Mumpung sedang membicarakan Arab Saudi.
Berikut adalah rangkuman sepak terjang salah satu alumnus LIPIA (universitas
yg di biayai oleh Arab Saudi)

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apa Sebenarnya Tujuan Akhir FPI dan Kaum Islamis
Lainnya?<http://idhamdeyas.blogspot.com/2008/06/apa-sebenarnya-tujuan-akhir-fpi-dan.html>

Mungkin saja, Ketua FPI, Muhammad Rizieq Shihab adalah korban permainan
politik. Dengan ideologi puritannya terkadang bisa saja dia dan para
asistennya menjadi naif dan ekstra lugu. Kalau kita lebih jeli melihat
aksi-aksi politik FPI, tentu kita bisa menarik dari arah mana sumber
dukungan ke FPI ini berasal.
Kalau saya tidak salah, FPI (dengan Laskar Pembela Islam nya) pertama kali
muncul dalam demo tanggal 17 Agustus 1998. Mereka menentang semua
elemen-elemen aksi yang menolak Habibie menjadi presiden.
Pada Bulan Agustus 1999, FPI/LPI melakukan demo ke MPR. Mereka mendukung
pemilihan kembali Habibie menjadi presiden, dan menolak Megawati
Soekarnoputri menjadi kandidat presiden dengan alasan "menurut Islam, haram
hukumnya kalau perempuan menjadi presiden.
Pada kesempatan lain FPI/LPI menyerang Komnas HAM yang sedang melakukan
investigasi beberapa jenderal (termasuk Menteri Pertahanan Wiranto, waktu
itu) yang diduga melakukan pelanggaran HAM berat di Timor Timur. Menurut
FPI/LPI, Komnas HAM tidak membela umat Islam (yaitu para jenderal yang
muslim) tapi membela orang Timor Timur yang Nasrani.
Disini saya lebih tertarik untuk melihat ke tataran ideologis yang
menggerakkan FPI dan para simpatisannya yang mayoritas berideologi Islamis
dan Neo-fundamentalis.

***

Kaum Islamis dan Neo-Fundamentalis menyerukan rekonstruksi sosial dan
moralitas dengan berdasarkan pada seruan kembali kepada Al-Qur'an dan Hadis.
Mereka ingin menemukan kembali ajaran Islam tanpa ada deviasi historis, dan
distorsi yang berasal dari nalar, sambil menyingkirkan segala tradisi budaya
juga adat istiadat lokal yang menempel di ajaran Islam. Mereka ingin
memisahkan diri dari islam tradisional yang telah mewujudkan dirinya selama
1400 tahun akumulasi tradisi pemikiran dalam kitab-kitab khazanah klasik dan
kultur tradisional masyarakat-masyarakat Muslim. Akumulasi ilmu-ilmu islam
ini dianggap sebagai penghambat jalan ke arah pemurnian Islam, jalan kembali
kepada Al-Qur'an dan Hadis.
Mereka menampilkan pemutusan tajam dengan tradisi-tradisi keislaman dan pada
saat yang sama menyerukan kembali ke masa lalu yang dibayangkan murni, masa
lalu yang dikukuhkan kembali secara berbeda dari realitas sejarahnya, masa
lalu yang steril dari segala "tahyul, bid'ah dan khurafat" yang tidak hanya
berbentuk ziarah kubur waliyullah, penghargaan adat-istiadat lokal, tetapi
termasuk juga tradisi fiqih-ushul fiqih madzhab, ilmu kalam, filsafat Islam,
dan tentu saja tasawuf-thariqat.


***

Ketua FPI, Muhammad Rizieq Shihab, walaupun tidak menjadi Wahabi, dan
bukanlah penganjur Wahabi tulen, tampaknya telah mengadopsi mentalitas
Wahabisme Saudi dari tempat ia belajar: *LIPIA* (sekarang ada di Warung
Buncit, di depan Kantor Harian Republika) dan Universitas Ibnu Su'ud di
Riyadh. Jika kolega-kolega Wahabinya mengambil bentuk permusuhan terhadap
musuh-musuh alamiah Wahabi, maka Rizieq Shihab menampilkan model Islam
konfrontatifnya terhadap apa yang ia pandang maksiat atau kesesatan.

FPI (dan kelompok islamis dan neo-fundamentalis lainnya seperti HTI, MMI,
dan lain sebagainya) hanyalah salah satu puncak gunung es fundamentalisme
Islam yang bagian terbesarnya di bawah air menjangkau ke ajaran-ajaran
Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri gerakan Wahabi di Nejd pada abad ke 18,
dan persilangannya dengan gerakan salafi modernis Islam. Muhammad ibn Abd
al-Wahhab (1703-1792) memutuskan untuk memisahkan diri dari Kekhalifahan
Turki Usmani dan mendirikan negara sendiri di Arabia Tengah dan wilayah
Teluk Persia. Kembali kepada Al-Qur'an dan Hadis adalah kredonya, sekaligus
membuang semua fiqih-usul fiqih, tasawuf, dan falsafah warisan abad
pertengahan. Ibn Abdul Wahhab menyatakan bahwa para Khalifah Turki Usmani
adalah kafir, kerena mereka telah murtad dari Islam.

***

Dari sejak berdirinya hingga sekarang, aliran Wahabi ini melakukan aksinya
dengan dua fokus kerja besar:

1. Penghancuran ekspresi kultur Islam tradisional. Kultur Islam tradisional
ini dipandang oleh kaum Wahabi sebagai tahyul, bid'ah, dan khurafat. Ini
terentang mulai dari ziarah kubur waliyullah, kesenian tradisional, praktik
sufisme populis, adat istiadat lokal yang telah membaur dengan ekspresi
Islam populis seperti perayaan maulid, dsb.
2. Pengkafiran dan menuding sesat (ini adalah bentuk penghancuran kultur
Islam tradisionalis dalam ranah pemikiran) para ulama dalam 4 pilar tradisi
intelektual spiritual Islam (Fiqih-Ushul Fiqih Madzhab, Tasawuf-Thariqat,
Filsafat Islam, dan Ilmu Kalam Asy'ariyah-Maturidiyah)

*Wahabi inilah yang menjelma menjadi aliran neo-fundamentalis di seluruh
dunia setelah booming petro dolar Saudi di awal 70-an. Neo-fundamentalis
Wahabi ini terkadang adalah mereka yang mengalami convert atau "pemurtadan",
dari Islam tradisional lalu dibrainwashed oleh lembaga-lembaga Pendidikan
Islam Wahabi di Saudi Arabia atau filialnya (seperti LIPIA di Warung Buncit
Jakarta) menjadi Wahabi yang kaffah atau minimal memiliki mentalitas Wahabi.
*


Di antara pemula ormas Islam neo-fundamentalis penerima dana Saudi yang
beragenda Wahabisme adalah DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia), dari lembaga
inilah pada tahun 80-an kita mulai mendengar adanya kristenisasi di
Indonesia, bersamaan dengan eksploitasi permusuhan dan kebencian kepada
kelompok Nasrani di Indonesia. Dari Majalah Media Dakwah terbitan DDII
inilah semangat kebencian dan permusuhan kepada kelompok yang berbeda dengan
mereka mulai disemai dengan baik, dengan bantuan uang Saudi Wahabi.

***

Gerakan modernis Islam yang digagas oleh Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad
'Abduh, dan Sayed Rayid Ridha pada abad ke 19-awal abad 20 adalah satu
gerakan pembaruan Islam yang pada awalnya bercita-cita baik, tetapi pada
akhirnya malah membentuk ruang vakum otoritas dalam Islam Sunni. ini adalah
efek samping dari gerakan reformis-modernis, penganjuran ijtihad sebagai
bentuk pembebasan diri dari madzhab-madzhab, dan kembali ke Al-Qur'an dan
Hadis. Gerakan Salafi tiga besar ulama modernis ini akhirnya hanya membesar
di sisi kanan, yang melahirkan tokoh-tokoh Islamis seperti Hasan al-Banna,
Abul A'la al-Maududi, Quthub, Sa'id Hawwa, Mustafa As-Siba'i, lalu bercampur
baur dengan gagasan-gagasan Wahabi hingga melahirkan orang-orang seperti
Osama bin Laden dan para Thaliban di Afghanistan. Dari Hasan Al-Banna dan
Quthub, gagasan-gagasan sisi kanan Salafi ini disuburkan dalam Ikhwanul
Muslimin, dan kemudian diekspor ke Indonesia melalui pengajian-pengajian
Usrah kampus, yang akhirnya berevolusi menjadi partai politik PKS.

Sisi kiri gerakan salafi yang diwariskan Muhammad 'Abduh ini adalah
gerakan-gerakan neo-modernis (yang menurut saya adalah ahli waris paling
absah dari gerakan pembaruan Islam dari garis Muhammad 'Abduh) yang diwakili
oleh almarhum Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, dan Dr. M. Syafi'i Anwar
(salah satu korban insiden 1 juni 08 di Monas) di Indonesia. Sementara di
Timur Tengah dan India diwakili oleh Muhammad Khalafallah, Amin Al-Khuli,
Sayyid Mahmud Al-Qimny, Muhammad Al-Ghazali, Fazlur Rahman, Al-Faruqi, Nashr
Hamid Abu Zaid, dan Hassan Hanafi. Sisi kiri Salafi ini juga dibombardir
dengan tuduhan sesat sejak dulu oleh kaum Wahabi dan "saudara kandung"nya di
sisi kanan Salafi.

***
Kalau kita mengikuti alur berfikir kelompok islamis dan neo-fundamentalis
yang memandang Ahmadiyah sesat, maka dimana pola fikir penyesatan ini akan
berakhir? Ini akan berakhir dalam konflik horizontal ketika satu kelompok
mengklaim mereka adalah pengikut Qur'an-Sunnah yang sebenarnya (dalam versi
Wahabi-Salafi, karena dua kelompok inilah yang mengeksploitasi pendekatan
harfiyah terhadap Qur'an-Sunnah dan selalu berkata "di dalam Islam..",
"menurut Islam....", "Islam berkata..." sehingga siapa pun yang berbeda
pendapat dengan mereka menjadi otomatis berada di luar Islam), sementara
yang lainnya adalah kelompok sesat atau minimal bid'ah.

Dalam sebuah fatwa para ulama Islam Wahabi di Saudi Arabia yang dikeluarkan
pada tahun 1991 ( jilid 3: halaman 344) oleh al-Lajnah al-Da'imah li
al-Buhuts al-'Ilmiyyah wa al-Ifta' dinyatakan bahwa Syaikh Sayyid 'Abdul
Qadir al-Jailani (pendiri thariqat Qadiriyah yang diamalkan oleh banyak
ulama Nahdlatul 'Ulama dan juga ulama Islam tradisionalis lain di Indonesia,
Malaysia, dan Thailand Selatan) dan Syah Waliyullah Ad-Dihlawi (ulama
reformer di India) adalah kafir dan musyrik.

Para ulama fiqih (sebagian besar mereka juga mufassir Al-Qur'an) yang juga
dituduh kafir dan sesat oleh pendiri Wahabi (Ibn Abdul Wahhab) sendiri
antara lain adalah Fakhruddin ar-Razi (wafat 606H/1210M), Abu Sa'id
al-Baydhawi (wafat 710H/1310M), Abu Hayyan al-Gharnati (wafat 745H/1344M),
al-Khazin (wafat 741H/1341M), Muhammad al-Balkhi (wafat 830H/1426M),
Shihabuddin al-Qastalani (w.923/1517M), Abu Sa'ud al-'Imadi (w. 982H/1574M),
dan masih banyak lagi.

Dalam logika berfikir penyesatan kelompok lain ini, maka pada akhirnya
kelompok sesat dan bid'ah ini tidak hanya Ahmadiyah (perlu diingat bahwa ada
tidaknya nabi yang tidak membawa risalah setelah Nabi Muhammad adalah
problem khilafiyah dalam filsafat Islam, dan Tasawuf falsafi. Tidak lebih
parah dari problem khilafiyah dalam filsafat Islam tentang Tuhan hanya
mengetahui yang partikular seperti dikatakan Ibnu Rusyd, dan Tuhan
mengetahui segala-galanya seperti yang dikatakan Al-Ghazali, atau perkataan
Ana al-Haqq oleh Al-Hallaj, dan para Wali itu lebih utama dari pada para
Nabi seperti yang dikatakan oleh Ibnu 'Arabi), tetapi terentang mulai dari
Islam Syi'ah; pengikut thariqat-thariqat sufi yang hobi zikir dan sholawat
beraneka macam; ulama nahdliyyin yang masih tabarrukan, ziarah ke kuburan
waliyullah, dan mengamalkan talqin dan tawassul; aktivis Jaringan Islam
Liberal; pemikir Islam yang mencoba mengaplikasikan gagasan-gagasan rasional
filsafat barat ke dalam kajian Islam; ulama fiqih madzhab (dengan nalar
ushul fiqih tradisionalnya) yang mencoba mengkritik gagasan kaum
fundamentalis yang selalu berkata "menurut Islam.."; cendekiawan Islam Sunni
yang mengadopsi pemikiran Abdul Karim Soroush dan Mohsen Kadivar yang Syi'i,
aktivis religius sinkretik yang memadukan zikir naqsyabandi dengan reiki,
kundalini dan yoga; ...... saya yang menulis artikel ini dan juga Anda yang
menyetujui.

***

Sebelum dikuasai aliansi klan Sa'ud-Wahabi, Kota Makkah-Madinah adalah lokus
intelektual dan spiritual Islam paling kaya. Semua representasi Madzhab
Fiqih ada di sini. Para Fuqaha Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali, Syi'ah
Jakfari, Zhahiri dan cabang-cabang di bawahnya menyambut para jamaahnya
masing-masing di setiap musim haji. Seluruh Thariqat sufi juga memiliki
mursyidnya di Mekkah – Madinah. Qadiriyah, Rifa'iyyah, Naqsyabandiyah,
Syadziliyah, Syistiyyah, Sammaniyah dan lain sebagainya. Dari Thariqah yang
mu'tabarah hingga yang ghairu ma'tabarah. Sekarang ini semua tinggal
kenangan.

Para Ulama Islam tradisionalis yang memiliki keterikatan dengan akumulasi
khazanah tradisi pemikiran Islam sebenarnya mirip dengan kaum intelektual
Barat yang memiliki keterikatan dengan tradisi pemikiran masa lalu Barat,
keterikatan yang malah lebih dalam, koheren, dan integral. Kita bisa melihat
dalam tradisi filsafat Barat, dari para pemikir skolastik ke Rene Descartes,
David Hume, Immanuel Kant, Hegel, Edmund Husserl, hingga filsuf
eksistensialis, adanya dialog filosofis yang masih tetap berlanjut.
Kitab-kitab filsafat kuno masih tetap dibaca, sebagian besar istilah teknis
masih dipakai, bahkan dalam konteksnya yang telah ditransformasikan. Hal ini
tidak berbeda dengan para ulama fiqih tradisionalis yang lebih dahulu
membuka kitab fiqih Tuhfatul Muhtaj karangan Ibnu Hajar al-Haitami,
kitab-kitab Qawaid Fiqhiyyah, dan Kitab Ushul Fiqih Al-Mushtasfa karangan
Al-Ghazali untuk menjawab masalah kontemporer, ketimbang mencomot satu dua
ayat Al-Qur'an, plus hadis, lalu berkata "... menurut Islam, ...." dengan
semangat kembali kepada Al-Qur'an dan Hadis seperti yang kerap dilakukan
kaum Neo-fundamentalis dan Islamis.

Sekarang Madzhab Hanafi telah punah dari Hijaz. Sejak tahun 1925 para ulama
Madzhab Syafi'i dilarang mengimami shalat di Masjidil Haram di Makkah.
Begitu juga halnya dengan Madzhab Maliki. Seorang ulama besar Madzhab
Maliki, Sayed Muhammad Alwi Al-Maliki juga dilarang memberi khutbah di
Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi di Madinah. Padahal lebih dari 1000
tahun secara turun temurun para ulama madzhab Maliki menjadi identik dengan
Madinah. Sayed Muhammad Alwi Al Maliki dituduh oleh Wahabi sebagai seorang
sufi, sesat dan murtad. Apalagi Madzhab Syi'ah, di bawah penguasa Wahabi
Saudi mereka mengalami penghancuran karakter secara sistematis.
Thariqat-thariqat Shufi? Mereka semua dianggap sesat, kafir, dan murtad.
Yang berhak menyandang nama Islam hanyalah Wahabi. Madzab Hanbali dan Ibnu
Taimiyah? Itu boleh, sebatas masih terakomodasi dalam batas-batas akidah
Wahabi. Kitab Majmu' Fatwa karangan Ibnu Taimiyah sendiri pun telah
mengalami penyuntingan agar sesuai dengan akidah Wahabi, beberapa bab yang
tidak sesuai dengan akidah Wahabi, dihilangkan dalam edisi terbitan kitab
itu di Saudi Arabia.

Pola inilah yang telah dan sedang diekspor oleh Wahabi-Salafi (Neo
Fundamentalis-Islamis) melalui agen-agennya ke seluruh dunia.

Masihkah kita berdiri menjadi makmum di belakang kelompok ini sambil
menuding Ahmadiyah sesat, lalu setelah itu kelompok B, C, juga dituding
sesat lalu kita sendiri juga dihadapkan pada dua pilihan menjadi
Wahabi-Salafi atau menjadi kelompok sesat...

Wallahu A'lam bishshawab.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

2008/11/14 wirajhana eka <[EMAIL PROTECTED]>

>   Saya setuju...
> memang harus ada timbal balik..bayangkan uang yang masuk ke negara arab
> saudi bukan hanya TKI, namun HAJI, Umrah, oleh2, visa, transport, hotel,
> pakaian, farfum...
>
> Jadi Islam bukan hanya agama buat arab saudi namun strategi Marketing dan
> politik..
>
> namun, umlah yang diberikan belum imbang
>
>
> *Item <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:
>
>  Dari Kompas.com
>
> Andil Arab Saudi terhadap Indonesia
>  
> /<http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/13/17345957/andil.arab.saudi.terhadap.indonesia>
> Kamis, 13 November 2008 | 17:34 WIB
> *PADANG, KAMIS* - Duta Besar Saudi Arabia untuk Indonesia  Abdul Rahman
> Mohammed Amen A. Al-Khayyat, mengatakan hubungan negaranya dengan  RI cukup
> baik dan dekat, yang dibina sejak lebih 50 tahun silam. Bahkan menurut Abdul
> Rahman Mohammed Amen A. Al-Khayyat, hubungan itu memberikan andil yang cukup
> besar dalam melepaskan RI dari penjajahan.
>
> "Hubungan tersebut makin kuat dan berkesinambungan mulai dari sosial
> politik, kemasyarakatan, agama dan lainnya," kata Abdul Rahman Mohammed Amen
> A. Al-Khayyat, di hadapan 500 lebih mahasiswa,  di Padang, Kamis (13/11). Ia
> mengatakan negara-negara Islam terbesar  di dunia seperti Indonesia menjadi
> perhatian serius bagi pemerintahnya.
>
> Secara umum, katanya, negaranya membantu mulai dari menerima TKI dan
> mahasiswa undangan yang bersekolah di Timur Tengah khususnya di Saudi
> Arabia. "Alumni asal Indonesia yang bersekolah di Timur Tengah sudah banyak
> yang kembali untuk membangun RI seperti Hidayat Nur Wahid (Ketua MPR RI) dan
> M Maftuh Basyuni (Menag RI)," katanya.
>
> Selain itu banyak ulama Indonesia juga menyelesaikan studinya di Saudi
> Arabia. Bahkan untuk mendukung pengembangan Islam di Indonesia, Pemerintah
> Saudi Arabia juga telah 30 tahun mendirikan salah satu lembaga Lembaga Ilmu
> Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) di Indonesia.
>
>
> *Sumber : Ant*
>
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke