waduh koq horror gt ya

ane paling heran liat klakuan manusie2 yg mau2an aje menghamba & mengabdi kpd 
manusie laennye.
Nabi bukan, Rasul jg bukan, koq mau2an mengabdi model bgitu, aneh bin ajaib ye

pemimpin mustinye meladeni rakyat, bukan sebaliknya. Cuma pengen numpang idup 
eunak, dari soal yg gede ampe soal ecek2, moso' jln dah macet eh maunye tetep 
lancar. khan dah ga waras tu pemimpin :p

Bginilah typical pemimpin2 yg jauh dari Alquran, jauh dari tauladan Rasul & 
sahabat2 nabi.

ane jd inget, kisah umar bin abdul aziz, ktika beliau dibaiat jd khalifah, dlm 
tempo bbrp minggu langsung kurus kering. dulunya, beliau orang yg kaya raya, 
badan-pun gemuk rupawan. Setelah memperoleh 'musibah' dibaiat menjadi khalifah, 
hidupnye langsung berubah 360 derajat. Beliau takut banget gagal memikul 
tanggungjawab yg besar ini, krn yg ada di pundaknya adalah nasib umatnya 
Muhammad saw. tidur aje susah, kasur bagaikan api panas yg menjilat2 dirinye, 
dia inget neraka, krn khawatir tdk mampu mempertanggungjawabkan 'amanah' di 
hadapan Allah kelak. malam2nya digunakan buat menangis & meratapi dosa2nya, 
siangnye digunakan buat meladeni rakyatnye. Konon rakyatnye ga da hidup miskin 
krn diayomi dg baik oleh pemimpin yg takut kpd Allah.
Bgini mustinye idealnya seorang pemimpin, dia rela berlama2 kelaparan, yg 
penting rakyatnya kenyang dluan.

Itu br seorang Umar bin abdul aziz, bagemane pola hidupnye Muhammad saw & 
khulafaur rasyidin?

mustinye para pemimpin malu ma dirinya sndiri, 'musibah' malah diperebutkan 
bagai piala bergilir. Bahkan ga segan2 berupaya menjabat slamanya klo perlu 
sampai masuk ke liang lahat. mengiklankan dirinya layaknya produk murahan.

musibah..musibah..mengapa jd rebutan???





________________________________
From: A Nizami <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; lisi <[EMAIL PROTECTED]>; [email protected]; 
sabili <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; Indonesia Raya <[EMAIL 
PROTECTED]>
Sent: Friday, November 7, 2008 10:46:52 AM
Subject: [ppiindia] Buat Pendukung Sultan - Yogya: Inflasi Tertinggi dan UMR 
Terendah


Assalamu'alaikum wr wb,

Bagi yang ingin menjagokan Sri Sultan Hamengku Buwono
X sebagai presiden Indonesia mungkin bisa melihat data
statistik dari BPS dan Wikipedia tentang UMR Yogya
yang sangat rendah dan angka inflasi yang tinggi.

Saya sendiri sering ke Yogya dan kota2 besar lain di
Jawa dan Bali (Setahun bisa 2 kali) dan biaya
makan/hidup di Yogya relatif sama dengan kota2 besar
lainnya. Sudah tidak murah lagi (itu cerita lama)..
Apalagi dengan maraknya Mal2 baru di Yogya yang
harganya standar secara nasional.

UMR di Yogya hanya Rp 586.000/bulan
Bandingkan dgn UMR di kota2 besar lain seperti:
Jakarta Rp 972.000/bulan
Bandung Rp 939.000/bulan
Denpasar Rp 800.000/bulan
Surabaya Rp 805.500/bulan
Bekasi Rp 994.000
Dan Aceh Rp 1,2 juta/bulan

Bahkan gaji tentara keraton/Abdi Dalem Keraton Yogya
sangat rendah. Ada yang menulis hanya Rp 5.700/bulan!

===
http://groups. yahoo.com/ group/Cardoner_ JSN/message/ 5043
Kami melewati rumah2 yang ditinggali oleh abdi dalam
keraton. Katanya gaji mereka sebulan tidak sampai 10
rbà(what??!)à malah ktnya cuma Rp 5.700,- gt
sebulan. Kata si bapak, karena mereka bekerja semata
bukan untuk uang, tapi memang sebagai bentuk
pengabdian mereka kepada sultan, jadi mereka tidak
keberatan oleh gaji mereka itu. 
===

Mereka mau digaji serendah itu karena "cinta dan
pengabdian thd Sultan Yogya..

Kalau saya sih amit-amit... :)
Mau makan apa istri dan anak saya.....:)

Meski orang mengabdi, tapi dalam Islam ada standar
pengajian agar pelayan/pegawai tetap cukup untuk
hidup.

Jika jadi sultan Yogya saja kehidupan rakyat Yogya
begitu, bagaimana jika jadi presiden Indonesia?

Pilih pemimpin yang bisa melayani rakyat dan
mensejahterakan rakyat.

Bukan pemimpin yang dilayani rakyat dan gagal
mensejahterakan rakyat.

Wassalam

====
http://id.wikipedia .org/wiki/ Upah_Minimum_ Regional
Upah Minimum Regional adalah suatu standar minimum
yang digunakan oleh para pengusaha atau pelaku
industri untuk memberikan upah kepada pegawai,
karyawan atau buruh di dalam lingkungan usaha atau
kerjanya.

Penetapan upah dilaksanakan setiap tahun melalui
proses yang panjang. Mula-mula Dewan Pengupahan Daerah
(DPD) yang terdiri dari birokrat, akademisi, buruh dan
pengusaha mengadakan rapat, membentuk tim survei dan
turun ke lapangan mencari tahu harga sejumlah
kebutuhan yang dibutuhkan oleh pegawai, karyawan dan
buruh. Setelah survei di sejumlah kota dalam propinsi
tersebut yang dianggap representatif, diperoleh angka
Kebutuhan Hidup Layak (KHL) - dulu disebut Kebutuhan
Hidup Minimum (KHM). Berdasarkan KHL, DPD mengusulkan
upah minimum regional (UMR) kepada Gubernur untuk
disahkan.

Saat ini UMR juga dienal dengan istilah Upah Minimum
Propinsi (UMP) karena ruang cakupnya biasanya hanya
meliputi suatu propinsi. Selain itu setelah otonomi
daerah berlaku penuh, dikenal juga istilah Upah
Minimum Kabupaten/Kota (UMK).

[sunting] Upah Minimum Propinsi 2008 (dalam rupiah)

* Nanggroe Aceh Darussalam 1,200,000.00
* Sumatera Utara 822,205.00
* Sumatera Barat 700,000.00
* Riau 800,000.00
* Kepulauan Riau 833,000.00
* Jambi 724,000.00
* Sumatera Selatan 743,000.00
* Bangka Belitung 813,000.00
* Bengkulu 683,528.00
* Lampung 678,900.00
* Jawa Barat 568,193.39
o Kabupaten Bogor 873,231.00
o Kota Depok 962,500.00
o Purwakarta 763,000.00
o Kota Bekasi 994,000.00
+ Upah Minimum Kelompok I 1,020,000.00
+ Upah Minimum Kelompok II
1,013,000.00
o Kabupaten Bekasi 980,589.60
+ Upah Minimum Kelompok I 1,020,000.00
+ Upah Minimum Kelompok II
1,019,000.00
o Kab. Sumedang (Jatinangor, Tanjungsari,
Cimanggung & Pamulihan) 886,000.00
o Kab. Sumedang (diluar Jatinangor,
Tanjungsari, Cimanggung & Pamulihan) 700,000.00
o Kabupaten Karawang 912,225.00
+ Upah Minimum Kelompok I 924,619.00
+ Upah Minimum Kelompok II 970,000.00
+ Upah Minimum Kelompok III
1,013,583.00
o Kota Bandung 939,000.00
o Kabupaten Bandung 895,980.00
* DKI Jakarta 972,604.80
* Banten 537,000.00
o Kabupaten Tangerang 953,850.00
o Kota Cilegon 978,400.00
* Jawa Tengah 547,000.00
* Yogyakarta 586,000.00
* Jawa Timur
o Kota Surabaya 805,500.00
o Kabupaten Sidoarjo 802,000.00
* Bali
o Kabupaten Badung 605,000.00
o Kota Denpasar 800,000.00
o Kabupaten Gianyar 760,000.00
o Kabupaten Jembrana 737,500.00
o Kabupaten Karangasem 712,320.00
o Kabupaten Klungkung 686,000.00
o Kabupaten Bangli 685,000.00
o Kabupaten Tabanan 685,000.00
o Kabupaten Buleleng 685,000.00
* NTB 730,000.00
* NTT 650,000.00
* Kalimantan Barat 645,000.00
* Kalimantan Selatan 825,000.00
* Kalimantan Tengah 765,868..00
* Kalimantan Timur 815,000.00
* Maluku 700,000.00
* Maluku Utara 700,000.00
* Gorontalo 600,000.00
* Sulawesi Utara -
* Sulawesi Tenggara 700,000.00
* Sulawesi Tengah 670,000.00
* Sulawesi Selatan 740,520.00
* Sulawesi Barat 760,500.00
* Papua 1,105,500.00

IN: KMP - Ekonomi 'Kerakyatan' Gaya
From: [EMAIL PROTECTED] digex.net
Date: Sat Jan 20 1996 - 08:34:00 EST

From: John MacDougall <[EMAIL PROTECTED] digex.net>
Subject: IN: KMP - Ekonomi 'Kerakyatan' Gaya Yogya

Kompas Online

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _

Sabtu, 20 Januari 1996

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _

Ekonomi "Kerakyatan" Gaya Yogyakarta

LAJU INFLASI TERTINGGI SE-INDONESIAUPAH BURUH
TERENDAH SE-INDONESIA



DENGAN tingkat laju inflasi tertinggi di antara
kota-kota besar di
Pulau Jawa, UMR (upah minimum regional) untuk para
buruh di Yogyakarta
justru paling rendah di seluruh Indonesia,
setidaknya di 25
propinsi/Dati I. Bisa dibayangkan, bagaimana
seorang buruh di
Yogyakarta bisa memenuhi standar kebutuhan hidup
minimum (KHM) jika
harga kebutuhan sehari-hari terus melambung,
seperti asap Gunung
Merapi.

Memang, antara tingginya laju inflasi dan rendahnya
UMR di Yogyakarta
bukan merupakan hubungan kausalitas. Tetapi sebagai
gejala yang dapat
dianalisis, dalam konteks ini Dr Heru Nugroho ahli
sosiologi-ekonomi
dan ekonomi politik mempertanyakan, siapa yang
menikmati pertumbuhan
ekonomi selama ini.

Dikemukakan, ironi pembangunan adalah pertumbuhan
ekonomi yang tinggi,
mencapai 7-8 persen, tapi kurang disertai
peningkatan kesejahteraan
buruh (UMR) yang punya andil besar menciptakan
pertumbuhan tersebut.
Namun demikian, upaya pemerintah meningkatkan UMR
rata-rata nasional
sebesar 10,63 persen mulai 1 April nanti perlu
disyukuri, tapi tetap
terbuka untuk dibahas secara kritis.

Untuk Yogyakarta, UMR mulai 1 April mendatang akan
naik dari Rp 2.850
per hari menjadi Rp 3.200 per hari, atau naik 12,28
persen. Sedangkan
laju inflasi di Yogyakarta pada tahun 1995
menjulang mencapai 9,64
persen, berarti persis satu persen di atas
rata-rata nasional yang
8,64 persen.

Laju inflasi di Yogya tahun 1995 berarti kedua
tertinggi setelah
Manado yang 12,70 persen.

Dibandingkan dengan laju inflasi di kota besar
Pulau Jawa lainnya,
inflasi di Yogyakarta tahun lalu tercatat nomor
satu tingginya.
Artinya, harga-harga barang dan jasa yang dicatat
indeksnya oleh Biro
Pusat Statistik, untuk Yogyakarta ternyata yang
tertinggi perubahan
atau kenaikannya. Praktisnya, harga-harga membubung
cukup drastis.

Oleh sebab itu, menurut ekonom dari Universitas
Islam Indonesia (UII)
Yogyakarta, Drs Suwarsono MA, tak ada alasan bagi
pengusaha menyatakan
"tidak kuat" membayar upah sesuai UMR. Apalagi di
Yogyakarta, komponen
upah buruh sangat kecil dalam keseluruhan biaya
produksi, karena
tingkat UMR-nya memang paling rendah se-Indonesia.
Kalaupun komponen
upah buruh ini dinaikkan, toh tidak akan
berpengaruh banyak terhadap
upaya meningkatkan daya saing di pasar..

Dengan UMR yang masih berlaku saat ini, barangkali
masih memadai bagi
buruh yang tidak punya utang. Tapi bagi mereka yang
punya utang,
misalnya harus mencicil kredit rumah atau barang
kebutuhan lain, entah
televisi atau kursi tamu, upah 1,7 dollar AS per
hari itu terasa
sekali kurangnya. Jangan-jangan, mereka ini "gali
lubang tutup
lubang", utang sana utang sini, untuk menomboki
hidup.

***

PERSOALAN yang harus dihadapi kini ialah, pandangan
bahwa kota Yogya
dan Daerah Istimewa Yogyakarta adalah murah, sudah
berlalu. Yogya yang
murah, yang damai, gemah ripah subur makmur loh
jinawi, tata, titi
tentrem kerto raharjo, barangkali tinggal sekadar
jargon, simbol,
pajangan, petatah-petitih, jimat, dan entah apalagi
di mata buruh yang
makin melek huruf, praktis dan realistis ini. Sebab
kenyataannya:
Yogya bukan lagi tempat yang paling murah.

Bahwa ada tempat di mana orang masih bisa makan
dengan biaya murah,
memang masih ada. Namun tempat mahal untuk kalangan
menengah ke atas
seperti di kota besar lainnya, juga ada, dan justru
makin
menggelembung, sekaligus memancarkan kesenjangan.

Karena itu, para ahli menyimak dengan kritis
berbagai faktor penyebab
rendahnya UMR di Yogya. Seperti diduga sosiolog Dr
Heru Nugroho dari
Universitas Gadjah Mada, yaitu faktor ekonomi dan
ekonomi-politik.
Pertama, timpangnya suplai dan demand, yakni antara
kesempatan kerja
dan tenaga kerja. Karena jumlah pencari kerja lebih
besar daripada
kesempatan kerja, maka posisi penentuan harga
(upah) lebih tergantung
pada kemauan perusahaan/ pengusaha. Dalam hal ini,
upah ditekan agar
terjadi keunggulan komparatif dan menarik bagi
pemodal nasional maupun
asing.

Kedua, merajalelanya pungutan mengakibatkan ekonomi
biaya tinggi.
Akibatnya, yang ditekan oleh pengusaha adalah upah
buruh, karena
pengusaha harus mengupahi juga mereka-mereka yang
kuasa meminta
pungutan.

Ketiga, ada kecenderungan dalam proses pembangunan
yang menganut paham
stabilitas politik ini, buruh direduksi hanya
sebagai faktor produksi
belaka.

Politik, menurut Dr Heru Nugroho, telah dikeluarkan
dari proses
produksi, sehingga mengakibatkan buruh kurang mampu
menyuarakan
aspirasinya. Jika bargaining position antara buruh
dengan pemerintah
dan pengusaha lemah, maka penentuan UMR juga hanya
sepihak. "Buktinya,
hanya ada satu orga

nisasi buruh yang direstui pemerintah," katanya.

Karena itu, upaya mendongkrak UMR dengan kenaikan
rata-rata nasional
10,63 persen saat ini, menyebabkan banyak pihak
yang tidak puas.
Antara lain para buruh, anggota DPR dan pengamat
sosial-ekonomi. Oleh
karena itu, untuk menghindari keresahan sosial,
bahkan amuk massa,
perlu kebijakan mendongkrak upah buruh berlandaskan
perspektif
ekonomi-politik.

***



LONJAKAN inflasi di Yogyakarta, oleh para ahli
ekonomi UGM dinilai
ironis. Hal itu merupakan refleksi dari sifat
perekonomian yang lebih
pada permintaan, sementara suplai barang-barang
terbatas, atau dalam
beberapa kasus malah terkendala, atau terkendali
oleh pihak-pihak
tertentu.

Suplai kebutuhan perdagangan dari dan ke Yogyakarta
sendiri, selama
ini sangat kecil, karena sekitar 90 persen barang
di Yogyakarta
berasal dari luar daerah, bahkan luar Jawa.

Kondisi ini bukan hanya dirasakan kalangan menengah
ke atas yang gaya
hidupnya mulai meningkat. Tapi juga dirasakan
kalangan bawah yang
kebutuhannya juga masih perlu didatangkan dari luar
daerah. Seperti
dikatakan Wakil Ketua Kadin DIY, Heri Dendi, harga
cabai merah di
Yogyakarta bisa melonjak hingga 300 persen, atau
cabai rawit melonjak
200 persen. Jadi siapa bilang Yogya itu hanya
mengenal gudeg yang
manis?

Memang seperti diungkap ekonom dari UGM Drs Toni
Prasetyantono MSc,
inflasi di Yogyakarta tidak sama dirasakannya oleh
kalangan menengah
ke atas dan kalangan bawah. Ini tentu benar jika
sektor penyumbang
inflasi adalah barang yang dikonsumsi kalangan
menengah ke atas..

Tapi melihat data inflasi Yogyakarta selama ini,
sumbangan paling
besar justru berasal dari kelompok makanan. Seperti
data Kantor
Statistik DIY, inflasi 0,84 persen bulan Desember
1995 disebabkan
naiknya IHK (indeks harga konsumen) kelompok
makanan sebesar 2,10
persen, perumahan 0,36 persen, sandang 0,08 persen
dan aneka barang
dan jasa 0,05 persen.

Penyumbang terbesar IHK kelompok makanan 2,10
persen itu terutama
diakibatkan oleh naiknya harga bawang merah (38,05
persen), kelapa
(18,52 persen), tomat sayur (110 persen), telur
ayam ras (10,53
persen), wortel (77,78 persen) dan sayuran lainnya.

Ini sejalan dengan pengamatan Dr Anggito Abimanyu,
bahwa dengan
pertumbuhan ekonomi yang 6 persen, yang membuat
inflasi tinggi ialah
tingkat konsumsi yang mencapai 70 persen dari PDRB
(Product Domestic
Regional Bruto).

***

BAGI puluhan ribu tenaga kerja yang setiap
pagi-sore bersepeda onthel
memenuhi jalan beraspal hot-mix Yogyakarta, bisa
saja inflasi yang
tinggi tak begitu dirasakan. Dengan tubuh bersimbah
peluh saat pergi
dan pulang kerja, mereka masih bisa menikmati
santap siang dengan
menyisihkan upah Rp 350 hingga Rp 500/hari. Tapi
itu belum termasuk
keperluan lain, terutama rokok dan bekal jajan
untuk anaknya pergi ke
sekolah.

Muh. Tohari asal Bantul misalnya, sebagai penenun
dengan ATBM (Alat
Tenun Bukan Mesin) mengerjakan tenun ikat, setiap
hari harus mengayuh
sepeda sejauh 15 kilometer (kira-kira sama dengan
dari Monas sampai
Semanggi di Jakarta).

Bekerja sejak pukul 08.00 teng sampai pukul 16.00,
ia bisa
menyelesaikan loma hingga delapan meter tenun
sehari. Dengan upah
antara Rp 500-600 per meter, ia berarti bisa
mengantungi Rp
3.000-4.800/ hari.

Dengan upah itu, ia cukup santap siang ala kadarnya
Rp 350, atau
terkadang Rp 500 jika ditambah teh manis. Sisa upah
dibawa pulang ke
rumah untuk istri dan dua anak yang sekolah di STM
(Sekolah Teknologi
Menengah). Jumlah ini memang jauh dari cukup untuk
kebutuhan berempat.
Tapi sedikit lahan pertanian yang dimilikinya,
penghasilan itu bisa
disimpan untuk keperluan sekolah anak-anak, atau
pengeluaran mendesak
sewaktu-waktu.

Kehidupan keseharian seperti Muh. Tohari inilah
yang nampaknya membuat
Yogyakarta nyaris bebas dari gejolak sosial,
seperti diamati Dr Heru
Nugroho.

***

SEPINTAS, untuk mengejar perekonomian Yogyakarta,
usaha yang penting
dikembangkan bukannya industri, melainkan bagaimana
menjadikan
Yogyakarta sebagai pasar hasil industri atau usaha
perdagangan eceran.
Untuk mengembangkan bisnis eceran, harus ada
desakan agar Yogyakarta
semakin terbuka agar semakin mudah dikunjungi dari
luar. Misalnya
dengan mengembangkan segitiga pusat pertumbuhan
Jateng/DIY yaitu
Semarang - Yogyakarta - Solo dengan mempercepat
terwujudnya jalan tol
yang menghubungkan ketiga daerah itu.

Namun harus diakui, konsekuensi mengembangkan
bisnis eceran adalah
inflasi yang tinggi.. Namun para ahli ekonomi UGM
melihat inflasi DIY
tidak sama dengan inflasi nasional sehingga harus
mengejar suplai.
Inflasi Yogyakarta berarti memberi peluang bagi
pemasok. "Harus
diingat, perekonomian Yogyakarta tumbuh karena
pasar," kata Dr
Karseno.

Tapi masalahnya kini, benarkah inflasi yang tinggi
di Yogyakarta tidak
dirasakan oleh sebagian besar penduduk yang
berpenghasilan rendah,
seperti para buruh industri kecil. Kalau saja
sumbangan terbesar
tingginya laju inflasi berasal dari kelompok
perumahan, sandang, aneka
barang dan jasa, boleh jadi hanya dirasakan
kalangan menengah ke atas.
Tapi kenyataannya, sumbangan inflasi justru
terbesar berasal dari
perubahan harga kelompok bahan makanan. Ini bisa
berarti bahwa
kalangan bawah seperti buruh pabrik dan industri
rumah tangga pun ikut
tersemprot akibat dari laju inflasi tinggi.
Buktinya, itu tadi, harga
sayuran naik.

Keadaan ini dinilai oleh pengamat perburuhan UGM,
Dr Tadjoedin Noer
Effendi, membuat kaum buruh semakin terpuruk.
Apalagi jika struktur
industri tidak diperbaiki. Terutama ketergantungan
industri kecil
kerajinan pada bahan baku luar, serta "biaya
siluman" yang mau tak mau
menekan upah buruh.

Dari satu sisi, tingginya laju inflasi serta merta
menggugat tanggung
jawab moral pengusaha untuk memperhatikan upah
buruhnya. Sementara di
sisi lain, pengusaha juga menghadapi berbagai
persoalan, yang kemudian
paling gampang diatasi dengan menekan upah buruh.
Jadilah nasib buruh
itu seperti keripik! (hendaryun notosiswoyo/ dirman
thoha)

Inflasi di Lima Kota Pulau Jawa, 1995

Kota Besar Laju Inflasi (%) Yogyakarta 9,64 Jakarta
9,54 Surabaya 8,69
Semarang 8,45 Bandung 6,36 Rata-rata 5 Kota di Jawa
8,54

Nasional 8,64



Sumber: BPS, diolah.

Indeks Harga Konsumen (IHK)
di Yogyakarta (Desember 1995)

Kelompok IHK (%)



1. Makanan 2,10

2. Perumahan 0,36

3. Sandang 0,08

4. Aneka barang dan jasa 0,05



Laju Inflasi Desember 0,84



Sumber: Kantor Statistik Yogyakarta.

Beberapa Penyumbang
IHK Kelompok Makanan di Yogyakarta

Jenis Perubahan Indeks

Bawang Merah (+) 38,05 persen Kelapa (+) 18,52
persen Tomat Sayur (+)
110 persen Telur Ayam Ras ( +) 10,53 persen Wortel
dan

Sayuran Lain (+) 77,78 persen

Sumber: Kantor Statistik Yogyakarta. 

===
Paket Umrah 2009 Mulai Rp 16,9 juta
Informasi selengkapnya ada di:
http://www.media- islam.or. id

Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti: UNREG SI kirim ke 3252. hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://syiarislam. wordpress.. com

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/

    


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke