Soal Bahasa Jawa
Presiden Yudhoyono Diprotes Mahasiswi Cina

Beijing, 23 Oktober 2008 15:00
Seorang mahasiswi Universitas Peking merasa prihatin dengan semakin sedikitnya 
pemuda Indonesia yang tertarik mempelajari bahasa Jawa kromo atau bahasa Jawa 
dengan tutur kata yang sopan.

Keprihatinannya itu disampaikan langsung kepada Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono, ketika kepala negara selesai memberikan ceramah di Universitas 
Peking, Cina, Kamis.

Usai Presiden memberi ceramah 30 menit, sekitar seratus mahasiswa Universitas 
Peking diberi kesempatan bertanya langsung kepada Presiden Yudhoyono.

Salah satu mahasiswi kemudian berdiri dan bertanya dalam Bahasa Indonesia yang 
lancar.

Tanpa mengenalkan nama, ia bercerita bahwa pada 2006 sampai 2007 sempat 
mengikuti program pertukaran pelajar dan menimba ilmu di Fakultas Ilmu Budaya 
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Ia mengaku jatuh cinta dengan Indonesia karena mempelajari budaya Jawa dan 
susah payah mempelajari Bahasa Jawa Kromo di UGM.

"Tetapi, ada yang membingungkan. Teman-teman Indonesia ternyata tidak suka 
belajar Bahasa Jawa Kromo dan lebih suka menggunakan bahasa campuran," tutur 
mahasiswi tersebut.

Ia lalu bertanya kepada Presiden Yudhoyono apakah kenyataan itu disesali oleh 
Presiden sebagai kepala pemerintahan yang bertanggungjawab melestarikan budaya.

Presiden sempat tersenyum mendengar pertanyaan mahasiswi tersebut.

Tanpa menjelaskan banyak, Presiden menjawab bahwa globalisasi memang telah 
mempengaruhi banyak hal, termasuk budaya.

Presiden mengatakan memang tugas negara menjaga dan melestarikan budaya Jawa 
sebagai salah satu budaya nasional Indonesia.

"Saya berjanji kepada anda, Indonesia akan melakukan yang terbaik untuk menjaga 
budaya dan bahasanya," ujar Presiden Yudhoyono.

Dalam ceramah menggunakan teks berbahasa Inggris, kepala negara menyampaikan 
gambaran tentang Indonesia, terutama keberhasilan Indonesia menata kembali 
perekonomian setelah dilanda krisis moneter pada 1997-1998.

Ia juga menyampaikan pentingnya hubungan Indonesia dengan Cina.

Para mahasiswa Universitas Peking tampak antusias mendengar ceramah Presiden 
Yudhoyono, beberapa di antaranya asyik mencatat. Namun, ada juga di antara 
mereka yang tak kuasa menahan kantuk.

Presiden Universitas Peking, Zhi Hongxu, menuturkan Universitas Peking adalah 
yang pertama di Cina memprakarsai pengiriman pelajar ke Indonesia sejak 1949.

Universitas itu juga telah menerbitkan kamus bahasa Cina-Indonesia dan 
mempelopori pengenalan budaya Indonesia di Cina.

Selama lebih dari 50 tahun, Universitas Peking juga telah menerima mahasiswa 
dari Indonesia.

Beberapa kepala negara/pemerintahan pernah menyampaikan kuliah di Universitas 
Peking, di antaranya adalah Perdana Menteri Australia Kevin Rudd, dan mantan 
Presiden Perancis Jaques Chirac. [TMA, Ant]  
http://gatra.com/artikel.php?id=119578



      

Kirim email ke