dari milis tetangga nih..

Mampukah Asia keluar dari krisis global saat ini? Berita berita cukup
heboh di Indonesia, di luar negeri nggak jauh beda. Saya baru kembali
dari Singapore dan negeri kecil yang hebat itu pun tak bisa
menyembunyikan "ketakutannya". Bagi saya pribadi, saham saham yang
harganya berjatuhan, nggak akan bisa menyamai paniknya saya kalau mata
uang kita, Rupiah, juga meluncur bebas seperti 10 tahun lalu..sungguh
tak terbayangkan. Banyak yang "menyuruh" saya menulis tentang mata uang
Rupiah, gimana caranya agar stabil, gimana agar nilainya naik, gimana
agar setara dengan (paling nggak) Yen, etc. Tapi.....berat menulis itu
di tengah memburuknya kinerja mata uang kita minggu minggu ini, toh
website ini untuk memberitakan "yang baik baik" saja bukan?
Ide saya kali ini bukan ide baru, tapi kelihatan mustahil...nggak apa
apa...berandai andai boleh, mimpi boleh, pesimis nggak boleh. (go to
hell, Pessimist people! ). Ide saya adalah, membentuk mata uang bersama
di kawasan regional Asia Pasifik, yang tidak hanya berisi ASEAN, tapi
juga Jepang, India, China, negara2 Asia tengah, dan timur tengah.

Tentu sulit, karena saat ini saja, nilai mata uang masing masing negara
saling bertolak belakang, neraca perdagangan belum seimbang antar
negara, stabilitas politik kawasan yang belum memadai, terutama di
kawasan Asia Selatan, dan tentu saja, tingkat fondasi ekonomi dan
moneter yang sangat tidak seimbang. Selain itu, nasionalisme asia,
masih begitu kuat di masing masing negara..China masih memendam
"dendam" pada Jepang, begitu juga Korea, mereka secara politis belum
memaafkan Jepang, lalu persaingan dua tetangga Malaysia dengan
Singapore, atau ketegangan yang sering terjadi antara Indonesia dengan
Malaysia, dll.

Kondisi kondisi di atas tentu mempersulit kita meniru Uni Eropa, yang
notabene dari dulu ekonominya cukup stabil, dengan cadangan kekayaan
yang memadai, sehingga mempermudah integrasi ekonomi ke dalam satu
kebijakan tunggal yang keren dan kuat.

Tapi, baiklah....sekali lagi, ini mimpi....

dasarnya mirip dengan setup mata uang Euro, namun lebih revolusioner
karena latar belakangnya adalah "pemberontakan" nilai tukar dimana mata
uang dolar sedapat mungkin dihindarkan dalam seluruh transaksi di Asia.
Hal ini akan menjatuhkan nilai tukar dolar dalam perdagangan valas
dunia. Dan kita coba lihat apakah "Green Span Effect" yang heboh itu
masih
bisa menahan kedigjayaan perekonomian Amerika. Tak pelak lagi, mata
uang bersama Asia Raya akan menaikkan suku bunga di Amerika secara
drastis, mungkin yang paling drastis dari yang pernah ada. Jika ini
terjadi, Amerika akan mengalami apa yang dialami rakyat Asia Tenggara
sejak tahun 1997 .

Mata uang bersama ini nantinya akan memakai nilai mata uang terkuat di
Asia (Yen) yang disesuaikan terhadap mata uang yang dipakai paling
banyak di dunia, yakni Rupee, Yuan, dan Rupiah. Tentu saja yang
disesuaikan adalah nilainya, bukan denominasinya...(keluarga saya di
singapura sering protes ttg banyaknya angka di rupiah kita hahaha).
Jepang, India, China, dan Indonesia mempelopori pembentukan mata uang
bersama, perlahan lahan, timur tengah yang kaya minyak (dan uang) akan
melirik dan tertarik untuk bergabung. Bergabungnya negara negara di
arab akan menjadi fuel yang besar dan lokomotif yang menarik. Malaysia,
Singapore, Korea, Filipina, dan negara 2 yang secara ekonomi pro-barat,
nggak bakal enggak pasti ikutan gabung....bisa gila mereka kalau terus
terusan mempertahankan mata uang 'lamanya'.

Mata uang baru ini akan menjadi mata uang baru di pasar finansial,
dengan nilai yang kuat dan dukungan cadangan yang kuat, tentu mudah
membentuk pasar uang yang kuat, dan pemain pemain finansial akan
tertarik bertransaksi. Kalau udah gitu, dollar AS yang seringkali
membuat dunia kalang kabut, akan makin nggak bernilai.
(hehehehe...sorry, uncle sam..), karena hal ini akan menarik kita ke
zero sum game, tarik menarik, dollar naik, mata uang tunggal asia
turun, dan begitu sebaliknya. Pengalaman euro, toh dollar terjungkal
juga.


Tentunya ide sederhana untuk membuat mata uang bersama Asia Raya ini
tidak mudah implementasinya. Resiko blokade ekonomi negara importir
produk-produk utama Asia perlu diperhitungkan. Demikian pula membuat
kesepakatan antar negara Asia sendiri tidak mudah. Jepang tentu saja
mau dijadikan patokan, karena akan menguntungkan perekonomian negaranya
secara mutlak di dunia. India, Cina, dan Indonesia yang berpenduduk
besar tentu menginginkan aspek penguatan nilai tukar lokalnya. Namun
negara-negara berwilayah kecil dan berpenduduk sedikit dengan sumber
daya alam terbatas seperti Singapura dan Jepang harus mempertimbangkan
"daya dukung" sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia, Cina,
dan India yang besar. Daya dukung sumber daya alam dan SDM yang besar
ini diperlukan sebagai "penyangga pasar" Asia jika Amerika dan sekutu
ekonominya memblokade ekonomi Asia.

Dengan menguatnya nilai tukar, termasuk rupiah, maka akan memperkuat
daya beli masyarakat, dan menjadikan barang barang yang sebelumnya
mahal menjad "murah" karena nilai uang yang naik, bukan harga barang
yang turun. (heheh...bisa keluar negeri tiap minggu...)
Utang negara inipun, akan lebih cepet selesai, karena nilai utangnya sendiri 
turun...

Blokade ekonomi tentu akan terjadi, namun apalah artinya blokade
amerika dan eropa, menghadapi bangsa bangsa asia yang bersatu, dan
kompak? Boleh blokade...tapi mereka akan rugi sendiri. Toh bangsa asia
sebenarnya sudah mampu mencukupi kebutuhan sendiri, beras dan makanan
ada di asia, energi (minyak dan gas) bisa dengan mudah di suplai arab
dan indonesia, tenaga kerja melimpah, laut melimpah...

Gimana?bagi comment donk



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke