emange pakaian Indonesia ntu kaya' gmane siy pak?

klo ane siy, mo pakaian ala cina keq, ala btawi keq, ala bogor keq, ala barat 
keq bebas2 aje nyang penting sesuai aturan islam. JAdi budaya berpakaian 
mengikuti STANDARD islam yakni menutup aurat bukan kebalikannye, budaya porno 
malah 'stengah hidup' dilestariin, khan dah kebolak logikanye tuch.

emange sholat musti pk gamis? Rasulullah saw aja sholat pernah pk baju yg 
ketiaknya kliatan, bc hadistnye. Stau ane, perintah Allah swt ketika sholat & 
mendatangi mesjid, pakailah pakaian yg indah tp jgn berlebihan. 
NAh, naek haji musti pk ihram, ntu aturannya dah jelas. 

skrng balek lg, pakaian Indonesia ntu nyang kaya' gmane yaa?
lagean, gamis aje diributin, knape kyai kaga ribut soal tank-top & g-string ya? 
:p


 



________________________________
From: mediacare <[EMAIL PROTECTED]>
To: zamanku <[EMAIL PROTECTED]>; [email protected]
Sent: Saturday, November 1, 2008 1:09:51 PM
Subject: [ppiindia] Re: Pakaian Muslim, Perlukah??



----- Original Message ----- 
From: Anwari Doel Arnowo 
To: RumahKitaBersama@ yahoogroups. com 
Sent: Saturday, November 01, 2008 12:08 AM
Subject: [RumahKita] Pakaian Muslim, Perlukah??

Pepatah petitih: ... JANGANLAH HANYA MELIHAT KULIT LUARNYA SAJA ..
BRAVO BUAT PAK KOMARUDDIN HIDAYAT,
Anwari Doel Arnowo 1 Nopember 2008 - 12:07 AM

Kiai Hasyim Asy'ari dan Bung Hatta 
Friday, 31 October 2008 

SAMBIL menunggu jam penerbangan Yogyakarta- Jakarta, tanpa disengaja 
saya berjumpa teman dan guru saya, KH Dr Agil Siraj, yang pernah 
tinggal dan menuntut ilmu di Arab Saudi selama 13 tahun. 

Saat berbincangbincang mengamati perkembangan dakwah Islam di 
Indonesia belakangan, secara ringan dia mengungkapkan komentarnya 
yang membuat saya terhenyak. "Mestinya kita belajar dari Bung Hatta 
dan Kiai Hasyim Asy'ari,"katanya. "Apa maksud Ustaz?" tanya saya. 
Coba lihat, Bunga Hatta lama tinggal di Eropa, tetapi tetap menjadi 
orang Indonesia. 

Menjaga dan memperjuangkan kepribadian Indonesia. Begitu pun Kiai 
Hasyim Asy'ari, kakeknya Gus Dur. Bertahun-tahun belajar dan tinggal 
di Arab Saudi,tetapi tetap menjadi orang Indonesia. Berpakaian dan 
berperilaku sebagai muslim Indonesia.Keduanya sangat mencintai 
Indonesia. Berjuang dan berkorban demi kejayaan Indonesia. Sampai di 
situ saya semakin dibuat merenung, ingin mendengarkan komentar lebih 
lanjut dari teman asal Cirebon dan meraih doktor dari Universitas 
Ummul Qura ini. 

Meski Bung Hatta lama di Barat, mendalami ilmu dari Barat, tapi 
beliau berani berkonfrontasi dengan Barat ketika kekuatan Barat 
merugikan bangsanya sendiri. Begitu pun Kiai Hasyim. Dalam banyak 
hal yang sangat mendasar bahkan beliau mengkritik tradisi dan 
pemikiran Islam yang tumbuh di Arab Saudi, yang dikenal literalistik 
dan kurang menghargai tradisi. 

Meski tampak sepele, ternyata Ustaz Agil juga mengamati masuknya 
pengaruh pakaian Arab ke Indonesia. Kiai Hasyim dan kiai-kiai lain 
yang lama belajar di Arab Saudi dan Timur Tengah tidak mempromosikan 
pakaian gamis model Arab. Beliau hanya mengenakan pakaian gamis 
sewaktu salat saja. Tetapi ketika ke luar rumah, semuanya berpakaian 
Indonesia. 

"Saya sendiri yang lama tinggal di Arab Saudi kadang jadi heran, 
mengapa pakaian gamis model Arab semakin populer di Indonesia, 
dipakai di mana-mana, bahkan untuk berdemonstrasi di jalanan dan di 
lapangan Monas," kata Ustaz Siraj dedengkot NU ini. Dalam hati saya 
bertanya, apakah pendapat semacam ini hanya dimiliki Ustaz Agil 
Siraj ataukah juga ulamaulama NU yang lain? 

Apakah semakin meluasnya pakaian model Arab menunjukkan naiknya 
semangat Islam Indonesia yang datang dari Arab? "Ada orang Indonesia 
yang kebarat-baratan, ada pula yang kearab-araban. Mengapa kita 
tidak bercermin dan belajar dari Bung Hatta dan Kiai Hasyim," 
gugatnya lagi. Para kiai saya dulu,lanjutnya, kalau mengajar membaca 
Alquran pada santrinya sangat tegas dan keras.Kalau salah tajwidnya, 
yaitu cara benar membaca Alquran, beliau marah. 

Bahkan ada yang sampai memukul dengan lidi, sehingga para santri 
harus serius belajar karena takut kena marah dan kena pukul. Tapi 
yang sangat mengagumkan, begitu bergaul dengan masyarakat dan 
menyampaikan dakwah, para kiai dulu sangat lembut dan santun. Dengan 
sabar mereka membimbing umat ke jalan yang benar dan tidak pernah 
menggunakan kekerasan. 

Tak ada teriak-teriak sambil mengacung-acungkan pentungan. "Mereka 
belajar dari cara dakwah Wali Songo yang memang sangat cocok untuk 
masyarakat Indonesia," lanjut Ustaz Agil. Karena sikapnya yang 
bijak, sabar dan lembut itu, maka Islam menjadi agama yang dipeluk 
mayoritas bangsa ini dan secara perlahan tradisi yang tidak sejalan 
dengan ajaran Islam diluruskan, bukan dengan jalan kekerasan dan 
permusuhan. Ketika asyik bincang-bincang, terdengar panggilan untuk 
naik pesawat. 

Sepanjang perjalanan saya renungkan kembali apa yang disampaikan 
Ustaz Agil, termasuk kritiknya yang cukup tajam terhadap fenomena 
pesantren, kiai, dan politik. Menurutnya, dulu para kiai dan 
pesantren sangat independen secara ekonomi dan politik sehingga 
wibawanya disegani oleh pemerintah dan masyarakat. Pesantren dulu 
ibarat sumur, orang berdatangan untuk menimba air, minta berkah, dan 
wejangan pada kiai, termasuk para pejabat negara. 

Bahkan ketika orangtua melahirkan bayi, mereka datang untuk meminta 
nama bagi anaknya.Ketika sebuah keluarga akan membagi harta waris, 
mereka minta fatwa pada kiai. Kiai dulu tidak pernah minta bantuan 
ke pemerintah atau siapa pun. Sebaliknya, justru bantuan yang 
berdatangan tanpa diminta dan diundang. 

Sekarang suasana sudah berubah. Sudah muncul kekuatan baru yang 
namanya negara dengan jaringan birokrasinya, dari tingkat presiden 
sampai lurah, bahkan RT/RW. Sangat disayangkan, pemerintah dan 
politisi ikut merusak kultur pesantren yang semula mandiri menjadi 
kian melemah dan tergantung pada negara. Para politisi datang 
menawarkan berbagai bantuan dengan imbalan agar mereka memberikan 
dukungan politik setiap pemilu atau pemilihan kepala daerah. 

Repotnya lagi, kalangan kiai dan pesantren juga sulit menolak karena 
mereka memerlukan dana, baik untuk pesantren maupun untuk diri dan 
keluarganya. Bahkan ada kiai yang senang memintaminta bantuan kepada 
pejabat pemerintah. Mestinya, baik para politisi, pemerintah, maupun 
dunia pesantren saling menjaga integritas dirinya,bukan saling 
menjatuhkan dan menggerogoti wibawanya. 

Kalau sudah saling menjatuhkan, yang rugi adalah negara, umat, dan 
bangsa. Negara yang maju dan kuat adalah negara yang masyarakatnya 
mandiri, dibentuk melalui pendidikan yang baik, dan lapangan kerja 
yang tersedia. Masyarakat yang bodoh dan miskin pada akhirnya akan 
menjadi beban negara,bahkan potensial menjadi musuh negara. 

Bayangkan, bagaimana kita akan memasuki kompetisi tingkat global 
kalau energi negara dan masyarakat habis terkuras untuk berantem, 
bukannya saling mendukung untuk membangun bangsa. Itulah yang pernah 
terjadi di Aceh dan di beberapa tempat lain. Aset dan energi bangsa, 
baik berupa uang, sumber daya alam, budaya, agama maupun militer, 
mestinya diarahkan untuk hal-hal produktif demi memajukan bangsa. 
Bangsa ini tengah mengalami situasi mismanagementalias salah urus. 

Para politisi lebih sibuk mengurus dirinya katimbang rakyatnya.Dua 
tokoh yang dikemukakan Ustaz Agil, yaitu sosok Kiai Hasyim Asy'ari 
dan Bung Hatta, adalah dua figur bapak bangsa yang pantas dan bahkan 
harus diteladani. Bertemu dalam keduanya kedalaman dan keluasan 
ilmu, integritas yang kokoh, patriotisme tinggi, dan sangat santun 
dalam berpolitik.( *) 

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT 
REKTOR UIN SYARIF HIDAYATULLAH 

[Non-text portions of this message have been removed]

 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke