Dua laporan
http://www.ranesi.nl/dokumentasi/aceh/Hasan_di_Tiro20081013 Hasan di Tiro di Aceh: Dari Tunggal Ika menuju Bhineka Radio Nederland Wereldomroep - 13-10-2008 Voice: Hasan di Tiro di Aceh: dari Tunggal Ika menuju Bhineka <http://download.omroep.nl/rnw/smac/cms/id_w_t_tiro_20081013_44_1kHz.mp3\ > "Indonesia sudah berubah, demokrasi kini menonjol," ujar Teungku Doktor Chik Muhammad Hasan di Tiro, seperti ditirukan oleh Malek Mahmud. Kembalinya pemimpin mantan pemberontak Gerakan Aceh Merdeka GAM, Hasan di Tiro, disambut euforia masyarakat. Meski demikian, ada satu batalyon berjaga-jaga di Lapangan Blang Padang, namun KPA, Komisi Peralihan Aceh, wadah mantan kombatan GAM, percaya keamanan terjaga oleh polisi. Chik Muhammad Hasan di Tiro: Aceh tempat kita apa yang perlu disampaikan, saya yang bicara Malik yang sampaikan. Demikian Tengku Hasan di Tiro dalam bahasa Aceh menyampaikan pesan singkatnya di Masjid Raya Baiturrahman setibanya di Banda Aceh. Sebelumnya, sejak Jumat malam rakyat dari berbagai kabupaten datang ke Banda Aceh untuk menyambut kedatangan Wali Nanggroe yang telah 30an tahun meninggalkan Aceh. Sabtu tepat pukul 11.32 WIB pesawat Fire Fly milik Malaysia yang disewa rombongan mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda. Tengku Hasan di Tiro ditemani sejumlah pejabat tinggi GAM, antara lain Malik Mahmud, Zaini Abdullah dan Gubernur Irwandi Yusuf turun dari pesawat. Menjelang kedatangan Wali Nanggroe, azan diserukan, dan Tengku Hasan begitu mencapai bumi Aceh langsung sujud. Menyatukan Aceh Dua petinggi GAM, Sofyan Dawood dan Nur Djuli memandang kedatangan Hasan di Tiro sebagai menyambut perdamaian dan menyatukan Aceh. Sofyan Dawood: Suasana sangat gembira. Yang pertama orang Aceh setelah lama melihat, menunggu-nunggu bahkan melihat foto, suara beliau jadi katakan hari ini mungkin masyarakat Aceh bisa melihat, di mana kondisi seorang pimpinan gitu. Jadi kedatangan beliau ini, kepulangan hanyalah untuk memberi komitmen kepada perdamaian ini bukan masalah lain. Nur Djuli: Saya pikir dia satu sumber penyatu yang paling utama. Lihat saja ya, semua tidak ada beda. Ini sumber penyatu paling utama untuk Aceh. Hasan di Tiro, adalah cicit Teungku Chik di Tiro, pahlawan nasional RI, yang mulai tergugah sejak memprotes peperangan RI melawan Darul Islam pimpinan Teungku Daud Beureh'eh. Belakangan Tengku Hasan di Tiro mengubah cita-cita Darul Islam menjadi nasionalisme Aceh. Redefinisi cita-cita inilah yang hendak diwujudkannya dengan proklamasi Aceh Merdeka di kaki gunung Halimun, Pidie, 4 Desember 1976. Dalam wawancara dengan Radio Nederland pada tahun 1996 di Den Haag, Belanda, Hasan mengatakan kemerdekaan itu hak Aceh. Bagaimana caranya meraih kemerdekaan, Hasan ketika itu menjawab: "Dengan cara apa saja..." Kepada Malik Mahmud, mantroe GAM, yang juga ketua delegasi perunding GAM di Helsinki, sekarasng Radio Nederland menanyakan bagaimana Tengku Hasan di Tiro melihat demokrasi di Aceh dan di Indonesia? Indonesia sudah berubah, kata Malik menirukan pendapat Tengku Hasan di Tiro. Perubahan Malik Mahmud: Indonesia sekarang di bawah pemerintahan yang ada sekarang ini, memang kita lihat semua perubahan-perubahan memang jauh lebih baik daripada yang dulu-dulu. Dan buktinya itu bahwa Aceh sesudah di dalam konflik bersenjata yang berkepanjangan selama 30 tahun, dengan korban yang begitu besar dan juga banyak merugikan uang dalam masalah operasi. Tetapi karena Indonesia di dalam pemerintah sekarang ini demokrasi sudah lebih menonjol dan banyak keadaan-keadaan lain sudah mulai membaik. Dan dengan ini juga konflik yang begitu lama yang seolah-olah kita pikir tidak akan berakhir. Tetapi dengan hanya kira-kira lima kali ronde (perundingan), konflik selesai. Betapa pun, kembalinya mantan pemimpin pemberontakan separatis GAM, Tengku Hasan di Tiro ini, meski dikatakan merupakan kunjungan kangen Aceh, tentu akan mempertebal legitimasi GAM, khususnya Partai Aceh menjelang pemilu 2009. Bagi Jakarta, Aceh, terutama dengan kedatangan Teungku Hasan di Tiro merupakan tantangan bagi kebhinnekaan, setelah sekian tahun lamanya, Indonesia lebih menekankan "tunggal ika" ketimbang "bhineka"nya. Seminggu berikut, tamu istimewa Aceh ini akan menghabiskan waktunya dengan berziarah ke kakek keturunan Chik di Tiro dan ke desa asalnya di Pidie. Sekian laporan Aboeprijadi Santoso dari Banda Aceh ============================================================== http://www.ranesi.nl/dokumentasi/aceh/perjalanan_hasan_ditiro20081017 Semangat Keacehan dan Perdamaian Warnai Perjalanan Hasan di Tiro di Aceh Radio Nederland Aboeprijadi Santoso 17-10-2008 Voice: Semangat Keacehan dan Perdamaian Warnai Perjalanan Hasan di Tiro di Aceh <http://download.omroep.nl/rnw/smac/cms/id_w_tossi_20081017_44_1kHz.mp3> Pada hari ke 5 dan 6 kunjungannya ke Aceh, Teungku Chik Hasan Muhammad di Tiro bertandang ke negeri asalnya, Pidie, selama sepekan. Di Banda Aceh, Indrapuri dan Pidie, dua tema utama menandai muhibah mudik Hasan di Tiro: semangat kebangsaan Aceh dan seruan perdamaian. Di mana mana, dia disambut hangat dan meriah sebagai pejuang Aceh. Di mana-mana, pidatonya mensyukuri MoU Helsinki dan menyerukan perdamaian sebagai berkah berharga bagi Aceh. Koresponden Aboeprijadi Santoso mengikuti perjalanan Hasan di Tiro. Doa dan puja puji bagi Allah selalu membuka acara temu masyarakat dengan Hasan di Tiro dan rombongannya. Pada usia 83 tahun, Hasan Tiro datang untuk mendoakan keselamatan Aceh di muka makam para endatu, yaitu nenek moyang Aceh. Dari makam Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh, makam Syech Abdul Rauf al Sangkili di Syah Kuala, sampai ke makam ayah kakeknya, Teungku Chik di Tiro di Indrapuri. Di Laweung, dia berziarah di makam karib seperjuangan, Teungku Muhammad Usman Lampoh Awe yang meninggal dua minggu lalu, tentu juga ke makam gurunya, pemimpin Aceh, Teungku Muhammad Daud Beureu'eh di Beureunuem, dan ke makam orangtuanya. Setiap kali, dia berdoa demi Aceh. Maka, muhibah itu bukan sekadar saweue gampong, atau pulang kampung, suatu perjalanan kangen pribadi seorang putra Aceh kelahiran Tanjong Bungong, melainkan muhibah sang Wali Nanggroe untuk menyapa cikal bakal yang telah menghias sejarah besar Aceh. Menjaga perdamaian Wakil Rakyat: Paduka yang mulai, wali ... saya atas nama Rakyat Aceh yang masih setia dengan wali sampai saat ini, dengan ini kami semua terima kedatangan wali ke Aceh dengan kata kata Assalam mulaikum warahmatullahi wabarakatuh, marhaban ya amirul mukminin samik na wa atak na, (do'a kami semoga limpah dan rahmat suasana yang baik ini menjadi berkat, menumbuh semangat kembali, merebut kembali hak dan martabat) Rakyat Aceh yang sudah pernah diajari nenek moyang kita secara terus menerus mulai dari Raja Iskandar Muda. Pidato Hasan Tiro yang dibacakan Malik Mahmud al Haytar juga berbicara tentang masa kini. Dia meminta rakyatnya menjaga perdamaian yang dihasilkan MoU Helsinki. Memuji kebesaran masa lalu, tapi juga berterima kasih kepada dunia, termasuk Uni Eropa, yang membantu Aceh bangkit dari dampak tsunami dan konflik. Meski pidato Hasan Tiro hanya sesekali menyebut Indonesia, namun dengan menekankan pentingnya melaksanakan dan menjaga MoU Helsinki, dia tentu menyadari bahwa MoU itulah yang mengembalikan Aceh ke dalam Indonesia melalui perdamaian. Malek: Untuk memelihara damai yang marwah, aman hidup yang adil serta dapat membersihkan hati kita semua. Jangan lupa perjuangan kita sekarang melalui jalur politik dan demokrasi, jalur ini didukung penuh oleh dunia internasional. Saya sangat yakin jalur ini juga sangat didukung penuh oleh Rakyat Indonesia Aceh bersatu Walhasil inilah muhibah demi kebangsaan Aceh sekaligus demi perdamaian. Dan, seperti di muka Masjid Raya Baiturrahman, di alun-alun kota Sigli pun, Hasan Tiro disambut meriah dan hangat. Vox Pop Pria: Oh sangat berkesan. Memang kita masyarakat kan dari dulu sangat menunggu-nunggu kepulangan beliau. Kita kan merasa gembira. Apalagi masyarakat sangat antusias menyambut kedatangan Wali Nanggro. Sekian lama beliau diisyu-isyukan meninggal, tapi kenyataannya sekarang kan masih bergairah. Walau pun kita enggak sempat berjabat tangan, melihat wajahnya saja kita sudah merasa gembira. VoxPop Wanita: Ya terharulah. Namanya wali kita sudah pulang. Sudah lama, sekian lama dia sudah pergi. Sekarang baru kita jumpa, ya kita semua terasa terharu. Kalau dia memang masih segar, kita ini pun semua jadi bersemangat, bersemangat kita jadi senang, gembira rasanya. Semoga kita berhasil. Semoga aman dengan berkat usaha dia, titik peluh dia yang udah lama dia berjuang, doa semoga dia umur panjang, sempat membimbing rakyat Aceh yang sudah sengsara sekian lama. Kami kepingin Aceh ini bisa diajak bersatu kembali. Hasan di Tiro, selaku Wali Nanggroe, dapat menjadi pemersatu Aceh, tapi dia datang pada usia yang telah amat lanjut ends [Non-text portions of this message have been removed]

