Saya pernah dengar, kerugian sektor perumahan di AS bisa mencapai 17 trilyun
dolar.

---------------------------------------------------

http://www.antara.co.id/arc/2008/10/13/memahami-akar-gejolak-bursa-dari-short-selling/

Memahami Akar Gejolak Bursa dari "Short Selling"


A. Jafar M. Sidik

Jakarta (ANTARA News) - Bayangkan anda pemilik perusahaan sehat yang
menerbitkan 30 persen sahamnya di pasar modal.

Proses produksi perusahaan anda bekerja normal, tiap tahun laba tumbuh,
likuiditas tidak bermasalah sehingga tak pernah kesulitan membayar gaji
karyawan atau belanja perusahaan.

Tetapi tiba-tiba aset perusahaan jatuh tertimpa amblasnya harga 30 persen
saham di bursa setelah investor melepasnya tanpa mengindahkan baiknya
fundamental perusahaan anda.

Bagaimana perasaan anda? Tidak adil bukan? Tetapi ini yang terjadi pada
pasar modal global di mana General Motors, Morgan Stanley dan banyak
perusahaan sehat di AS dan Eropa mengalami erosi aset padahal tak ada yang
salah dalam fundamental mereka.

Mereka adalah korban dari kekalutan berbalut keserakahan yang disebarkan
para pengail untung di pasar modal yang mencampakkan fundamental emiten,
diantaranya lewat pola "short selling."

Time, dalam edisi 12 September 2008 menulis, setiap kali pasar finansial
runtuh maka telunjuk tuduhan diarahkan ke "short selling" karena meski
legal, pola transaksi saham ini kerap membuat pasar yang oleng semakin
terjun ke jurang kebangkrutan.

"Para pelaku 'short selling' itu penjarah di reruntuhan," tuduh Andrew
Cuomo, Jaksa Agung New York, AS.

Tidak heran, saat "bailout" miliaran dolar AS tak menghasilkan apa-apa dan
malah menghancurkan perusahaan-perusahaan sehat di banyak negara, Financial
Service Authority Inggris (FSA) mencucuk "short selling" karena menjadi
biang kerok rontoknya bursa London.

"(Larangan) ini untuk melindungi integritas dan kualitas fundamental bursa
serta menjaga sektor keuangan agar tidak terus-terusan goyah," terang Kepala
FSA Hector Sants seperti dikutip Huffington Post (12/10).

Bursa London dan Wall Street tidak memilih suspensi (penghentian sementara
transaksi saham) karena mungkin dianggap pemurtadan pasar bebas, tetapi
memilih mengunci gerbang "short selling."


Risiko


Peraih Nobel Perdamaian asal Bangladesh, Muhammad Yunus menilai, kapitalisme
yang wujud kasarnya terekspresi di pasar modal telah menjadi kasino atau
tempat judi. Dan "short selling" adalah layar untuk menerangkan bagaimana
praktik judi itu terjadi.

Mengutip BBC, "short selling" adalah upaya investor membeli aset satu emiten
atau lebih untuk dijual di bursa dengan harapan harganya jatuh, lalu mereka
membeli kembali (buy back) pada harga jatuh itu.

Mereka kemudian membayar perusahaan penerbit atau kreditor saham pada harga
jatuh, padahal nilai riil perusahaan lebih dari itu.

Investor mengusai aset perusahaan pada harga berlipat tanpa menginjeksikan
sepeser pun dana ke perusahaan itu.

Mereka mentransaksikan risiko aset tanpa benar-benar menguasai aset, namun
berkuasa dalam merekayasa harga aset dengan mengeksploitasi ekspektasi,
memanipulasi prediksi dan mendramatisasi informasi untuk menggiring pasar
membentuk harga disasar.

Bayangkan jika anda pelaku perdagangan berjangka atau kontrak derivatif aset
yang memegang opsi untuk menjual atau membeli saham, indeks, surat utang
atau kontrak barang pada syarat telah ditentukan namun belum menyerahkan
uang untuk menyelesaikan transaksi.

Anda menggenggam opsi beli pada harga Rp10.000 dan opsi jual pada harga
Rp15.000, namun anda ingin membeli di bawah Rp10.000 dan menjualnya di atas
Rp15.000.

Maka, yang anda lakukan adalah mengelola sentimen dan informasi untuk
memengaruhi atau bahkan merusak ekspektasi harga aset sampai semua orang
terdorong melepas aset sejenis dengan anda pegang.

Setelah investor lain melepas aset yang harganya sudah teramputasi, anda
menangkap kembali aset itu melalui "buyback" sehingga aset itu kini dikuasai
anda dengan ongkos rendah dan kekuasaan besar dalam menentukan harga jual di
kemudian waktu.

Ketika anda menginginkan untung, maka aset anjlok itu dijual pada harga
tinggi di satu momen yang ditentukan oleh anda. Hasilnya, anda pulang ke
rumah sebagai OKB (orang kaya baru) sambil menjinjing aset perusahaan tanpa
sepeser pun modal anda di neraca perusahaan itu.

Mungkin dalam konteks inilah, Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan
mensuspensi perdagangan saham di hampir sepekan kemarin karena pergerakan
bursa sudah irasional dan kentara mencoret-coret kertas yang sudah terisi
rapi.

Kepada Metro TV akhir pekan lalu, Direktur Utama BEI Erry Firmansyah
menandaskan, suspensi BEI tidak ditempuh karena otoritas bursa panik,
melainkan karena melihat perdagangan saham sepekan kemarin sudah tidak
normal.

Erry benar, karena alangkah tidak bermoral jika BEI membiarkan spekulasi
yang tak memiliki kaitan dengan fundamental pasar, merusak aset perusahaan
untuk kemudian menularkan wabah krisis ke keseluruhan perekonomian.

"Kami tak bisa membiarkan situasi kalut mengendalikan pasar kita," kata
Ketua Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) A. Fuad
Rachmany (Antara, 10/10).


Suku bunga


Sementara itu, sejumlah kalangan yang khawatir krisis keuangan global
menjalar ke perekonomian Indonesia agaknya terlalu fokus mengambil fluktuasi
harga saham sebagai titik tolak menyampaikan kekhawatirannya.

Padahal, melulu melihat gejolak di bursa ketika kontribusi perdagangan saham
pada perekonomian nasional tidak signifkan adalah agak berlebihan, apalagi
makroekonomi Indonesia berbeda sekali dengan semasa krisis moneter 1998.

Sebagian menjadi tidak sabar untuk kemudian menghubung-hubungkan gejolak
bursa dengan miskinnya insentif untuk sektor riil dan ujung-ujungnya
mendesak bank sentral menurunkan suku bunga.

Masalahnya, selama sepuluh tahun terakhir perbankan nasional telah melangkah
lebih hati-hati dalam mengelola kredit meski membuat sektor riil kesulitan
likuiditas. Ini menjadi bukti ada perubahan di perbankan Indonesia dibanding
semasa krisis moneter 1998.

Sepuluh tahun lalu, bank-bank sembarangan menyalurkan kredit, tetapi
tahun-tahun belakangan ini mereka hati-hati sekali ketika mendistribusikan
kredit maupun mengail dana pihak ketiga, entah dari masyarakat atau asing.

Saat bersamaan, Bank Indonesia mencermati ketat kondisi ini melalui
instrumen suku bunga dan tingkat inflasi untuk memastikan tidak ada satu pun
yang keluar jalur.

Bank sentral, dan hampir semua organ perekonomian nasional, agaknya belajar
dari masa lalu saat Indonesia gampang takluk pada referensi asing yang
kadang tak menjawab kebutuhan perekonomian nasional.

Tak heran jika Bank Indonesia enggan menggubris rengekan agar suku bunga
diturunkan karena mereka memahami fundamental sekaligus rembetan dampaknya
terhadap perekonomian jika suku bunga turun.


Mandiri


Puncaknya, pada 7 Oktober 2008, berseberangan dengan bank-bank sentral
global yang serempak menurunkan suku bunga, BI menaikkan BI Rate 25 basis
poin menjadi 9,50 persen.

BI menyatakan, keputusan itu diambil setelah mencermati dan mempertimbangkan
dengan saksama perkembangan keuangan dan ekonomi global serta kemungkinan
dampaknya terhadap perekonomian nasional.

"BI juga mencermati secara mendalam prospek perkembangan permintaan
domestik, neraca pembayaran dan resiliensi sektor keuangan dalam negeri
dalam konteks perubahan lingkungan global," kata Gubernur Bank Indonesia
Boediono dalam siaran persnya hari itu.

Dalam dunia yang interdependen tetapi tidak ada pihak luar yang mampu
menjamin stabilitas perekonomian Indonesia terjaga, manuver menurunkan suku
bunga sangat berisiko.

Jika bunga diturunkan, maka masa depan surat-surat berharga terancam karena
eksposur dana dalam obligasi Indonesia mungkin lari ke wilayah lebih
atraktif.

Jika itu terjadi, meranalah Indonesia. Agak aneh memang, menurunkan daya
tarik investasi ketika bunga The Fed justru turun, lagi pula Indonesia tidak
sedang didera krisis likuiditas seperti terjadi semasa krisis moneter 1998.

Lebih dari itu, apa yang sedang dikerjakan otoritas kebijakan ekonomi
mestinya dilihat sebagai bagaimana persoalan nasional dilihat lebih dulu
dari keadaan dan tuntutan domestik, bukan semata mengikuti kecenderungan
global.

Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, telah berani mempercayai resep
ekonominya sendiri sehingga, misalnya, ketergantungan pada IMF pun
ditanggalkan. Dan jika sekarang inisiatif itu dilanjutkan, sungguh itu yang
seharusnya.

"Tidak ada yang bisa bantu (Indonesia), semua krisis. Saudagar-saudagar
dalam negerilah yang bisa menyelamatkan perekonomian bangsa," kata Wakil
Presiden Jusuf Kalla.

Langkah mandiri ini adalah keniscayaan mengingat dunia mustahil memberi
insentif balik kepada Indonesia jika pun kecenderungan global terus diikuti.
China saja tidak tanpa pamrih ketika didesak dunia untuk menurunkan suku
bunga.

Mengutip Reuters, China bersedia menurunkan suku bunga karena berharap
imbalan berupa akses pasar lebih luas dari AS, jaminan Washington untuk
berbuat nyata dalam menstabilkan dolar AS (tidak bersiasat) dan diperluasnya
peran China dalam IMF.

Belajar dari China, tanpa ada jaminan dunia bakal memberi insentif, mengapa
Indonesia mesti latah menurunkan bunga? Kasarnya, meminjam bahasa anak muda,
"So what gitu lho!(*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke