----- Original Message ----- 
  From: Sunny 
  To: Undisclosed-Recipient:; 
  Sent: Friday, November 28, 2008 4:14 AM
  Subject: [mediacare] Sebagian Guru Agama Islam di Jawa Belum Bisa Ajarkan 
Pluralitas


  Refleksi: Dapat dimenegerti masalahnya, karena dikirim Laskar Jihad Sunnah 
Wal Jamaah ke Indonesia Timur dengan restu para penguasa NKRI. 

  
http://www.detiknews.com/read/2008/11/25/163443/1042749/10/sebagian-guru-agama-islam-di-jawa-belum-bisa-ajarkan-pluralitas


  Selasa, 25/11/2008 16:34 WIB

  Sebagian Guru Agama Islam di Jawa Belum Bisa Ajarkan Pluralitas
  Andi Saputra - detikNews

  Jakarta - Sebanyak 62 % guru-guru agama Islam sekolah umum di Jawa menolak 
orang non muslim menjadi pemimpin publik. Selain itu sebagian guru agama Islam 
di Jawa juga tidak toleran dan anti pluralitas. 

  Penolakan terhadap pemimpin non muslim menjadi pemimpin mulai dari pemilihan 
kepala sekolah hingga Pemilu legislatif. "Para guru masih belum bisa 
mengajarkan pluralitas dan sikap toleran. Padahal, sikap dan pandangan Islam, 
guru agama harus mendukung dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat 
Indonesia yang beragam," kata Direktur Pusat Kajian Islam dan Masyarakat (PPIM) 
UIN Jakarta, Jajat Burhanudin, di Galeri Lontar, Jalan HOS Cokroaminto, Jakarta 
Pusat, Selasa (24/11/2008).

  Lebih lanjut, dari data survei lembaganya, para guru yang mengajar di sekolah 
umum tersebut, 68% responden menolak non muslim menjadi kepala sekolah dan 30% 
responden mendukung Pemilu hanya untuk memilih wakil rakyat yang memperjuangkan 
syariat Islam. 

  Survei dilakukan terhadap 500 guru di 500 SMA/SMK di Jawa selama kurun 
Oktober 2008. Responden dipilih dengan menggunakam metode random acak 
sederhana. Selain itu juga dilakukan wawaancara terstruktur terhadaap 200 siswa 
di 50 kota/kabupaten. "Metode simple random sampling yang kami gunakan memiliki 
margin error lebih kurang 5%," ujarnya.

  Sikap tidak toleran dalam beragama juga bisa dilihat 21% responden mengaku 
orang yang keluar dari agama Islam harus dibunuh. Selain itu, 79% guru melarang 
anak didiknya mempelajari agama non Islam. "Yang lebih memprihatinkan, 75 % 
guru mengajarkan siswa muslim untuk mengajak non muslim mempelajari Islam. Ini 
menunjukkan sikap beragama yang eksklusif tidak hanya berlaku di sekolah, " 
tuturnya.

  Pemilihan corak geografis sekolah memperhatikan corak geografis pada umumnya 
SMA/SMK di Jawa. Yaitu 41% guru SMA di kotamadya, 25% guru SMA di kabupaten dan 
28% guru SMA/SMK di kecamatan. "Sisanya yang 5% merupakan guru SMA/SMK di  
pedesaan,"pungkasnya.(asp/nrl) 

  Baca juga : 
    a.. Guru Agama Islam di Jawa Masih Konservatif 
    b.. Pemimpin Jadi Kunci Penting Untuk Perdamaian Agama 
    c.. Menag: Pengalaman Kehidupan Beragama Kita Memprihatinkan 
    d.. Kalla: Agama Mudah Memecah Kita Jika Salah Pengertian 
   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke