan imperialis yang bersekongkol dengan banyak negara 
sekutunya, Lekra juga membangun basis perlawanan lewat jejaringan ikatan 
kebudayaan antara negara-negara blok Asia-Afrika- Amerika Latin. Dengan 
jaringan ini, konsolidasi perlawanan menjadi efektif dan memiliki gaung dan 
efek waswas bagi negara-negara imperialis.

Akhirul kalam, selama 15 tahun usianya, Lekra telah memperlihatkan dan 
membuktikan bahwa kebudayaan punya posisi tawar dan merupakan cara paling damai 
mengajak dan memobilisasi masyarakat untuk berpartisipasi aktif mendongkel 
kekuasaan kolonial dan feodal yang menghambakan Rakyat.

Maka dari itu, penulis buku ini berucap: selamat jalan Lekra. Tugas buku ini 
mesti pungkas di sini saja setelah memberi panggung terbuka bagi pekerja budaya 
Lekra, baik komunis maupun nonkomunis, untuk mengatakan bahwa inilah kerja 
kreatif kami selama limabelas tahun tanpa lelah bekerja dalam setiap ceruk 
komunitas kesenian seperti ketoprak, reog, jatilan, ludruk, wayang, tari, 
sandiwara, sanggar-sanggar lukis, di mimbar-mimbar sastra dan seminar, rapat 
terbuka, bioskop, partai politik, pabrik, desa, gang-gang kumuh, 
kampung-kampung nelayan yang asin, organ-organ persekutuan, konferensi-konferen 
si internasional, bahkan hingga dalam gedung parlemen, kantor-kantor jawatan, 
dan istana presiden.

Lalu kita pun tahu bahwa Lekra tak seperti makhluk setengah setan setengah 
manusia. Mereka seutuhnya manusia dan pekerja-pekerja kreatif. Mereka adalah 
cendekiawan- cendekiawan organik yang sadar memilih di mana ia mesti mengambil 
tempat di lapangan kebudayaan Indonesia. Dan peristiwa G-30-S, tak hanya 
mengubur Lekra sebagai organ, tapi juga memacetkan pertumbuhan cendekiawan- 
cendekiawan revolusioner bertalenta yang dipunyai Indonesia.****
 

[Sumber:  h_tanzil [EMAIL PROTECTED],  " TERBIT: LEKRA TAK MEMBAKAR BUKU",, 
in:  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL 
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 14 October, 2008, 11:13 AM].


      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke