2008-11-02 11:09:00
Lampu-lampu Itu Menantang Matahari
http://www.republika.co.id/koran/14/11326.html
Kamis (9/10), seperti biasa, saya pergi ke kampus dengan mengendarai sepeda
motor. Hari itu jadwal kuliah saya jam ke-5. Itu artinya perkuliahan saya
dimulai jam satu siang. Sengaja saya berangkat agak pagi. Jam 10 siang saya
berangkat dari rumah. Selang 15 menit kemudian saya berhenti di SPBU untuk
mengisi bensin. Deretan panjang pengantre BBM bukan sesuatu yang aneh. Perlahan
saya merangsek maju. ''BBM mahal masih tetap saja antre,'' gerutu saya dalam
hati.
Saya berangkat pagi bukan karena tanpa sebab. Rumah saya habis terkena giliran
pemadaman listrik. Saya baca di surat kabar, memang PLN lagi defisit pasokan
listrik. Saya memaklumi kejadian ini. Toh yang mengalami pemadaman listrik
bukan di rumah saya saja, tetapi bergiliran. Barangkali besok giliran rumah
pembaca?
Uang Rp 10 ribu sekarang tidak mampu menggantikan dua liter bensin. Terpaksa
motor saya harus menerima kondisi ini. Maklum jatah bensin tidak saya anggarkan
naik bulan ini. Jadi, saya harus menggagalkan beberapa rencana bepergian.
Diam-diam saya menuruti ajakan iklan di telivisi untuk hemat BBM dan hemat
listrik. Saya pikir kalau saya berhemat saya sendiri yang untung.
Matahari pada pukul 10.15 WIB terasa menyengat. Memang, kota Malang terasa
dingin pada pagi, sore, dan malam. Di siang hari terik terasa membakar kulit.
Saya lanjutkan perjalanan saya ke kampus. Perlahan saya meninggalkan antrean
panjang di SPBU. Lewat Jalan Soekarno-Hatta saya terkejut. Untung saya tidak
memiliki penyakit jantung. Andaikata saya memiliki penyakit jantung mungkin
saya pingsan di tengah jalan. Kejadian ini tidak saya dramatisir. Yang membuat
saya kaget dan tak habis pikir, lampu di sepanjang jalan Soekarno-Hata masih
menyala. Seakan menantang teriknya matahari waktu itu.
Saya tidak mengerti logika berpikir mana yang dipakai Pemerintah Kota Malang
dengan tetap menyalakan lampu yang dayanya jauh lebih besar dari lampu di rumah
saya. Sebenarnya saya ingin mengumpat dan memaki-maki, tapi pada siapa? Saya
pikir biaya iklan berhemat sudah terlalu besar, tetapi kenapa pemerintah justru
memberikan contoh yang tidak baik?
Kalau memang lampu-lampu tersebut menyala dan mati secara otomatis pasti alat
otomatisnya telah rusak. Kalau kondisi mendung barangkali saya dapat memaklumi.
Atau memang pemerintah kota dan dinas yang terkait memang sengaja menantang
matahari ciptaan Tuhan?
Seharusnya iklan ajakan berhemat energi diikuti dengan contoh yang baik. Kalau
pemerintah mengajak rakyat berhemat, ya ayo, sama sama berhemat untuk
kepentingan dan kenyamanan bersama. Saya kira banyak rakyat yang lebih
membutuhkan listrik dari sekadar menerangi jalan di siang bolong yang
nyata-nyata sudah terang. Contoh kasus yang terjadi di Jalan Soekarno-Hatta,
Malang, barangkali terjadi juga di tempat lain. Dengan begitu, berapa megawatt
yang terbuang sia-sia? Mudah-mudahan dari tulisan ini banyak pihak yang
tergugah dan segera memulai untuk berhemat energi..
Saya baru menuliskan kejadian yang saya ceritakan ini sekarang. Maklum, listrik
di rumah saya sering mati, jadi baru bisa ngetik. Yang terakhir ini cuman
alasan untuk menutupi kemalasan saya saja. Jangan ditiru! m haninul fuad,
citizen journalist di malang, jawa timur.
[Non-text portions of this message have been removed]