Tgku Imam Syuja: "Hasan Tiro 'Sukarno'nya Aceh" http://www.ranesi.nl/dokumentasi/aceh/soekarno_aceh20081024 <http://www.ranesi.nl/dokumentasi/aceh/soekarno_aceh20081024> Aboeprijadi Santoso - Radio Nederland - 24-10-2008
Pendiri Gerakan Aceh Merdeka GAM, Teungku Chik Mohammad Hasan di Tiro Jumat ini dijamu makan malam oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta. Inilah pertama kalinya, tokoh yang pernah memimpin gerakan bersenjata melawan pemerintah pusat bertemu dengan seorang Wakil Presiden RI. "Hasan Tiro adalah Sukarnonya Aceh," komentar Teungku Imam Syuja anggota DPR asal Aceh. Namun di Aceh, banyak kalangan mengkhawatirkan kunjungan Wali Nanggroe Hasan di Tiro di ibukota. Menjelang akhir lawatannya di Aceh Selatan dan Barat, rencana kunjungan Hasan Tiro ke Jakarta sempat menimbulkan kecemasan. Hasan Tiro yang mendapat visa sosial, langsung dari Deplu RI untuk pulang kampung selama 60 hari, memang merencanakan singgah di Jakarta. Namun sementara kalangan mengkhawatirkan dampak yang dapat mengganggu euforia dan perdamaian di Aceh. Suara suara sumbang dari kalangan Cilangkap, jendral purnawirawan, DPR atau pun media dapat mempengaruhi suasana damai di Aceh. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Kemarin, kantor Komite Peralihan Aceh, KPA, yaitu wadah para mantan kombatan GAM dilempari granat. Jurubicara KPA Ibrahim Samsuddin KBS mengecamnya. Perdamaian sudah abadi Suasana was-was sudah mewarnai Banda Aceh. Orang khawatir provokator berseru "Merdeka" saat Wali Nanggroe tampil di depan massa yang berjejal di Masjid Baiturrahman di Banda Aceh. Syukur, semua itu tidak terjadi. Malik Mahmud sendiri menyerukan agar istilah "separatisme" tidak dipakai lagi. "Mulai sekarang, perdamaian sudah abadi," katanya. Toh sempat terjadi insiden bendera yang duduk perkara dan siapa pelakunya tak jelas, namun cukup untuk memancing kalangan ultra nasionalis seperti Permadi dari Fraksi PDI-P dan kalangan perwira purnawirawan melontarkan suara-suara tajam. Sebaliknya, kalangan lain melihat segi positif bagi Aceh dari kunjungan Hasan Tiro ke Jakarta. Sejak mula lawatan Wali Nanggroe sebenarnya merupakan momentum yang tepat. Demikian Juha Christensen, salah satu perintis perdamaian, juga pembantu mediator Martti Ahtisari. Juha Christensen: Hari ini kunjungan Tengku Hasan Tiro, sangat penting untuk proses perdamaian lanjutan. Semua komentar dan kunjungan sendiri mendukung dan memperkuat proses perdamaian. Saya bicara termasuk juga kontak mata dengan wali, semua untuk masa depan dan khusus untuk proses perdamaian ini. Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Bagaimana Wali? JC: Gembira luarbiasa, bisa kembali dan sekarang ada perdamaian. RNW: Apa komentarnya tentang Indonesia? JC: Itu paling jelas mendukung MoU itu sudah ada di situ bahwa kita dalam NKRI dan kita lanjutkan ke masa depan. Kehidupan Aceh Teungku Imam Syuja, anggota DPR asal Aceh, juga berbicara senada. Imam Syuja: Hasan di Tiro itu adalah sebuah simbol ya. Beliau seorang figur yang telah merobah jeruk purut kehidupan di Aceh itu menjadi limau kuas yang manis. Jeruk purut itu asam ya, kemudian dirobah menjadi limau kuas yang manis. Jadi 30 tahun lebih rakyat Aceh hidup dalam keadaan asam garam, pahit manis, getir segala macam. Nah, kemudian kita melihat Helsinki itu telah merobah segala-galanya. <http://www.facebook.com/photo.php?pid=965186&op=1&view=all&subj=4104508\ 9399&aid=-1&oid=41045089399&id=631783883> Tgku Imam Syuja, angg. DPR-RI asal Aceh Nah, sekarang bagaimana kita mengolah Aceh itu. Wali Nanggroe ini, Hasan di Tiro ini telah merubah Aceh sangat menakutkan, malam-malam mencekam, tapi sekarang silahkan kita rame-rame ke Banda Aceh, aman damai. Hasan di Tiro ini, Soekarnonya Aceh. Nah, ketika awal kemerdekaan, Soekarno datang ke Aceh disambut oleh orang Aceh begitu antusias. Aceh berkorban dengan segala modal. Dengan pesawat Seulawah, dengan emas, dengan perak segala macam. Nah, kita lihat kemarin Hasan Tiro pulang disambut dengan ceria, dengan antusias, dengan kegembiraan sepertinya hadir seorang pemimpin yang dirindukan 32 tahun yang lalu. Itu buktinya bahwa Hasan Tiro adalah Soekarnonya Aceh. Nah, disamping itu juga kita tidak menespikan perannya Tengku Daud Beureu'eh, sebagai guru Hasan di Tiro ini. Pada awalnya memang orang menganggap ini kan sempalan. GAM ini sempalan. Tapi pada akhirnya dunia menjadi saksi, dunia tidak bisa lagi membisu melihat penderitaan orang Aceh, yang dilakukan oleh pemerintah Jakarta. Karena itu kita saksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana peran-peran Hasan Tiro dan bagaimana eksistensi GAM sekarang. Dia bisa berunding dengan Indonesia. Perundingan terjadi sebuah kelompok kecil kemudian duduk dalam satu meja berunding. Ini namanya kan sebuah perubahan yang cukup besar ends [Non-text portions of this message have been removed]

