Di Indonesia memang kekurangan air sebab orang tidak ekonomis, selalu membuang 
air :-)) 


  ----- Original Message ----- 
  From: A Nizami 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; lisi ; [email protected] ; sabili ; Indonesia 
Raya ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Thursday, November 20, 2008 9:26 AM
  Subject: [ppiindia] Air PAM Mahal? Ayo Pakai Jetpump!


  Saya biasanya pakai pompa air Sanyo biasa dengan
  kedalaman pipa sampai 9 meter. Beberapa tahun lalu di
  musim kemarau selalu kering dan tidak keluar airnya.
  Jika sudah begitu terpaksa minta air ke tetangga.

  Karena keseringan kering dan terlalu sering minta air
  ke tetangga, akhirnya malu juga dan terpaksa pasang
  air PAM. Pertama-tama sih tarifnya biasa-biasa saja,
  jadi tidak terlalu masalah.

  Meski begitu, kualitas air PAM dibanding air tanah
  jauh beda. Kalau air tanah begitu jernih dan segar
  karena murni dari tanah, air PAM itu bau kaporit
  seperti di kolam renang dan sering keruh airnya.
  Jangankan untuk minum. Untuk mandi saja terasa
  bedanya. Air tanah jauh lebih segar dan nyaman. 

  Kalau untuk minum maaf, saya tidak bisa meminumnya.
  Apalagi saya pernah membaca berita ada mayat
  mengambang di Kali Malang, padahal air kali itu satu
  sumber dari air PAM. Meski mungkin sudah bersih karena
  telah diproses, tetap saja saya tidak tega kalau
  teringat hal itu. Sehingga kami terpaksa beli air Aqua
  yang harga per gallonnya sekarang sekitar Rp 12 ribu
  (sekalian antar). Jika satu gallon hanya bertahan 3
  hari, dalam sebulan kami harus beli 10 gallon atau
  habis sekitar Rp 120 ribu. Itu pun kadang Aqua
  sekarang sulit didapat di toko-toko terutama ketika
  lebaran kemarin.

  Ketika air tanah kering, saya tidak mau pakai jetpump
  dengan pertimbangan biayanya ketika itu sekitar Rp 3
  juta cukup mahal. Akhirnya beli pompa semi jetpump
  yang kedalamannya sampai 11 meter. Ketika di musim
  kemarau kering lagi, oleh tukang pompanya diturunkan
  sekitar 2 meter hingga kembali bisa keluar air.

  Malang ketika musim hujan akhirnya pompanya terendam
  air dan rusak. Dibetulin tidak bisa juga, akhirnya
  beli pompa semi jetpump lagi seharga 483 ribu berikut
  pipa-pipanya. Total mungkin habis Rp 1,5 juta untuk
  pergantian dari pompa biasa ke semi jetpump.

  Ternyata itu pun air yang mengalir sangat kecil. 3
  hari kemudian tidak keluar air lagi hingga terpaksa
  pakai air PAM.

  Biaya PAM pertama-tama masih murah. Cuma sekitar Rp
  150 ribu per bulan. Bulan berikutnya naik jadi sekitar
  250 ribu per bulan. Kemudian Rp 295 ribu per bulan.
  Dan terakhir Rp 354 ribu per bulan. Padahal saya
  berusaha keras menjaga agar jika bak sudah penuh, air
  tidak keluar terus. 

  Mahal sekali. PAM yang diprivatisasi jadi milik Swasta
  Thames PAM Jaya, kemudian diambil alih oleh AETRA
  memang mengutamakan bisnis. Untuk pemakaian 51 m3 air
  kena sekitar Rp 354 ribu atau sekitar Rp 7.000/m3.
  Termasuk termahal di Asia. Padahal kita butuh air itu
  untuk mandi, mencuci piring dan pakaian.

  Akhirnya saya berpikir, jika sebulan bayar Rp 354
  ribu, maka setahun bisa habis Rp 4,2 juta lebih. Kalau
  20 tahun, bisa habis Rp 84 juta. Bisa beli mobil atau
  rumah kecil!

  Padahal pasang pompa jetpump biayanya jauh lebih
  murah. Di Pasar Kenari biaya totalnya hanya Rp 3,8
  juta dengan pompa Shimizu (tanpa penampung air). Di
  satu situs internet, saya lihat biaya pengeboran Rp
  200 ribu per meter. Jadi kalau 20 meter habis Rp 4
  juta hanya untuk pemboran. Belum biaya pipa dan
  jetpumpnya.

  Sementara ketika tanya-tanya ipar di Kebon Nanas, ada
  tukang pompa yang terkenal di daerah itu. Bang Sabur
  namanya. Dia pernah memasang pompa di masjid At Taubah
  dan majels Ta’lim Al Washiyyah. Padahal di masjid
  itu kan keran air untuk wudlu bisa sampai lebih dari
  20 keran.

  Akhirnya setelah tanya harga, total biayanya hanya Rp
  3,5 juta dengan pompa Panasonic 125 watt (tanpa
  penampung air) dengan perjanjian digali hingga 24
  meter dengan kedalaman pipa hingga 17 meter.

  Ketika sampai 21 meter, setelah menembus beberapa
  lapisan tanah, pasir, dan batu akhirnya sampai lapisan
  yang berisi tanah hitam. Bang Sabur bertanya ke saya
  ini tanahnya sudah hitam. Kalau diperdalam lagi cuma 3
  meter (jadi 24 meter), khawatirnya lapisannya masih
  tanah hitam sehingga airnya justru kuning dan bau dan
  tidak bisa dipakai untuk mencuci. Mau terus jadi 24
  meter atau berhenti cukup di sini? Kata bang Sabur.

  ”Kalau berhenti sekarang airnya bagus ya?” Tanya
  saya.

  ”Iya.” Katanya.

  Memang kalau digali terus hingga 32 meter mungkin
  lapisannya bisa jadi tanah merah. Tapi kalau cuma 3
  meter, takutnya lapisannya belum berubah. Akhirnya
  saya bilang stop saja.

  Ketika pengeboran sudah selesai dan pipa-pipa
  dimasukkan ke dalam lubang, setelah 2,5 pipa bang
  Sabur meminta saya untuk menaik-turunkan pipa. Terasa
  ada air pada kedalaman 10 meter. Jadi jika pipa
  ditanam hingga 17 meter, minimal 3 tahun ke depan
  tidak akan kering. ”Jika kering, panggil saya
  gratis,” kata bang Sabur. Perjanjiannya kalau dalam
  setahun kering, panggil lagi gratis.

  Pengeboran dimulai hari Kamis dan berakhir Minggu
  sore. Minggu Malam sudah selesai. Ini agak lama karena
  memang manual. Tidak pakai mesin. Kalau pakai mesin di
  perumahan akan kotor karena air lumpur langsung
  dibuang keluar, kata bang Sabur.

  ”Di tempat lain bahkan jetpumpnya sudah 7 tahun
  tidak rusak dan tidak kering.” Kata bang Sabur.

  Begitu selesai, 3 jam pertama harus dikuras, kata bang
  Sabur sebab air masih kotor bercampur tanah. Tapi hari
  Senin meski agak keruh kualitasnya sudah di atas air
  PAM. Hari Kamis sudah lumayan jernih.

  Cuma memang meski dayanya 125 watt, ketika saya cek
  kecepatan putar meteran listrik, kecepatannya sama
  dengan kecepatan AC 1 PK yang dayanya sekitar 860
  watt.. Oleh karena itu harus dipasang penampung air
  minimal 500 liter sehingga jetpump tidak harus selalu
  menyala dan otomatisnya bisa jalan. Jika tidak, maka
  meski menetes sedikit, jetpump akan mati-nyala
  mati-nyala. 

  Untuk pemasangan penampung biayanya paling tidak Rp
  700 ribu untuk penampung merk ”Penguin” yang jika
  penuh otomatis akan mematikan jetpump. Ketika saya cek
  di Material, harganya Rp 715 ribu. Total biaya
  pemasangan penampung air antara Rp 1 juta-1,5 juta
  tergantung pakai menara atau sekedar coran.

  Bagaimana jika rumah dekat sungai/septic tank/got?
  ”Tidak masalah,” kata bang Sabur. Karena
  disekeliling pipa akan dicor sehingga air kotor tidak
  masuk. Air yang terpompa betul-betul murni air tanah.
  ”Saya pernah pasang pompa dengan jarak hanya 20
  meter dari sungai dan bersih,” katanya.

  Begitulah pengalaman saya memasang Jetpump.
  Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi pembaca lainnya.
  Lebih baik kita keluar uang agak banyak di awal
  misalnya Rp 3,5 juta, ketimbang harus bayar PAM Rp 350
  ribu per bulan yang tarifnya biasanya setiap 1-2 tahun
  selalu dinaikkan.

  http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0601/16/metro/2362255.htm
  Pencemaran Kali Malang Tidak Tertangani

  Jakarta, Kompas - Pencemaran air di Kanal Tarum Barat
  atau Kali Malang yang dipergunakan sebagai sumber air
  baku untuk air minum di DKI Jakarta selama ini tidak
  tertangani.

  Pencemaran air ini semakin membebani pengolahannya
  menjadi air minum oleh dua mitra Perusahaan Daerah Air
  Minum (PDAM) DKI, yakni PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja)
  dan PT Thames PAM Jaya (TPJ).

  ”Pencemaran makin meningkat dari limbah domestik
  yang mengalir dari berbagai permukiman di Bekasi.
  Selama ini pencemaran Kali Malang tidak tertangani,”
  kata Direktur Utama Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta
  I Djendam Gurusinga kepada Kompas, Jumat (13/1). 
  Baik Palyja maupun TPJ, lanjutnya, sering mengeluhkan
  tingkat pencemaran air baku tersebut. Namun, Djendam
  menuturkan, kewenangan untuk menanggulangi pencemaran
  air tidak hanya terletak pada instansi Jasa Tirta.

  Saat ini Palyja mengambil air baku dari Kali Malang
  sebanyak 4,5 meter kubik per detik, lalu dialirkan ke
  instalasi pengolahan air di Pejompongan.

  Selain dari Kali Malang, Palyja juga mengambil air
  dari Sungai Cisadane, Sungai Krukut, dan Sungai
  Pesanggarahan, mencapai 3 meter kubik per detik.

  Tarif Naik, Air PDAM Kok Masih Keruh
  6 Nov 2008 ... Dana Satria mengakui air baku buat PDAM
  Bekasi berasal dari Sungai Bekasi dan Sungai Tarum
  Barat atau Kali Malang. Kondisi air di sungai itu ...
  www.sinarharapan.co.id/berita/0811/06/jab07.html

  http://www.tempointeraktif.com/hg/topik/masalah/1913/

  Topik : Mayat mengambang di sungai

  Rabu, 29/10/2008 | 17:35 WIB
  Identitas Mayat di Kalideres Belum Diketahui
  Mayat itu lalu dilarikan ke Rumah Sakit Cipto
  Mangunkusumo untuk diotopsi. Iza menyatakan belum ada
  dugaan modus dan motif pembunuhan juga pelakunya.

  Minggu, 20/04/2008 | 18:19 WIB
  Mayat Tanpa Kepala Ditemukan
  Tersangkut di pintu air Kali Malang, diperkirakan
  sudah dua pekan tewas dan terendam. Identitas korban
  belum diketahui.

  Baca kisah mayang mengambang di sungai lainnya di:
  http://infoindonesia.wordpress.com

  ===
  Paket Umrah 2009 Mulai Rp 16,9 juta
  Informasi selengkapnya ada di:
  http://www.media-islam.or.id

  Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

  Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

  Untuk berhenti: UNREG SI kirim ke 3252. hanya dari Telkomsel 
  Informasi selengkapnya ada di http://syiarislam.wordpress.com

  __________________________________________________________
  Dapatkan nama yang Anda sukai!
  Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
  http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke