"yg paling penting jika para politisi muda belanda membuka mata berdarah
sejarahnya".
diskusi kita2 ama bung max lane di amsterdam juga ke arah --> orang belanda
sendiri yg mesti buka mulut dan hatinya terhadap kekejaman pemerintah belanda
selama ratusan tahun menjajah bangsa2 di kepulauan nusantara.
contoh di selandia baru, inggris akhirnya mau ngakuin dosa2nya terhadap orang
maori.
asal tau aje, kalo usaha pengakuan itu terlaksana..., bayangin aja ganti
ruginya terhadap perang ilegal ("polisonil aksi" belanda taon 1947 dan 1948 di
abad ke 20 yg berdarah itu).
150 ribu rakyat indonesia tewas dalam perang ilegalnya wong londo itu, mestinya
para politisi muda belanda sadar, bahwa bau bangke sejarah 45-49 itu sampai
saat ini masih santer baunya.
bat, belanda itu ngutang jutaan nyawa dan harta benda rakyat indonesia yg
dimusnahkan pada saat perang ilegalnya belanda pada taon 45-49 itu.
tetap smangat!
salam, heri latief
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan
http://herilatief.wordpress.com/
http://akarrumputliar.wordpress.com/
--- On Mon, 10/20/08, Batara Hutagalung <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Batara Hutagalung <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [ExHamburg] Re: Akhirnya anggota parlemen Belanda bertemu dengan
korban pembantaian di Rawagede
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[email protected], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED]
Date: Monday, October 20, 2008, 1:16 AM
PERISTIWA BERSEJARAH!! !
Akhirnya anggota parlemen Belanda bertemu dengan korban pembantaian di
Rawagede.
Pada hari kedatangan delegasi parlemen Belanda di Jakarta, Minggu, 12 Oktober
2008, Ketua Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB), Batara R Hutagalung bersama
Sekretaris KUKB, Dian Purwanto, menemui Harry van Bommel, anggota parlemen dari
fraksi Partai Sosialis, partai oposisi terbesar di parlemen Belanda, di Hotel
JW Marriott, tempat delegasi parlemen Belanda menginap.
Tujuan kunjungan delegasi parlemen Belanda ke Indonesia setiap tahun, selain
memantau proyek-proyek yang didanai oleh Belanda, mereka juga memantau dan
mengawasi kondisi HAM di Indonesia. Fokus mereka selalu pelanggaran HAM di
Aceh, Maluku dan Papua. Dahulu sebelum merdeka, juga Timor Timur.
Sebagaimana diberitakan oleh pers di Indonesia , kunjungan delegasi parlemen
Belanda kali ini juga memantau kondisi HAM di Indonesia. Dalam pertemuan
dengan Wapres Jusuf Kalla, ketua delegasi HJ Ormel menyampaikan bahwa mereka
mengkhawatirkan kasus HAM di Indonesia, terutama di Maluku dan Papua. (lihat
Kompas, 17.10.2008).
Dengan latar belakang ini, KUKB mengusulkan agar delegasi parlemen Belanda juga
mengunjungi desa Rawagede, yang letaknya hanya sekitar 80 km dari Jakarta .
Sebagaimana kini telah diketahui oleh banyak orang Belanda, pada 9 Desember
1947, tentara Belanda membantai 431 penduduk desa Rawagede, tanpa proses,
tuntutan, pembelaan, dsb. Hal ini bukan hanya merupakan pelanggaran HAM berat,
melainkan kejahatan perang, karena yang dibantai adalah penduduk sipil,
non-combatant, dan jelas melanggar konvensi Jenewa.
KUKB memberikan pilihan, apabila delegasi menyatakan bahwa acara mereka sangat
padat dan waktu mereka sempit, KUKB menawarkan untuk mendatangkan para janda
dari Rawagede ke Jakarta dan bertemu dengan mereka di Hotel tempat mereka
menginap.
Pada hari Senin, 13 Oktober, Harry van Bommel membawakan usulan KUKB ke rapat
delegasi parlemen Belanda. Ternyata mayoritas delegasi menolak kedua usulan
tersebut.
Pada hari Selasa, 14 Oktober, Harry van Bommel dan KUKB menggelar jumpa pers
bersama (joint press meeting), yang juga dihadiri oleh koresponden harian
Belanda terkemuka, NRC Handelsblad. Sebelumnya, koresponden NRC Handelsblad,
Elske Schouten, telah mewawancarai Ketua KUKB melalui telepon, dan pada hari
itu juga, diberitakan di Belanda. (lihat berita di bawah ini).
Harry van Bommel menyampaikan kekecewaan dan kesedihannya, atas keputusan
mayoritas rekan-rekannya.
Batara Hutagalung menyatakan, dengan demikian terbukti, bahwa sebagian besar
anggota parlemen Belanda buta sebelah mata. Mereka hanya mau mengawasi
pelanggaran HAM yang dilakukan oleh orang Indonesia terhadap orang Indonesia
sendiri, namun menolak untuk membicarakan kejahatan perang yang telah dilakukan
oleh tentara Belanda terhadap orang Indonesia di Indonesia. NRC Handelsblad
mengutip ucapan Batara Hutagalung dalam beritanya pada hari itu juga, 14
Oktober. (lihat berita Handelsblad di bawah ini).
Hampir seluruh media di Belanda memberitakan penolakan delegasi parlemen
Belanda untuk bertemu dengan para janda dan keluarga korban pembantaian di
Rawagede.
KUKB kemudian mengusulkan kepada Harry van Bommel, apabila dia satu-satunya
yang bersedia untuk bertemu dengan keluarga korban Rawagede dan waktunya
sempit, KUKB akan menghadirkan beberapa janda dari Rawagede, untuk bertemu
dengannya di Hotel Marriott, tempat dia menginap.
Pada 18 Oktober 2008 pukul 16.30, Harry van Bommel mengirim SMS kepada Batara
Hutagalung, bahwa selain dirinya, seorang anggota delegasi yang lain, Joël S.
Voordewind dari Partai Uni Kristen juga bersedia menerima kunjungan para janda
dari Rawagede pada hari Minggu jam 14.00 di Hotel Marriott.
.
Dalam waktu singkat, KUKB mengorganisir pertemuan di Lounge Hotel Marriott.pada
hari Minggu, 19 Oktober yang dimulai tepat pukul 14.00 sesuai rencana.
Dari Rawagede hadir Saih, 86 tahun, orang terakhir yang selamat dari
pembantaian di Rawagede. Dia kena tembak dua kali, tetapi dia hanya terluka,
namun ayahnya yang berdiri di sampingnya, mati ditembak. Selain itu hadir dua
orang janda korban yaitu Wanti, 84 tahun, Wisah, 81 tahun dan hadir juga
Sukarman, Ketua Yayasan Rawagede.
Dari delegasi parlemen Belanda, di luar dugaan, selain Harry van Bommel dan
Joël Voordewind, juga hadir Harm Evert Waalkens dari Partai Buruh (PvdA). Yang
istimewa dalam hal ini adalah, Partai Uni Kristen dan Partai Buruh, merupakan
partai koalisi di pemerintahan Belanda. Oleh karena itu, van Bommel menyatakan
bahwa pertemuan ini mempunyai bobot yang besar.
Dari KUKB hadir Batara Hutagalung, Ketua KUKB dan Purwanto, Sekretaris KUKB.
Pers yang meliput adalah TVRI, tvOne, RRI, Detikcom dan koresponden dari harian
Belanda NRC Handelsblad. Jawa Pos dan Rakyat Merdeka meminta keterangan melalui
telepon dan email.
Joël Voordewind dan Harm Waalkens hadir selama sekitar 1 jam, sampai pukul
15.00. Pertemuan dengan Harry van Bommel dilanjutkan hingga pukul 16.00. Secara
keseluruhan pertemuan selama 2 jam berlangsung dalam suasana yang sangat ramah.
Ketiga anggota parlemen Belanda menyampaikan rasa simpati yang sedalam-dalamnya
kepada para janda dan Saih atas penderitaan yang dialami oleh keluarga korban
pembantaian di Rawagede..
Voordewind dan Waalkens mengatakan, tidak akan mengeluarkan pernyataan apapun,
karena sebagai anggota partai pemerintah, mereka menunggu pernyataan resmi dari
pemerintah Belanda.
Inti pembicaraan dalam pertemuan tersebut adalah rencana petemuan perdamaian/
rekonsiliasi antara para veteran Belanda yang pada waktu itu terlibat dalam
pembantaian di Rawagede dengan para janda dan keluarga korban pembantaian.
Mereka menyatakan, bahwa mereka tidak menaruh dendam lagi terhadap para
pembunuh suami/ayah mereka, dan bersedia memberikan maaf. Namun masalahnya
dalam hal ini, kepada siapa maaf akan diberikan apabila tidak ada yang meminta
maaf. Namun mereka akan bergembira, apabila mereka menerima kompensasi dari
pemerintah Belanda atas derita yang mereka alami selama puluhan tahun. Selama
lebih dari 60 tahun, pemerintah Belanda tidak pernah memberi perhatian terhadap
para korban agresi militer Belanda.
Kepentingan mereka kini banyak ditangani oleh Yayasan Rawagede.
Masalah kompensasi ini tidak dibicarakan lebih jauh, karena hal ini telah
ditangani oleh pengacara Gerrit Pulles di Belanda.
Mereka juga menyutujui gagasan KUKB, untuk mengundang veteran Belanda tersebut
untuk hadir pada acara peringatan peristiwa pembantaian yang akan
diselenggarakan di Rawagede pada 9 Desember 2008. Saih mengatakan, mohon
disampaikan kepada para veteran Belanda, bahwa mereka tidak usah takut datang
ke Rawagede.
Batara Hutagalung mengatakan, Menlu Belanda (waktu itu) Ben Bot pada 16 Agustus
2005 di Jakarta, mengakui bahwa:
. In retrospect, it is clear that its
large-scale deployment of military forces in 1947 put the Netherlands on the
wrong side of history
Dengan demikian Ben Bot mengakui bahwa pada waktu itu
politik Belanda salah. Hal ini berarti bahwa bukan hanya orang Indonesia saja
yang menjadi korban, melainkan tentara Belanda dan para pembangkang wajib
militer Belanda (indonesië weigeraars)
juga merupakan korban dari politik yang salah.
Harry van Bommel mengatakan, beberapa veteran Belanda pernah menyatakan, bahwa
mereka memikul beban berat di pundak mereka selama puluhan tahun. Pasti mereka
akan bergembira apabila mengetahui, bahwa para janda dan keluarga korban
pembantaian bersedia memaafkan mereka. Van Bommel mendukung penuh rencana
mengundang para veteran Belanda ke Rawagede dan akan berusaha sekuatnya agar
hal ini dapat terwujud.
Harry van Bommel menyatakan, bahwa pertemuan tersebut sukses besar dan
merupakan langkah penting dalam hubungan Indonesia-Belanda.
Langkah pertama telah dimulai oleh Ben Bot, Menlu Belanda tahun 2005, ketika
menghadiri peringatan Hari kemerdekaan RI di Jakarta pada 17 Agustus 2005. Pada
waktu itu Ben Bot mengatakan, bahwa kini pemeritah Belanda menerima proklamasi
kemerdekaan RI 17.8.1945 secara politis dan moral, jadi hanya de facto, dan
tidak secara yuridis (de iure), karena pengakuan de iure telah diberikan pada
27 Desember 1949, yaitu ketika penyerahan kedaulatan kepada Republik Indonesia
Serikat (RIS).
Van Bommel dan rekan-rekannya kembali ke Belanda pada hari Minggu malam.
Tak lama setelah Harry van Bommel pergi, Duta Besar Belanda untuk Indonesia ,
Dr. Nikolaos van Dam datang dan berbincang-bincang sebentar dengan Ketua KUKB
Batara Hutagalung. Dubes van dam mengatakan, telah mengetahui rencana pertemuan
ini dari detikcom, yang telah memberitakan di internet pukul 12.34.
Batara Hutagalung mengusulkan kepada Dubes van Dam untuk melanjutkan Forum
Dialog yang telah dilakukan oleh Komite Nasional Pembela Martabat Bangsa
Indonesia (KNPMBI) bersama Kedutaan Belanda pada bulan September 2002, dalam
menyelenggarakan seminar internasional mengenai VOC. Para aktifis KNPMBI
mendirikan KUKB pada 5 Mei 2005.
Jakarta , 20 Oktober 2008
Batara R Hutagalung
Ketua Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB)
Bagi yang berminat untuk mengetahui lebih jauh mengenai peristiwa Rawagede dan
masalah hubungan Indonesia Belanda, silakan kunjungi weblogs:
http://indonesiadut ch.blogspot. com, dan http://batarahutaga lung.blogspot. com
Petisi-online kepada pemerintah Belanda:
http://www.petition online.com/ brh41244/ petition. html
============ ========= ========= ========= =====
http://www.nrc. nl/international /Features/ article2023396. ece/Massacre_
survivors_ snubbed_by_ Dutch_delegation
Massacre survivors snubbed by Dutch delegation
Published: 14 October 2008 15:43 | Changed: 14 October 2008 15:46
By Elske Schouten in Jakarta
Dutch members of parliament on an official visit to Indonesia have refused to
meet survivors of a massacre by Dutch soldiers in 1947. The leader of the
delegation says it would be inappropriate .
The Indonesian village of Rawagede was the scene of a massacre perpetrated by
Dutch soldiers in 1947, shortly after the colony declared its independence and
troops were sent in to restore order.
The village claims 431 men were shot, while a Dutch government investigation
into war crimes in Indonesia puts the figure at 150.
Voted down
One man who survived the massacre and nine widows of victims still live in the
village, which has been renamed Balongsari. Last week, a letter was sent on
their behalf to the Dutch government asking for a formal apology and
compensation. Their request is still being looked at.
Socialist Party member of parliament Harry van Bommel says he suggested a
meeting with survivors twice but that the proposal was voted down by the rest
of the delegation.
The delegation, made up of seven members of the parliamentary foreign affairs
committee, is in Indonesia to discuss a range of issues until October 19.
Delegation chairman Henk Jan Ormel, member of parliament for the Christian
Democrats, says he feels a meeting with the survivors, or their
representatives, would be inappropriate while legal procedures are still
ongoing.
False expectations
A visit from an official Dutch delegation could create false expectations ,
Ormel said, adding that he did not want Rawagede to become the focus of the
visit to Indonesia. A lot more has happened in this country, he said.
Van Bommel, who feels the Netherlands should apologise and pay compensation,
had wanted a reconciliatory meeting. It would have been the first Dutch
high-level visit, he says. For the survivors of Rawagede, this is far from
over.
The members of the delegation did not want to meet Batara Hutagalung, founder
of the committee which filed the claim for compensation, either. Hutagalung
says he finds it odd for parliamentarians to come to Indonesia to talk about
human rights and not pay any attention to Rawagede.
It is almost as if they are blind in one eye: they only see the atrocities
perpetrated by others, he said.
polling
http://www.nrc. nl/
____________ _________ _________ _________ _________ __
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail. yahoo.com
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/