http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/22/2017309/mengapa.anak.perlu.dibiasakan.minta.maaf

Mengapa Anak Perlu Dibiasakan Minta Maaf?

Rabu, 22 Oktober 2008 | 20:17 WIB

NOUVAL tiba-tiba nyelonong masuk ke ruang tamu sambil membawa mainan
mobil-mobilan yang besar. Ia ingin menunjukkan pada mamanya kalau lampu
mobil-mobilannya tidak bisa menyala. Tanpa disadari mobil-mobilan yang
dipegangnya menyenggol gelas yang sedang dipegang Tante Irma, teman mamanya.

"Ah...," Tante Irma terpekik kaget saat melihat sirop merah membasahi
bajunya. "Aduh maaf ya, maaf...." seru Rani, sang mama, sambil sibuk
mengambil tisu untuk mengelap tumpahan sirop. "Nouval, ayo minta maaf sama
Tante Irma," pinta Rani pada putranya yang berusia 2;8 tahun itu. Nouval
hanya menatap sekilas sambil berlalu masuk ke ruang dalam. Aduh, malu-maluin
saja, batin Reni.

Sudah berulang kali Nouval disuruh minta maaf saat melakukan kesalahan, tapi
selalu responsnya hanya melihat sekilas sambil berlalu. Seakan-akan ia tidak
bersalah sama sekali. Apa iya anak ini tidak menyadari kesalahannya?

Minta maaf atau menyesal terlalu rumit dilakukan batita, karena menurut
Grady, MC, NCC., pakar konseling anak, di usia batita anak sedang berada
pada fase egosentris dan belum mampu melihat permasalahan dari sudut pandang
orang lain. Baginya selama sesuatu tidak membuatnya kecewa, tidak mengusik
barang-barang yang sedang digunakannya, berarti tidak ada masalah. Jadi
kalaupun ia menumpahkan sirop ke baju tamu mamanya, merusakkan mainan,
membuat adiknya menangis, itu bukan masalah.

BIASAKAN DULU

Tentu saja hal ini tak bisa dibiarkan begitu saja, anak tetap harus
diajarkan minta maaf, "Terlepas dari mengerti atau tidak, anak tetap harus
dibiasakan untuk minta maaf saat melakukan kesalahan. Yang penting
pembiasaannya dulu, seiring dengan bertambahnya usia, ia akan mengerti
konsep maaf," kata Anna Surti Ariani, Psi., yang berpraktik di beberapa
tempat konseling psikologi di Jakarta.

Pembiasaan ini penting agar anak kelak memperoleh manfaatnya, antara lain:

Mengeluarkan diri dari rasa bersalah
Pada prinsipnya minta maaf adalah cara seseorang mengeluarkan diri dari rasa
bersalah. Dengan meminta maaf diharapkan seseorang menyadari kesalahan dan
muncul tekad untuk tidak mengulanginya lagi. Meski konsep ini masih sulit
dipahami batita, tapi seiring dengan bertambahnya usia ia akan mengerti.

Melepas ketegangan
Bagaimanapun suasana menjadi tidak nyaman saat ada seseorang melakukan
kesalahan. Umpamanya, Nouval yang menumpahkan sirop ke baju tamu, sejenak
pasti muncul ketegangan, si tamu terpekik kaget, sang mama sibuk mengambil
tisu dan tergopoh-gopoh minta maaf. Meski mungkin belum mengerti tapi anak
tetap bisa merasakan ketegangan suasana. Nah, dengan minta maaf, segalanya
bisa cair kembali. Anak pun akan mengamati, mamanya yang tadi cemberut
setelah mendengar ia mengucapkan, "maaf," bisa tersenyum kembali.

Memperbaiki hubungan dengan orang yang tersakiti
Dengan minta maaf anak mempunyai "pintu" untuk memperbaiki hubungannya
dengan orang yang tersakiti. Contoh, ia tak sengaja merusak mainan temannya,
setelah minta maaf sang teman mau bermain lagi dengannya.



Marfuah Panji Astuti


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke