Kontrol Devisa, Kuatkan Rupiah
Kompas/Yuniadhi Agung
Selasa, 28 Oktober 2008 | 19:08 WIB

JAKARTA, SELASA - Untuk menguatkan nilai rupiah
terhadap dollar, pemerintah harus meninggalkan rezim
devisa bebas dan menerapkan kontrol devisa. Hal
tersebut disampaikan anggota DPR Drajat Wibowo, di
DPR, Jakarta, Selasa (28/10). "Meninggalkan devisa
bebas adalah langkah radikal menguatkan rupiah, yaitu
beralih ke rezim kontrol devisa," kata Drajat.

Menurut Drajat, pemerintah memerlukan keberanian
khusus untuk melakukan itu karena harus mengubah
paradigma perekonomian Indonesia. Jika kontrol devisa
diterapkan maka Indonesia akan kesulitan memperoleh
hutang. Hal tersebut dinilai positif karena selama ini
Indonesia terlalu mengandalkan hutang. Begitu ada
kontrol devisa, negara kredit juga akan berpikir dua
kali untuk memberi hutang. "Saya setuju kalau memang
sudah siap," katanya.

Peralihan dari prinsip devisa bebas ke kontrol devisa
tersebut dapat dilakukan dengan Perpu. Drajat
menuturkan, pemerintah dapat memberlakukan kontrol
devisa terbatas, seperti Malaysia dimana devisa valas
tidak bisa keluar sebelum satu tahun. Selain itu, bisa
juga dilakukan dengan repatriasi sebagian ekspor atau
menahan beberapa hari dan mengontrol lalu lintas
transaksi antar bank.

Menurut Drajat, pemberlakuan kontrol devisa tersebut
akan menimbulkan pro dan kontra, seperti kreditor dan
investor di bursa karena saat ini bursa tengah
mengharapkan uang masuk. "Kalau kontrol devisa
diterapkan, bursa bergerak naiknya akan lebih lambat,"
ujar Drajat.

Namun, tambah Drajat, kontrol devisa terbatas masih
bisa dilakukan di Indonesia.
http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/28/19082570/kontrol.devisa.kuatkan.rupiah

Pemerintah Jaga Ketat Rupiah
Pembiayaan Ekspor Dijamin
Rabu, 29 Oktober 2008 | 02:41 WIB

Jakarta, Kompas - Gejolak nilai tukar yang tak
terkendali kemarin membuat Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono kembali mengeluarkan paket instruksi
stabilisasi sistem keuangan dan perekonomian nasional.
Pemerintah juga menyiapkan rencana darurat untuk
mengantisipasi situasi yang terus berubah.

Hari Selasa (28/10) di Jakarta, Presiden Yudhoyono
menggelar rapat terbatas dengan Pelaksana Jabatan
Menko Perekonomian Sri Mulyani dan Gubernur Bank
Indonesia Boediono.

Rapat digelar karena situasi pasar keuangan dan pasar
modal terus memburuk. Nilai tukar rupiah pada
perdagangan kemarin sempat menyentuh level Rp 11.850
per dollar AS, posisi terburuk sejak Juli 2001. Indeks
saham di Bursa Efek Indonesia terus melemah kendati
bursa di kawasan mulai membaik.

Dari pertemuan tersebut, Presiden mengeluarkan sepuluh
instruksi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. (lihat
tabel)

Upaya meredam gejolak nilai tukar dilakukan dari
berbagai sisi, antara lain pemberlakukan kontrol
devisa untuk BUMN, menjaga ketersedian likuiditas di
pasar, mengurangi risiko spekulasi valas dengan
mendorong percepatan pembangunan infrastruktur, dan
menahan penjualan Surat Utang Negara (SUN) dengan cara
mendongkrak harganya. Selain itu, pemerintah juga
menjamin pembiayaan ekspor serta memanfaatkan swap
valas dari bank sentral negara lain jika diperlukan.

"Kami sangat regulated di dalam memonitor dan mengatur
semua arus valuta asing oleh semua BUMN," ujar Sri
Mulyani.

Terkait jaminan pembiayaan ekspor, Boediono
mengatakan, itu dilakukan untuk menjaga agar ekspor
tetap jalan dengan garansi resiko pembayaran dari
pembeli.

Fundamental

Pada perdagangan di pasar spot antarbank kemarin,
rupiah ditutup di posisi Rp 10.800 per dollar AS,
relatif stabil dibandingkan penutupan Senin lalu.

Namun, menurut Analis Riset Treasury BNI Nurul Eti
Nurbaeti, rupiah sempat menyentuh posisi Rp 11.850 per
dollar AS, terburuk sejak Juli 2001. Rupiah akhirnya
kembali menguat terimbas rebound mata uang utama
terhadap dollar AS dan sentimen positif dari
pernyataan PresidenYudhoyono soal keseriusan
pemerintah mengatasi pelemahan rupiah.

Pengamat pasar uang Farial Anwar mengatakan, tekanan
terhadap rupiah relatif lebih besar dibandingkan
negara lain karena didorong faktor non-fundamental dan
fundamental sekaligus.

Faktor non-fundamental berasal dari eksternal, yakni
penarikan modal asing yang ditanam di saham,
Sertifikat Bank Indonesia, atau SUN. Ini dilakukan
untuk menutup kerugian atau mempertahankan operasional
perusahaan induk.

Adapun faktor fundamental berupa minimnya pasokan
valas di dalam negeri. Pasokan valas dari eksportir
dan investor asing tak lagi bisa diharapkan. Dalam
situasi likuiditas ketat seperti saat ini, para
eksportir akan memilih menahan dollarnya.

Kekhawatiran terhadap minimnya pasokan dollar AS
membuat berbagai pihak memburu mata uang tersebut.
Korporasi yang sebenarnya belum membutuhkan dollar,
ikut-ikutan berburu karena khawatir ketika
membutuhkan, dollar AS semakin langka di pasar.

Nasabah lokal yang khawatir dengan memburuknya pasar
keuangan domestik banyak pula yang mengalihkan dananya
ke Singapura yang menerapkan jaminan penuh terhadap
simpanan perbankan. Inilah yang membuat kurs rupiah
kian tertekan.

Gejolak rupiah yang tidak terkendali amat merugikan
perekonomian domestik. Tidak ada kepastian dalam
berusaha. Korporasi dan importir yang membutuhkan
dollar AS untuk membayar utang terancam merugi karena
dollar jadi mahal.

Pelemahan kurs yang berkepanjangan akhirnya akan
merusak fundamental perekonomian keseluruhan mengingat
cadangan devisa tergerus, neraca pembayaran defisit,
inflasi meningkat, dan pertumbuhan melambat.

Untuk mengatasi persoalan ini, Farial menyarankan
pemerintah dan BI segera menerapkan sistem devisa
terkendali. Dengan sistem ini, pergerakan dana asing
termonitor dan tidak mudah keluar masuk.

Ekonom Iman Sugema mengatakan, capital control bisa
diterapkan dengan pembatasan volume per transaksi
valas dan kewajiban meminta izin untuk jumlah
transaksi tertentu. Capital kontrol bisa diperluas
dengan kewajiban penarikan dollar yang diparkir di
luar negeri, kewajiban pelaku asing menahan dananya di
Indonesia dalam jangka tertentu, dan pelarangan
repatriasi keuntungan portofolio untuk jangka waktu
tertentu.

Anggota Komisi XI DPR Dradjad Wibowo mengatakan,
kontrol devisa bisa diterapkan secara terbatas.
Contohnya seperti Malaysia di mana devisa harus berada
di dalam negeri dalam waktu tertentu. Namun kontrol
devisa memerlukan disiplin aparat negara.

Sementara, Sekretaris Kementerian Negara BUMN Said
Didu mengatakan, seluruh Badan Usaha Milik Negara atau
BUMN yang kerap menggunakan valuta asing dalam
menjalankan transaksinya diwajibkan menghemat
penggunaan valuta asingnya. Ini dilakukan sebagai
salah satu langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang
sedang tertekan terhadap dollar AS. (INU/FAJ/OIN)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/29/02415747/pemerintah.jaga.ketat.rupiah

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi selengkapnya ada di:
http://www.media-islam.or.id

Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://syiarislam.wordpress.com


      
___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke