Marhaenisme menurut tafsiran Bung Karno

Bagi Soekarno ideologi marhaenisme adalah ideologi perjuangan bagi golongan 
masyarakat yang dimiskinkan oleh sistem kolonoalisme, imperialisme, feodalisme 
dan kapitalisme. Untuk dapat memahami marhaenisme menurut Soekarno harus 
menguasai dua pengetahuan :
Pertama : Pengetahuan tentang situasi dan kondisi Indonesia, dan 
Kedua       : Pengetahuan tentang Marxisme.
Soekarno berkali-kali menegaskan bahwa siapapun tidak dapat memahami 
marhaenisme jikalau tidak memahami marxisme terlebih dahulu. Berdasarkan hal 
tersebut maka dapat disimpulkan dengan alasan yang kuat pula bahwa marhaenisme 
adalah marxisme yang disesuaikan dengan kondisi dalam masyarakat Indonesia 
sendiri.  
Ketika Soekarno mencermati marxisme, Bung Karno menemukan bahwa marxisme 
terdiri dari 2 hal yang harus dibedakan ; filsafat materialisme dan historis 
materialisme. Bung Karno menilai filsafat materialisme yang atheis tidak sesuai 
dengan kehidupan Indonesia.
Menurut Soekarno historis-materialisme dapat digunakan sebagai metode berpikir 
untuk menganalisa kehidupan sosial di Indonesia. Historis-materialisme bukanlah 
merupakan ajaran atau ideologi tetapi semata-mata merupakan teori sosial yang 
dapat dipergunakan untuk menganalisa keadaan sosial.
Dengan menggunakan historis-materialisme sebagai pisau analisa, Bung Karno 
menemukan bahwa rakyat Indonesia yang sebagian besar adalah petani kecil, hidup 
menderita karena ditindas oleh sistem yang mengungkungnya, yaitu kolonialisme/ 
imperialisme bangsa asing yang merupakan anak kapitalisme, serta feodalisme 
bangsa Indonesia sendiri. 
Akibat dari penindasan dan pemerasan dari sistem tersebut rakyat Indonesia 
tidak mampu mewujudkan tuntutan budi nuraninya. Berangkat dari pemikiran itu 
untuk melakukan pembelaan terhadap rakyat yang tertindas maka Bung Karno 
melahirkan ideologi marhaenisme.
Marhaenisme adalah ideologi ajaran Bung Karno secara keseluruhan, didalam 
marhaenisme terkandung alur pemikiran yang konsisten, suatu ideologi yang 
membela rakyat dari penindasan dan pemerasan kapitalisme, 
kolonialisme/imperialisme serta feodalisme, dalam rangka membangun masyarakat 
adil-makmur dan beradab, bebas dari segala penindasan dan pemerasan, baik oleh 
bangsa atas bangsa maupun manusia atas manusia.
Marhaenisme adalah pemikiran yang murni dicetuskan oleh Bung Karno dan 
berangkat dari kebutuhan hidup manusia yang paling substansial dan bersifat 
universal, yaitu Tuntutan Budi Nurani Manusia (The Social Consience of Man), 
yang menghendaki terwujudnya kesejahteraan hidup manusia yang hanya dapat 
terpenuhi apabila telah tercipta harmonisasi antara kemerdekaan individu dan 
keadilan sosial.
Pada kenyataannya tuntutan tersebut tidak dapat ditemukan pada saat itu, dan 
keprihatinan atas permasalahan (nasib bangsa Indonesia) inilah yang merupakan 
titik tolak dari pengkajian Bung Karno dalam melahirkan ideologi marhaenisme. 
Golongan masyarakat yang miskin dan melarat inilah yang disebut Soekarno 
marhaen. 
Rumusan marhaenisme ini dijelaskan Bung Karno sebagai berikut : 
1.    Marhaenisme adalah asas yang menghendaki susunan masyarakat dan negara 
yang didalam segala halnya menyelamatkan kaum   marhaen.
2.    Marhaenisme adalah cara perjuangan yang revolusioner sesuai dengan watak 
kaum marhaen pada umumnya.
3.    Marhaenisme sekaligus sebagai asas dan cara perjuangan yang revolusioner 
menuju kepada hilangnya kapitalisme, imperialisme, dan kolonialisme.
Bung Karno juga menyebut marhaenisme merupakan sosio nasionalisme dan sosio 
demokrasi. Hal ini menurut Soekarno dikarenakan nasionalisme kaum marhaen 
adalah nasionalisme yang berkeadilan sosial dan dikarenakan demokrasinya kaum 
marhaen adalah demokrasi yang berkeadilan sosial.
Pengertian marhaen yang merupakan asal-usul dicetuskannya ideologi marhaenisme 
menurut Soekarno adalah golongan masyarakat miskin yang terdiri dari tiga unsur 
:
1.    Unsur kaum proletar Indonesia atau disebut kaum buruh.
2.    Unsur kaum tani melarat Indonesia.
3.    Unsur kaum masyarakat melarat Indonesia lainnya. 
Soekarno juga menjelaskan golongan mana yang disebut dengan kaum marhaenis, 
yakni kaum yang mengorganisir berjuta-juta kaum marhaen dan yang bersama-sama 
dengan tenaga massa marhaen yang hendak menumbangkan sistem kapitalisme, 
imperialisme serta kolonialisme, dan kaum yang bersama-sama dengan marhaen 
membanting tulang untuk membangun negara dan masyarakat yang kuat, 
bahagia-sentosa, serta adil dan makmur.
Pernyataan ini semakin ditegaskan oleh Soekarno dalam pernyataannya :
“ Pokoknya, Marhaenis adalah setiap orang yang menjalankan marhaenisme  seperti 
yang saya jelaskan. Camkan bebar-benar ! setiap kaum Marhaenis berjuang untuk 
kepentingan kaum marhaen dan bersama-sama dengan kaum marhaen ! “ 
Pandangan Soekarno yang memperlihatkan kebenciannya terhadap sistem 
kapitalisme, imperialisme dan kolonialisme yang dianggapnya sebagai sumber mala 
petaka penyebab kemiskinan masyarakat indonesia dapat dilihat dari petikan 
pidatonya yang mensyaratkan perlunya kerjasama dengan kaum tertindas dalam 
merubah sistem yang eksploitatif :
“ ……. Kita semua harus berjuang di tengah-tengah rakyat marhaen,  membulatkan 
seluruh kekuatan marhaen, dan bersama-sama dengan kaum marhaen itu terus 
berjuang melawan kapitalisme, imperialisme, kolonialisme dan neo-kolonialisme 
dimanapun ia masih bercokol dan berada. “

Seorang penulis Amerika Louis Fischer pernah mengumpamakan marhaenisme sebagai 
Smith-isme untuk masyarakat Amerika, karena di Amerika Smith adalah nama yang 
paling banyak dipakai oleh orang-orang kecil, dan andaikata Bung karno tidak 
berjalan-jalan ke Bandung Selatan tetapi di desa-desa sekitar Malang, dan ia 
berjumpa dengan pak Kromo atau pak Bakat maka ia tentu akan menamakan : 
kromo-isme atau bakat-isme. 
Ketika Bung Karno akan memberi nama terhadap masyarakat Indonesia yang 
tertindas oleh sistem yang eksploitatif, serta nama ideologi yang telah 
dipikirkannya Bung Karno bertemu dengan seorang petani kecil di desa 
Cigalereng, Bandung Selatan bernama Marhaen.
Bagi Bung Karno, Pak Marhaen adalah simbolisasi dari lapisan masyarakat yang 
merupakan bagian terbesar dari rakyat Indonesia pada saat itu. Dia adalah 
seorang petani kecil yang memiliki alat produksi, bekerja dengan seluruh 
waktunya, tetapi tetap menderita karena hidup dalam sistem yang menindasnya. 
 Marhaenisme yang ditafsirkan Soekarno sendiri dapat juga dilihat dari 
keputusan Konfrensi Partindo pada tahun 1933 tentang marhaen dan marhaenisme 
yang populer:
1.    Marhaenisme, yaitu sosio nasionalisme dan sosio demokrasi.
2.    Marhaen, yaitu kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat 
dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain.
3.    Partindo memakai perkataan marhaen, dan tidak proletar oleh karena 
perkataan proletar sudah termaktub didalam perkataan marhaen, dan oleh karena 
perkataan proletar itu bisa juga diartikan bahwa kaum tani dan lain-lain kaum 
yang melarat tidak termaktub didalamnya.
4.    Karena Partindo berkeyakinan, bahwa didalam perjuangan, kaum melarat 
menjadi elemen-elemennya (bagian-bagiannya), maka Partindo memakai perkataan 
marhaen. 
5.    Didalam perjuangan marhaen itu maka Partindo berkeyakinan, bahwa kaum 
proletar mengambil bagian yang besar sekali.
6.    Marhaenisme adalah asas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan 
negeri yang didalam segala halnya menyelamatkan marhaen. 
7.    Marhaenisme adalah pula cara perjuangan untuk mencapai susunan masyarakat 
dan susunan negeri yang demikian itu, yang oleh karenanya, harus suatu cara 
perjuangan yang revolusioner.
8.    Jadi marhaenisme adalah ; cara perjuangan dan asas yang menghendaki 
hilangnya tiap-tiap kapitalisme dan imperialisme.
9.    Marhaenis adalah tiap-tiap orang bangsa Indonesia, yang menjalankan 
marhaenisme.
Marhaenisme ajaran Bung Karno sebagai ideologi perjuangan bagi kaum marhaen 
memiliki asas perjuangan sesuai dengan watak dan karakter ideologi marhaenisme. 
Perjuangan kaum marhaenis dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur serta 
beradab memerlukan suatu strategi dan cara yang disebut asas perjuangan.
Sosio nasionalisme bertujuan memperbaiki keadaan di dalam masyarakat sehingga 
tidak ada kaum yang tertindas, tidak ada kaum yang celaka, dan tidak ada kaum 
yang papa sengsara. Sosio nasionalisme bertujuan untuk mencari keberesan 
politik dan keberesan ekonomi, keberesan negeri dan keberesan rezeki. 
Sosio demokrasi lahir daripada sosio nasionalisme bertujuan mencari keberesan 
politik dan ekonomi, keberesan negeri dan rezeki, dan tidak hanya mengabdi 
kepada kepentingan sesuatu yang kecil melainkan kepada kepentingan masyarakat. 
Sosio nasionalisme adalah nasionalisme yang berperikemanusiaan, nasionalisme 
yang lapang dada, nasionalisme yang internasionalisme, nasionalisme yang 
bergetar hatinya untuk membela apabila melihat masih ada bangsa yang terjajah. 
Sosio nasionalisme bukanlah nasionalisme yang berpandangan sempit dan 
menumbuhkan chauvinisme jingoisme, intoleran atau disebut xeno phobia. Sosio 
nasionalisme juga bukan nasionalisme yang hanya berorientasi pada 
internasionalisme minded saja, tanpa memperhatikan harga diri atau identitas 
nasional atau disebut xeno mania.
Bagi marhaenisme, internasionalisme harus dibarengi oleh nasionalisme atau 
patriotisme dan disebut sosio nasionalisme. Sosio demokrasi meliputi demokrasi 
politik dan demokrasi ekonomi. Demokrasi politik hanya akan melahirkan 
political power centris yang menyuburkan lairan yang berpedoman pada adagium “ 
The survival of the fittest “, dalil sosial Darwinisme. 
Demokrasi politik yang seperti ini berwatak liberalisme dan menjurus kepada 
free fight competition dan bertentangan dengan marhaenisme yang sosialistis. 
Dengan demikian demokrasi politik dan demokrasi ekonomi sejajar dengan 
marhaenisme. Apabila marhaenisme dikembangkan maka akan melahirkan :

 1.    Sosio nasionalisme menjadi nasionalisme, perikemanusiaan.
1.     Sosio demokrasi menjadi demokrasi, kedaulatan politik dan keadilan    
sosial.    
Bung Karno dalam menjelaskan marhaenisme tidak pernah keluar dari benang merah 
yang telah digariskan sejak tahun 1927 tentang marhaenisme, diantaranya : 
1.    Marhaen adalah kaum melarat Indonesia yang terdiri dari buruh, tani,  
pengusaha kecil, pegawai kecil, tukang, kusir, dan kaum kecil lainnya. Soekarno 
sering menyebutkan marhaen adalah rakyat Indonesia yang dimiskinkan oleh 
imperialisme. 
2.    Marhaen Indonesia ada yang berdomisili di pantai, di gunung, di dataran 
rendah, di kota, di desa dan dimana saja. Marhaen itu ada yang beragama Islam, 
Kristen, Hindu, Budha, dan ada juga yang menganut animisme. Marhaen Indonesia 
ada yang kyai, pastor, pendeta, biksu, mpu atau dukun di kalangan PSII, Budi 
Utomo, TNI, KORPRI dan dimana saja.
3.    Kaum marhaen sesuai dengan kodratnya berupaya melepaskan belenggu 
kemiskinan dan mengharapkan terjadinya perbaikan nasib.
4.    Marhaenisme adalah ideologi yang bertujuan menghilangkan penindasan, 
penghisapan, pemerasan, penganiayaan dan berupaya mencapai serta mewujudkan 
masyarakat yang adil dan makmur, melalui kemerdekaan nasional, melalui 
demokrasi politik dan demokrasi ekonomi.
5.    Terhapusnya kemiskinan dan terwujudnya masyarakat adil dan makmur hanya 
bisa dicapai dengan kemerdekaan nasional, dimana kemerdekaan itu hanyalah 
jembatan emas. Di seberang jembatan emas itu terbuka dua jalan. Satu jalan 
menuju masyarakat yang adil dan makmur, dan jalan satu lagi menuju masyarakat 
celaka dan binasa.  
Marhaenisme adalah sublimasi daripada Manifesto Komunis dan Declaration Of 
Independence. Dari Manifesto Komunis diambil yang baik dan yang bermanfaat bagi 
perkembangan umat manusia, begitu pula dengan Declaration Of Independence. Oleh 
karena itu konsepsi marhaenisme memadukan kebebasan manusia dan solidaritas 
sosial yang berdasarkan pada nilai-nilai manusia dan kemanusiaan. Konsepsi 
marhaenisme adalah ideologi yang akan menggantikan ideologi komunisme dan 
kapitalisme.  
Marhaenisme ajaran Soekarno bukanlah ‘ jalan ketiga ‘ seperti yang dicetuskan 
oleh Anthony Giddens, yang bertujuan untuk mendamaikan perbedaan antara 2 
ideologi di Eropah antara kubu demokrasi sosial  yang dinilai terlalu memberi 
kebebasan kepada negara untuk mengatur jalannya perekonomian masyarakat.dan 
kubu liberalisme yang dinilai terlalu liberal dengan politik ekonomi pasar 
bebas.
Ideologi ‘ jalan ketiga ‘ Giddens sangat berbeda dengan marhaenisme dikarenakan 
‘ jalan ketiga ‘ bukan lahir daripada antitesa terhadap kapitalisme melainkan 
upaya untuk mendamaikan sistem ekonomi pasar bebas dengan ekonomi demokrasi 
sosial. Marhaenisme lahir sebagai sebuah antitesa atas penghisapan oleh 
kapitalisme dan imperialisme negara-negara maju terhadap negara-negara dunia 
ketiga. 
Jalan ketiga dinilai banyak pihak berhubungan erat dengan kebijakan-kebijakan 
neoliberal, dianggap dekat dengan pergerakan-pergerakan sayap kanan dan 
dianggap sebagai upaya untuk memodernisir wacana sosialisme-demokrasi di era 
globalisasi.  
Marhaenisme menekankan pentingnya pendidikan terhadap massa marhaen sementara ‘ 
jalan ketiga ‘ Giddens lebih mempersiapkan kelas pekerja untuk menghadapi pasar 
bebas.  Ideologi aIternatif atau jalan ketiga (The Third Way ) merupakan 
kejenuhan historis terhadap segala bentuk ideologi yang menjenterah diantara 
keriuhan peradaban dunia seperti sosialisme dan kapitalisme. Jalan keriga juga 
lahir karena peleburan cakrawala antara berbagai aliran ideologis untuk 
melahirkan suatu peradaban baru yang bernaung dibawah ideologi kemanusiaan. 
Inti dari marhaenisme adalah untuk mengganti kapitalisme dengan segala 
metamorfosanya dan marhaenisme adalah ideologi kiri yang merupakan antitesa 
kapitalisme dan bukan ideologi kanan apalagi ‘ jalan ketiga ‘. Marhaenisme 
adalah ideologi yang berpijak pada nilai-nilainya sendiri bukan merupakan hasil 
revisi ataupun hasil damai antara kiri dan kanan.  
Visi Marhaenisme adalah terwujudnya masyarakat marhaenistis, yaiu masyarakat 
adil, makmur dan beradab berdasarkan kesederajadan dan kebersamaan yang 
dilandasi semangat persatuan dan kesatuan, bebas dari segala bentuk penindasan 
dan keterkungkungan (hegemoni), suatu masyarakat adil dan makmur material dan 
spiritual.
1.1    Azas 
Azas adalah dasar atau ” pegangan ” kita yang  ” walau sampai lebur kiamat ” , 
terus menentukan ” sikap ” kita, terus menentukan  ” duduknya nyawa kita ”. 
Azas adalah prinsip-prinsip yang harus dilaksanakan untuk dapat mewujudkan visi 
yang telah dicanangkan. Azas Marhanisme yang merupakan hasil analisa Bung Karno 
dengan menggunakan historis-materialisme adalah : Sosio-nasionalisme dan 
Sosio-demokrasi.
Sosio-nasionalisme adalah nasionalisme yang menghendaki kesejahteraan, 
nasionalisme yang berperikemanusiaan, nasionalisme yang hidup dalam taman 
sarinya internasionalisme, bukan nasionalisme yang chauvinistis. Nasionalisme 
yang saling menghargai antara bangsa-bangsa dalam kesederajadan dan perdamaian 
abadi, sehingga tidak menghendaki terjadinya penjajahan suatu bangsa oleh 
bangsa lain.
” Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang mencari selamatnya 
perikemanusiaan. ... Sosio nasionalisme adalah nasionalisme Marhaen, dan 
menolak tiap tindak kaum borjuisme yang menjadi sebabnya kepincangan masyarakat 
itu. Jadi sosio-nasionalisme adalah nasionalisme politik dan ekonomi,- suatu 
nasionalisme yang mencari keberesan politik dan keberesan rezeki. ”  

Sosio-demokrasi adalah demokrasi yang berkeadilan sosial, bukan demokrasi yang 
sekedar mengedepankan perbedaan dan kemerdekaan individu yang mengabaikan 
kebersamaan serta tegaknya keberdayaan dan kedaulatan rakyat. Esensi dari 
Sosio-demokrasi adalah tegaknya kesedrajadan dan kebersamaan yang merupakan 
landasan bagi terwujudnya keberdayaan dan kedaulatan rakyat. Tujuan demokrasi 
adalah untuk menciptakan kesejahteraan bersama tanpa ada penindasan manusia 
oleh manusia.

” Sosio-demokrasi adalah pula demokrasi yang berdiri dengan dua-dua kakinya di 
dalam masyarakat. Sosio-demokrasi tidak ingin mengabdi kepentingan sesuatu 
gundukan kecil sahaja, tetapi kepentingan masyarakat,- demokrasi sejati yang 
mencari keberesan politik dan ekonomi, keberesan negeri dan rezeki. 
Sosio-demokrasi adalah demkrasi politik dan emokrasi ekonomi. ”

Marhaenisme merupakan sintesa yang lahir dari antitesa terhadap sistem yang 
menindas dan menyengsarakan rakyat, maka Marhaenisme memiliki sifat anti 
penindasan, anti terhadap kapitalisme, kolonialisme/imperialisme dan feodalisme 
maupun setiap bentuk penindasan lainnya. Hasil penganalisaan kultural Bung 
Karno terhadap bangsa Indonesia membuktikan bahwa bangsa Indonesia adalah 
bangsa yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa serta sanggup hidup berdampingan secara 
damai dalam pluralisme beragama. Apabila dicermati secara seksma maka kan dapat 
kita ketahui bahwa azas Marhaenisme tercermin dalam Pembukaan Undang-Undang 
Dasar 1945.

   1.2     Azas Perjuangan Marhaenisme

   Azas perjuangan adalah menentukan hukum-hukum daripada perjuangan itu,- 
menetukan strategi daripada perjuangan itu. Azas perjuangan menentukan karakter 
perjuangan itu, sifat-wataknya perjuangan itu, garis-garis besar daripada 
perjuangan itu,- bagaimana perjuangan itu. ”Adapun asas perjuangan daripada 
ideologi marhaenisme adalah :
·    Radikal-revolusioner
·    Non-kooperasi
·    Machtsvorming dan machtsaanwending
·    Massa aksi
·    Self help
·    Self reliance
Radikal-revolusioner adalah cara perjuangan untuk melakukan perubahan secara 
mendasar dan cepat. Radikal revolusioner tidak ada hubungannya dengan 
kekerasan, amuk-amukan, apalagi bunuh-bunuhan, tetapi cara perjuangan yang 
tidak hanya tambal sulam. 
Hal mendasar dari radikal-revolusioner adalah non-kooperasi. Non-kooperasi 
adalah perjuangan dengan tidak melalui jalan kompromi, bukan perjuangan 
meminta-minta, dan non-kooperasi ditujukan terhadap sistem yang melakukan 
pemerasan dan penindasan, terhadap sistem yang menistakan kemerdekaan individu 
dan keadilan sosial. Terhadap sistem yang mendatangkan kesengsaraan dan 
penderitaan itulah  non-kooperasi diarahkan.
Machtsvorming adalah perhimpunan kekuatan yang dilandasi satu kesatuan semangat 
dan cita-cita, satu penyusunan kekuatan berdasarkan mental ideologi, dan 
merupakan sumber dalam menggunakan kekuatan (machtsaanwending) dan bukan hanya 
himpunan orang dalam jumlah yang banyak, bukan juga himpunan yang sifatnya 
lahiriah. 
Massa aksi adalah suatu massa aksi yang didasari pada kesadaran bersama atas 
tujuan perjuangan, massa aksi bukanlan gerakan yang harus dengan jumlah besar, 
tetapi setiap tindakan yang dapat melahirkan kesadaran rakyat untuk menimbukan 
gerakan yang radikal-revolusioner. Massa aksi berbeda dengan massale aksi.
Self help adalah suatu gerakan yang tidak bergantung kepada kekuatan sesuatu 
pihak melainkan harus berdasarkan kekuatan sendiri. Dengan menggantungkan diri 
pada pihak lain maka dapat membuka peluang terhadap pihak lawan untuk 
mengkooptasi (membelokan gerakan dengan niat buruk) gerakan. Dengan dasar self 
help, suatu gerakan akan memiliki self reliance (kepercayaan diri).
Asas perjuangan dari marhaenisme tersebut mengandung 3 misi utama bagi kaum 
marhaenis Indonesia, yakni :
1.    Membangun kesadaran rakyat atas penderitaan serta sebab-sebab yang  
mengakibatkan penderitaannya.
2.    Membangun kekuatan kaum marhaen dan marhaenis agar dapat menjadi subjek 
sosial-politik yang menentukan tata kehidupan berbangsa dan bernegara.
3.    Menggalang kekuatan progressif-revolusioner, yaitu semua kekuatan yang 
mendukung tercapainya revolusi Indonesia sesuai dengan tahapan-tahapannya.
Kekuatan progressif-revolusioner adalah kekuatan yang berpikiran maju ke arah 
tujuan revolusi Indonesia, yaitu terwujudnya masyarakat adil dan beradab, 
masyarakat tanpa penindasan dan pemerasan oleh manusia atas manusia maupun 
bangsa atas bangsa. Tujuan revolusi ini hanya kan dapat dicapai melalui tiga 
tahapan revolusi, yang oleh Bung Karno disebut “ Tiga Kerangka Revolusi “, 
yaitu :
1.    Kemerdekaan penuh/Nasional-demokratis.
2.    Sosialisme Indonesia.
3.    Dunia baru yang adil dan beradab.
Untuk  mencapai kemerdekaan yang hakiki tersebut, maka Indonesia harus 
menyelenggarakan pembangunan : 
1.    State Building (mempertanyakan Negara Kesatuan Republik Indonesia )
2.    Nation and character Building (pembangunan karakter bangsa)
3.    Social and economic developing building (pembangunan social ekonomi)


Diambil dari skripsi S1 ILMU POLITIK FISIP USU-MEDAN

       
---------------------------------
  Nama baru untuk Anda!  
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke