Keisengan Jelang Eksekusi Amrozi Dkk  
Dramatisasi
kegentingan situasi dalam negeri menjelang eksekusi hukuman mati
terhadap tiga 'pelaku' Bom Bali I--Amrozi, Muchlas alias Ali Gufron,
dan Imam Samudra--makin menjadi-jadi. Kegentingan itu tidak saja
diciptakan lewat pamer kekuatan aparat keamanan di mana-mana, tapi juga
rekayasa telepon ancaman bom ke objek-objek vital dan teror berupa
ancaman pembunuhan terhadap para pejabat negara lewat dunia maya.

Istana
Presiden terpancing provokasi itu. ''Negara tak boleh kalah dengan
terorisme. Negara akan mengambil langkah yang tepat untuk mengatasi
hal-hal semacam ini,'' kata Juru Bicara Kepresidenan, Andi
Mallarangeng, di kantor Presiden, Selasa (4/11).

Ancaman tersebut dimuat pada situs internet beralamatkan 
www.foznawarabbilkakbah.com.
Tampilannya hanya berupa lembar surat berbingkai merah darah yang
seolah sebagai pesan teror dari Amrozi dan kawan-kawan (dkk).
Mereka--yang sedang berada di sel isolasi LP Batu, Nusakambangan,
Cilacap, Jawa Tengah--menyerukan pembunuhan terhadap Presiden, Wakil
Presiden, Jaksa Agung, dan pejabat negara lainnya yang mendukung
hukuman mati atas mereka.

''Pada dasarnya, (tindakan itu)
merupakan teror. Tentu saja negara mengambil langkah tepat untuk
melindungi Presiden dan mengejar orang-orang yang melakukan
ancaman-ancaman semacam itu,'' tutur Andi.

Soal situs internet
itu, Andi mengaku baru melihatnya setelah mendapatkan alamatnya. Ia
menilai, ancaman itu merupakan gambaran orang-orang yang mencoba
memaksakan kehendaknya kepada negara.

Dikatakan Andi, pengamanan
terhadap Presiden tentu saja selalu ada. Ada Paspampres yang langsung
berada di sekitar Presiden. ''Ini juga tugas kepolisian, intelijen, dan
aparat-aparat negara lain,'' katanya.

Andi mengimbau kepada
masyarakat untuk tidak bermain-main dengan ancaman  semacam itu. Dia
juga sempat mendengar ada penyebarluasan pesan singkat (SMS) yang
mengatakan di suatu tempat ada bom.

''Janganlah melakukan
hal-hal semacam itu untuk iseng. Karena ini menyangkut masalah, yang
kemudian harus ada yang dievakuasi dari gedungnya, mengganggu
pekerjaan. Tapi, tentu saja setiap warga negara waspada dan melaporkan
hal yang mencurigakan kepada yang berwenang,'' papar Andi. 

Situasi Nusakambangan

Sementara itu, pengamanan menjelang eksekusi terhadap trio bomber Bali itu 
terus ditingkatkan di Cilacap dan Nusakambangan. Setelah
pemasangan kawat berduri di depan pos pengamanan Dermaga Wijaya Pura,
mulai kemarin, kewenangan pengamanan diambil alih sepenuhnya oleh
kepolisian. 

Sehari sebelumnya, pengamanan di pos ini masih
menjadi kewenangan petugas pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)
Nusakambangan. Dengan pengambilalihan tugas pengamanan ini, pemeriksaan
terhadap siapa pun yang masuk atau hendak menyeberang ke Nusakambangan
makin diperketat. 

Petugas sipir LP yang hendak bertugas di
berbagai lapas di Nusakambangan, tak luput harus menjalani pemeriksaan.
Yang mengendarai motor, harus dibuka joknya untuk diperiksa isinya.
Kantong jaket pun ikut digeledah.

Tapi, berbulan-bulan gaung
eksekusi mati itu dikumandangkan, pelaksanaannya masih tarik ulur.
Belum juga dilaksanakan sampai tadi malam. zam/wed/wid


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke