yuk kite rame2 meREVISI budaya yg mengandung porno2
Revisi Budaya http://akmal.multiply.com/journal/item/697 assalaamualaikum wr. wb. Di tengah gencarnya isu RUU Pornografi, pihak kontra-RUU (atau pro-pornografi?) mencoba menyangkut-pautkannya dengan masalah budaya. Sebagian diantara mereka mengatakan bahwa RUU ini akan mengebiri tradisi daerah. Sebagian lagi bilang bahwa jika RUU ini disahkan, maka relief-relief di candi akan disensor dan orang Papua dilarang pakai koteka. Saking merasa terancamnya, beberapa pihak di Bali malah sudah jauh-jauh hari mengancam minta merdeka kalau sampai RUU Pornografi disahkan. Untuk menutup argumen, mereka mengatakan Kami bukan saja menolak RUU Pornografi, tapi juga menolak membahasnya! Kita tidak perlu berpanjang lebar lagi bicara tentang kesalahan yang terjadi dalam pengambilan kesimpulan seperti ini. Sudah banyak ahli yang menjelaskan bahwa RUU Pornografi tidak pernah ditujukan untuk mengebiri budaya, tradisi, apalagi untuk mengurusi candi dan koteka. RUU ini ditujukan bukan untuk hal-hal remeh seperti itu, melainkan untuk sebuah agenda besar menyelamatkan bangsa dari degradasi moral yang diperberat dengan terjadinya globalisasi informasi dimana-mana.. Material pornografi dapat diperoleh dengan mudah oleh siapa pun dan tak pernah memberi manfaat pada siapa pun. Selain itu, dalam RUU Pornografi sendiri sudah dijelaskan secara eksplisit bahwa materi pornografi yang dimaksud bukan yang berhubungan dengan budaya. Jika masih ada saja yang menghubung-hubungkannya dengan budaya, maka itu hanyalah pamer kebodohan semata dan kita tidak perlu merasa terlalu bertanggung jawab. Yang menarik di sini justru sikap sebagian orang yang begitu khidmat terhadap budaya daerahnya, bahkan merasa tak bernyali untuk melakukan revisi atas pemikiran nenek moyangnya sendiri. Anggaplah memang ada usaha agar orang Papua tidak lagi bertelanjang bulat dan hanya mengenakan koteka. Lalu masalahnya di mana? Dalam sebuah siaran di salah satu televisi swasta, disebutkan bahwa beberapa macam tradisi budaya memang dikhawatirkan akan terancam oleh RUU Pornografi. Ada sebuah tari daerah yang diakui penuh dengan gerakan-gerakan erotis, dan memang dikelilingi dengan praktek-praktek cabul yang sudah merupakan rahasia umum. Anehnya, fakta ini kemudian ditimpali oleh seorang (yang menyebut dirinya) seniman bahwa tari-tarian erotis tersebut adalah warisan nenek moyang yang adiluhung dan wajib dilestarikan. Dimanakah gerangan letak keluhuran erotisme yang diumbar di depan umum? Pada kenyataannya, peradaban manusia tidak selalu maju ke depan, namun ada kalanya jalan di tempat, bahkan mundur di beberapa segi kehidupannya. Seks bebas sudah ada sejak masa jayanya negeri Pompeii. Pelacuran sudah marak pada masa diutusnya Rasulullah saw. Bahkan homoseksualitas sudah dipraktekkan oleh kaumnya Nabi Luth as. dan dilanjutkan oleh para pembesar bangsa Romawi. Tidak ada yang baru dari kesesatan yang berkisar di seputar syahwat. Hal ini sangat enggan diakui oleh kaum sekuler-liberal, karena mereka ingin memberi kesan bahwa peradaban manusia selalu maju ke depan. Umat Islam jaman sekarang jauh lebih pintar daripada empat belas abad yang lalu, dan karenanya, ijtihad boleh diutamakan daripada Al-Quran dan Sunnah Nabi saw. Kaum perempuan jaman sekarang sudah jauh lebih pintar daripada Aisyah ra., dan karenanya, lebih baik mendengarkan Amina Wadud yang sudah (merasa) mahir menjadi imam shalat Jumat. Apa yang dikecam oleh fitrah manusia pada jaman dahulu sama saja dengan yang kita kecam sekarang. Pencurian sudah dikutuk sejak jaman Nabi Adam as., demikian pula eksploitasi syahwat secara tidak sah sudah dinyatakan hina sejak jauh-jauh hari. Orang-orang yang memiliki kehormatan tentu takkan menghadiri acara yang di dalamnya terdapat tari-tari erotis, baik itu striptease di bar ataupun tari pergaulan daerah di kampung-kampung. Oleh karena itu, tidak ada salahnya menghapus budaya yang buruk, dan lebih baik lagi jika bisa menggantikannya dengan budaya yang baik. Pada hakikatnya, manusia pun bersitegang memperdebatkan apa yang mereka sebut sebagai budaya itu. Di suatu daerah yang sebagian besar warganya adalah nelayan, ada yang bilang bahwa mabuk-mabukan setelah lelah melaut adalah tradisi mereka. Setelah oleng di laut, mereka juga ingin oleng di darat. Namun hal ini ditampik keras oleh para tokoh masyarakat yang justru menyebut kebiasaan minum minuman keras adalah kebiasaan bejat sebagian kecil orang saja, dan bukannya bagian dari budaya lokal yang sebenarnya. Lucunya, mereka yang lantang menolak revisi budaya justru kemarin sibuk menyerukan revisi agama, dengan alasan bahwa agama pun kental dengan budaya lokal. Islam, kata mereka, sudah sangat susah dibedakan dengan Arabisme. Karena terlalu kental aroma kearabannya, maka Islam perlu direvisi menjadi agama yang lebih Indonesianis. Islam yang diajarkan Rasulullah saw. adalah versi Arab dari sebuah ajaran luhur yang sifatnya universal. Pertanyaannya : jika agama boleh direvisi dengan alasan ia hanyalah ajaran universal yang dibungkus dengan budaya lokal, maka apa yang menghalangi mereka dari merevisi budaya lokal daerahnya masing-masing? Mengapa kita tidak boleh menyetop tari daerah yang bernuansa erotis dengan alasan pornoaksi? Mengapa kita harus ragu melarang orang mengadu binatang dengan alasan mubadzir dan terlalu kejam? Sebagaimana kata Sirikit Syah, seorang pengamat dan kritikus media, Mari kita bertanya pada diri sendiri : kita akan melanggengkan primitivisme (manusia tak berbusana), atau memajukan peradaban (mem-busana-kan masyarakat pedalaman)? Para penggemar koteka dan tradisi-tradisi mesum warisan nenek moyang tak perlu merasa gusar dengan RUU Pornografi. Tradisi semacam itu sama sekali tidak akan disentuh oleh hukum. Toh, jika pembangunan berjalan lancar, manusia akan meninggalkan koteka dengan kesadarannya sendiri. Mereka yang terlalu pengecut untuk meninggalkan kesalahan-kesalahan nenek moyangnya tentu akan tertinggal jauh di jaman sekarang ini. Untungnya tidak semua manusia seperti itu. Para ulama Sumatera Barat patut dijadikan teladan karena keberaniannya mengajak umat untuk meninggalkan tradisi mandi balimau menjelang Ramadhan, dengan alasan tradisi mandi bersama itu bisa menimbulkan dampak yang tidak baik, mulai dari zina mata hingga syirik. Setia pada kebenaran dan berani mengoreksi kesalahan memang tak mungkin dipisahkan. wassalaamualaikum wr. wb. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

