PKS Ambisi Besar Tenaga Kurang
LAPORAN KORESPONDEN ABOEPRIJADI SANTOSO

14-11-2008
  Mashadi soal ambisi PKS soal agama dan pemilu 2014 
<http://download.omroep.nl/rnw/smac/cms/id_pks_nafsu_besar_tenaga_kurang\
_20081114_44_1kHz.mp3>



PKS, Partai Keadilan Sejahtera, seperti orang bingung. Di tengah dua
partai besar, dia tak mau terikat Golkar, tapi tak cocok dengan PDI-P.
Dia naik daun sejak reformasi, tapi kini menganggap Soeharto "guru
bangsa" dan "pahlawan". Tokoh-tokoh partai Islam ini tak segan segan
berempati dengan Amrozi, dan dengan kelompok militan seperti FPI. Mereka
beraspirasi membersihkan Islam di Indonesia dari nilai-nilai abangan. Di
tengah mayoritas Islam yang moderat, PKS mengejar target 20 % dalam
pemilu 2009 agar dapat memegang kendali negara pada 2014. Namun,
kalangan internal PKS pun meragukan prospek itu.


  [Mashadi-PKS-200jpg.jpg]    Mashadi, salah satu pendiri PKS
       (foto: Aboeprijadi Santoso)


Baru beberapa bulan lalu, PKS yang merupakan partai dakwah, mengaku
menjadi partai terbuka. Sekarang, partai yang ikut mendukung pemerintah
ini, menjauhi Golkar, menolak mendukung SBY-JK untuk pilpres 2009, dan
membuka diri bagi PDI-P. Bahkan partai yang populer semasa reformasi,
pekan ini tampil dengan iklan yang memasang Soeharto sebagai "pahlawan"
dan "guru bangsa". Ada apa dengan PKS?

Undang-Undang Pilpres memang hanya menguntungkan partai-partai besar
yang dapat meraih 20 % kursi DPR atau 25% suara elektorat seperti Partai
Golkar dan PDI-P, dan memaksa partai-partai menengah seperti PKS, untuk
berkoalisi dengan mereka. Sejak SBY-JK mengisyaratkan maju bersama
kembali, maka peluang PKS meraih kursi RI-2 hanyalah dengan PDI-P.
Koalisi partai-partai menengah dan kecil, diduga bakal sulit untuk
mengusung jagonya sebagai capres atau cawapres sekali pun melalui Poros
Tengah yang kembali diajukan oleh Amien Rais.

Walhasil, terutama bagi PKS yang berada di peringkat empat atau lima,
tak ada jalan lain kecuali memacu dukungan dari mana saja. Partai yang
tidak memiliki cikal bakal sendiri ini, sekarang mengusung tokoh-tokoh
historis dan panutan, seperti KH Hasyim Anshari dari Nahdlatul Ulama dan
KH Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah serta, seperti Golkar, juga
mempahlawankan Soeharto.

Kelemahan strategis
Namun, di balik semua itu, PKS, partai yang terpuji berdisiplin dalam
pemilu 2004, kini merosot. Untuk menjaga kesatuan internal, PKS bahkan
mengajukan delapan nama pimpinannya menjadi kandidat capres. Citranya
yang bersih godaan korupsi mulai pudar. PKS diduga juga tak akan mampu
meraih target 20%. Demikian menurut salah satu pendiri PKS, Mashadi:

"Kami belum sukses, karena kami tidak ikut terlibat dalam pengambilan
keputusan negara, terutama menyangkut hal-hal yang strategis politik dan
ekonomi. Inilah kunci persoalan yang ada sekarang ini. Jumlah kader kami
juga sangat terbatas. Sekarang seluruh Indonesia kurang dari 200 ribu."

Bagi partai yang berambisi memimpin negara, semua ini merupakan
kelemahan strategis.

Mashadi: "Dalam munas memang PKS menargetkan 20 persen, pemilu 2009
nanti. Saya agak ragu ya. Jadi sangat tidak realistis kalau misalnya
tahun 2014 atau 2015 sudah akan terjadi perubahan sangat drastis, saya
kira tidak. Tapi kami memulai dari suatu yang fundamental."

Ambisi besar
Betapa pun, PKS, partai yang citranya Islam garis keras ini, tetap
merupakan satu-satunya partai kader dewasa ini. Dan satu-satunya partai
yang tidak sulit mengajukan caleg tanpa harus mengimpor artis, aktivis
dan wartawan. Mereka menggemblèng anggota-anggotanya jadi kader masuk
masyarakat lewat pendidikan, masjid-masjid dan kegiatan sosial serta
berupaya menguasai birokrasi negara.

Soalnya, ambisinya pun besar, yakni memperbarui Islam Indonesia. PKS
bertolak dari temuan antropolog Amerika Clifford Geertz di tahun 1950an
bahwa Islam di Indonesia masih terlampau dipengaruhi nilai-nilai
abangan.

Mashadi: "Dan itu terbukti Masyumi dan NU itu tidak mencapai suara
mayoritas ketika pemilu 1955. Dan sesudah masa Soeharto juga begitu.
Memang tidak ada partai yang secara sungguh-sungguh dan serius
memperjuangkan prinsip-prinsip dan membuat platform yang jelas berdasar
pada nilai-nilai Islam dan PKS sendiri adanya isyu keterbukaan bagian
dari elemen dalam partai yang mereka memang tidak sabar untuk mengejar
kekuasaan itu sendiri. Jadi harus terbuka, harus koalisi dengan apa
saja, tidak lagi akan sekat ideologis dan lain sebagainya."

Prinsip
Menurut Mashadi yang dari kelompok dakwah, PKS tidak bercita-cita
melaksanakan hukum Syariah, melainkan suatu masyarakat sipil yang
beretika dan bermoral Islam.

Mashadi: "Masyarakat yang egaliter berdasarkan pada prinsip-prinsip
Islam."

Aboeprijadi Santoso [AS]: "Masyumi lebih jelas, dengan syariah Islam
sebagai dasar negara, kan? Negara Islam."

Mashadi: "Kami tidak langsung pada keinginan untuk mendirikan negara
Islam, tetapi kami ingin lebih bagaimana menyelesaikan
persoalan-persoalan pokok bangsa Indonesia ini.

AS: "Tidak langsung itu apa maksudnya, Pak?"

Mashadi: "Ya kami lebih menekankan bagaimana Islam sebagai sebuah etik
itu menjadi prinsip hidup semua orang yang terlibat di dalam pengelolaan
negara harus tahu mana yang dilarang dan mana yang tidak oleh agama."
Demikian Mashadi, salah satu pendiri PKS.



Kata Kunci: Amrozi <http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=Amrozi> ,
Islam <http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=Islam> , Masyumi
<http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=Masyumi> , Muhammadiyah
<http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=Muhammadiyah> , Nahdlatul Ulama
<http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=Nahdlatul+Ulama> , PKS
<http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=PKS>



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke