rombongan nyari utang dgn semboyan: "biar kalah nasi asal gak kalah aksi".

indonesia yg raja ngutang cuma lagi mengulang-ulang urusan cari utang, jadi 
buat apa minta utang sembari buang2 uang negara dengan membawa sepasukan 
peminta utang?

hahaha..kacian deh kite dikibulin janji pemilu 2004! hasilnya cuma sgitu doang, 
urusan lumpur lapindo aja gak beres sampai sekarang, fayah!

hl


--- In [EMAIL PROTECTED], "Yanti Mirdayanti" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


Aku chatting sama teman dari KBRI Lima, Peru.
Dia bilang, 23 Oktober Presiden SBY akan sampai di Lima.
Dalam rangka menghadiri pertemuan APEC.
Karena tahun 2008 ini Peru menjadi host.

Temanku cerita.
SBY akan datang dengan serombongan besar.
Semua mereka dalam satu pesawat penuh.

Berapa coba jumlah rombongan tersebut?
Tak tanggung-tanggung, semuanya ada: 100 orang!

Wartawan Indonesia yang meliput ada sekitar 15 orang.

Kalau soal jumlah wartawan aku tak masalah.
Malahan bagus mereka ikut meliput.
Mudah-mudahan yang diliput benar-benar jitu dan benar.

Yang aku rasakan kurang 'sreg' adalah jumlah rombongan itu.
Mengapa mesti 100 orang yang turut diangkut?
Bukankah mereka semua itu akan perlu dikasih uang jajan?
Mereka perlu dihotelkan.
Mereka perlu dikasih makan, barangkali 3-4 kali sehari.
Ditambah harus dikasih ongkos-ongkos tambahan lainnya.
Mereka perlu diantar ke sana, diantar ke mari.
Pakai mobil-mobil KBRI dengan bayaran bensin dari kas negara.

Aku pun bertanya kepada sang teman.
Apakah Indonesia, negara kita ini memang kaya raya sekarang?
Cukup duit extra untuk membiayai 100 orang di kota Lima?
Karena harus turut mendampingi SBY yang 3 hari saja APEC di Peru?
Plus ditambah lagi perjalanan berikutnya ke Ecuador.
Yang juga untuk sebentar saja.

Mengapa jumlah rombongan tidak 25 orang saja misalnya?
Atau o.k. lah 50 orang misalnya?

Tapi temanku juga tak mengerti.
Dia bilang: Itulah Bu, negara kita memang suka penghamburan!

Temanku adalah salah seorang yang turut megkoordinir
Seluruh persiapan kedatangan SBY dan rombongan di Lima.
Telah bekerja keras sejak beberapa bulan.
Ibu-Ibu nya pun sudah sibuk ngurus persiapan apa tuk dimasak nanti.
Tahulah rombongan Indonesia.
Inginnya makanan Indonesia asli saja
Dimana pun mereka berada.

Aku pernah turut berkecimpung dalam soal kegiatan KBRI.
Untuk kedatangan segelintir anggota DPR atau pejabat DEPLU saja
persiapan sudah sibuk sekali.
Apalagi ini untuk kedatangan Presiden.
Apalagi dengan tetek bengeknya yang 100 orang.
Aduh, bisa kubayangkan repotnya para staff KBRI Lima.

Lima adalah kota mahal.
Aku pernah hidup 4 tahun di sana.
Sama saja seperti Jakarta.
Hotel-hotel tidak murah.
Apalagi saat mau APEC begini.
Mungkin harga lebih meroket.

Wisma Duta paling bisa menampung yang kece-kece saja.
Itu pun hanya untuk beberapa gelintir kepala.
Sisanya semua harus dihotelkan.
Apalagi kalau yang termasuk pejabat terasnya.
Nggak di Wisma Duta dong.

Ibu-Ibu biasanya pada kelelahan.
Harus masak siang malam.
Dengan resep yang harus macam-macam.
Semua tetek bengek masuk rekening negara.
Termasuk harga seperempat kilo cabe rawitpun.

Ah, mudah-mudahan yang 100 orang itu.
Ada yang swasta-swastanya.
Artinya mereka bayar biaya masing-masing.
Nggak dari kas negara melulu.
Kalau Presiden dan yang menteri-menterinya o.k. lah.
Memang mesti ditanggung biaya.
Tapi nggak isteri-isterinya khan?
Wah aku lupa tanya.
Apakah para isterinya juga turut serta?
Oh mungkin nggak.
Cukup hadiahnya saja dong ya, Pak!

Eh, jangan salah yah.
Satu dollar hanya sekitar 3,0 Soles atau barangkali kurang sekarang.
Jadi untuk satu Soles
Perlu duit rupiah sekitar Rp. 3000 atau 4000.

Ah, sudah dulu.
Mikiran soal penghamburan di negaraku memang bisa bikin pusing.

(Yanti, Bonn, Okt. 2008)



      
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan

  http://herilatief.wordpress.com/

http://akarrumputliar.wordpress.com/





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke