Dalam beberapa hal, cerita di bawah ini benar.
Untuk beberapa hal lain, menyesatkan.
Nah, membacanya menjadi perlu referensi lain guna menolak dan mendukung 
kebenaran yang disajikan.
Referensi lainnya juga dibutuhkan agar penyesatan tidak dimaksudkan sebagai adu 
domba. Yang pasti PKS memang aneh. Berani menyandang ISLAM, tapi kebijakannya 
banyak yang bertentangan dengan ajaran ISLAM.
Berani berbusana putih, tapi ternyata pakaiannya banyak yang kotor.
Keberanian memang baik. Tapi keberanian yang mencampur adukan air dengan 
minyak, minyak dengan tekanan udara akan membuahkan tiga kemungkinan.
1=Yang sudah menikmati, akan melengkapi posisinya sebagai penjilat dan 
penghianat sistem yang seharusnya tegak;
2=Yang belum menikmati, akan menjadi pejuang sejati dalam ukuran mereka 
(fanatik buta);
3=Yang ikut-ikutan akan berjuang menutupi kesalahan.

Mau bukti?
Lihat sikap PKS dalam berbagai kebijakan ekonomi politik, bahkan pada kebijakan 
yang berada dalam tangan kekuasaannya seperti Menteri Pertanian dan Menteri 
Perumahan. Inventarisasikan kebijakan mereka, lalu hadapkan pada ajaran ISLAM 
yang mereka jual.
Lihat lebih lanjut sikap sejumlah Anggota DPR dari PKS dalam perspektif 
ideologis. Lihat pula siapa-siapa yang dijagokan PKS dalam berbagai Pilkada. 
Lalu bagaimana mereka merumuskan kekuasaan menurut ajaran? Tanya pada mereka, 
apakah hidup berpolitik praktis seperti yang mereka genahi terbebas dari 
pertarungan ideologi? Maka ideologi Islam bagaimana yang relevan dengan 
keIndonesiaan? Kalau Islam dalam keIndonesiaannya berpijak pada cara berpikir 
Cak Nur, kenapa PKS tidak cocok dengan JIL ? Kalau Islam dalam KeIndonesiaan 
modern seperti rumusan Rand Corporation, apakah berarti PKS setuju bahwa 
terorisme = jihad Islam? Wuahhhhh, banyak pertanyaan yang bisa membuat PKS 
terbaha-bahak melihat posisi ideologis dan politisnya.

Tapi harus diakui bahwa PKS berhasil mentransformasikan invididual based 
menjadi institutional based. Keberhasilan ini tidak luar biasa jika ummat Islam 
Indonesia dalam menegakkan dan menjalankan ajaran tidak hanya berpijak pada 
dogma. Ada beberapa hal yang memang dogmatis, tapi terlalu banyak yang 
membutuhkan kekuatan berpikir bagaimana Islam mengajarkan kehidupan dengan 
benar, baik, indah dan harmoni tetapi juga tegar. 

Sayangnya, kemampuan membaca pada sebagian mereka tidak identik dengan 
pengertian IQRA' dan Ratil tartiilan. Bagaimana pun INILAH INDONESIA yang sudah 
tujuh abad terjajah. 
--- On Wed, 11/12/08, lutfi trisno badung jaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: lutfi trisno badung jaya <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [ppiindia] Fwd: Intelejen dan PKS dan CSIS
To: [email protected]
Date: Wednesday, November 12, 2008, 6:23 PM










    
            ---------- Pesan terusan ----------

Dari: lutfi trisno badung jaya <[EMAIL PROTECTED] com>

Tanggal: 6 November 2008 20:58

Subjek: Intelejen dan Islam Radikal

Ke: [EMAIL PROTECTED] s.com



Intelejen dan Islam Radikal

oleh : He-Man*



Strategi Pecah Belah dan Kuasai



Paska turunnya L.B Moerdani strategi intelejen dalam menghadapi

kekuatan Islam pun berubah.Teknik tebar, pancing, jaring ala Ali Moertopo

mulai ditinggalkan karena justru malahan menambah instabilitas. Strategi

yang kemudian dilakukan intelejen kemudian lebih soft bahkan dibuat

seolah-olah pemerintah mendukung kekuatan Islam.



Pada masa itu gerakan-gerakan alternatif di luar ormas-ormas islam dan

kepemudaan islam mulai marak.Sejumlah organisasi remaja masjid tumbuh pesat

di masjid-masjid raya juga masjid-masjid kampus. Sebagian kalangan aktivis

muda mulai mengubah konsep dakwah mereka menjadi dakwah kultural dan

berusaha membaurkan diri dengan masyarakat. Misal saja organisasi remaja

masjid waktu itu aktif bergerak dengan sistim jemput bola pada remaja-remaja

bermasalah seperti anggota gank motor, pecandu narkoba dll



Dan ini dianggap pemerintah sebagai sebuah ancaman baru .Salah satu

point penting untuk menunjang kekuasaan rezim Soeharto adalah memastikan

semua organisasi yang ada dan hidup di Indonesia berada dalam cengkraman dan

kendali pemerintah.Bukan saja organisasi keagamaan atau politik tapi juga

organisasi profesi seperti IDI atau organisasi para hobbies seperti RAPI pun

dibawah kendali pemerintah dimana para pimpinannya tidak bisa naik kalau

tidak mendapat 'restu' dari pemerintah. Akan tetapi organisasi-organisa si

remaja masjid juga majlis-majlis taklim yang tumbuh pada masa itu tidak

demikian.



Organisasi-organisa si itu bersifat independen dengan struktur organisasi

yang cair. Akan tetapi pertumbuhan anggotanya sangat luar biasa. Karena

itulah semua organisasi dakwah "liar" itu harus segera

dikontrol. Pendekatan awal pemerintah adalah berusaha menyatukan semua

organisasi dakwah tersebut dalam sebuah organisasi atau perhimpunan formal

dimana kemudian pemerintah bisa mengontrolnya melalui organisasi tersebut.

Danpemerintah pun merestui organisasi tersebut bahkan memfasilitasinya

dengan menempatkan organisasi-organisa si tersebut untuk berkantor di masjid

negara Istiqlal[9]. Akan tetapi eksperimen ini gagal, para aktivis yang

berusaha menjaga jarak dengan pemerintah menolak mengikuti gagasan tersebut.



Dan intelejen pun kemudian menggunakan pendekatan lain yang intinya

memamfaatkan potensi kekuatan dari kelompok-kelompok dakwah tersebut dimana

kemudian mereka bisa dimamfaatkan untuk kepentingan rezim. Akan tetapi

mereka harus dikebiri terlebih dahulu kekuatan untuk melumpuhkan potensi

ancamannya.



Dan Bakin pun menugaskan Soeripto untuk menjalankan tugas ini dan

mengangkatnya sebagai Ketua Tim Penanganan Masalah Khusus

Kemahasiswaan DIKTI/Depdikbud pada tahun 1986-2000[10] .Tugas dan misi

khusus yang diemban Soeripto adalah membentuk jaringan organisasi radikal

Islam baru di kalangan remaja masjid dan gerakan kampus yang berada dibawah

binaan dan pengawasan intelejen.Proyek ini sendiri pada dasarnya adalah

kelanjutan proyek yang dikerjakan oleh Kol Pitut Soeharto atas perintah Ali

Moertopo.



Soeripto pria kelahiran 20 November 1936 ini merupakan kader Partai

Sosialis Indonesia (PSI) dengan masuknya ia dalam keanggotaan Gerakan

Mahasiswa Sosialis (GMSos) pada tahun 1957. Ia kemudian bergabung oleh Kodam

Siliwangi sebagai kader militer Sukarela pada tahun 1967 dan dibawah

pembinaan Kharis Shuhud. Soeripto kemudian menjadi kader intel binaan

Pangkowilhan (Wijoyo Suyono, Soerono dan Wahono), dan secara struktur

dibawah komando Yoga Sugama di Bakin yang waktu itu dipimpin Sutopo Juwono.

Sempat menduduki jabatan

sebagai Kepala Staff Bakin dan Sekretaris Lembaga Studi Strategis /

Wanhankamnas dan menjadi utusan khusus Pemerintah RI untuk normalisasi

hubungan dengan RRC pada tahun 1981.Saat ini Soeripto memegang jabatan di

DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan menjadi anggota DPR-RI asal partai

ini. Untuk menjalankan misinya Soeripto merekrut Helmy Aminuddin putra dari

Danu Muhammad Hasan.



Helmi Aminuddin sebelumnya menjabat sebagai Mentri Luar Negri NII

fraksi Adah Djaelani sebelum akhirnya ditangkap dalam sebuah operasi oleh

Kopkamtib pada tahun 1980 dan ia kemudian ditahan tanpa pernah diajukan ke

pengadilan di Rumah Tahanan Militer Cimanggis sebelum akhirnya ia akhirnya

dibebaskan antara tahun 1983-1984[11] . Selepasnya dari penjara Helmy

Aminuddin yang saat ini menjabat sebagai Ketua Majlis Syuro Partai Keadilan

Sejahtera (PKS)[12] berada di bawah binaan Soeripto lalu kemudian dikirim ke

Timur Tengah untuk mempelajari mengadopsi ajaran dan manhaj serta

berhubungan langsung secara organisasional dengan gerakan Ikhwanul Muslimin

faksi

Qiyadah Syaikh Sa'id Hawwa pimpinan Ikhwanul Muslimin cabang Suriah

sekitar tahun 1985. Dimana sepulangnya dari sana dibawah dukungan Bakin dan

arahan dari Soeripto dibentuklah Jamaah Tarbiyah pada antara tahun 1987-1988

dengan doktrin utama dari pemikiran Sa'id Hawwa yang diterjemahkan menjadi

beberapa seri buku Allah, Ar Rasul , Al Islam dan Jundullah dan diterbitkan

oleh Al Ishlahy Press yang menjadi bacaan wajib para kader inti gerakan.



Helmy Aminuddin sendiri kemudian menjadi Mursyid 'Aam[13] Jama'ah Tarbiyah

pada tahun 1991. Tujuan pertama pembentukan kelompok ini adalah menyatukan

semua kelompok-kelompok dakwah masjid dalam satu kelompok besar yang

dikendalikan intelejen. Salah satu kesulitan utama pemerintah mengontrol

organisasi-organisa si ini adalah karena mereka bersikap independen dimana

masing-masing organisasi memiliki struktur , cara dan metode masing-masing

yang berlainan antara satu dengan yang lain. Dengan metode penyeragaman yang

dilaksanakan oleh jama'ah tarbiyah maka seluruh organisasi masjid tersebut

bisa dikontrol dengan mudah dengan cukup memegang pucuk pimpinannya saja.



Tujuan kedua adalah mencegah kebangkitan kekuatan Islam. Dua unsur

utama yang menjadi syarat bangkitnya kekuatan Islam adalah dukungan dari

ummat dan persatuan antar komponen aktivis islam. Karena itu kekuatan

organisasi masjid didesain untuk menjadi organisasi eksklusif dan elitis

yang cuma terfokus ke dalam[14].Selain itu hubungan dengan kelompok dakwah

lain didesain untuk selalu berada dalam suasana yang tidak harmonis bahkan

dipenuhi prasangka dan kecurigaan bahkan kebencian yang akut.



Dengan pembinaan dengan metode cuci otak maka secara instan kader-

kader kelompok ini bisa dicetak dengan cepat.Untuk menunjang penyebaran

ideologinya maka diterbitkanlah majalah Sabili[15] pada tahun 1987 kemudian

juga penerbitan Gema Insani Press yang menyebarluaskan paham radikal ini

melalui media dan penerbitan buku-buku ideologis dengan harga yang sangat

murah padahal dengan mutu cetakan yang cukup mewah karena mendapat subsidi.

Majalah Sabili sendiri beredar secara luas walaupun tidak dilengkapi dengan

SIUPP[16] dan dijual dengan harga hanya 600 rupiah padahal dengan mutu

kertas yang bagus plus nyaris tanpa iklan. Dan buku-buku terbitan GIP pada

masa itu dijual dengan mulai harga 600-5500 rupiah saja (katalog

tahun 1991) sehingga terjangkau oleh kantong pelajar dan mahasiswa bahkan

akhirnya bersama penerbitan buku-buku sealiran yang lain , buku-buku harokah

pun menggusur buku-buku islam yang lain.



Dan para aktivis dakwah masjid yang terbiasa dengan pola musyawarah

dan penyeimbangan kekuatan tiba-tiba dikejutkan oleh aksi-aksi pengambil

alihan khas intelejen dilakukan oleh aktivis jamaah taribyah seperti

mobilisasi massa, black propaganda, penculikan aktivis, teror dan intimidasi

dll[17]



Dan ketika berhasil mengambil alih kekuasaan kelompok ini kemudian

langsung melakukan aksi-aksi pembersihan dan penyeragaman. Paham ukhuwah

digantikan dengan paham ashobiyah seluruh aktivis yang tidak mengikuti

kelompok mereka disingkirkan demikian juga semua hubungan dengan kelompok

dakwah lain dibekukan bahkan akhirnya kelompok-kelompok ini digusur dari

masjid. Seluruh aktivitas dakwah yang berhubungan dan/atau melibatkan

partisipasi masyarakat dihentikan. Aktivitas masjid hanya diarahkan untuk

pembinaan internal demi

mencetak sebanyak-banyaknya kader militan dan radikal di masjid.

Kelompok-kelompok diskusi dibubarkan dan metode pengkaderan digantikan

dengan indoktrinisasi.



Aktivis masjid pun seketika itu menjadi sebuah komunitas yang asing

bagi masyarakat Isu-isu kemasyarakatan tidak lagi menjadi perhatian. Isu

masalah jenggot pun menjadi sangat pentingnya sampai akhirnya menggusur isu

mengenai kenakalan remaja , isu jilbab menjadi agenda yang menjadi prioritas

utama mengalahkan isu penyalahgunaan narkoba.



Maka dengan menggunakan tangan kelompok radikal akhirnya kekuatan

aktivis masjid pun dilumpuhkan total. Dengan hilangnya potensi ancaman utama

kelompok dakwah masjid maka aktivis dakwah masjid tidak lagi dianggap

sebagai ancaman , dan tindakan represi terhadap kelompok ini pun

dilonggarkan. Ketika sebuah masjid jatuh ke tangan radikal maka

intelejen pun menghentikan operasi-operasi pengawasan yang ketat pada

mereka. Itulah sebabnya aktivitas jama'ah tarbiyah tidak pernah mendapat

gangguan dari aparat pada masa itu walaupun mereka menyebar paham radikal

sementara kelompok-kelompok islam lainnya justru terpaksa tiarap. Dan dengan

dikuasainya masjid-masjid oleh kelompok radikal maka peristiwa pendudukan

gedung DPR RI oleh gabungan massa dari berbagai ormas pemuda dan remaja

islam seperti pada waktu penolakan RUU Perkawinan pun tidak perlu

dikuatirkan lagi[18].



Ketaatan yang kuat di kalangan jama'ah tarbiyah dan kelompok radikal

islam lainnya pada pucuk pimpinannya memudahkan pemerintah untuk mengawasi

dan mengendalikan kelompok-kelompok ini, karena dengan cukup memegang

kepalanya saja maka seluruh anggotanya akan tunduk dan patuh. Paham

eksklusif kelompok radikal menjadi penentu sukses penggunaan metode "pecah

belah dan kuasai" kelompok-kelompok Islam melalui ideologi kaum harokah yang

menolak perbedaan dan keberagaman serta paham dominasi terhadap kelompok

lain maka

hubungan antar organisasi dakwah pun berada dalam suasana yang tegang dan

penuh kecurigaan antar sesama mereka bahkan lebih jauh lagi cenderung pada

kondisi untuk saling menghancurkan dan menjatuhkan satu sama lain.



Tapi ada tujuan lain yang lebih penting dari pembentukan kelompok

radikal ini yaitu menyediakan cukup banyak orang-orang bodoh yang bisa

dimamfaatkan juga dikorbankan oleh intelejen. Kalangan intelejen adalah

sebuah kelompok yang selalu bergerak di balik layar.Kerahasiaan adalah poin

utama dalam semua operasi-operasi mereka, bahkan seringkali karena sangat

rahasianya Presiden pun kadang tidak tau apa yang dikerjakan mereka. Itulah

sebabnya di banyak negara intelejen kadangkala berubah menjadi negara dalam

negara bahkan seorang Presiden pun bisa mereka bunuh bila dianggap

membahayakan negara (berdasarkan versi mereka), contoh kasus adalah

terbunuhnya John F

Kennedy presiden Amerika Serikat yang dicurigai didalangi oleh agen-

agen intelejen dari negrinya sendiri.



Karena itulah dalam setiap operasinya intelejen cenderung berusaha

memamfaatkan dan menggunakan tangan orang lain.Personel yang terpilih

menjadi anggota intelejen selalu merupakan kader terbaik di

kesatuannya masing-masing karena intelejen hanya membutuhkan orang yang

memiliki kecakapan dan kualifikasi terbaik.Oleh sebab itu sangatlah mahal

kalau harus mengorbankan kader-kadernya sendiri.



Dan kandidat paling cocok untuk menjadi pelaksana lapangan tugas dan

aksi rekayasa intelejen adalah orang fanatik.Orang- orang fanatik selalu

siap secara sukarela untuk mengorbankan apa saja termasuk nyawanya sendiri

demi tujuan atau cita-cita ideologisnya. Mereka juga tidak terlalu banyak

bertanya atau menuntut. Karena itulah mereka menjadi pion yang cukup tepat

karena mereka bisa dengan mudah dihasut dan diarahkan melakukan suatu tugas

tanpa mereka sendiri menyadarinya sekaligus bisa dengan mudah untuk

dikorbankan dan dihabisi dengan tanpa mendapatkan kerugian apa-apa.



Dan inilah yang menjawab keanehan fenomena kelompok radikal Islam di

Indonesia dibanding kelompok serupa di luar negri.Di negara-negara

lain kelompok radikal Islam selalu berada dalam posisi vis a vis dengan

pemerintah yang didukung militer dan intelejen sementara di Indonesia

malahan kebalikannya. Para tokoh radikal Islam Indonesia justru

bermesraan dengan militer dan intelejen. Ditempatkannya mantan kepala staff

Bakin menjadi pucuk pimpinan PKS sebuah partai yang didirikan jamaah

tarbiyah dan kecenderungan pemihakan dari elite partai itu pada kandidat

presiden dari militer memperlihatkan dengan jelas siapa sebenarnya mereka.

Tapi sungguh disayangkan para pion ini tidak pernah sadar bahwa dirinya cuma

pion, bahkan mereka merasa memamfaatkan bukan dimamfaatkan dalam meninjau

hubungannya dengan militer dan intelejen.



Berhentikah Aktivitas Intelejen ?



Pertanyaan ini penting untuk dijawab mengingat pada masa reformasi

seperti saat ini kalangan intelejen seakan-akan tiarap untuk cuci tangan.

Tapi pada dasarnya operasi intelejen pada aktivis Islam tidak pernah

berubah.



Terbunuhnya Tengku Fauzi Hasbi alias Abu Jihad bersama kawannya Edy

Saputra dan Ahmad Syaridup setelah diculik dari hotel Nisma di Waihaong,

Ambon pada 22 Februari 2003 dimana pelakunya dipimpin oleh intel polisi

bernama Mohamad Syarif Tarabubun memperlihatkan adanya kemungkinan

perseteruan di tubuh intelejen RI.



Abu Jihad sebenarnya adalah anggota TNI dari satuan Infantri Kodam

Bukit Barisan yang direkrut intelejen sejak tahun 1978 untuk menyusup ke

GAM. Belakangan ia juga ditugaskan untuk menggarap NII diantaranya

dengan mengatur rekonsiliasi NII antara fraksi Ajengan Masduki, fraksi

Tahmid, fraksi Abu Toto, pada bulan Agustus 1999 di Cisarua Bogor.Ini tentu

saja sesuat yang janggal karena GAM tidak pernah punya kaitan dan hubungan

resmi dengan kelompok Islam radikal bahkan corak mereka condong pada

ideologi sosialis.



Kasus penangkapan Umar Al Faruq tersangka teroris JI yang kemudian di

ekstradisi ke Amerika Serikat untuk kemudian ditahan ke Baghram,

Afghanistan, setelah sebelumnya juga dipenjara di Guantanamo, Kuba

mengungkapkan lagi keterlibatan agen intelejen di tubuh organisasi

Islam Radikal. Umar al Faruq ditangkap bersama seseorang yang bernama Abdul

Haris yang kemudian dilepas begitu saja. Dalam perkembangannya terungkap

bahwa ia sebenarnya adalah agen organik Bakin yang menyusup ke jaringan

Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir di Malaysia sejak tahun 1986.



Yang lebih mengejutkan lagi adalah kedua nama ini (Abu Jihad dan Abdul

Haris) di dalam struktur Jamaah Islamiyah (JI) merupakan atasan dari

Hambali dan Zulkarnain alias Arif Sunarso koordinator JI.Jadi apakah

intelejen juga berperan dalam kasus terorisme yang terjadi beberapa tahun

belakangan ini, bisa jadi waktu pula yang akan menjawab.



[Non-text portions of this message have been removed]




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke