Tiga “Amunisi” Barat Menghancurkan Islam

Hidayatullah.com— Menurut Hamid, di forum-forum internasional, Barat sering 
secara
“memaksa” memasukkan nilai-nilai nya kepada dunia Islam agar diterima.
Sementara dirinya tak mau mengadopsi nilai-nilai Islam menjadi nilai
universal.
Pernyataan ini disampaikan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Direktur Institute for The 
Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS),  Ahad, (23/11) dalam 
diskusi regular dwibulanan dengan tema “Kerancuan Pemikiran Liberal Deteksi dan 
Solusinya”.
Acara yang diselenggarakan oleh Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (INPAS) 
Surabaya yang  bertempat
di ruang Abu Bakar, Masjid Al-Akbar Surabaya dihadiri 56 peserta dari
berbagai kampus. Diantaranya dari ITS, IAIN, dan STAIL serta sejumlah
tamu undangan lainnya.   
Dalam
diskusi terebut, Hamid Fahmy Zarkasyi yang juga pemimpin redaksi jurnal
ISLAMIA mengungkapkan sejarah, perkembangan, serta cara liberalalisasi
pemikiran Islam yang dilakukan Barat. Menurutnya, materi yang dibawakan
merupakan penjabaran dari buku  “Liberalisasi Pemikiran
Islam” yang baru diterbitkannya pada Agustus 2008 lalu. Jadi, bagi yang
ingin mengetahuinya materi diskusi lebih luas bisa membaca buku
tersebut. Acara tersebut juga terbilang sangat menarik. Selain karena
kepakaran sang narasumber, materi yang disampaikan juga sangat komplit,
cukup untuk membedah akar masalah liberalisasi serta solusi
mendeteksinya.
Direktur center for Islamic and occidental studies (CIOS), Pondok Pesantren 
Modern Darussalam Gontor, Ponorogo ini,
mengatakan paham liberalisme gencar-gencarnya muncul antara tahun 2000
dan 2001. Tepatnya saat tragedi runtuhnya world trade center (WTC) pada 11 
September 2001. Tregedi ini, menurut Doktor lulusan ISTAC Malaysia ini 
merupakan grand design George W Bush untuk menabuh genderang perlawanan 
terhadap radikalis Islam dengan amunisi liberalisme Barat. 
Setelah “amunisi” tersebut berhasil memakan korban baik fisik maupun  pemikiran
di Negara-negara Islam, kemudian berekspansi ke Indonesia. Caranya
sama, yakni dengan stigmatisasi terorisme. Bom Bali buktinya. Banyak
bukti baik temuan pakar hal-hal meragukan kejadian Bom Bali. Tapi
dengan cara inilah, dunia akan mengklaim ada terorisme di Indonesia.
Secara tidak langsung, Barat berhasil mengantongi ligitimasi  dunia untuk 
melawan terorisme yang pada hakikatnya adalah melawan Islam. 
Menurut Hamid, dalam melawan  “terorisme”, Barat memiliki tiga “amunisi” ampuh. 
Pertama,  westernisasi (pembaratan), Kedua, kolonialisasi dan Ketiga,  
globalisasi. Ketiga hal inilah yang sekarang sedang gencar-gencarnya dilakukan 
oleh Barat. 
Seperti westernisasi ungkapnya, Barat sebagai Negara adidaya memaksakan 
Negara-negara berkembang untuk “mengkonsumsi” nilai-nilai universailitas 
(universal value) versi Barat seperti demokrasi, kapitalisme, free sex (seks 
bebas), gender equality (kesetaraan gender)dan lain sebagainya. Sedangkan 
globalisasi, Barat
sengaja memposisikan bangsa-bangsa yang lemah untuk menerima kultur,
tradisi, konsep, sistim dan nilai-nilai yang dianggap global (universal) untuk 
diadopsi. Dan untuk kolonialisasi, kini bentuknya lebih soft (ringan), tidak 
lagi dengan senjata namun dengan pemikiran dan bentuk kerja sama yang intinya 
"menjajah". 
Seks
bebas, misalnya. Menurut Hamid, agama Kristen dan Islam sangat
menentangnya. Begitu pula agama-agama lain di dunia. Tapi, Barat tak
memasukkannya menjadi nilai-nilai universal. Agak berbeda dengan
nilai-nilai HAM yang sering dipaksakan di Negara-negara Islam. Barat
sering memaksakan ide dan gagasannya kepada dunia Islam menjadi
nilai-nilai universal, tapi jarang mau memakai nilai-nilai Islam
menjadi nilai universal.
Ketiga
"amunisi" di atas itulah yang menurut Hamid yang sedang dilakukan
Barat. Dan untuk bidang pemikiran, Barat memasarkan bidang-bidang
filsafat seperti, rasionalisme, empirisme, dikotomi, pragmatisme,
relativisme, dan nilai-nilai universal lainnya. Kini, menurutnya di
Indonesia sedang gencar-gencarnya dipasarkan produk tersebut.
Di
Indonesia gerakan tersebut sedikit banyaknya telah mendapat pengikut.
Malah terdapat sejumlah pemimpin ormas besar dan beberapa pejabat
Negara. Fahmy memperlihatkan lebih dari seratus orang di Indonesia yang
telah menjadi liberal.  Bahkan tak sedikit mereka adalah alumni pondok 
pesantren, termasuk  alumni Gontor katanya.
Menurut
Fahmy gerakan liberalisme memang cukup marak karena disokong dana dari
luar dengan jumlah yang sangat banyak. “Jadi, siapa yang tidak tergiur
uang” katanya. Banyak orang Indonesia yang dikuliahkan ke Barat dengan
beragam fasilitas dan didanai untuk penerbitan buku-buku liberal dan
mendistorsikan fakta di media. [anshar/cha/www.hidayatullah.com]


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke