RUWATAN
BUMI; WAYANG KULIT SUDAMALA




Salam budaya,



Setelah
melalui serangkaian proses pemilihan kandidat beberapa waktu lamanya, Fakultas
Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (FFTV IKJ) berhasil memiliki
pimpinan baru yang diharapkan mampu membawa perubahan positif ke depan bagi
civitas akademika FFTV IKJ. Serah terima jabatan dari pimpinan sebelumnya
kepada pimpinan baru telah berlangsung pada tanggal 11 Oktober 2008 melalui
Sidang Senat FFTV IKJ yang dipimpin oleh ketuanya, yaitu Hartanto, M.Sn. 



Berikut adalah para pimpinan baru FFTV IKJ untuk masa bakti 2008-2012:




 
  
  Dekan
  
  
  : Gotot Prakosa, S. Sn., M. Hum.
  
 
 
  
  Wakil Dekan I 

  (Bidang Administrasi Akademik)
  
  
  : RB. Armantono, S. Sn.
  
 
 
  
  Wakil Dekan II

  (Bidang Administrasi Umum & Keuangan)
  
  
  : Bintang B. Doeana, S. Sn.
   
  
 
 
  
  Wakil Dekan III

  (Bidang Kemahasiswaan & Alumni)
  
  
  : Kusen Dony Hermansyah, S. Sn.
   
  
 
 
  
  Wakil Dekan IV
  (Bidang Kerjasama)
  
  
  : Soebagjo Budisantoso, S. Sn.
   
  
 




Pada kesempatan yang baik ini, pimpinan FFTV IKJ mengucapkan terima kasih yang
tidak terhingga kepada para kolega yang selama ini menjadi mitra kerja sama
dalam berbagai bidang. Secara khusus, pimpinan FFTV IKJ juga memberikan
apresiasi yang tinggi kepada masyarakat yang memberikan kontribusi positifnya
dalam rangka mengharumkan nama FFTV IKJ di berbagai belahan dunia, salah
satunya melalui aktivitas menonton karya-karya mahasiswa dan alumni yang
menghiasi layar bioskop, televisi, dan festival-festival film. Pimpinan FFTV
IKJ berharap masyarakat terus menerus mencintai karya anak bangsa yang
berbobot. Semoga segala dukungan, kerja sama, dan hubungan yang baik ini terus
memberikan pencerahan dan berkelanjutan untuk masa mendatang.



Setelah berkiprah dalam jagad pendidikan film, televisi, dan fotografi lebih
dari 30 tahun lamanya, dan juga menjadi bagian dari masyarakat seni, budaya,
sosial, dan ekonomi kreatif, FFTV IKJ merasa perlu untuk melakukan refleksi dan
reartikulasi diri. Hal ini penting dilakukan karena FFTV IKJ merupakan bagian
dari dinamika masyarakat yang secara tidak kenal lelah terus menerus
memperbaiki diri. FFTV IKJ wajib untuk menajamkan kembali visi, misi, dan
kegiatan-kegiatannya selama ini agar tetap aktual, kontekstual, berkarakter,
dan memiliki peran strategis bagi masyarakat. 



Maka, untuk memulai kembali sebuah proses kerja kelembagaan yang panjang, dan
untuk melakukan refleksi atas perjalanannya selama ini, FFTV IKJ membuat sebuah
kegiatan ruwatan. Kegiatan ini didedikasikan bagi siapa saja yang
mencintai seni dan budaya tradisi, sekaligus terbuka pada perkembangan zaman. 
***



Fakultas Film dan
Televisi Institut Kesenian Jakarta

Mengharap kehadiran
Bapak/Ibu/Saudara 

pada acara;

RUWATAN BUMI

dengan menanggap
Wayang Kulit dengan lakon;

SUDAMALA

Dalang: Ki Demang
Edi Sulistyono, S. Sn. (dari Surakarta)



Hari               : Sabtu, 18 Oktober 2008

Pukul             : 20.00 s/d 23.00 WIB

Tempat          : Pelataran Gedung FFTV
IKJ, 
                      Jl. Cikini Raya 73, Menteng, Jakarta Pusat.



Sinopsis:


Di
Kahyangan Betara Guru,  Betara Narada dan
segenap dewa-dewa tengah bersamadi dengan menyaksikan persembahan tari sakral
para bidadari. Di akhir persembahan, Dewi Uma ( isteri Betara Guru)  mendapat 
giliran untuk  menghaturkan  Tirta Amerta dalam wadah Sweta Kamandalu (bejana
kendi). Ketika tiba di hadapan Rajadewa Betara Guru, tiba-tiba wajahnya pias, 
tangannya
gemetar dan kendi pun jatuh berantakan. Tirta Amerta tumpah. Anehnya tirta suci
itu menyebarkan aroma busuk.


Dengan
mata batinnya Betara Guru tahu bahwa Uma telah melakukan perbuatan yang merusak
tatanan jagad raya. Uma berselingkuh dengan Bidadara Citragada dan Citrasena.


Betara
Guru Murka, Betari Uma dikutuk menjadi rakseksi yang buruk rupa dan diberi nama
Betari Durga. Citrasena dan Citragada dikutuk pula sebagai raksasa bernama
Kalanjaya dan Kalantaka. Durga  diusir
dari Kahyangan. Diperintahkan untuk menjadi ratu di  kerajaan setan di Hutan 
Setragandamayit. 


Durga
mendapat petunjuk yang bisa meruwat dirinya adalah bungsu Pandawa, yang bernama
Raden Sadewa. Durga lalu mengubah dirinya sebagai Kunti kemudian  menculik 
Sadewa. Sang Hyang Wenang akhirnya
bersatu dengan Sadewa dan meruwat Durga. 


Durga
yang sudah bertobat akhirnya mendapat ampunan jagad raya. Wajahnya kembali
cantik jelita, dan diperkenankan kembali ke Kahyangan. 


Atas
jasanya Sadewa mendapat anugerah julukan Raden Sudamala.

 


Tancep
Kayon.

 

Nakulo-Sadewo,
Betari Durda, Betara Guru.

 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke