PARODI PROLETAR:

Kejadian demikian itu belum seberapa dramatis dan deprssive dibandingkan dengan 
perebutan daerah perbatasan antara dua negara supra proletar USSR dan PRC atau 
antara PRC dan Republik Demokratis Vietnam (RDV) atau antara RDV dengan 
Republik Demokratis Kampuchea. Penguasa politik di negara-negara tersebut 
kesemuanya mengATASNAMAKAN DIRI sebagai pengemban amanat penderitaan PROLETAR 
(?).

Manusia itu secara biologis masih menggendong ciri-ciri kebinatangan yang tidak 
mengenal nilai dan etika-moral kemasyarakatan yang bersolidaritas dalam model 
KLAS-KLAS masyarakat. Realitas demikian bukan hanya ada di kalangan klas 
Proletar saja. Tetapi juga ada di semua klas-klas masyarakat yang manapun. 
Semua yang hidup membutuhkan makan kenyang, istirahat cukup dan sesedikit 
mungkin bekerja untuk memenuhi NAFSU (survival for the fittest) HIDUPNYA 
sendiri. 

Hususnya manusia sebagai hasil evolusi kehidupan di Bumi dalam model bulk sel 
hidup dengan intelegensi tertinggi telah menghasilkan suatu medan 
bio-elektromagnetik dan medan bio-gravitasi yang tersusun rapi berlapis-lapis 
sebagai EGO filosofis maupun psikis. EGO tersebut adalah hasil perkembangan 
dalam evolusi biologis yang hanya berorientasi kepada kepentingan survivalnya 
sendiri. Dengan orientasi survival alami tersebut berkembang saling bantai dan 
kontroversi di antara ego-ego. Agar tidak saling bantai dan saling mematikan 
maka EGO ini harus dilatih dan diarahkan agar memahami tata nilai dan 
etika-moral bermasyarakat melalui pendidikan sistematik. Pendidikan demikian 
dimaksudkan agar mengenal lingkungan dan diri pribadinya. Hal ini telah terjadi 
dalam kurun waktu sejarah transformasi KWALITAS kemanusiaan mulai dari 
Pithechine (cikal-bakal jenis kera dan jenis homo) hingga Homosapiens-sapiens 
(manusia modern). 

Agar proletar tidak mencopet proletar di pasar Dapper maka PROLETAR perlu didik 
dan mendidik diri agar mampu mengubah dirinya menjadi manusia beretika-moral 
dan bertata-nilai kemasyarakatan. Dengan demikian mereka akan mampu MEMBEBASKAN 
DIRINYA SENDIRI dari penghisapan kapital dan bukannya DIBEBASKAN oleh 
segelintir pribadi yang menkalim sebagai proletar termaju. 

Perubahan KWALITAS dari Pithecanthropus erectus sampai dengan 
Homosapiens-sapiens adalah berkat pendidikan yang dilaksanakan oleh alam 
semesta. Pendidikan yang dilaksanakan oleh alam semesta ini telah digunakan 
oleh Pithecanthropus erectus mengubah KWALITAS egonya ke arah 
Homosapiens-sapiens di mana Firman Qurani mengatakannya dalam model PERINGATAN: 
"Innalloha la yughoyyiru ma bii kaumin hatta yughoyyiru ma bii anfusihim - 
Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum, apabila kaum itu sendiri tidak 
mengubah nasib dirinya" 

Salam,

  ----- Original Message ----- 
  From: Mira Wijaya Kusuma 
  To: sastra pembebasan ; [EMAIL PROTECTED] ; Suar Suroso ; Aktivis Bicara ; 
Amarzan ; Svetlana Dayani ; Mbak Uci 
  Sent: Thursday, November 20, 2008 10:30 PM
  Subject: [ppiindia] [Cerpen] Awas Copet!!!


  [Cerpen]  Awas Copet!!!                                        

  De Dappermarkt di lihat dari Mauritskade 
  Sumber foto: http://nl.wikipedia.org/wiki/Dappermarkt

  Pada hari Senin lalu, waktu telah menunjukan jam setengah
  empat petang. Kurasakan cuaca hari itu cukup cerah dan ceria buat
  musim gugur di Amsterdam. Biasanya seusai kerja aku langsung pulang kerumah, 
namun kali ini aku berencana akan mampir ke
  rumah temanku untuk sekedar kongkow-kongkow sembari minum kopi. Dan,
  tempat tinggal temanku itu pun tak jauh dari Dappermarkt. 
   
  Dappermarkt,
  yang artinya Pasar Berani, di kenal sejak tahun 1910 sebagai salah satu
  pasar terbesar setelah Albert Cuypmarkt, Ten Katemarkt dan Lindenmarkt.

  Pengunjung Dappermarkt rupanya semakin meningkat dari kalangan
  rakyat Belanda karena memang dianggap pasarnya merakyat di lingkungan sekitar 
lokasi di jalan Dapper - Amsterdam Timur.  Jadi tak heran kalau pasar Dapper 
tersebut mendapat penghargaan 2 tahun berturut-turut sebagai pasar terpopuler 
di Belanda.

  Barang-barang
  dagangannya yang ditawarkan buat kebutuhan se-hari-hari itu memang di jual 
dengan
  harga "murah-meriah-meledak". Maksudnya barang-barang yang dijual itu
  selain harganya murah dan bervariasi, juga dijamin produknya berkualitas. 
Bagi para konsumen berpendapatan
  rendah pun menganggap Dappermarkt jadi pasar favorit untuk belanja kebutuhan 
hidup sehari-harinya. 

  Dappermarkt
  di kenal pula menyediakan barang-barang dagangan bermerk alias bertaraf 
internasional.  Misalnya gaun malam yang chic, pakaian untuk anak-anak yang 
lucu-lucu, sepatu, tas
  dan sampai celdalnya pun tak kalah hip-nya dengan barang-barang yang dijual
  di pusat pertokoan di P.C. Hoofstraat maupun di Kalverstraat. 

  Dari pakaian yang model hip al'a muslim sampai
  model pakaian modern bisa dapat dibeli di Dappermarkt. Belum lagi kalau ada
  konsumen yang ingin beli kebutuhan dapurnya, seperti panci,
  penggorengan serta alat-alat dapur lainnya dengan kualitas yang lumayan
  bagus. 

  Sayuran, buah-buahan serta beragam daging atau ikannya yang
  segar menarik perhatian para konsumen berpenghasilan
  rendah, apalagi bila ingin membeli barang-barang kebutuhan anak-anaknya.
  Selain harganya lebih murah, mulai dari pakaian, celana,
  jaket, sepatu, kaos kaki sampai mainan anak-anak persediaannya paling
  lengkap serta pula bervariasi modelnya. Maka banyaklah Ibu-Ibu membawa
  anak-anaknya mengunjungi Dappermarkt untuk membeli kebutuhan
  anak-anaknya. 

  Suasana
  pasarnya
  pun selalu meriah serta tercermin ceria, yang lokasinya berada di sepanjang
  jalan Dapper antara batasan Wijttenbachstraat dan Mauritskade. Di sana
  terpajang rumbai-rumbai aneka warna dengan memakai lampu-lampu beraneka
  warna. Diantara pajangan dan rumbai-rumbai itu terselip pula sebuah
  bentangan spanduk peringatan "Awas Copet!, perhatikan tas
  atau dompet anda, jangan sampai hilang".

  Beberapa petugas keamanan
  pun berlalu-lalang di sepanjang jalan pasar "Dapper".
  Sehingga para konsumen, yang berdatangan dari berbagai luar kota
  Amsterdam, merasa aman, nyaman dan sahaja. 

  Serasa
  bagaikan
  suasana pesta jalananlah! Dan, yang paling berkesan buat para pengunjung pasar
  ialah suasana keramah-tamahan dari para pedagangnya itu, yang memiliki
  keuniekan tersendiri sebagai ciri khas pasar Dapper yaitu baik para 
konsumennya maupun para pedagangnya berasal dari beragam bangsa dengan
  semangat internasionalisme. 

  Cuma
  jangan bingung, kalau melihat "made in" barang-barang dagangannya itu
  kebanyakan dari China, selain itu juga produknya dari Inggris, Italy,
  Spanyol, Turky, Marokko, India, Pakistan.
  Singkat kata, Dappermarkt yang berarti Pasar Berani itu mampu menunjukan
  kesan suasana kehidupan "multiculturalisme" alias internasionalis berciri khas
  Amsterdam. 

  Penduduk Belanda menyebutnya sebagai suasana "Het Kleuren
  Rijk" (kekayaan warna). Yang maksudnya adalah kehidupan bertoleransi antar
  bangsa penduduk di Belanda yang nyatanya dihuni oleh barbagai macam perbedaan 
bangsa
  dengan beragam bahasa dan warna kulitnya. 

  Akhirnya
  aku memutuskan berjalan-jalan sembari menuntun sepedaku menyusuri
  sepanjang jalan pasar "Dapper", yang terkenal itu. Melalui Dappermarkt
  tentunya akan lebih singkat waktunya buatku untuk menuju
  arah rumah temanku, yang lokasinya di sekitar daerah Amsterdam Timur.
  Aku mulai berjalan dari arah Mauritskade menuju arah Wijttenbachstraat,
  yang tasku kugantungkan di stang stir sepeda sebelah kanan. Sedangkan
  aku berjalan disebelah kiri sepedaku, sambil tangan kananku memegang
  stang sebelah kanan. Dengan santai dan rasa nyamannya aku berjalan
  menyusuri jalanan Dappermarkt sembari arah mataku melihat ke bentangan
  pajangan barang dagangan di bagian kiri maupun sebelah kanannya. Ketika
  aku sedang melihat serta memperhatikan tenda disebelah kanan, aku
  terhenyak sejenak karena terpancang pada yang menjual jas-jas untuk
  musim dingin. Kemudian aku berhenti sejenak untuk melihat model jasnya,
  lalu aku mulai menghampiri serta mendekati tenda tersebut. Mulailah aku
  memperhatikan dan menyimaki pajangan berbagai model jasnya. Lalu,
  kemudian dengan asyiknya aku meneliti ukuran jas serta warna yang
  kupikir pas dengan seleraku. 

  Tiba-tiba
  seorang Ibu setengah tua menyapaku untuk supaya aku menggeser sepedaku
  karena dianggap menghalangi ruangan tempat tumpukan jas di atas meja
  panjang. Aku tertegun sejenak sembari cepat menggeserkan sepedaku itu.
  Namun tanpa kusadari rupanya tangan kananku pun yang ketika sedang
  memegang stang stir kanan sepedanya, ternyata sudah beralih ke tumpukan
  jas-jas tersebut. lalu aku cepat melihat kembali ke arah stang stir
  sepeda sebelah kanan yang rupanya tasku tak lagi bergantung di stang 
  kanan sepedaku. 

  Aku
  menjadi panik serta langsung berseru keras: "mana tasku!!!" "Tasku
  hilang di copet!!!" Sementara beberapa pembeli, yang sedang asyik
  memilih jas-jas itu mengalihkan perhatiannya ke arahku serta
  kelihatan terkejut dan turut panik pula. Salah satu pedagangnya pun
  turut menyibukan dirinya yang langsung menghampiriku sambil berseru:
  "taruhlah sepedamu di disini dan cepat lah kejar pencopetnya!!!" Aku
  langsung melepaskan sepedaku, lalu berlari menuju jalan pasar ke arah
  Wijttenbachstraat, sedangkan sesama kolega pedagang lainnya turut
  berlari menuju arah berlawanan dari jalan pasar. 

  Beberapa
  meter
  kemudian kulihat dua orang dari keamanan sedang berjalan menuju
  ke arahku. Tapi aku tak peduli serta terus berjalan cepat hampir
  setengah berlari ke arah pencopetnya. Sementara aku masih tetap
  berteriak keras ke si pencopetnya di sepanjang Dappermarkt, dengan
  tenangnya ke dua agen tersebut menghadangku untuk supaya aku berhenti
  mengejar pencopet tasku. Terpaksa aku berhenti sejenak, yang kemudian
  salah satu dari petugas keamanan itu mulai mengajukan
  pertanyaan-pertanyaan sambil mengeluarkan buku catatan kecil: "Ada apa
  gerangan, kau kehilangan tasmu? Dimana kau kehilangan tasnya? Apa kau
  tahu identitas pencopetnya? Warna apa tasmu dan apa saja barang-barang
  yang ada di dalamnya?"  Mendengar pertanyaan petugas keamanan yang
  bertubi-tubi itu, aku semakin merasa panik dan terganggu karena aku
  tidak bisa lagi mengejar pencopetnya, yang memang tak kuketahui
  identitas sang pencopet itu.

  Kurasakan
  situasi kepanikanku sudah mulai agak mereda. Walau pun rasa amarahku pada ke 
dua
  agen polisi tersebut belumlah sirna, sejenak aku memandang kesalah satu
  polisi agen, yang terus sibuk mengajukan banyak pertanyaan, lalu polisi agen 
lainnya menegurku dengan ramah: "Ok..sekarang kau
  tunjukan kami dulu dimana kau kehilangan tasmu?  Dan rupanya kau tak
  tahu pula identitas si pencopetnya...". 

  Aku mengangukkan kepalaku sambil berjalan cepat menuju tempat
  sepedaku, yang sedang diamankan oleh si penjual jas. Aku menunjuk
  ke arah tenda penjual jas tersebut, dan sementara itu salah satu
  penjualnya menghampiriku dan memberikan sepeda ke aku. 

  Lagi-lagi aku musti menjawab urutan pertanyaan-pertanyaan itu, yang
  lantaran dianggap penting dengan hilangnya tasku di pasar "Dapper" itu.
  Sembari menjawab urutan pertanyaannya itu, aku melirik pula kearah
  kertas kecil polisi agen yang kulihat hanyalah ada tulisan urutan nomor
  urut dan kasus kehilangan barang. Di daftar catatan tersebut, rupanya
  kasusku itu ada di urutan ke 8. Selebihnya tak ada catatan-catatan singkat
  lainnya yang sehubungan dengan rentetan jawaban dari sang korban
  kecopetan. 

  Secara sepontan aku memprotes cara kerja polisi itu. "Untuk apa aku menjawab
  pertanyaaan-pertanyaanmu kalau kau tidak catat dalam buku kecilmu
  itu? Bukankah itu hanya membuang waktu saja?" tanyaku dengan wajah yang 
serius campur kesal.

  "Tentunya informasi jawabanmu sangat penting buat kami, karena kami dari 
kantor kepolisian Linnaeusstraat
  dan kau sekarang ini langsung saja melapor ke kantor polisi terdekat
  rumahmu". 

  Aku segera pergi meninggalkan ke dua agen polisi itu, menggenjot sepedaku ke 
arah kantor polisi yang lokasinya tak jauh dari
  rumahku. Sesampainya aku di kantor polisi tersebut, aku hanya diberi saran
  supaya langsung cepat pulang kerumah untuk menelpon guna memblokade
  jaringan telepon genggam. Karena didalam tasku yang dicopet itu antara
  lain ada telepon genggam dan dokumen kertas laporan kerjaku. Selanjutnya 
bapak keamanan tersebut menyampaikan pesannya agar aku kembali ke kantor polisi 
untuk memberi laporan kecopetan.

  Semua
  rencanaku di hari ini gagal total, dengan lesu aku menggejot sepedaku
  menuju arah rumah, sedih rasanya kecopetan, dasar copet sialan,
  bukannya nyopet orang kaya, malahan nyopet sesama proletar juga, payah!

  MiRa - Amsterdam, 20 November 2008

  Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/  
 
  http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 

  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke