JURNAL TODDOPULI:
"REVOLUSI COKLAT"
Setelah berbicara tentang "Kebudayaan Dan Kekuasaan: Yang Silam dan
Menjelang", di Yayasan Umar Kayam [Jalan Perum Sawit Sari 1 No..3
Yogyakarta] yang diorganisasi oleh Sarikat Indonesia dan beberapa komunitas
kebudayaan lainnya, pada 25 Oktober 2007, saya berjumpa kembali dengan tidak
sedikit teman lama dan berkenalan dengan kawan-kawan baru terutama dari
angkatan muda. Di antara mereka yang dari Angkatan Muda ini termasuk mereka
yang bekerja pada Lembaga Prof. Dr.Sajogyo dari IPB Bogor yang saya kenal sejak
1901 waktu di ibukota propinsi Kalimantan Barat ini berlangsung Kongres
Nasional Dayak. Kerjasama kami makin intensif ketika saya bekerja di
Kalimantan Tengah. Kami bersama-sama menangani banyak masalah lokal antara lain
masalah pemberdayaan dan pembangunan masyarakat, konflik etnik dan soal otonomi
daerah. Mengenai soal pemberdayaan dan pembangunan, sebelum keluar dari
Indonesia, saya sempat mewawancara beliau untuk "Sahewan
Panarung", buletin LSM Yayasan Dayak Panarung Palangka Raya. Dalam wawancara
inilah Prof. Sajogyo mengajukan konsep "Jalan Kalimantan" -- Kalimantan bisa
diganti dengan nama-nama tempat atau pulau lain - -- konsep yang berintikan
bahwa pemberdayaan itu harus memperhitungkan faktor budaya dan kondisi lokal,
bersandar pada masyarakat lokal sebagai aktor pemberdayaan dan pembangunan
shingga tanggap dan apresiatif.
Setelah diskusi di Yayasan Umar Kayam di atas, pada suatu malam yang sudah
agak larut, ponsel saya berdering. Jauh di ujung sana, terdengar suara seorang
lelaki memperkenalkan diri bahwa mereka empat orang dari Yayasan Sajogyo.
"Kami sedang berada di Jatinom, Klaten untuk melakukan penelitian tentang daya
tahan pangan di Klaten. Apakah kami bisa ingin berjumpa Bung sekarang?". Jarak
antara Jatinom dan di mana saya menginap hanya 10 menit bersepeda mootor
--kendaraan yang makin umum menggantikan andong di kabupaten Klaten, sapi
pembajak digantikan dengan traktor tangan. Usaha membuat batu bata dan genteng
dari tanah sawah makin menjadi salah satu sumber usaha penting. "Datang
sajalah", ujarku. Mereka menghubungiku, karena barangkali dari Pak Sojogyo
mereka tahu bahwa daerah yang kugarap sebagai lokasi tesisku di Universitas
Sorbonne Paris, adalah Klaten pada masa Gerakan Aksi Sepihak pada tahun
'63-'65 dalam rangkapelaksanaan UUPA dan
UUPBH , gerakan tani yang saya ikuti langsung dari awal hingga akhir. Tentu
saja dalam membahas masalah ini , saya menatutkannya dengan masalah
pemberdayaan dan pembangunan. Barangkali tema perhatian serupalah yang
mendekatkan saya dengan Pak Sojogyo yang sangat intensif melakukan
penelitianpesedaan di berbagai pulau tanahaair, termasuk Sulawesi Selatan.
Karena memang bukan orang setempat, sekali pun sudah dipandu melalui ponsel,
mereka tersesat higga ke desa ujung barat dan baru berjumpa menjelang tengah
malam yang dingin. Dengan panji Yayasan Sajogyo, kami bertemu dan diskusi
sampai dinihari, tak obah sahabat lama. Sangat terbuka.
Dalam diskusi hingga dinihari ini, satu masalah yang mereka singgung adalah
masalah yang mereka namakan sebagai "revolusi coklat" di Sulawesi Selatan--
daerah yang merupakan lokasi riset mutakhir mereka. Dahulu, pada masa Orde
Baru, di bidang pertanian, kita mengenal yang disebut "Revolusi Hijau" yang
menggunakan bibit-bibit pada dari Los Pasos Filipina, yang memungkinkan panen
beberapa kali setahun yang menjadikan Orde Baru bisa menyatakan Indonesia
sebagai negeri yang swasembada pangan. Hanya kemudian, secara dunia "Revolusi
Hijau" dikritik keras sebagai solusi sejenis "mie instan" tanpa menghitung
dampak merusaknya pada tanah.
"Mengapa perkebunan coklat di Sulawesi Selatan [Sulsel disebut 'revolusi
coklat' Apa saja dampak-dampak 'revolusi coklat" ini pada tanah dan kehidupan
masyarakat?. Aapakah 'revolusi coklat' ini menimbulkan strata sosial baru dan
alih strata, lalu apa konsekwensi dari keadaan demikian?", tanyaku karena
memang tidak tahu. Sambil mengajukan pertanyaan demikian, di kepala saya
terbayang ulang dampak dari Gerakan Aksi Sepihak Melaksanakan UUPA dan UUPBH
pada tahun '60an. Terbayang perkembangan desa-desa Klaten yang sekarang boleh
disebut sebagai desa-kota -- yang pernah dimimpikan oleh Mao Zedong dengan
gerakan Sekolah Tujuh Mei [U Ci Qan Xiao] dan intelektual pergi ke desanya.
"Disebut "revolusi" karena adanya perkebunan coklat itu ternyata berdampak pada
perkembangan masyarakat lokal seperti halnya 'revolusi hijau' berdampak pada
kehidupan masyarakat dan pertanian negeri. Dampak sosial negatif inilah yang
agaknya perlu kita cermati, terutama oleh pihak penyelenggara negara. Jangan
sampai perkebunan coklat memelaratkan masyarakat", jelas anak-anak muda yang
serius dan penuh keprihatinan pada nasib bangsa dan negerinya. Jenis anak muda
yang lagi-lagi meyakinkan saya bahwa Indonesia dengan segala kemelutnya, masih
merupakan negeri di mana kita tetap bisa berharap. Bahwa di negeri ini masih
ada manusia Indonesia dan repuliken.
Ketika membuka laptopku siang ini, saya pmendapatkan berita berbentuk tuturan
dan pertanyaan dari seorang teman baik di Makassar di sekitar masalah coklat
ini. Berita yang kuterima petang ini aantara lain menuturkan bahwa:"Proyek di
Palopo bermasalah... group target kami mogok kerja, karena merasa upahnya
rendah.. ", "Padahal.. sebelum kami mulai proyek ini, barang yang akan kami
beli hanya jadi sampah. kenapa tiba-tiba "murah?", "Seandainya bisa dibeli
cash.. tentu akan akan lebih menguntungkan petani- buruh coklat , yang tinggal
di kebun-kebun"..
Kemudian dituturkan juga oleh berita temanku ini dengan nada sesal seakan
hilang daya berdampingan dengan mimpi sosialnya:"Sayangnya, proyek ini tidak
punya kapasitas pembelian yang besar, dan karenanya tidak bisa membuka pasar
untuk siapa saja" lalu menanyakan : "Apa yang salah di sini?"Kenapa tiba-tiba
sesuatu yang 'sampah' ,menjadi 'terlalu murah' ketika ada peluang mendapatkan
rupiah?"
Inikah dampak dari "revolusi coklat" di Sulsel? demikian serta-merta pertanyaan
menyerbu benak dan renunganku. Lalu temanku itu dengan kegundahan di antara
mimpi sosial dan kenyataan dengan kepedihan hati bagai orang menjerit: "Tolong
saya memahami ini, laku ini".
Jeritan inilah yang di sini ingin saya gaung ulang ke segaa penjuru, terutama
kepada para penyelengara negara dan mereka yang perduli pada kampung-halaman di
Sulsel. Ataukah persoalan masyarakat tak obah batu atau sebuah kerikil yang
kita lemparkan ke laut, ke selatan dan sungai seta danau? Sejenak beriak lalu
luput dari pandangan mata apalagi ingatan dan perhatian. Saya khawatir saja,
jka tak diindahkan, kita sedang menabur angin,esok lusa akan menuai badai.
Mudah-mudahan kita tidak melempar batu nilai republiken dan berkeindonesiaan
dengan yang disebut "revolusi coklat" sehingga kepentingan rakyat, bangsa dan
negeri tidak menjadi sipongang di lembah yang menjumpai kita sebelum hilang di
kaki bukit......****
Perjalanan Kembali, Musim Dingin 2008.
--------------------------------------------------------
JJ. Kusni
New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/
[Non-text portions of this message have been removed]