Nikmatnya Menjadi Pelayan Masjid Nabawi
MADINAH -- Udara di sekitar Masjid Nabawi masih terasa dingin pada
dinihari menjelang salat subuh. Namun, hal itu tidak berlaku bagi
Afifudin, karena itu dia tetap berjalan berulang-ulang sembari
membersihkan mesjid yang dibangun Nabi Muhammad SAW itu.
"Saya
baru tiga bulan bekerja di Masjid Nabawi, tapi teman-teman dari
Indonesia cukup banyak," ucap Afifudin yang berasal dari Pandeglang,
Jawa Barat.
Menurut bapak seorang anak itu, ada sekitar 700-an
WNI (Warga Negara Indonesia) dari sekitar 3000 orang "pelayan" mesjid
yang dibangun pada 662 M.
"Gaji sebagai tukang bersih Tanah
Haram (Mesjidilharam dan Masjid Nabawi) dari keluarga Bin Laden, hanya
cukup untuk makan-minum dan ke sana kemari," tuturnya.
Namun,
katanya, sejumlah jemaah Masjid Nabawi yang salat kadangkala memberikan
tips kepada para "pelayan" mesjid yang dibangun setelah nabi hijrah
dari Makkah ke Yasrib (Madinah). "Karena itu, saya juga dapat
mengirimkan uang ala kadarnya buat anak dan isteri di Tanah Air,"
katanya.
Kendati demikian, ia mengaku ada keuntungan lain
menjadi "pelayan" Tanah Haram. "Keluarga Bin Laden juga tahu kalau
orang-orang Indonesia yang bekerja di Tanah Haram itu mempunyai tujuan
untuk ibadah haji dan umroh. Itu berbeda dengan 'pelayan' Tanah Haram
dari negara lain yang semata-mata mencari uang," ungkapnya.
Afifuddin
tidak sendirian, mengingat banyak WNI yang bekerja seperti dirinya,
baik sebagai pembersih lantai, pembersih mushaf Alquran, penyedia air
zamzam di dalam mesjid, pengatur karpet untuk salat, penjaga toilet
mesjid, dan sebagainya.
Bahkan, WNI yang bekerja di Mesjidilharam
(Makkah) terlihat lebih banyak jumlahnya hingga mencapai 1.000 orang
lebih dari sekitar 5.000-an pekerja.
Umroh berkali-kali
Pengakuan
yang sama juga dikemukakan pekerja yang membersihkan Mesjidilharam yang
sudah enam bulan bekerja, Abdullah, yang berasal dari Mataram, NTB.
"Pekerja di Tanah Haram itu dari banyak negara, seperti Indonesia, India,
Pakistan, dan Bangladesh," tegasnya.
Ia
mengaku dirinya memanfaatkan masa kerja untuk melaksanakan "haji kecil"
(umroh) pada bulan Ramadan, sedangkan "haji besar" pada musim haji
(Dzulhijjah).
"Gaji sebagai tukang bersih Tanah Haram dari
keluarga Bin Laden hanya cukup untuk biaya hidup yang sehari-hari
memang mahal, karena itu hanya bisa kirim sedikit ke Tanah Air, tapi
keluarga memaklumi dan bahkan senang, karena dirinya bisa haji dan
umroh berkali-kali," katanya, tersenyum.
Barangkali, pengakuan
Afifuddin dan Abdullah itu ada benarnya, karena itu orang Indonesia
yang ingin bekerja di Tanah Haram terus bertambah.
"Saya sering
mengirim orang Indonesia untuk bekerja di Tanah Haram, bahkan setiap
minggu selalu ada pesawat terbang yang mengangkut pekerja Indonesia
kemari," kata perwakilan pengerah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Tanah
Suci, Muhdor.
Pengerah TKI asal Pasuruan, Jawa Timur itu mengaku
TKI yang datang ke Tanah Suci umumnya memang menjadi "tenaga kasar."
"Ada yang menjadi sopir, pelayan mesjid, dan tenaga kasar lainnya,
sedangkan untuk menjadi perawat atau staf di perhotelan agaknya masih
sangat sedikit, karena kendala bahasa," ujarnya.
Namun, ia
membenarkan WNI yang bekerja di Tanah Haram umumnya memang mempunyai
target yang lebih dari sekedar bekerja yakni haji dan umroh. "Bahkan,
pelayan Masjidilharam dan Masjid Nabawi yang tidak ada waktu untuk haji
atau umroh karena giliran kerja yang ketat justru rela mencari badal
(pengganti)," katanya.
WNI umumnya mau memberikan separo gajinya
kepada "pelayan" Masjid Nabawi dan Masjidilharam dari negara lain untuk
sekedar bisa menunaikan ibadah haji dan umroh. "Itulah enaknya
(haji/umroh), sekalipun harus membayar orang lain," kilahnya. - ant/ah
[Non-text portions of this message have been removed]