<http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/message/86038;_ylc=X3oDMTJydmwwYzRjB
F9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzQ4OTM3NjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MzI5NzI5BG1zZ0lkAzg2MDM4B
HNlYwNkbXNnBHNsawN2bXNnBHN0aW1lAzEyMjQ4MzUyOTU-> Depo Pertamina di Plumpang
Target Bom Teroris 

 

*Depo Pertamina di Plumpang Target Bom Teroris *

 <http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=11270>
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=11270

Kamis, 23 Okt 2008,

Depo Pertamina di Plumpang Target Bom Teroris

Libatkan Lima Kaki Tangan Dr Azhari

JAKARTA - Penangkapan pelaku teror buron Poso di Jakarta Selasa (21/10)
membuka pengakuan baru. Mereka ternyata telah menambah target serangan. Jika
selama ini mereka menyarang kepentingan atau orang asing di Indonesia, kini
beralih ke aparat pemerintah yang dianggap thogut (lebih dari kafir) yang
berperan vital kepentingan ekonomi Indonesia.

Informasi terbaru dari penyelidikan polisi terhadap tersangka baru aksi
terorisme yang ditangkap di Jakarta dan Bogor pada Selasa (21/10) sangat
mengejutkan. Depo (gudang penyimpanan minyak) terbesar milik Pertamina di
Plumpang, Jakarta Utara, menjadi target mereka selanjutnya jika saja
Detasemen Khusus 88/Mabes Polri terlambat bergerak. "Mereka masih tahap
persiapan (serangan). Targetnya Depo Plumpang. Mengapa depo ini, akan kita
gali sambil jalan. Kami imbau dukungan semua pihak membantu polisi
memberantas teror," kata Wakadiv Humas Brigjen Pol Sulistyo Ishak di Mabes
Polri kemarin (22/10).

Sayangnya, Sulistyo tidak mengungkapkan secara jelas apa indikasi dan motif
para tersangka teroris itu untuk meledakkan Depo Pertamina yang memasok SPBU
Se-Jabotabek dan sebagian Jawa Barat itu. Tidak juga diungkapkan adanya
temuan dokumen yang berisi denah rencana aksi.

Jaringan pelarian Poso yang ditangkap tak hanya tiga orang, tapi berkembang
jadi lima. Mereka, seperti diberitakan (Jawa Pos, 24/10), adalah Uci
Kayamanya alias Rusli Mardhani alias Wahyu Ramadhan alias Farid alias
Zulfikar, lalu Nurhasani alias Hasan (sebelumnya ditulis N), dan Muntasir.
Mereka bertiga ditangkap di Jakarta. Bahkan dua diantara mereka, yakni Wahyu
dan Muntasir, ditangkap di rumah kontrakan mereka di Jl Gading Sengon,
Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, yang hanya berjarak beberapa meter di
belakang Depo Plumpang Pertamina.

Dua pelaku lain diamankan di Bogor, yaitu Imam Basori alias Basar dan
Budiman. Nama terakhir kini dirawat di rumah sakit karena mengidap anemia
dan tifus. Polisi juga masih mengejar dua buron berinisial SBRH dan Ab H,
yang diperkirakan di luar Jawa.

Dari catatan polisi, Uci mempunyai daftar panjang dalam aksi kekerasan dan
teror. Dia pernah terlibat konflik Ambon 2002 hingga 2005. Pada 22 Januari
2007, saat tim Mabes Polri melakukan operasi besar-besaran di Poso, dia
terlibat kontak tembak dengan polisi. Uci melarikan diri pada 24 Januari
2007 ke Gorontalo dan esok harinya ke Jakarta hingga ditangkap polisi.

Dari para pelaku, polisi menyita sebuah pistol NP kaliber 9 mm dengan dua
magazine. Lalu peluru 9 mm 27 butir, sebuah laras dan peredam 1 buah, dan
serbuk cokelat sejenis TNT dalam jeriken putih 2.675 gram (2,6 kg). Juga ada
dokumen jihad dan skema rangkaian bom. "Kami belum menemukan adanya
rangkaian bom yang sudah jadi," katanya.

Tapi, polisi belum bisa bernapas lega. Pasalnya, polisi menemukan printed
circuit board (papan untuk rangkaian elektronik -PCB) sudah lebih sempurna
dibanding rangkaian-rangkaian sebelumnya. "Ini mengakibatan pembuatan
switching bom lebih cepat dan lebih banyak," tambah jenderal bintang satu
itu. Kelompok tersebut juga dipastikan terkait jaringan teror yang selama
ini malang melintang di Indonesia di bawah Dr Azahari.

Rangkaian bom mereka sama dengan rangkaian bom yang pernah disita Densus
88/Antiteror di Curug, Sukabumi (2003), di Leuwiliang, Bogor (2003), Malang,
Jawa Timur (2005), Semarang, Jawa Tengah (2005), dan Wonosobo, Jateng
(2006). Lalu juga Jogjakarta dan Solo 2007 serta di Palembang (2008).
"Jaringan ini memang pengembangan dari kasus-kasus sebelumnya," imbuhnya.

Mereka juga terindikasi terkait dengan kelompok Jundullah di
Sulawesi,kelompok Kompak di Kayamanya, Poso, dan kelompok Jamaah Islamiyah
yang beroperasi di Ambon, Poso dan Jawa. Mereka juga terkait dengan kelompok
Fakta yang dibekuk polisi 1 Juli lalu di Palembang. Pasalnya, ada nama Uci
yang bersama Sultan Qolbi alias Asadullah alias Arsyad saat menyerang pos
Brimob, di Loki Seram Barat Maluku, Mei 2005 lalu.

Asadullah inilah yang memberikan pelatihan teror kepada kelompok Fakta di
Palembang sebelum dia ditangkap dan kini dipidana 15 tahun di Ambon.
Asadullah masuk Palembang melalui Hasan alias Fajar Taslim dan Ani Sugandi.
Kedua nama terakhir juga sudah ditangkap polisi.

Sulistyo juga menyebut kelompok ini telah melakukan uji coba membuat bom
kimia. "Dari hasil analisa Densus 88 Anti-teror, mereka telah melakukan
percobaan penggunaan bahan kimia untuk teror," ungkap nya.

Sayangnya, Sulistyo lagi-lagi menolak mengungkapkan lebih jauh tentang uji
coba untuk melakukan teror dengan menggunakan bom kimia. Ia hanya
menyatakan, dokumen-dokumen perakitan bom dan bahan-bahan yang ditemukan di
lokasi penggerebekan menguatkan dugaan kelompok ini sudah melakukan
percobaan teror dengan menggunakan bom kimia.

"Ini hasil analisa dari Densus setelah melihat dokumen-dokumen perakitan bom
dan bahan-bahan yang ditemukan. Jadi bentuk rakitan bom kimianya belum ada.
Baru sebatas dukumen-dokumen cara perangkaian bom," jelas Sulistyo.

Respons Pertamina

Penemuan komponen bom di dekat Depo Plumpang oleh Tim Densus 88 Mabes Polri
diapresiasi oleh Pertamina. Kini, manajemen BUMN migas tersebut mengambil
tindakan preventif dengan memperketat pengamanan depo yang terletak di
wilayah Tanjung Priok tersebut.

Vice President Komunikasi PT Pertamina Anang Noor mengatakan, manajemen
mengucapkan terima kasih atas kesigapan pihak kepolisian dalam mencegah
kejadian tidak diinginkan terhadap Depo Plumpang. Menurut Anang, adanya
ancaman keamanan terhadap Depo Plumpang membuat manajemen akan menyiapkan
langkah preventif dengan meningkatkan pengamanan terhadap obyek vital milik
Pertamina lainnya. "Apalagi, BBM ini kan terkait dengan hajat hidup orang
banyak, jadi akan kami upayakan agar pasokannya tetap lancar tanpa
gangguan," katanya.

Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina Achmad Faisal menambahkan, peran
Depo Plumpang amat vital dalam menyuplai kebutuhan BBM, pelumas, dan elpiji,
khususnya untuk wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, serta
sebagian wilayah Jawa Barat. "Plumpang adalah depo terbesar yang dimiliki
Pertamina. Jadi, ini memang sangat vital," ujarnya saat dihubungi tadi
malam.

Depo Pertamina Plumpang merupakan jalur penampungan suplai minyak di wilayah
Jakarta sampai sebagian wilayah Jawa Barat. Depo Plumpang menyalurkan
berbagai macam produk yaitu premium, kerosene, solar, biosolar, pertamax,
dan pertamax plus. Depo itu melayani SPBU se-Jabodetabek atau setidaknya
memasok premium ke 600 SPBU dan bahkan menyuplai pertamax hingga ke Bandung.

Depo Plumpang menyuplai sebesar 11.000 kiloliter per hari untuk premium,
4.200 kiloliter per hari kerosene, dan solar plus biosolar sebesar 5.100
kiloliter per hari. Depo ini juga menjadi urat nadi penyuplai energi di tiga
pulau besar, yakni Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Bahan bakar untuk ketiga
pulau ini disebarkan melalui Plumpang. (naz/owi/ki





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke