emang ga perlu ngapir2in orang yg dah kapir :) dan lebih ga perlu lg, memuslim2kan orang yg jelas2 kapir, pdhl Allah & Rasulnya tegas2 menyatakan mereka kapir.
di sini byk orang lebih pinter drpd Allah siy :p ----- Original Message ---- From: eka zulkarnain <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Wednesday, October 15, 2008 4:52:39 PM Subject: Re: [ppiindia] "Kebenaran" Nah kan lebih enak begini bang...postingannya nyerep ke otak ye enggak. Ngak perlu ngapir-ngapirin orang dan menyudutkan. Apalagi dalam persoalan akidah dan keimanan...hehehehe. Kite baca, dapet elmu. Mau dipake ape kagak ya itu terserah nyang baca.... Eka Zulkarnain --- On Wed, 10/15/08, si pitung <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: si pitung <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [ppiindia] "Kebenaran" To: [email protected] Date: Wednesday, October 15, 2008, 1:43 AM mungkin ini pemikiran2 ini yg disebut pemikiran terbuka :) "Kebenaran" oleh: Hamid Fahmi Zarkasy * Semua adalah relatif (All is relative) merupakan slogan generasi zaman postmodern di Barat, kata Michael Fackerell, seorang missionaris asal Amerika. Ia bagaikan firman tanpa tuhan, dan sabda tanpa Nabi. Menyerupai undang-undang, tapi tanpa penguasa. Tepatnya dokrtin ideologis, tapi tanpa partai. Slogan itu memang enak didengar dan menjanjikan kenikmatan syahwat manusiawi. Baik buruk, salah benar, porno tidak porno, sopan tidak sopan, bahkan dosa tidak dosa adalah nisbi belaka. Artinya tergantung siapa yang menilainya. Slogan relativisme ini sebenarnya lahir dari kebencian. Kebencian Pemikir Barat modern Barat terhadap agama. Benci terhadap sesuatu yang mutlak dan mengikat. Generasi postmodernis pun mewarisi kebencian ini. Tapi semua orang tahu, kebencian tidak pernah bisa menghasilkan kearifan dan kebenaran.. Bahkan persahabatan dan persaudaraan tidak selalu bisa kompromi dengan kebenaran. Aristotle rela memilih kebenaran dari pada persahabatan. Tidak puas dengan sekedar membenci, postmodernisn lalu ingin menguasai agama-agama. Untuk menjadi wasit tidak perlu menjadi pemain itu mungkin logikanya. Untuk menguasai agama tidak perlu beragama. Itulah sebabnya mereka lalu membuat teologi-teologi baru yang mengikat. Kini teologi dihadapkan dengan psudo-teologi. Agama diadu dengan ideologi. Doktrin teologi pluralisme agama berada diatas agama-agama. Global Theology danTranscendent Unity of Religions mulai dijual bebas. Agar nama Tuhan juga menjadi global di ciptakanlah nama tuhan baru yakni The One, Tuhan semua agama. Tapi bagaimana konsepnya, tidak jelas betul. Bukan hanya itu Semua adalah relatif kemudian menjadi sebuah kerangka berfikir. Berfikirlah yang benar, tapi jangan merasa benar, sebab kebenaran itu relatif. Jangan terlalu lantang bicara tentang kebenaran, dan jangan menegur kesalahan, karena kebenaran itu relatif. Benar bagi anda belum tentu benar bagi kami, semua adalah relatif. Kalau anda mengimani sesuatu jangan terlalu yakin keimanan anda benar, iman orang lain mungkin juga benar. Intinya semua diarahkan agar tidak merasa pasti tentang kebenaran. Kata bijak Abraham Lincoln, No one has the right to choose to do what is wrong, tentu tidak sesuai dengan kerangka fikir ini. Hadith Nabi Idha raa minkum munkaran dst bukan hanya menyalahi kerangka fikir ini, tapi justru menambah kriteria Islam sebagai agama jahat (evil religion) versi Charles Kimbal. Jadi merasa benar menjadi seperti makruh dan merasa benar sendiri tentu haram. Paraartis dan selebriti negeri ini pun ikut menikmati slogan ini. Dengan penuh emosi dan marah ada yang berteriak Semuanya benar dan harus dihormati. Yang membuka aurat dan yang menutup sama baiknya. Confusing! Sadar atau tidak mereka sedang men dakwahkanayat-ayat syetan Nietzsche tokoh postmodernisme dan nihilisme. Kalau anda mengklaim sesuatu itu benar orang lain juga berhak mengklaim itu salah. Kalau anda merasa agama anda benar, orang lain berhak mengatakan agama anda salah. Para cendekiawan Muslim pun punya profesi baru, yaitu membuka pintu surga Tuhan untuk pemeluk semua agama. Surga Tuhan terlalu sempit kalau hanya untuk ummat Islam, kata mereka. Seakan sudah mengukur diameter surga Allah dan malah mendahului iradat Allah. Mereka bicara seperti atas nama Tuhan. Slogan Semua adalah relatif kemudian diarahkan menjadi kesimpulan Disana tidak ada kebenaran mutlak (There exists no Absolute Truth). Kebenaran, moralitas, nilai dan lain-lain adalah relatif belaka. Tapi karena asalnya adalah kebencian maka ia menjadi tidak logis. Kalau anda mengatakan Tidak ada kebenaran mutlak maka kata-kata anda itu sendiri sudah mutlak, padahal anda mengatakan semua relatif. Kalau anda mengatakan semua adalah relatif atau Semua kebenaran adalah relatif maka pernyataan anda itu juga relatif alias tidak absolut. Kalau semua adalah relatif maka yang mengatakan disana ada kebenaran mutlak sama benarnya dengan yang menyatakan disana tidak ada kebenaran mutlak. Tapi ini self-contradictory yang absurd. Menghapus kepercayaan pada kebenaran mutlak ternyata bukan mudah. Di negeri liberal seperti Amerika Serikat sendiri 70% Krsiten missionaries dan 27% atheis dan agnostik percaya pada kebenaran mutlak. Bahkan 38% warga Negara dewasanya percaya pada kebenaran mutlak. (Seperti dilaporkan William Lobdell di the Los Angeles Times dari hasil penelitian Barna Research Group). Karena itu doktrin postmo pun berubah:Anda boleh percaya yang absolut asal tidak mencoba memaksakan kepercayaan anda pada orang lain. Artinya tidak ada siapapun yang boleh menyalahkan siapa dan melarang siapa. Tapi pernyataan ini sendiri telah melarang orang lain. Bagi kalangan Katholik di Barat ini adalah sikap pengecut, pemalas dan bahkan hipokrit. Bagi kita pernyataan ini menghapuskan amar maruf nahi munkar. Slogan Semua adalah relatif pun menemukan alasan baru yang absolut hanyalah Tuhan. Aromanya seperti Islami, tapi sejatinya malah menjebak. Mulanya seperti berkaitan dengan masalah ontologi. Selain Tuhan adalah relatif (mumkin al-wujud). Tapi ternyata dibawa kepada persoalan epistemologi. Al-Quran yang diwahyukan dalam bahasa manusia (Arab), Hadith yang disabdakan Nabi, ijtihad ulama dsb.. adalah relatif belaka. Tidak absolut. Sebab semua dihasilkan dalam ruang dan waktu manusia yang menyejarah. Padahal Allah berfirman al-haqq min rabbika (dari Tuhanmu) bukan inda rabbika (pada Tuhanmu). Dari Tuhanmu berarti berasal dari sanadan sudah berada disini di masa kini dalam ruang dan waktu kehidupan manusia. Yang manusiawi dan menyejarah sebenarnya bisa mutlak. Thomas F Wall, penulis buku Thinking Critically About Philosophical Problem, menyatakan percaya pada Tuhan yang mutlak berarti percaya bahwa nilai-nilai moral manusia itu dari Tuhan. Demikian sebaliknya kalau kita tidak percaya Tuhan (hal 60). Jika ada yang percaya bahwa nilai moral manusia itu adalah kesepakatan manusia, tentu ia tidak percaya pada yang mutlak.. Semua adalah relatif bisa berarti semua tidak ada yang tahu Tuhan yang mutlak dan kebenaran firmanNya yang mutlak. Jika begitu benarlah pepatah para hukamaal-Nas ada ma jahila, manusia itu benci terhadap apa yang tak diketahuinya. [www.hidayatullah.com] Penulis Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1.. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3.. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

