http://www.antara.co.id/arc/2008/11/13/nyi-roro-kidul-dan-risiko-bencana-tsunami/

*Nyi Roro Kidul dan Risiko Bencana Tsunami*


Oleh Sapto HP

Jakarta (ANTARA News) - Peneliti tsunami dari Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) DR Eko Yulianto mengaku penasaran pada cerita Nyi Roro
Kidul, legenda yang menurut dia juga pernah dibahas dalam kongres paranormal
di Paris pada 1980an.

Dalam pertemuan di Eropa itu, para paranormal umumnya tertarik pada fakta
bahwa legenda itu berkembang di kalangan masyarakat sepanjang selatan
Indonesia, bukan hanya pantai selatan Jawa. Suatu kawasan yang sangat
panjang. Itu pula yang menjadikan peneliti "paleotsunami" (tsunami purba)
itu penasaran pada legenda tersebut.

Menurut Eko, kawasan tempat mukim masyarakat yang mewarisi legenda Nyi Roro
Kidul itu, yang dikenal sebagai kawasan pantai selatan, berhadapan dengan
Samudera Indonesia, yaitu daerah zona subduksi lempeng bumi.

Subduksi ialah proses menghujamnya lempeng benua yang bermassa lebih besar
ke lempeng benua yang ada di bawahnya. Proses subduksi yang berlangsung
terus-menerus itu yang menciptakan negeri kepulauan Indonesia beserta
kesuburannya.

Tapi, proses itu pula yang memberikan berbagai bencana, letusan gunung
berapi, gempa bumi, dan tsunami.

Dalam kaitan itu, Eko memperlihatkan lukisan Nyi Roro Kidul yang merekam
legenda tersebut. Di sana digambarkan seorang ratu yang mengendalikan kereta
kuda dalam balutan ombak besar yang bergulung-gulung.

"Jangan-jangan legenda itu sebenarnya pesan bahwa pernah ada tsunami di
sana?" katanya.

Itu dikuatkan dengan legenda ratu pantai selatan tersebut yang digambarkan
sering meminta tumbal dengan mengirimkan ombak besar jauh ke daratan.
Kemudian, sebagian korbannya dikirim kembali ke darat sebagai pesan dari Nyi
Roro Kidul. Persis kejadian tsunami.

Bagi Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Herry Harjono, mengaitkan
legenda Nyi Roro Kidul dengan sejarah tsunami merupakan ide "aneh" yang
berpotensi untuk mengungkap sejarah kejadian tsunami. Dia mengatakan,
bantuan ilmuwan sosial untuk mengungkap asal-muasal legenda itu juga
diyakini bisa membantu penelitian sejarah kejadian tsunami.

"Pikiran yang sekarang berkembang ialah, boleh jadi pernah ada kejadian
besar yang sangat membekas masyarakat jaman dahulu. Kejadian itu terekam
dalam legenda Nyi Roro Kidul," katanya dalam sebuah workshop paleotsunami,
di Bandung.

Persoalan yang ingin diungkap dalam paleotsunami, antara lain sejarah
terjadinya tsunami dan berapa besarannya. Untuk itu, menurut Herry, ada
pertanyaan yang ingin diungkap, "Kapan legenda itu mulai berkembang?"

Kisah seperti itu, misalnya, akan memperkuat hasil penelitian geologi yang
mencari jejak tsunami purba. Misalnya mengenai bukti gempa dan endapan
tsunami yang terjadi pada 400 tahun lalu di Cilacap dan Pangandaran yang
diyakini jauh lebih besar ketimbang yang terjadi pada 2006.

Dalam sebuah poster yang dipamerkan di workshop disebutkan, empat kandidat
endapan tsunami ditemukan di tebing sungai Cimbulan Pangandaran. Salah
satunya berupa lapisan pasir tebal hingga 20 cm yang diendapkan di atas
lumpur mangrove dan ditutupi endapan banjir.

Pasir itu mengandung cangkang "fora minifera" yang biasanya hidup di laut
lepas. Analisis pentarikhan umur terhadap dua sampel yang diambil dari dua
tempat berbeda menunjukkan lapisan pasir tsunami itu diendapkan 400 tahun
lalu.

"Mungkinkah kejadian tsunami ini terkait dengan asal mula legenda Nyi Roro
Kidul?" demikian pertanyaan dalam buku berjudul "Selamat dari Bencana
Tsunami" yang berkisah tentang orang-orang yang sintas dari tsunami Aceh dan
Pangandaran.

Buku itu juga membahas sejumlah cerita tradisional yang diyakini terkait
dengan peristiwa tsunami.

Bagi Herry, dukung-mendukung ilmuwan sosial dan peneliti geologi itu suatu
saat akan memberikan hasil yang bisa memberikan data untuk menjawab
pertanyaan "seberapa sering tsunami terjadi di pantai selatan?"

Jawaban atas pertanyaan itu akan memberikan banyak konsekwensi, setidaknya
bisa mengubah pandangan hidup masyarakat di kawasan itu bahwa mereka hidup
dalam daerah yang rawan tsunami?

Kalau itu tercipta, maka masyarakat akan mudah diajak untuk hidup akrab
dengan tsunami, mudah mengajak mereka untuk selalu bersiaga menghadapi
bencana, hingga mudah untuk mengajari mereka untuk melakukan tindakan
penyelamatan diri dengan benar ketika bencana itu akhirnya tiba.

Pengetahuan lokal

Bagi Eko, memperlakukan legenda sebagai pesan dari nenek moyang mengenai
tsunami juga mengangkat kembali harkat legenda itu dari berbagai bungkus
yang selama ini menutupinya.

Soalnya, kata dia, banyak cerita turun-temurun di sejumlah daerah, yang jika
dicermati, bisa dicocokkan dengan kejadian tsunami. Dari perjalanannya ke
sejumlah daerah yang pernah dilanda tsunami, dia mendapati cerita yang
sebenarnya merupakan pengetahuan lokal untuk menyelamatkan diri dari bencana
terjangan gelombang besar.

Dia menemukan itu mulai dari Majene, Lombok, Mentawai, dan Simeulue,
walaupun yang masih mengingat pengetahuan tradisional itu sebagai kiat untuk
menyelamatkan diri dari terjangan tsunami itu hanya di Simeuleu.

Pengetahuan itu disebut oleh masyarakat setempat sebagai "smong".

Bagi peneliti tsunami, Simeulue, pulau di barat daya Aceh, merupakan
laboratorium sempurna mengenai tsunami. Di sana, peneliti mendapati banyak
endapan tsunami, catatan gempanya lengkap, dan ada pesan nenek moyang
tentang tsunami yang terus dipatuhi masyarakatnya.

Dalam buku "Selamat dari Bencana Tsunami" disebutkan bahwa Pulau Simeulue
berada paling dekat dengan pusat gempa bumi 26 Desember 2004. Namun hanya
tujuh orang yang meninggal akibat sapuan gelombang tsunami. Itu berkat
"smong".

"Smong" memuat pesan sederhana, namun masih dipatuhi warga Simeulue. Pesan
itu berbunyi: "Jika terjadi gempa bumi kuat diikuti oleh surutnya air laut,
segeralah lari ke gunung karena air laut akan naik".

Pengetahuan tradisional itu muncul setelah tsunami 1907. Disebutkan,
seringnya tsunami sebelum 1907 di pulau itu memiliki andil bagi bersemainya
pengetahuan tersebut. Catatan sejarah dan penelitian geologi menunjukkan
pulau itu terlanda tsunami pada 1797, 1861, dan 1907.

Menurut dia, pengetahuan serupa juga dimiliki masyarakat Mentawai, Sumetera
Utara.

Banyak orang di pulau itu yang masih hafal pengetahuan yang diturunkan dalam
bentuk syair. Namun, syair itu umumnya tidak lagi dipahami sebagai warisan
untuk menghadapi tsunami.

Itu karena kata "teteu", judul syair tersebut, diartikan sebagai "kakek",
walau bisa juga diartikan sebagai "gempa bumi".

Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, syair itu berbunyi: Teteu, sang tupai
bernyanyi/Teteu, suara gemuruh datang dari atas bukit-bukit/Teteu, ada tanah
longsor dan kehancuran/Teteu dari ruh kerang laut sedang marah/karena pohon
baiko telah ditebang/Burung kuliak bernyanyi/Ayam-ayam berlarian/Karena di
sana teteu telah datang/Orang-orang berlarian.

Di sana, kata "teteu" lebih diartikan sebagai "kakek", sehingga maknanya
jauh dari bencana. Sedangkan, jika "teteu" diganti dengan "gempa bumi",
maknanya akan lebih kuat.

Terbungkusnya pesan inti yang terkandung dalam pengetahuan lokal di Mentawai
itu disebut sebagai kecenderungan yang ada di banyak daerah. Salah satu
faktornya, tidak ada catatan yang bisa diwariskan oleh generasi yang lahir
jauh hari setelah tsunami terjadi.

Apalagi, tsunami raksasa umumnya terjadi ratusan tahun sekali, sehingga
cerita turun-temurun yang diwariskan berubah menjadi legenda yang
penafsirannya bisa berbeda dari maksud semula. Ketika tsunami raksasa datang
suatu kali, tidak ada lagi orang yang pernah mengalaminya, sehingga syair
turun-temurun itu diturunkan sekadar warisan.

Menurut Eko, mengaitkan pengetahuan lokal dengan penelitian tsunami purba
merupakan kesengajaan yang dilakukannya. Soalnya, selama ini catatan sejarah
yang dimiliki Indonesia sangat pendek, dan tidak ada catatan yang menyebut
gelombang raksasa yang terjadi 400 tahun lalu, misalnya. Yang banyak
ditemukan justru cerita turun-temurun yang bisa ditafsirkan sebagai pesan
tentang tsunami.

Dengan mengumpulkan dan mempelajari pengetahuan tradisional, diharapkan
membantu analisis kejadian tsunami di masa lalu.

Mengetahui tsunami masa lalu, katanya, akan membantu masyarakat sekitar
untuk bereaksi secara tepat ketika menghadapi bencana serupa pada masa
datang.

Eko mengatakan, penelitian tsunami di Meulaboh dan Thailand selatan
menghasilkan temuan yang mengejutkan. Temuan yang dipublikasikan secara
bersamaan dalam terbitan jurnal ilmiah internasional "Nature" edisi Oktober
itu menunjukkan bahwa tsunami raksasa serupa dengan yang terjadi pada 2004
pernah terjadi di Aceh beberapa ratus tahun yang lalu.

Seandainya temuan itu sudah terungkap sebelum tahun 2004, katanya, maka
usaha untuk menekan jumlah korban jiwa dan kerugian mungkin dapat dilakukan.

Untuk menekan kerugian seperti itu pula, menurut Eko, upaya penelitian
paleotsunami harus ditingkatkan kapasitasnya. Upaya itu tidak lain untuk
mengambil pelajaran dari kejadian masa lalu, termasuk dari penggalian daerah
tsunami dan pengetahuan tradisional yang melingkupinya,

Menurut dia, selama ini penelitian serupa tidak sebanding dengan jumlah
tsunami yang pernah terjadi di negeri ini. Hal itu bisa dilihat dari jumlah
peneliti yang terjun dalam penelitian tsunami yang masih sedikit.

Maka, selain menggali tanah di daerah-daerah yang pernah dilanda tsunami
untuk mencari bukti tsunami purba, Eko pun rajin menggali cerita lokal, yang
mungkin ada kaitannya dengan gelombang besar yang senang masuk ke daratan
itu. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke