Ketika Sumpah Menjadi Sampah
Selasa, 28 Oktober 2008 | 08:28 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, kata sumpah 
bermakna "ikrar yang disampaikan dengan sungguh-sungguh; pernyataan yang 
diucapkan secara resmi dengan bersaksi atas nama Tuhan". Tentu saja sungguh 
agung dan mulia makna kata tersebut. Apalagi, Sumpah Pemuda yang dikumandangkan 
pada 28 Oktober 1928. Itu ikrar yang luar biasa dahsyat atas nama manusia dan 
Tuhan, bersumpah: bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu, yakni Indonesia. 
Adakah semangat sumpah itu masih menjadi inspirasi bagi kita untuk hidup 
berbangsa, bernegara dan bermasyarakat hari-hari ini?

Mari kita buka kamus lagi untuk melihat arti kata sampah yang cuma berbeda satu 
huruf hidup dengan sumpah, yakni huruf u diganti dengan huruf hidup a. Nyata 
benar bedanya. Arti kata sampah adalah "barang atau sesuatu yang tidak dipakai 
lagi, sehingga dibuang; kotoran; keadaan hina; tercela". 

Terkait sumpah dan sampah, pada suatu acara peluncuran buku, seorang pejabat 
tampil bicara sebagai pembicara kunci. Dengan gayanya yang khas, dia berbicara 
tentang sumpah jabatan yang selalu menjadi bagian dari seremoni saat orang 
hendak memangku jabatan. Menurut dia, sumpah itu telah memudar maknanya 
sekarang. "Maklum, di saat mengucapkan sumpah dengan salah satu tangan 
menyentuh Kitab Suci masing-masing agama yang dipegang oleh para petugas agama, 
mereka cuma menirukan apa yang diucapkan oleh si pengambil sumpah (biasanya 
pejabat yang lebih tinggi kedudukannya). Ditambah lagi ketika sampai pada 
kalimat 'kami bersumpah?', mereka sengaja sedikit mengangkat salah satu kakinya 
supaya tidak menginjak bumi," kata beliau yang disambut tawa ria hadirin. 

Pantas saja kemudian banyak pejabat kita yang tak menghargai sumpah jabatan 
atau, tepatnya, melupakan, mengingkari, dan mengkhianati sumpah itu. Tak 
mengherankan bila penyalahgunaan jabatan atau kekuasaan sering terjadi di 
negeri ini. Buktinya, penjara kita penuh dengan mantan menteri, gubernur, 
bupati, dan mantan pejabat lainnya yang dulu pernah mengucapkan sumpah jabatan. 
Mereka kini sungguh menjadi sampah bagi bangsanya, meskipun tentu saja ada satu 
dua yang tidak demikian, khususnya yang menjadi korban tebang pilih 
pemberantasan korupsi.

Itu bukan berarti yang di luar penjara lebih bersih. Masih banyak pejabat atau 
birokrat dengan sense of belonging yang kebablasan, merasa memiliki ororitas 
untuk mengembat apa pun demi membuat kaya diri sendiri, keluarga, kelompok, dan 
partainya. Persetan jeritan 40 juta warga miskin kita. Jeritan mereka hanya 
akan didengar dan diperlukan untuk "yel-yel" mendongkrak suara pada saat 
pilkada atau pilpres 2009. Tidak mengherankan jika banyak kaum miskin menjerit, 
mereka tidak lagi merasa memiliki Indonesia. Indonesia sekarang dimiliki oleh 
mereka yang berkuasa. Mereka lupa pada Sumpah Pemuda 1928, tepat 80 tahun silam.

Padahal, lewat Sumpah Pemuda, para founding father and mother kita yang latar 
belakangnya sangat berbeda mempunyai kehendak untuk hidup dalam wilayah yang 
sama. Kepentingan dan rasa persamaan nasib menjadi pendorong utama untuk 
bersatu, lepas dari segala macam pengkotak-kotakkan suku, agama, maupun etnis 
di dalam rumah Indonesia yang diproklamasikan Bung Karno-Hatta pada 17 Agustus 
1945.

Keagungan dan keindahan sumpah itu telah berganti menjadi onggokan sampah 
membusuk yang meninggalkan luka-luka membusuk pula. Yang lebih runyam lagi, 
ternyata sampah yang seharusnya dibuang jauh-jauh malah dirawat sebaik-baiknya 
guna menumpuk harta dan kuasa. Kepandaian memelihara "sumpah yang sesungguhnya 
sampah" atas nama rakyat, atas nama negara, dan atas nama Tuhan, makin semarak 
bergerak di panggung kehidupan ini. Sampah sumpah itu betul-betul telah 
memberangus dan melumpuhkan banyak sendi-sendi kehidupan kita. Solidaritas dan 
kohesi nasional kian pudar karena yang penting "aku senang, aku menang. 
Persetan orang lain susah, karena aku..." (simak lagu Bento dari Iwan Fals). 

Lagi, lihat saja contoh berikut. Ada pengusaha dengan semangat membara 
bersumpah demi mempertahankan para karyawan dan perusahaannya saat butuh 
talangan dana segar, berubah menjadi pengemplang utang yang hidup tenang-tenang 
saja. Tak ketinggalan banyak pula keluarga berkecukupan tanpa rasa malu berani 
bersumpah sebagai keluarga miskin yang layak mendapatkan Bantuan Langsung Tunai 
(BLT). Begitulah sumpah yang agung dan indah itu telah berubah menjadi sampah 
yang hina dan kotor.

Ingat tragedi Titanic yang mengarungi samudra dalam perjalanan perdananya ke 
New York pada 14 April 1912. Lebih dari 2.000 penumpang menikmati kenyamanan 
kapal yang amat mewah itu. Telepon berdering pada menit pertama, para petugas 
sedang asyik bersenandung menikmati kecepatan kapal pemecah rekor tersebut. 
Satu menit telah berlalu. Menit kedua, para petugas tak mau diganggu telepon 
berdering karena mereka terlalu sibuk. Menit ketiga pun tiba, dengan 
malas-malasan petugas menerima telepon berbunyi, "Ini tempat pengintai pada 
haluan kapal! Gunung es persis di depan! Putar haluan!" Sayang, sudah terlampau 
terlambat. Kapal mewah itu menabrak bagian tengah gunung es dan menimbulkan 
gemuruh yang dahsyat. Tiga menit yang amat bernilai, yang sebenarnya dapat 
menyelamatkan 1.600 jiwa. Tak ingin tentunya Indonesia menjadi seperti kapal 
mewah Titanic.

Kondisi susah yang sedang kita rasakan akibat hantaman krisis demi krisis 
(termasuk krisis finansial global) bisa diubah manakala kita berani berhenti 
menyalahgunakan sumpah. Kita harus serius dalam bersumpah! Kita bertanggung 
jawab kala bersumpah! Kita tidak akan pernah berpura-pura saat bersumpah supaya 
tidak menjadi sampah kotor sumpah kita! Menghargai sumpah berarti menghargai 
kehidupan yang terus-menerus dibangun di atas penghargaan tersebut.

Siapa saja yang mengubah sumpah menjadi sampah bisa berarti "mempercepat 
kiamat" bagi dirinya, karena akan ada banyak orang yang sengsara akibat sampah 
sumpahnya lantas menyumpahi dia sampai tujuh turunan. Inikah kehidupan yang 
hendak kita bangun? 

Sumpah Pemuda yang kita peringati kiranya menyadarkan kita untuk menjadi 
anak-anak bangsa yang punya integritas, sehingga apa yang kita pikirkan dan 
kita berikan kepada bangsa ini bukanlah sampah-sampah yang hanya memudarkan 
pamor dan citra Indonesia. *

Endang Suryadinata,  alumnus Erasmus Universiteit Rotterdam 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke